Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Kekasih Lama


__ADS_3

Nanda mengatur nafasnya ketika sudah berada di dalam mobil Alvin. Rasanya tetap sama ketika satu mobil bersama Alvin. Canggung dan dingin. Alvin tak sedikitpun menatap ke arahnya. Mata Alvin fokus ke depan dengan tangan yang berpusat di gagang stir. Keduanya saling diam. Ingin sekali Nanda memulai pembicaraan untuk memecahkan keheningan. Tapi melihat raut wajah Alvin yang kaku dan dingin, Nanda mengurungkan niatnya untuk berbasa basi dan kembali memilih diam.


"Nih orang niat nganter ga sih? Kenapa dia ga nanya tempat kerja gue? Apa dia udah tau tempatnya? Masa sih? Dari mana dia tau? Apa mungkin Oma Ana yang kasih tau? Huft, ngeselin banget sih nih orang..." Nanda memanyunkan bibirnya sambil menggerutu dalam hati. Sudah hampir setengah jam berlalu tapi tetap saja tidak ada perbincangan dari keduanya. Masing masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Suara dering ponsel Alvin berbunyi nyaring. Dengan cepat Alvin memasang eraphone bluetooth nya ke telinga.


"Halo...." Nanda menatap sekilas ketika Alvin bersuara menerima panggilan telpon dari ponselnya.


"Oia? Kapan?"


"Ok. Aku akan segera kesana"


Alvin sibuk sendiri dengan ponselnya. Setelah selesai berbicara dan menutup ponselnya dengan tiba tiba Alvin menepikan mobilnya kepinggiran jalanan.


"Aku ada urusan mendadak. Kamu turun disini ga pa pa kan?"


"Ah, iya. Ga pa pa" Nanda sedikit tertegun dengan titah Alvin. Untuk ke dua kalinya Alvin menurunkannya lagi di tengah jalan. Meski ada sedikit rasa kecewa dihati, namun Nanda tak kuasa untuk menolak perintah Alvin. Dengan lapang dada Nanda membuka seatbelt dan keluar dari mobil Alvin.


Nanda menghela nafas panjang ketika mobil Alvin melaju kencang meninggalkan dirinya yang berdiri terpaku dipinggir jalan.


"Sabar Nanda... Sabaaaarrr.... Demi pengobatan ibu. Ini juga ga akan lama kok. Cuma dua tahun. Dua tahun bukan waktu yang lama. Semangaaatttt...." ucap Nanda lirih seraya menguatkan dirinya.


Nanda melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya dengan menyetop sebuah angkot. Hari ini Nanda lebih tenang karna ia tak terlambat sampai ke tempat kerja dan terbebas dari omelan bu Silvi managernya yang bawel.


***


Alvin memarkirkan mobilnya di sebuah apartement mewah yang berada ditengah pusat kota. Setengah tergesa gesa Alvin keluar dari mobil dan langsung menuju ke lift. Pintu lift terbuka, langkah kaki Alvin semakin panjang menuju ke sebuah kamar. Ketika bel kamar berbunyi seorang wanita cantik membukakan pintu kamar sambil tersenyum manis nan menggoda.

__ADS_1


"Hai sayang..." Alvin tak menjawab sapaan manja untuknya dan memilih untuk menyelonong masuk sebelum dipersilahkan oleh si tuan rumah.


Celine, sipemilik kamar apartement yang tak lain adalah kekasih Alvin telah kembali ke Jakarta. Setelah mendengar berita pernikahan Alvin dan Nanda, Celine memutuskan untuk kembali ke Jakarta untuk meminta klarifikasi Alvin tentang pernikahan dadakannya itu.



Celine memeluk tubuh Alvin dari belakang. Memejamkan mata dan menikmati hangatnya tubuh Alvin yang kekar. Alvin sejenak terdiam dengan pelukan kerinduan dari kekasihnya 'Celine' sebelum akhirnya pelukan itu dilepaskan begitu saja.


"Untuk apa kamu kembali?" pertanyaan impulsif Alvin terdengar syarat akan sebuah rasa kekecewaan yang dalam.


"Aku kangen banget sama kamu Alvin. Makanya aku segera pulang buat ketemu sama kamu" perkataan manja Celine disertai gerakan manja nan menggoda yang berusaha memeluk kembali tubuh Alvin tak lantas membuat Alvin membalasnya. Sikap dingin Alvin terasa kental menyemai di seluruh wajah dan tubuhnya.


"Semua sudah terlambat. Kamu sudah membuat aku kecewa dan marah. Kenapa kamu baru muncul sekarang ketika aku sudah menikah dengan wanita lain?? Dimana kamu saat aku memintamu untuk segera pulang dan menikah denganku, HAH !!" Alvin tidak bohong akan perasaannya kali ini. Sejak menikahi Nanda, Alvin memang memendam amarah dan kecewanya kepada Celine wanita yang sangat ia cintai. Wanita yang malah melukainya.


"Aku minta maaf Alvin. Aku ga tau kalau ternyata pernikahanmu akan secepat itu. Seandainya kamu bisa menunda sebentar saja hari pernikahanmu, aku pasti bisa segera pulang untuk menggagalkan acara pernikahan itu"


"Alvin, aku memang telah bersalah besar kepadamu. Aku minta maaf. Aku sungguh menyesal. Tolong maafkan aku..." Alvin tak menjawab permintaan maaf dari Celine. Alvin membantingkan tubuhnya di atas sofa sambil menyilangkan salah satu kakinya, terdiam dengan wajah muram dan kesal.


Celine menatap lekat wajah kesal Alvin dan lalu duduk mendekat, sangat dekat seraya merebahkan kepalanya di atas pundak Alvin. Celine selalu bisa meredam amarah Alvin. Genggaman tangannya membuat tubuh Alvin yang menegang berubah lebih tenang dan rileks.


"Sayang... Aku tau, kamu menikahi istrimu yang sekarang bukan karna cinta bukan? Aku akan menebus kesalahanku dengan menunggu sampai hubungan pernikahan semu kamu berakhir. Setelah itu, aku janji, aku akan segera menikah denganmu" perkataan Celine terdengar yakin dan penuh akan harapan.


"Aku sayang banget sama kamu Alvin... Aku ga bisa mencintai laki-laki lain selain dirimu. Dan kamupun juga demikian bukan? Hanya aku satu satunya wanita yang ada di hatimu?"


"Ah sudahlah Celine. Kita tak perlu membahas ini lagi. Aku ga tau apa yang akan terjadi besok denganku atau dengan kita. Aku harus kembali ke kantor. Banyak meeting yang harus aku pimpin hari ini." Alvin beranjak dari duduk namun dengan cepat tangan Celine menariknya kembali sehingga membuat tubuh Alvin terjatuh duduk kembali diatas sofa tempatnya duduk. Dengan cepatnya Celine langsung melabuhkan ciuman panasnya ke bibir Alvin. Ciuman kerinduan dan ciuman rasa ingin yang bercampur membuat gelora keduanya pun tercipta. Alvin tak menolak ciuman itu. Bahkan tangannya memeluk erat tubuh Celine yang kini sudah menindihnya. Keduanya saling menikmati dan larut dalam suasana.


Ddrrrrttttt.... Dddrrrtttttt....

__ADS_1


Suara dering ponsel Alvin yang berbunyi membuat Alvin terpaksa menghentikan kegiatan ciumannya dengan Celine. Mungkin jika ponselnya tak berbunyi, ciuman mereka bisa berlanjut ke ranjang yang semakin membuat keduanya kehilangan akal akannya.


["Halo..."]


["Pak Alvin, maaf saya mau menginfokan kalau setengah jam lagi meeting bersama cliet dari PT. XXXXX akan dimulai. Perwakilan dari client kita sudah datang pak"]


[" Ok. Saya segera datang"]


Alvin mendorong tubuh Celine agar bergeser menjauh dari dirinya. Dirapihkannya kemeja dan stelan jas mewahnya.


"Celine, aku harus segera sampai ke kantor. Ada meeting penting yang harus aku hadiri"


"Ok. Nanti malam, apakah kamu bisa menemuiku lagi? Aku masih kangen banget sama kamu" ucapan manja Celine sungguh terdengar sangat menggoda.


"Kamu berapa lama di Jakarta?"


"Sekitar dua minggu. Aku ada project pemotretan iklan yang pengerjaannya cukup santai. Jadi kita bisa menghabiskan waktu cukup lama untuk bersama. Kamu suka kan?"


"Aku ga bisa janji nanti malam aku bisa menemuimu atau tidak. Kita bisa atur waktu bertemu lagi nanti. Aku pergi dulu...." tanpa.membuang waktu lagi, Alvin segera beranjak dari duduk dan bergegas keluar dari kamar apartement Celine untuk segera kembali ke kantor.


Celine terdiam kecewa dengan kepergian Alvin yang secara tiba-tiba. Celine tak henti hentinya mengumpat orang kantor Alvin yang membuat ponsel Alvin berdering. Andai ponsel Alvin tak berdering, mungkin saat ini dirinya sudah menyatu dengan Alvin dalam balutan asmara yang menyenangkan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2