
Hari mulai sore, rasa lengket dan lelah serta kantuk yang melanda membuat Nanda mulai gelisah. Sedari tadi dirinya hanya sibuk melihat lihat sekaligus mengagumi semua sisi dari sudut rumah besar Oma Ana yang sangat megah dan mewah. Tidak ada satupun barang barang di rumah ini yang tidak mahal. Semua mahal. Bahkan untuk sekedar hiasan dalam lemari kaca pun juga memiliki arsitektur yang unik dan yang pastinya memiliki harga yang tidak murah tentunya.
Nanda mengetuk kembali pintu kamar Alvin. Karna ia belum mempunyai nomor ponsel Alvin, jadi Nanda harus menemuinya langsung. Nanda hanya ingin menanyakan perihal tas kopernya. Ia ingin mandi dan berganti pakaian.
Tuk... Tuk....
Nanda menghela nafas berkali kali ketika Alvin tak kunjung membukakan pintu.
"Dasar keterlaluan !! Sebenarnya dia itu manusia yang terbuat dari apa sih? Menyebalkan sekali... " gerutu Nanda menahan kesal.
Diketuknya lagi pintu kamar Alvin. Kali ini Nanda mengetuk sambil meneriakkan nama suaminya.
"Mas Alviiiiinnn... Buka pintunyaaaa.... Alviiinnn..." suara teriakan Nanda terdengar sampai di kamar Oma Ana.
Oma Ana yang memang hendak keluar kamar menyegerakan langkahnya. Letak kamar Oma Ana yang berbeda lantai dengan Alvin membuat kepalanya hanya bisa mendongak ke atas.
"Sumiii.... " suara Oma Ana berhasil membuat Bi Sumi datang tergopoh gopoh menghampiri majikannya.
"Saya Nyonya."
"Coba kamu ke atas. Ada keributan apa di kamar Alvin" ucapnya sambil mengarahkan pandangannya ke lantai atas.
"Baik Nyonya" tanpa membantah sedikitpun, Bi Sumi segera berlalu mematuhi perintah dari Nyonya besarnya dan dengan cepat menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar Alvin.
"Nonya Nanda..." Nanda terkejut ketika Bi Sumi sudah berada di dekatnya.
"Bi Sumi"
"Apa Nyonya butuh bantuan? Saya di suruh Nyonya Besar untuk mendatangi anda" Nanda benar benar merasa canggung dan kikuk karna sepertinya suaranya yang keras tadi sudah membuat kebisingan yang membuat orang lain terganggu.
"Ah, emm... Sayaa...."
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Wajah kaku Alvin menatap dingin Nanda dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Berisik! Ada apa?" ucapnya ketus. Nanda menganggukkan kepala kepada Bi Sumi dan lalu menerobos masuk ke kamar Alvin begitu saja. Alvin sendiri hanya bisa ternganga tak mampu mencegah gerakan Nanda yang cepat.
Mata Nanda terperangah, bibirnya berdecak kagum akan keindahan isi kamar Alvin yang tak kalah besarnya dengan kamar Oma Ana. Bedanya hanya dari sisi design dan tata ruang kamar Alvin yang lebih fresh dan elegant. Kamar Alvin mencerminkan dengan jelas sisi dari seorang laki-laki. Kamar yang di dominasi dengan warna hitam dan broken white membuat kesan teduh dan tenang. Alvin memang sengaja memilih kedua warna itu, karna warna itu adalah warna yang Alvin sukai.
"Udah puas kagumnya?" Nanda menolehkan pandangan ke arah Alvin yang sudah berada tepat di belakangnya. Nanda berdehem kecil untuk menenangkan diri.
"Aku kesini ingin mengambil barangku. Dimana koperku?" Alvin tidak menjawab pertanyaan Nanda. ia hanya bersedekap sambil menyenderkan tubuhnya di dinding.
"Huft... Benar benar manusia menyebalkan" gumam Nanda dalam kesalnya.
"Kau bilang apa? Apa kamu sadar dengan apa yang barusan kamu ucapkan?" Nanda tidak memperdulikan ucapan Alvin yang terkandung syarat ancaman untuknya.
"Aku mau mandi. Tolong kembalikan koperku"
"Mana aku tau kopermu ada dimana"
"Tadi ART ku memang datang ke sini untuk mengantar makan siang. Aku tidak tau kalau mereka juga memasukkan kopermu ke dalam kamarku juga. Kamu cari aja sendiri" ucap Alvin acuh sambil berlalu meninggalkan Nanda dan masuk ke dalam toilet kamarnya.
Nanda mengepalkan tangan menahan rasa geram dan berlanjut mencari kopernya disetiap sudut kamar Alvin.
Setelah bola matanya berusaha mencari, akhirnya Nanda menemukan koper miliknya. Ternyata kopernya diletakkan di sudut lemari dekat kamar mandi. Lokasi lemari agak menyerong sehingga tidak begitu terlihat kalau dari arah pintu kamar.
Nanda menghela nafas lega. Pasalnya semua pakaian, make up dan peralatan mandi ada di dalam koper semua. Nanda bergegas mengambil pakaian layak yang akan ia gunakan malam ini. Dan malam ini dirinya pasti akan bertemu dengan orangtua Alvin. Jadi Nanda harus mengenakan pakaian yang sopan dan layak pandang.
Dengan sabar, Nanda menunggu Alvin keluar dari kamar mandi untuk bergantian dengannya. Setelah menunggu hampir 30 menit lamanya, akhirnya Alvin keluar dari kamar mandi. Alvin keluar dari kamar mandi sudah dalam berpakaian rapih. Walaupun hanya sekedar celana pendek dan kaos oblong dan handuk kecil di lehernya, penampilan Alvin tetap terlihat elegant dan tampan. Rambut basahnya juga menambah kesan sexy di dirinya.
Nanda menatap Alvin dengan tatapan penuh harap. Ia berharap semoga Alvin mengijinkan dirinya untuk bisa memakai kamar mandi pribadinya untuk membersihkan diri.
"Emm... Mas Alvin..." ucap Nanda ragu.
__ADS_1
"Hhmmm..." Alvin menatap Nanda sekilas dan menyibukkan diri mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Apa... Apakah aku boleh meminjam kamar mandimu? Aku mau bersih bersih"
"Boleh, tapi jangan lama-lama !" Nanda tersenyum senang dan langsung beranjak dari duduk dan melesat cepat memasuki kamar mandi. Alvin hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Nanda yang mirip seperti anak kecil.
Tiba-tiba Nanda membuka pintu kamar mandi dan menongolkan kepalanya keluar sambil setengaj berteriak :
"Mas Alviinn... Terima kasih yaa..."
Karena tadi saking senangnya, Nanda sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada Alvin. Makanya saat sudah di dalam kamar mandi, Nanda menongolkan kepala hanya untuk mengucapkan kata itu segera sebelum dirinya menjadi lupa kembali.
Dasar Alvin si manusia dingin, ucapan terima kasih yang dilontarkan secara lantang oleh Nanda tak lantas membuat dirinya mencair, yang ada Alvin tak menggubrisnya sama sekali. Hanya senyuman sinis yang tersungging di bibirnya.
########
Alvin masih duduk di meja kerjanya. Ruang kerja Alvin masih berada dalam satu kamar hanya saja terhalang sebuah pintu besar sebagai pembatas. Matanya terlihat serius memperhatikan deretan angka dan tulisan dari balik layar laptop nya. Alvin memang kategori laki-laki gila kerja. Jika sudah berurusan masalah pekerjaan, Alvin tidak akan pernah melakukannya setengah-setengah. Semua harus selesai tepat waktu dengan hasil yang sesuai harapan. Hal itulah yang membuat dirinya tidak terlalu memusingkan masalah pernikahan. Apalagi Alvin sudah memiliki kekasih cantik "Celine", seorang model cantik yang sudah memenuhi hatinya. Dan meskipun harus ada pernikahan konyol ini, tak lantas membuat rasa cintanya kepada Celine hilang. Alvin masih berharap akan bisa bersama kembali dengan Celine ketika perjanjian pernikahan konyol ini berakhir. Atau sampai Oma nya melimpahkan semua saham yang dimilikinya kepada dirinya sebagai cucu pewaris tunggal perusahaan nya.
Nanda sudah selesai mandi, tubuhnya sudah bersih dan segar. Sambil celingukan, bola mata Nanda mengitari seluruh ruang kamar Alvin mencari sosok suami statusnya yang tak terlihat. Nanda belum mengetahui kalau ada satu ruangan lagi yang berdempetan dengan kamar Alvin yang dijadikan ruang kerja suami statusnya. Nanda tak ambil pusing akan itu semua. Dengan tidak adanya Alvin di kamar, membuat dirinya merasa bebas dan nyaman.
Tangan Nanda meraba raba ranjang Alvin yang sangat mewah. Senyum Nanda tersungging dibibirnya. Tanpa ia sadari mulutnya memuji kagum akan keindahan ranjang milik Alvin. Matras ranjang yang tidak terlalu empuk tapi bisa terasa sangat nyaman untuk di tiduri. Awalnya Nanda hanya berniat sekedar mengagumi saja ranjang mewah Alvin. Namun udara kamar yang sejuk dan tubuh yang terasa lelah serta ranjang yang nyaman membuat mata Nanda tak mampu menolak dorongan kuat untuk merebahkan tubuhnya untuk sekedar merenggangkan otot otot tubuhnya. Dan tak lama rasa kantukpun datang. Nanda tertidur dengan pulas di atas ranjang Alvin.
Betapa terkejutnya Alvin saat ia keluar dari ruang kerjanya. Matanya bersirobok dengan tubuh Nanda yang sudah terlelap pulas di atas ranjangnya.
"Dasar perempuan tak tau diri. Berani sekali dia tidur di ranjangku..." ucap Alvin geram sambil mengepalkan tangan.
Alvin menatap sekilas wajah Nanda yang sudah terlelap. Lagi lagi sebuah senyuman sinis mencela tersungging dibibirnya.
.
.
__ADS_1
.