Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Racun Mertua


__ADS_3

Nanda berpikir keras akan apa saja makanan dan minuman yang sudah ia konsumsi hari ini sehingga membuat tubuhnya bereaksi aneh seperti ini. Nanda mulai teringat akan minuman terakhir yang diberikan mama mertuanya tadi.


"Jangan-jangan gara-gara gue minum minuman yang mama kasih tadi, efeknya badanku jadi seperti ini. Sebenarnya minuman apa ya yang mama kasih ke gue? Benar-benar aneh" Nanda menggerutu dalam hatinya yang berkecamuk bercampur akan pertanyaan serta prasangka buruk akan rencana tersembunyi dari sang mama mertua.


Semakin ditahan, rasa itu semakin kuat menggerogoti benteng pertahanan Nanda. Dan akhirnya dengan sangat terpaksa, Nanda memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Alvin. Siapa tau Alvin bisa memberinya sebuah obat yang bisa menetralisir rasa aneh yang kini ia rasakan.


Tuk.. Tuk.. Tukk...


Alvin mendongakkan kepalanya ketika telinganya menangkap suara ketukan pintu dari luar. Alvin sungguh terkejut ketika matanya mendapati Nanda yang terlihat ngos-ngosan mencoba mengatur ritme irama nafasnya.


"Nanda.... Kamu kenapa?" kali ini Alvin sungguh terlihat tulus menampilkan raut wajah khawatirnya melihat kondisi Nanda yang kepayahan.


"Mas... Tolongin aku Mas.. Tolong kasih aku obat" Nanda merintih memelas memohon Alvin untuk segera membantunya.


"Obat? Kamu sakit?"


"Aku udah ga tahan lagi..."


"Maksud kamu apa?"


Diluar kesadarannya, Nanda memeluk Alvin dengan erat. Menggesek-gesekkan tubuhnya di tubuh Alvin. Nanda merasakan hal yang sangat nyaman ketika tubuhnya menyentuh tubuh kekar Alvin. Mata Alvin terbelalak lebar seakan ingin lepas dari wadahnya, tak percaya dengan sikap Nanda yang sudah di luar batas kewajaran.


Nanda mendesah manja sambil terus mendekap tubuh suami statusnya dengan erat. Alvin mencengkram kedua lengan Nanda mendorongnya dengan keras namun masih memegangnya dengan kuat. Dan posisi mereka saat ini saling berhadapan dengan tatapan mata yang saling beradu.


"Nanda, sadarlah..."


"Mas, tolong akuu... Aku mohon tolong aku... Tolong berikan aku obat penghilang rasa aneh ini. Aku udah ga kuat Massss..." suara Nanda masih terdengar memelas dan memohon. Tatapan matanya mulai terlihat sendu.


"Mamaaa.... Pasti ini perbuatan Mama. Minuman ituuuu... Sial!!!" ucapnya lirih. Alvin mengeratkan gigi-giginya menahan emosi atas perbuatan rendahan mamanya yang sudah membuat istri statusnya menjadi sakau seperti ini.


"Evan... Iya kak Evan. Dia pasti bisa mengobati sakitku ini" Nanda seakan mendapatkan kembali kesadaran sesaatnya dan bisa mengingat satu nama yang ia anggap pasti bisa membantu masalahnya. Telinga Alvin langsung memanas ketika bibir Nanda mengucapkan nama Evan. Rasanya sungguh tidak rela kalau Evan yang menjadi pahlawan dari semua ini.


"Aku lupa, ponselku ada di meja bawah. Aku mau ambil dulu" nafas Nanda masih terlihat ngos-ngosan dan sebelum Nanda berbalik untuk melangkahkan kakinya mengambil ponsel, Alvin sudah lebih cepat menarik tubuh Nanda dan membawanya ke dalam kamar. Alvin juga tidak lupa mengunci pintu kamarnya dengan rapat.


Alvin paham betul kalau saat ini di tubuh Nanda sudah terdapat racun obat perangsang yang sudah dengan sengaja dimasukkan ke dalam minuman yang tadi diminumnya. Tubuh Nanda mulai menunjukkan reaksi rangsangan seksualitas. Tidak ada obat yang bisa menghilangkan rasa aneh yang ditimbulkan dari efek obat perangsang kecuali berhubungan intim. Karna memang hanya itulah yang bisa meredakan rasa aneh yang menjalar liar di dalam tubuh pemiliknya.


Sekuat mungkin Alvin menahan godaan yang Nanda lakukan kepadanya. Nanda semakin diluar kendali. Dan sepertinya Nanda tidak sadar dengan apa yang sedang ia lakukan. Semua perbuatannya malam ini murni dibawah alam sadarnya. Dengan lincahnya, Nanda membuka satu persatu bajunya dan dilemparkan begitu saja di lantai. Mata Alvin semakin terperanjat tak percaya dengan apa yang sudah Nanda perbuat.

__ADS_1


"Nanda... Apa yang kamu lakukan!!! Jangan coba-coba menggodaku Nanda..." ucap Alvin sambil memperhatikan tangan Nanda yang dengan santainya melempar bajunya ke lantai.


Nanda yang tadi menggelendoti tubuh Alvin kini membantingkan tubuhnya ke atas ranjang Alvin.


"Gerah banget mas. Panas..." tubuh Nanda menggeliat manja di atas ranjang. Alvin mencoba memalingkan pandangannya ke arah lain agar matanya tidak melihat pemandangan indah yang kini sudah tersaji di depan matanya.


Tubuh Nanda masih terbalut baju dalaman. Namun bentuk tubuhnya yang indah dengan gunukan gunung yang cukup besar membuat adik kecilnya Alvin terbangun dengan sendirinya. Alvin mengumpat pelan menahan gairahnya yang sudah terpancing.


Alvin menghela nafas panjang lalu mengambil selimut tebal untuk membungkus tubuh Nanda yang menggiurkan. Namun tanpa disangka, sikap liar Nanda malah makin tercipta. Nanda menepis selimut yang Alvin rapatkan ke tubuhnya, tangannya dengan cepat menarik kerah piyama Alvin dan ******* bibir Alvin dengan rakus. Alvin cukup syok dengan sikap yang Nanda tunjukkan kepadanya. Namun jujur, Alvin sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Nanda. Alvin pasrah dengan ******* panas yang Nanda lakukan kepadanya.


"Nanda... Kamu yang sudah menggodaku. Jangan pernah menyesal" bisik Alvin lirih ketika Nanda melepaskan ciumannya. Nanda hanya menggeleng pelan sambil tersenyum impulsif.


Pertahanan Alvin akhirnya runtuh sudah. Alvin berbalik menyerang Nanda. Nanda benar-benar tidak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan. Obat perangsang yang diberikan mama mertuanya nampaknya memiliki dosis yang cukup tinggi. Nyatanya Nanda seperti orang mabuk yang tidak sadar atas semua perbuatannya.


Alvin mulai melancarkan aksinya menyentuh seluruh tubuh indah Nanda dari atas sampai bawah. Melucuti sisa pakaian yang masih membungkus tubuh indah istri statusnya itu dan kemudian bermain-main dengan dua biji kacang almond milik Nanda dan mengunyahnya gemas layaknya mengunyah permen karet.


Tubuh Nanda berkali-kali menggelinjang yang membuat Alvin semakin gemas dibuatnya. Puas bermain-main, Alvin pun akhirnya secara lembut membenamkan miliknya ke milik pribadi Nanda yang sangat privacy. Rasa hangat akan kelegitan milik Nanda yang sangat menggigit miliknya sungguh membuat dirinya melayang penuh bahagia. Sebuah sensasi berbeda yang harus ia syukuri.


Nanda menjerit kesakitan. Rasa sakit yang ia rasakan membuat otaknya sedikit tersadar akan kondisinya saat ini. Nanda syok hampir mati ketika tersadar posisi tubuhnya sekarang sudah berada di dalam kungkungan tubuh Alvin yang kekar. Rasa aneh yang ia rasakan tadi sedikit menghilang. Namun belum sepenuhnya menghilang, masih ada rasa menggelitik yang menggangu tubuhnya.


"Bukankah kamu yang memintaku untuk membantumu?"


"Lepaskan aku mas... Sakiiitt.." pekik Nanda setengah memohon.


"Aku akan menghilangkan racun yang ada ditubuhmu terlebih dahulu. Setelah itu, kamu akan terbebas dari racun itu"


"Racun apa? Aakkhhh..."


Alvin mulai menghentak-hentakkan miliknya dengan ritme yang teratur. Alvin memperlakukan Nanda dengan lembut. Alvin sangat bahagia ketika mengetahui istri statusnya itu ternyata masih perawan. Terbukti dengan sulitnya ketika ingin membenamkan miliknya dan rasa legit milik istrinya yang membuat Alvin semakin yakin kalau Nanda memang masih perawan dan belum pernah tersentuh oleh laki-laki manapun.


Nanda hanya bisa pasrah dengan kondisinya saat ini. Karna memang benar, ketika Alvin berada diatas tubuhnya memberikan sensasi rasa nikmat yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata, rasa sakit di awal bercampur rasa aneh yang ia rasakan tadi lambat laun menghilang berubah menjadi rasa hangat dan nikmat yang tiada tara.


Meski tubuhnya saat ini sudah terasa normal, namun air matanya tidak bisa membohongi kesedihannya. Buliran bening dari kedua mata Nanda mengalir lancar membasahi kedua pipinya bersamaan semakin kencangnya hentakan yang Alvin berikan kepadanya. Nanda hanya bisa menangisi nasibnya yang begitu menyedihkan. Harus kehilangan harta berharga satu-satunya yang paling ia jaga dan telah direnggut paksa oleh laki-laki arogant yang sama sekali tidak ia inginkan. Namun nasi sudah menjadi bubur, bagai gelas kaca yang pecah jatuh ke lantai menjadi kepingan-kepingan kecil tak beraturan, seperti itulah hatinya kini. Hancur tak berguna.


Alvin menggulingkan tubuhnya ke samping ketika hasratnya sudah tercapai. Malam ini sungguh sebuah rahmat besar yang Alvin terima. Bisa mendapatkan kepuasan batin yang tiada terkira.


Dada Nanda terlihat naik turun seiring nafasnya yang berdenyut cepat. Air mata Nanda semakin deras. Nanda menangis sesenggukan menyesali kegiatan yang baru saja selesai. Alvin mencoba mendekap tubuh Nanda dan membawanya ke dalam pelukannya. Namun usahanya untuk menenangkan istri statusnya itu nyatanya gagal. Nanda mendorong tubuh Alvin, menolaknya dengan penuh kebencian.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku !!!" pekik Nanda dengan mata basahnya.


"Hei... Kenapa kamu marah?"


"Kamu jahat mas. Kamu sudah mengambil kesempatan dariku"


"Bukankah tadi dirimu sendiri yang mendatangiku, memohon dan menyerahkan tubuhmu untuk aku sentuh"


"Jangan mimpi !!! Aku ga pernah sudi untuk kamu sentuh!!"


"Tapi aku sudah menyentuhmu, dan sudah menikmatinya. Bukankah kamu juga menikmatinya? Bagaimana? Apakah kamu puas dengan pelayananku?" ucapan setengah mengejek yang terlontar dari mulutnya membuat Nanda semakin menyesali semua. Menyesali kebodohannya.


"Aku benci sama kamu dan juga orangtuamu. Aku yakin racun ini berasal dari minuman yang aku minum tadi. Kalian memang keluarga jahat..." suara Nanda meninggi. Alvin hanya terdiam ketika Nanda mengungkit tentang dalang utama dari semua ini yang memang benar adalah kedua orangtuanya sendiri. Jadi jika Nanda meluapkan amarahnya, dirinya memang pantas mendapatkannya.


Nanda mencoba untuk bangkit dari ranjang. Namun bagian intimnya terasa sakit dan nyeri.


"Aaauuwww...." Nanda merintih kesakitan menahan rasa nyeri. Alvin bangun dan duduk melihat bagian utama Nanda. Senyum kepuasan terlukis dibibir Alvin ketika matanya melihat darah segar menempel di seprai ranjangnya dan masih tercecer di antara paha mulus istri statusnya.


"Jangan bergerak dulu. Lebih baik kamu istirahat, tidurlah. Aku tidak akan menggangumu" Alvin membungkus tubuh Nanda dengan selimut tebal yang tadi di tepis oleh Nanda dan tergeletak di lantai. Dengan cepat Nanda menarik kasar selimut dan menutupi seluruh tubuhnya agar tidak bisa dilihat lagi oleh Alvin.


Alvin meneguk segelas air mineral yang sudah tersedia di atas nakas. Diambilnya kembali piyamanya yang tercecer di lantai. Alvin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Nanda, airmatanya sepertinya masih belum ingin berhenti mengalir dari wadahnya yang membuat wajah Nanda terlihat semakin sembab dengan mata yang mulai membengkak.


Alvin melarutkan dirinya di dalam pancuran air hangat yang mengaliri kepala sampai kaki. Dipejamkannya kedua matanya. Dalam matanya yang terpejam, Alvin teringat kembali kejadian aneh sekaligus membahagiakan yang baru saja terjadi. Alvin seperti menemukan kehidupan baru dalam dirinya. Meski dulu ia jugalah yang membuka segel milik Celine, namun segel itu terbuka dalam kondisi dimana dirinya menggunakan alat pengaman. Jadi Alvin tidak begitu merasakan sensasi unik seperti yang baru saja ia lalui bersama Nanda.


"Adduuhhhh... Dasar bodoh. Kenapa aku tadi ga pake alat pengaman? Bagaimana kalau nanti Nanda hamil? Sial... Kenapa aku bisa lupa..." Alvin menepuk kepalanya dan menyalahkan dirinya yang sudah lalai.


Berhubungan intim bersama Celine, Alvin tidak pernah lupa memakai alat pengaman. Jika sedang tidak ingin menggunakan alat pengaman, Celine pun sudah mengamankan dirinya dengan menyuntikkan cairan KB agar mencegah adanya kehamilan.


Alvin tersenyum simpul ketika matanya menemukan Nanda sudah tertidur pulas. Yah, lebih baik seperti ini ketimbang harus melihat Nanda yang terus-terusan menangis.


Setelah berganti piyama, Alvin duduk di bibir ranjang. Dipandanginya wajah sendu istri statusnya yang terlihat menyedihkan. Alvin beranjak lagi dari duduknya. Kini ia meraih sebotol anggur merah, dituangkannya ke dalam gelas. Alvin menyesapi anggur merah kualitas nomor satu itu secara perlahan. Menikmati setiap rasanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2