
Alvin melempar jas nya ke sembarang arah. Dibantingnya tubuhnya di atas sofa. Hari ini Alvin memilih untuk pulang lebih cepat. Kepalanya terlalu penat menahan rasa kesal dan amarahnya. Seharian ini dirinya sudah memarahi bawahannya yang melakukan kesalahan. Bahkan untuk kesalahan kecilpun Alvin tak segan-segan untuk membentaknya.
Sambil memejamkan mata, dipijatnya perlahan ujung pangkal hidungnya. Kalimat terakhir Oma Ana yang terlontar sebelum meninggalkan meja makan tadi siang terngiang lagi di kepala. Dan perkataan itu semakin membuat kepalanya terasa berat dan penat. Bagaimana mungkin Oma nya meminta dirinya untuk menghamili Nanda dan memiliki anak dari wanita yang tidak sama sekali ia cintai. Oma nya pasti sudah menyusun sebuah rencana yang sengaja dirahasiakan. Kalau tidak ada sebuah rencana rahasia, mana mungkin Oma menjadikan seorang anak sebagai syarat utama dari sebuah bisnis.
Alvin merasakan tenggorokannya mulai terasa kering. Diseretnya tubuhnya menuju dapur untuk mengambil gelas dan air dingin di kulkas. Dengan cepatnya segelas penuh air dingin telah berhasil mulus melintasi tenggorokannya. Diliriknya jam tangan mewahnya, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Artinya sebentar lagi Nanda pulang. Alvin merasa lucu karna sudah mengingat Nanda. Tanpa sadar, Alvin menyunggingkan senyuman simpul yang mencela dari sudut bibirnya. Senyuman untuk menertawai dirinya sendiri karna sudah masuk ke dalam permainan Oma nya.
Maksud awal menerima tawaran Oma Ana untuk menikah dengan Nanda adalah sebagai wujud bakti seorang anak kepada orangtua. Tapi sepertinya Alvin saat ini sudah berada di jalan yang buntu. Dimana tidak ada pilihan manis untuknya, karna nantinya ia akan sulit untuk segera menyudahi pernikahan palsunya sesuai dengan batas waktu yang sudah disepakati dengan Nanda si istri statusnya.
Klik....
Terdengar suara pintu terbuka. Mata Alvin sontak ke arah sumber suara. Benar saja, Nanda yang muncul dari balik pintu. Nanda menutup pintu kembali dan langsung berjalan menuju kamarnya. Nanda belum mengetahui kalau Alvin sudah sampai di rumah. Tubuh lelahnya ingin segera disegarkan, dibersihkan dan direbahkan di atas ranjangnya yang sangat nyaman. Ketika tangannya baru akan menyentuh gagang pintu kamar, Nanda tersentak kaget dengan suara dingin yang khas dan terdengar cukup keras seperti orang yang sedang mengintimidasi seseorang.
"Darimana saja kamu?" Nanda terperangah dan langsung mencari sumber suara berasal. Alvin meletakkan gelas berdiri kaku di samping meja makan sambil menatap tajam penuh kebencian ke arah Nanda.
"Mas Alvin, kamu sudah pulang?"
"Jam berapa sekarang, hah?" Nanda menggaruk-garuk belakang lehernya yang tidak gatal. Ada yang berbeda dari diri Alvin hari ini. Tidak biasanya Alvin memperdulikan kapan dirinya pulang. Bahkan apapun yang Nanda lakukan, Alvin juga tidak pernah memperdulikannya apalagi sampai menanyainya seperti saat ini.
"Hampir jam enam. Memangnya ada apa?" ucap Nanda dengan wajah tenang seraya melihat jam di tangan.
"Biasakan pulang sampai rumah sebelum aku sampai duluan. Mengerti Kamu!!!" mulut Nanda ternganga tak percaya dengan perkataan Alvin yang barusan. Terdengar sangat aneh. Yups, karena Alvin tidak pernah seperti ini sebelumnya. Alvin bahkan tidak pernah peduli kapan Nanda akan pulang. Bahkan untuk makan malam yang Nanda siapkan setiap harinya jarang Alvin sentuh. Sejak kehadiran Celine di Jakarta, Alvin mulai jarang untuk makan malam di rumah.
__ADS_1
Nanda masih terdiam mematung tak bersuara. Hanya tatapan syok dan rasa janggal yang Nanda tunjukkan. Wajah Nanda yang seperti itu semakin membuat Alvin kesal dan emosi.
"Ngapain kamu berdiri saja di situ? Buruan masak!! Aku sudah lapar " Lamunan Nanda seketika buyar ketika nada keras Alvin membahana di udara. Alvin sepertinya sengaja melampiaskan kekesalannya juga kepada Nanda. Wanita yang sudah membuat hidupnya berubah menjadi kacau. Kehidupan rumah tangga yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali sebelumnya. Bahkan terfikir sekilaspun tidak pernah.
"Ah, i-iya" Nanda langsung masuk kamar untuk meletakkan tas dan mencuci tangan dan kakinya. Nanda tidak langsung pergi mandi. Setelah membersihkan tangan dan kaki serta berganti baju santai, Nanda lanjut bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan. Nanda khawatir kalau dirinya mandi dulu, Alvin akan marah lagi karna menunggu lama. Lagipula sekalian kotor juga. Jadi nanti selesai masak, pergi mandi badan sudah bersih dan tidak kotor lagi karna keringat aroma masakan.
Kurang lebih satu jam lamanya akhirnya Nanda berhasil menuntaskan kegiatan masak memasaknya. Nasi, sayur dan lauk sudah Nanda tata rapih di atas meja makan. Nanda pun bergegas untuk mandi. Tak lama selang waktu berlalu, Alvin menuruni anak tangga menuju meja makan. Diliriknya makanan yang telah Nanda sajikan. Masakan sederhana namun memiliki cita rasa yang lumayan bisa memanjakan lidah. Meski Alvin tidak pernah memuji rasa masakan Nanda, namun diam-diam Alvin mulai menyukai masakan Nanda. Bahkan Alvin merasa ada yang kurang ketika Nanda enggan untuk memasak makanan untuknya.
Perut Alvin benar sedang lapar. Gertakan keras perintah memasak memang atas dasar perutnya yang benar-benar lapar. Tanpa perlu menunggu Nanda datang, Alvin segera melahap makanan hasil masakan Nanda sampai tandas.
Nanda keluar kamar sudah dalam keadaan bersih setelah mandi. Aroma bunga dan vanila yang manis menggoda indra penciuman Alvin dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah Nanda yang berjalan menuju meja makan. Semakin hari Nanda terlihat manis. Terlebih malam ini. Rambutnya yang terurai setengah basah dengan kaos oblong merah marron dan celana kulot pendek selutut membuat penampilan Nanda terlihat santai namun menyenangkan untuk dipandang.
"Maaf aku terlambat. Aku tadi mandi dulu. Mas Alvin sudah selesai makannya?" ucap Nanda santai sambil menarik kursi mengambil posisi duduk di depan Alvin.
"Hmmm...." jawab Alvin sambil meneguk segelas air mineral untuk menyudahi makannya. Alvin mengelap bibirnya dengan tissue dan menatap Nanda dengan tatapan tajam. Nanda yang baru mengambil satu sendok nasi tiba-tiba terhenti karna merasa risih dengan tatapan tajam dari mata Alvin. Ditatapnya perlahan wajah Alvin yang kaku dan mulai terlihat menyeramkan.
"Kamu kenapa Mas? Kok kamu natap aku seperti itu?"
"Aku ingin menegaskan satu hal kepadamu"
"Me-menegaskan? Maksudnya??" Nanda benar-benar bingung dan tidak mengerti dengan maksud ucapan Alvin yang barusan. Selama ini dirinya tidak pernah mengusik atau ikut campur masalah kehidupan Alvin. Tapi kenapa malam ini Alvin terkesan sangat marah kepadanya?
__ADS_1
"Dengarkan ucapanku baik-baik Nanda. Dan aku harap kamu selalu ingat dan mengerti posisimu dengan sangat jelas" Kali ini giliran Nanda yang menatap mata Alvin tanpa berkedip. Nanda mulai tak sabar kelanjutan ucapan Alvin selanjutnya. Nanda semakin tak mengerti dengan teka teki yang sedang Alvin lontarkan.
"Kamu hanya istri status aku. Jangan pernah sekalipun berharap aku akan mau menyentuhmu. Mengerti !!" ucapan tajam Alvin sontak menyulut emosi Nanda menjadi naik. Harga diri Nanda seakan telah dicabik cabik oleh Alvin yang sudah dengan terang-terangan merendahkan dirinya. Apa yang Alvin lontarkan benar-benar menyakitkan telinga dan terutama hatinya. Jangankan berharap Alvin untuk menyentuhnya. Bermimpi sekalipun Nanda tidaklah sudi untuk menyerahkan dirinya dengan suka rela kepada laki-laki sombong dan menyebalkan seperti Alvin.
Nanda membanting piring ditangannya ke atas meja yang menimbulkan suara hentakan agak keras. Wajah Nanda yang semula tenang langsung berubah menggelap. Emosi telah menyemai ke seluruh tubuh sampai ke atas ubun-ubun kepalanya.
"Tolong kamu dengar juga tuan Alvin yang terhormat. Aku... Sudah sangat paham dan sangat mengerti siapa aku dan bagaimana posisi aku saat ini. Dan aku juga tidak pernah berfikir sedikitpun untuk memintamu menyentuhku. Karna aku juga tidak sudi untuk kamu sentuh. Pernikahan ini hanya sebuah pernikahan mutualisme. Pernikahan yang saling menguntungkan. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu. Kau mengerti!" Alvin tetap berusaha tenang menyikapi emosional diri Nanda yang mulai meningkat. Gaya elegantnya masih terlihat jelas. Sikapnya yang tenang dan angkuh tetap terjaga dah sikapnya itu semakin membuat wajah Nanda menjadi geram.
Sebuah senyuman sinis dan mencela Alvin sunggingkan di sudut bibirnya. Tatapannya seakan mengejek pernyataan yang telah diucapkan oleh Nanda.
"Baguslah kalau kamu tau diri" ucap Alvin dengan santainya, beranjak dari kursi makan dan langsung mengambil jaket bombers nya yang ia sangkutkan di atas sofa. Alvin mengambil kunci mobil dan berniat untuk pergi lagi malam itu.
Nanda sendiri masih terduduk kesal. Alvin melanjutkan langkahnya menuju pintu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan Alvib menolehkan wajahnya kembali ke arah Nanda yang masih duduk terdiam dengan wajah kesal di meja makan.
"Malam ini aku tidak pulang. Jangan lupa untuk mengunci pintunya" selesai mengucapkan kalimatnya, Alvin melanjutkan langkahnya keluar pintu menuju mobil dan bergegas pergi meninggalkan rumah.
.
.
.
__ADS_1