Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Dapur Mewah Yang Menggoda


__ADS_3

Setelah menutup pintu, Nanda bergegas kembali ke dalam kamar barunya yang mewah. Berulang kali Nanda berdecak kagum mengagumi keindahan kamar mewah miliknya. Sebuah kamar yang besar dan luas, ranjang yang cukup besar dan nyaman, lemari pakaian yang besar juga ditambah sebuah kamar mandi yang sangat bersih sungguh membuat dirinya tak bisa berhenti berucap syukur kepada Tuhan. Senyuman Nanda mengembang manis memenuhi wajah cantiknya.


Setelah puas menikmati keindahan ruang kamarnya, Nanda beranjak keluar kamar dan berniat melihat lihat keseluruhan dari bagian ruangan rumah.


"Waaawww...." suara lirih Nanda terucap begitu saja ketika kakinya menyusuri keseluruhan ruangan rumah Alvin. Rumah yang mewah dengan lantai marmer pilihan dan furniture serba mewah dan tentu saja mahal, menunjukkan kesan yang sangat berkelas bagi sipemiliknya.


Nanda kini menuju ke ruang favorite-nya, yakni dapur. Matanya yang dimanjakan dengan keindahan tata ruang dapur yang dilengkapi perabotan dan peralatan dapur yang lengkap membuat dirinya seakan terbuai dengan keindahan itu. Nanda sangat penasaran dengan isi kulkas besar dan kokoh yang terletak di sudut dapur. Dengan cepat tangannya langsung menarik gagang kulkas.


Betapa terkejutnya Nanda ketika ternyata matanya melihat tumpukan demi tumpukan bahan makanan yang memenuhi kulkas itu. Mulai dari daging sapi dan ayam yang sudah membeku di dalam freezer, bahan makanan olahan instan, ikan salmon yang sudah di fillet, udang segar yang tertata rapih di dalam box plastik serta beraneka macam sayur dan buah tersedia disana. Bahkan makanan kecil, cake dan berbagai jenis minuman ringan juga terlihat tertata rapih di rak. Alvin sepertinya memang sudah mempersiapkan semuanya dengan baik.


Melihat banyaknya bahan makanan yang tersedia di kulkas, hasrat Nanda untuk memasakpun seketika langsung muncul. Lagipula kalau dirinya tidak mau masak, nanti siang ia sendiri juga yang akan kesulitan mengatasi perutnya yang kelaparan.


Dengan cekatan Nanda mulai memakai baju celemek dan mempersiapkan bahan makanan yang akan ia masak. Nanda sungguh sangat bersemangat untuk memasak hari itu. Apalagi memasak adalah kegiatan yang sering ia lakukan di rumahnya yang dulu. Sejak ibunya sakit-sakiran, Nandalah yang bertugas memasak makanan untuk dimakan ia bersama kedua orangtuanya.


"Oia, kabar ibu dan ayah bagaimana ya? Siapa yang menggantikan aku memasak? Apa mungkin ayah? Ah, sebaiknya aku memasaknya sambil menelpon ibu" Nanda memasang earphone ke dalam ponselnya dan langsung menekal nomor ponsel milik.ibunya. Nomorpun tersambung. Meski sambil menelpon, tangan Nanda tetap dengan cekatan memulai kegiatan masak memasaknya.


[ Halooo... ]


terdengar suara wanita separuh baya dari sebrang. Suara yang sangat Nanda kenali dan sangat ia rindukan. Senyuman Nanda seketika merekah lebar menghiasi wajahnya.


[ Ibuuu... ] pekik Nanda


[ Nandaaa... Kamu apa kabar nak? ]


[ Nanda baik-baik saja. Ibu dan Ayah apa kabar? Bagaimana kondisi ibu? ]


[ Kondisi ibu sudah membaik nak. Nyonya besar benar-benar sangat baik. Ibu diberikan perawatan yang sangat bagus. Dada ibu sudah enakan. Sudah jarang terasa sakit. Dan ibu juga sudah bisa memasak makanan untuk ayahmu ]

__ADS_1


[ Oia? Syukurlah... Nanda senang mendengarnya ]


tanpa terasa dua buliran bening lolos begitu saja dari mata indah Nanda. Hatinya sungguh terharu mendengar perkataan ibunya yang merasa senang. Pengorbanan yang ia lakukan ternyata tidak sia-sia. Oma Ana benar-benar menepati janjinya.


[ Oia Nanda, Ayahmu sekarang dipindah tugaskan ke kantor cabang yang tidak terlalu jauh dari rumah. Nyonya besar juga memberikan jabatan sebagai manager di kantor cabang untuk Ayahmu ]


buliran beningpun meluncur bebas lagi dari mata Nanda. Tangis bahagia Nanda semakin deras membasahi kedua pipinya. Senyuman manis yang mungkin tak terlihat oleh ibunya, Nanda lukiskan di wajahnya. Dadanya terasa sesak karna menahan rasa bahagia yang memenuhi seluruh ruang hatinya.


[ Sayang, kamu menangis? ]


[ Ah, ti-tidak Ibu. Nanda menelpon ibu sambil memasak. Mungkin karna saat ini Nanda sambil mengiris bawang, jadi mata Nanda terasa pedas dan jadi terdengar seperti orang yang menangis ]


[ Ooo.... Begitu. Nanda, bagaimana kamu disana? Apakah kamu diperlakukan dengan baik oleh suami dan kedua mertuamu? ]


[ Ah iya Bu. Mereka semua memperlakukan Nanda dengan baik. Mas Alvin juga sangat baik. Bahkan Nanda sekarang sudah tinggal di rumah Mas Alvin sendiri. Kami sudah pindah ]


[ Kami pindah hari ini. Rumah Mas Alvin sangat besar. Walaupun tidak sebesar rumah Oma Ana, tapi menurutku ini juga sangat besar ]


[ Nanda, Ibu berdoa semoga kamu bahagia dengan pernikahanmu, seperti Ibu dan Ayah yang sangat bahagia melihat putri ibu bersuamikan laki-laki tampan dan mapan. Kamu jangan terlalu memikirkan kondisi Ibu. Ibu dan Ayah disini baik-baik saja ]


[ Syukurlah kalau Ibu dan Ayah disana baik-baik saja. Nanda jadi tenang di sini. Kalau begitu, sudah dulu telponnya ya Bu. Nanda mau melanjutkan memasaknya ]


[ Iya sayang, lanjutkanlah. Tolong kamu masakkan suamimu hidangan special yang bisa membuatnya jatuh cinta kepadamu ]


[ Ibu ini ngomong apa sih? Sudah ya bu, salam buat Ayah ]


Nanda mematikan sambungan telponnya. Sejenak Nanda terdiam sambil masih memandangi layar ponselnya. Setelah menghela nafas pendek, Nanda kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Aroma wangi masakannya sudah mulai tercium. Satu persatu hidangan akhirnya matang.

__ADS_1


Siang ini Nanda memasak tiga menu masakan. Nanda memasak nasi dengan tingkat kematangan sedang, tumis sayur pakcoy hijau, balado udang, dan ayam fillet goreng tepung yang ia potong dadu. Karna Nanda belum begitu tau selera Alvin, maka semua masakan yang dibuatnya tidaklah pedas. Nanda membuatkan sambal tomat pedas dan disajikan ke wadah tersendiri jika Alvin ingin menambahkan rasa pedas ke dalam makanannya nanti.


***


Aroma wangi masakan Nanda tercium sampai ke kamar Alvin. Dan aroma wangi itu sempat mengganggu indra penciumannya. Karna perut yang sudah terasa lapar, akhirnya Alvin beranjak dari kursi kerjanya dan keluar kamar untuk memastikan aroma wangi yang telah mengusiknya karna telah berani masuk ke dalam kamar dan mengganggu konsentrasi kerjanya.


Mata Alvin sedikit terkejut ketika melihat Nanda yang terlihat sibuk menyiapkan hidangan ke meja makan. Nanda masih menggunakan celemek dan earphone di telinganya. Nanda terlihat asik sampai-sampai tak mengetahui keberadaan Alvin yang sudah memperhatikannya sedari tadi. Rupanya Nanda memasak sambil mendengarkan musik. Mulut Nanda terlihat komat kamit dan sedikit terdengar lirik nada yan tercipta dari mulutnya.


Alvin mendudukkan diri di kursi makan sambil menunggu Nanda menyelesaikan masakannya. Melihat Alvin yang sudah duduk tenang dengan tatapan dingin ke arahnya sontak membuat Nanda terperanjat kaget.


"Hhhaaahhh.... Mas Alviiiinnnn...." pekik Nanda sambil memegang dada. Alvin sendiri tetap tenang di posisi duduknya. Nanda segera melepas earphone dan celemeknya dan bergegas menata masakannya di atas meja makan. Setelah dirasa semua sudah lengkap, Nanda ikut duduk dan bersiap untuk makan siang.


"Maaf, aku tidak meminta ijin kepadamu dan langsung memasak bahan makanan yang ada di kulkas. Jangan khawatir, aku akan membayar semua bahan makanan yang sudah aku pakai" Alvin tersenyum mencela mendengar serentetan perkataan dari Nanda. Wajah dinginnya menambah sempurna sikap datarnya ketika merespon permohonan maaf dari Nanda.


"Kalau masakanmu tidak enak, kau harus membayar 2x lipat dari harganya. Bahan makananku adalah yang makanan yang sudah melalui seleksi khusus dan sudah terjamin kualitasnya. Jadi sudah tentu harganya pasti mahal" jawab Alvin santai seraya tangannya mengambil piring kosong yang sudah Nanda sediakan dan langsung mencicipi masakan Nanda tanpa menunggu Nanda mempersilahkan dirinya untuk mencoba.


Nanda sendiri seketika memucat berharap cemas ketika kedua bola matanya memperhatikan dengan lekat gerak gerik Alvin yang sedang mencicipi masakannya. Tidak ada ekspresi yang menyenangkan dari wajah Alvin. Hanya ekspresi datar dan dingin yang Alvin tunjukkan.


"Masakanmu lumayan. Masih layak untuk dimakan. Walaupun rasanya masih tidak seenak masakan koki yang biasa aku makan, tapi yaaaahhhh... Not bad" Nanda menghembuskan nafas dengan kasar merasa lega dengan perkataan Alvin. Meskipun perkataan Alvin sangat menusuk ditelinga, setidaknya Alvin tetap doyan dengan masakannya dan melanjutkan makannya. Alvin memang benar, jika dibandingkan dengan masakan koki profesional yang ia makan sehari-hari, masakan Nanda bukanlah apa-apa.


Siang itu Nanda dan Alvin menikmati makan siang mereka dengan suasana hening tanpa kata. Hanya suara alat makan saja yang sesekali terdengar disela-sela kegiatan makan keduanya. Alvin seperti biasa memilih diam dan berfokus menikmati makanannya. Nanda pun juga memilih hal yang sama. Sangat enggan rasanya jika harus memulai pembicaraan dengan Alvin yang kaku dan dingin.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2