
Mata Nanda terbelalak tak percaya ketika matanya dengan jelas melihat sebuah nama yang muncul di layar ponselnya. Nama yang sangat jarang sekali menghubungi dirinya. Yuuppsss.... Alvin Calling...
Nanda yang gugup dengan suara panggilan telpon Alvin membuat dirinya harus melewatkan satu panggilan tidak terjawab darinya. Nanda bernafas lega ketika nada sambungan telponnya berhenti. Namun rasa leganya itu kembali menjadi panik ketika nama Alvin kembali muncul di layar ponselnya.
Nanda menarik nafas agar dirinya tenang menerima panggilan telpon dari Alvin.
[Ha-halo...] sapa Nanda lembut.
[Kamu dimana?] tanya Alvin tanpa basa-basi.
[A-aku... Aku ada di...]
[Aku tanya kamu dimana?] suara Alvin terdengar geram yang membuat Nanda semakin panik dan gugup.
[Aku ada di...]
[JAWAB PERTANYAAN AKU!!] suara Alvin mulai meninggi.
[Aku ada di kampus XXXX]
[Ok. Jangan kemana-mana. Aku ke sana]
[A-apaaa?] pekik Nanda.
Percuma saja Nanda berteriak kaget. Toh Alvin dengan arogannya langsung memutus sambungan telponnya begitu saja. Nanda merasa sangat kebingungan dengan sikap yang baru saja Alvin tunjukkan. Di otaknya mulai muncul pertanyaan-pertanyaan seputar Alvin. Ada apakah dengan suami statusnya? Kenapa sikapnya aneh dan tidak seperti biasanya? Ada masalah apa? Apakah dia melakukan kesalahan? Untuk apa Alvin menyuruhnya jangan kemana-mana? Dan untuk apa Alvin datang ke kampusnya?
"Ada apa sih dengan hari ini? Kenapa semuanya menjadi aneh? Kak Evan? Mas Alvin?" ucap Nanda tanpa sadar. Nanda menggeram kesal kepada dirinya. Nanda juga merasa kasihan menjadi dirinya saat ini.
Tidak sampai satu jam lamanya, mobil Alvin sudah terparkir di pelataran kampus Nanda. Alvin keluar dari mobil dengan mengenakan kacamata hitam. Penampilan elegant Alvin sontak membuat para mahasiswi di kampus itu menjadi histeris karna terbius oleh ketampanan wajah Alvin serta tubuh tegap Alvin yang membuat para mahasiswi klepek-klepek.
Tidak sedikit mahasiswi yang mengikuti langkah Alvin memasuki lobby kampus.
"Maaf kak, kakak ganteng ini sedang mencari siapa? Aku boleh kenalan ga?" ucap salah satu siswi yang ditemani oleh seorang teman wanita sedang mencoba mendekati dan menggoda Alvin.
"Oh halo... Apa kamu kenal sama perempuan yang ada disini?" Alvin membuka kacamata hitamnya lalu menunjukkan foto Nanda yang ada di layar ponselnya. Foto Nanda yang terlampir di aplikasi telpon miliknya.
Mahasiswi itu melihat dengan cermat lalu menggelengkan kepalanya karna merasa kurang familiar dengan wajah Nanda. Mungkin karna status Nanda yang masih baru dan ternyata si mahasiswi-mahasiswi itu lain fakultas dengan Nanda
"It's Ok" ucap Alvin sambil melempar senyum kakunya.
"Boleh kenalan ga Kak? Aku Grace" dengan percaya diri yang tinggi, Grace menyodorkan tangan ke arah Alvin. Alvin hanya menatap sekilas uluran tangan Grace dan lalu tersenyum mencela.
"Sorry, saya ga ada waktu" ucap Alvin sambil berlalu pergi meninggalkan Grace dan temannya.
Alvin dengan santainya menekan nomor ponsel Nanda tanpa memperdulikan wajah kesal Grace di belakangnya.
"Sumpah yaa... Sombong banget itu cowok... Gue sumpahin ga laku tuh cowok biar tau rasa dia. Huft, kesel gue. Cabut.." Grace memilih pergi menjauh dengan segudang gerutuannya tentang Alvin.
__ADS_1
Nanda mendengus kasar ketika ponselnya berbunyi lagi. Nama Alvin tertera lagi di sana. Dengan berat hati Nanda menerima panggilan telpon suaminya statusnya itu.
[Halo...] ucap Nanda malas.
[Aku sudah sampai di kampus XXXX. Kamu dimana?]
[Kamu ada keperluan apa sih Mas nyariin aku sampai di sini?]
[Jawab pertanyaan aku, KAMU ADA DIMANA?]
[Aku lagi di ruangan. Sebentar lagi aku ada kelas]
[Aku beri kamu waktu lima menit. Temui aku di parkiran. SEKARANG!!!]
[Tapi Mas, sebentar lagi aku ada kelas]
[Kalau dalam waktu lima menit kamu tidak datang, aku akan acak-acak semua ruangan yang ada di kampus ini]
[Jangan gila kamu Mas!!]
[Keputusan ada di tangan kamu, Nandaa..]
[Aku ga mau !!!] Nanda mencoba membantah.
[Ok. Aku akan buktikan perkataanku]
Nanda terdiam di kursinya. Dicerna kembali perkataan ancaman yang Alvin lontarkan. Ada rasa malas yang teramat sangat untuk bertemu dengan suami statusnya. Namun disisi lain ada rasa takut dan was-was akan kenekatan sikap Alvin yang bisa membuat dirinya malu. Dengan kekuasan dan uang yang melimpah yang dimiliki Alvin, bukan hal sulit baginya untuk merealisasikan ucapannya.
Dengan geram Nanda bangkit dari duduk dan setengah berlari menuju ke tempat Alvin berada saat ini, yakni di parkiran.
Alvin tersenyum puas ketika matanya menangkap sosok perempuan yang berjalan setengah berlari terengah-engah untuk menghampiri dirinya. Nanda nampak bingung mencari keberadaan mobil Alvin. Alvin menekan klakson mobil dan membuat Nanda menjadi tau letak mobilnya.
Alvin dengan santai keluar dari mobil menghampiri Nanda yang sudah memasang muka masamnya.
"Ada apa kamu nyuruh aku ke sini? Buruan bilang. Sepuluh menit lagi aku ada kelas" ucap Nanda masih dengan nafasnya yang terengah-engah.
"Masuk" titah Alvin. Nanda terdiam di posisinya dan tak bergeming.
"Aku bilang MASUK !!" suara Alvin kembali meninggi.
"Kasih tau dulu mau kemana?" bukannya menjawab pertanyaan Nanda, Alvin berjalan cepat mendekati Nanda dan mendorong tubuh Nanda memasuki mobilnya. Nandapun hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suami statusnya itu.
Di dalam mobil keduanya saling diam. Mata Alvin fokus ke depan melihat arus jalanan yang cukup padat. Sedangkan Nanda mencoba menikmati pemandangan lalu lintas yang tidak menarik sama sekali untuknya.
Nanda terperangah kaget ketika dirinya mengenali jalanan yang sedang mereka lintasi. Yah, Alvin membawanya kembali ke rumah. Dan hal ini membuat Nanda semakin kesal olehnya.
"Loh Mas, ini kan jalan pulang ke rumah?" ucap Nanda panik
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" jawab Alvin santai balik bertanya.
"Kamu mau ngapain bawa aku balik ke rumah?" Alvin mengabaikan pertanyaan Nanda dan memilih fokus menyetir.
Mobil Alvin sudah sampai di depan halama rumah. Alvin menyuruh Nanda turun dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dengan menahan kesal, Nanda mengikuti juga titah Alvin.
Alvin menggiring Nanda ke dapur. Nanda semakin tak mengerti dengan kemauan Alvin. Untuk apa Alvin menggiring dirinya ke dapur.
"Aku lapar. Buatkan aku makanan, sekarang!" ucap Alvin dengan nada datar dan tanpa rasa sungkan sama sekali.
"Apaaaa??? Jadi kamu sengaja bawa aku pulang cuma untuk masakin kamu?" pekik Nanda kesal
"Kamu itu seorang istri, tugasmu memasak" Nanda mengeratkan gigi-giginya. Ingin sekali rasanya menonjok puas wajah Alvin yang menyebalkan.
"AKU GA MAU!! Kalau kamu lapar, silahkan kamu beli makanan di restoran favorit mu. Aku ga ada waktu untuk semua ini" Nanda mencoba pergi meninggalkan Alvin yang masih berdiri di posisinya menatapnya dengan tatapan yang menyebalkan.
"Kalau kamu sungguh tidak mau, aku tidak akan memaksa. Tapi jangan salahkan aku kalau hari ini kamu mendengar kabar buruk dari orangtua mu" suara ultimatum Alvin berhasil menghentikan langkah Nanda dan kembali membalikkan badan menuju dapur. Alvin tersenyum puas. Rasanya sungguh senang ada orang yang menuruti perintahnya dengan baik.
"Kamu mau makan apa?" ucap Nanda ketus.
"Apa saja, yang penting enak" jawab Alvin dengan nada mengejek.
Nanda sengaja mendengus kasar di depan Alvin. Alvin pun memasang wajah bebal akan sikap Nanda yang sedang kesal. Senyuman kecil tersungging diekor bibir Alvin.
Nanda mulai membuka kulkas memilah-milah bahan makanan yang akan ia masak. Alvin membalikkan badannya dan berjalan menuju ruang tengah dekat dapur untuk menunggui Nanda yang sedang memasak.
Alvin duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sambil menunggu Nanda selesai masak, Alvin mulai sibuk mengecek email dan mengirimkan pesan kepada Dino menanyakan masalah pekerjaan kantor yang tadi ia tinggalkan. Alvin sesekali melirik ke arah Nanda yang terdengar riuh memasak sendiri di dapur. Alvin tersenyum kecil merasa lucu dengan sikap setengah hati Nanda yang sedang memasak. Suara gaduh yang sengaja Nanda timbulkan tidak lantas membuat dirinya merasa kesal atau terganggu. Malah sebaliknya, hati Alvin terasa senang ketika ia berhasil membuat istrinya statusnya kesal akan perbuatannya. Rasa gelisah yang ia rasakan sepagian tadi, lenyaplah sudah.
Satu jam lamanya, akhirnya Nanda berhasil membuat tiga jenis makanan sederhana. Nanda memang sengaja memasak masakan yang sederhana untuk Alvin. Hanya ada nasi, ayam goreng bumbu gurih dan sepiring sayur hijau yang ditumis. Namun kali ini Nanda sengaja membuat sayur tumis dengan rasa pedas level atas. Pedas mampus. Nanda tau Alvin tidak suka pedas. Ini sebagai balas dendam dirinya kepada Alvin yang sudah mengacaukan kuliahnya hari ini.
"Sudah matang nih Mas. Jadi mau makan ga?" teriak Nanda memanggil Alvin.
Alvin beranjak dari duduk, pindah menuju kursi makan. Nanda dengan tenang mengambilkan Alvin sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya.
Di dalam hati, Nanda tertawa puas membayangkan ekspresi wajah Alvin yang akan memerah karena kepedesan memakan hasil masakannya. Nanda mulai tidak sabar menanti ekspresi wajah Alvin.
Alvin menikmati masakan Nanda dengan tenang. Alvin nampak sangat menikmati masakan Nanda. Awalnya Alvin terlihat terkejut dan menghentikan makannya ketika satu suapan besar masuk ke dalam mulutnya. Yups, Alvin pasti merasa kepedasan.
Namun yang di luar dugaan, Alvin ternyata bisa menahan rasa pedasnya masakan Nanda dan tetap makan dengan tenang. Hal ini membuat Nanda semakin kesal dibuatnya.
Siang itu Alvin dan Nanda menikmati makan siang mereka dengan tenang. Alvin memang terlihat tenang menikmati makanannya. Namun bulir-bulir keringatnya adalah bukti kuat kalau Alvin sedang mengalami perubahan hormon. Rasa pedas yang ia rasakan menimbulkan efek melimpahnya keringat yang membahasi seluruh tubuhnya. Baju Alvin mulai terlihat basah. Alvin juga mulai mengendorkan dasinya untuk menyeimbangkan kondisi tubuhnya.
,
,
,
__ADS_1