Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Benarkah Dia Baik?


__ADS_3

Langit cerah sudah berganti gelap. Para karyawan satu persatu sudah pulang meninggalkan kantor. Suasana kantor yang tadi ramai sudah mulai terasa hening. Hanya tersisa beberapa karyawan yang masih terlihat di ruangan.


Jemari Nanda tengah sibuk memainkan pulpen yang ia gerak-gerakan diantara jari-jarinya. Matanya sesekali mengarah ke arah pintu ruangan Alvin. Alvin kelihatannya masih betah berlama-lama berkutat dengan kesibukannya di sana. Ingin sekali dirinya beranjak dari kursinya dan pergi bebas dari kepenatan hari ini. Seharian ini tidak ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan. Hanya sekedar mendengarkan penjelasan Dino tentang boss angkuhnya itu.


Nanda melirik jam di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi Dino masih terlihat sibuk dengan seabrek kertas-kertas yang masih tertumpuk tinggi di mejanya.


"Mas Dino..."


"Ya..." jawabnya tanpa menolehkan pandangannya ke arah Nanda.


"Kamu belum ada rencana pulang? Udah malem loh ini" Dino tertawa geli mendengar perkataan Nanda yang polos.


"Sebentar lagi. Pekerjaan aku tanggung nih, sedikit lagi selesai" Nanda menghembuskan nafas panjangnya merasa heran dengan Dino.


"Setiap hari kamu pulang malam terus Mas?"


"Enggak juga. Semua tergantung dengan boss besar kita. Kalau dia masih ada di kantor, aku biasanya masih belum bisa untuk pulang. Takut tiba-tiba dia minta aku buat ngerjain sesuatu. Daripada aku sudah sampai rumah trus balik lagi ke kantor jadi biasanya aku pulang kalau pak Alvin juga sudah pulang"


"Menyebalkan sekali..."


"Sebenarnya Pak Alvin itu baik kok Nanda. Cuma karna sikapnya yang keras jadi membuat dirinya terlihat seperti orang yang angkuh dan menyebalkan. Awalnya aku juga seperti kamu, menganggap pak Alvin itu menyebalkan dan otoriter. Awal bekerja di sini aku juga hampir merasa tidak betah. Tapi lama-lama aku bisa memahami karakter sebenarnya dari pak Alvin"


"Memangnya dia orang yang seperti apa?" rasa penasaran Nanda akan sosok Alvin mulai menyeruak.


"Pak Alvin orangnya memang keras, sebenarnya bukan keras sih dia lebih ke tegas. Dia tipe pekerja keras, disiplin dan detail. Tapi dibalik semua itu pak Alvin orangnya juga baik. Bisa dibilang dia royal dan memperhatikan kesejahteraan para karyawan. Pak Alvin juga ga pelit buat kasih uang lemburan dan bonus. Kalau perusahaan menang tander, kita pasti ditraktir makan dan dikasih bonus tambahan. Oia satu lagi, Bagi anak karyawan yang punya prestasi bagus, mereka bisa mengajukan bea siswa ke perusahaan. Dan pak Alvin sendiri yang turun tangan dalam hal ini"


"Memangnya banyak anak karyawan yang diberikan bea siswa?"


"Jumlahnya lumayan banyak. Dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi"


"Benarkah?"


"He-em, benar. Karna aku tau datanya. Sebelum data penerima beasiswa masuk ke bagian keuangan, data itu aku yang sortir dan diperiksa oleh pak Alvin. Lalu beliau tanda tangani. Setelah itu baru masuk ke bagian keuangan untuk proses pencairan dana"


"Oo begitu..." Nanda mengangguk-anggukkan kepala. Ada rasa salut dan senang mendengar penjelasan Dino tentang sisi baik diri Alvin.


"Cuma kadang aku merasa kasian dengan Pak Alvin"


"Kasian? Kasian kenapa?"


"Ini pengamatan dari aku pribadi ya. Tapi kamu jangan sampai bocor loh ya."


"Ok, janji" ucap Nanda sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya berbentuk huruf V kepada Dino.


"Menurutku, sikap dingin dan kerasnya pak Alvin itu dipengaruhi oleh kisah percintaannya yang rumit"


"Maksudnya?"


"Aku pernah ga sengaja mendengar percakapan pak Alvin di telpon. Pak Alvin sepertinya sedang bertengkar dengan pacarnya. Kalimat yang aku dengar berkaitan dengan pernikahan. Sepertinya pacarnya pak Alvin itu belum mau untuk diajak menikah"


"Pak Alvin itu sudah menikah atau belum ya mas?" Nanda sengaja ingin menelisik lebih jauh tentang seberapa banyak pengetahuan Dino tentang pernikahan Alvin dengan dirinya yang dilakukan secara diam-diam dan hanya dihadiri oleh beberapa anggota keluarga dan kerabat dekat saja.


"Kabar kabur yang pernah aku dengar, katanya sih pak Alvin itu sudah menikah dengan seseorang yang identitasnya masih dirahasiakan" Nanda menelan lativanya dan seketika wajahnya memucat.


"Kenapa dirahasiakan?"

__ADS_1


"Kalau soal itu aku juga kurang tau. Karna katanya wanita yang dinikahi pak Alvin itu bukan berasal dari kalangan terpandang. Hanya perempuan dari keluarga biasa. Malah yang aku dengar, ayah dari istri pak Alvin itu hutangnya banyak. Aneh, kok pak Alvin bisa mau ya menikah sama itu perempuan" Nanda mengeratkan gigi gerahamnya menahan rasa kesal dengan ocehan Dino yang sudah merendahkan dirinya.


Nanda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Walau perkataan Dino itu menyebalkan untuk di dengar, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Dino tidak tau kalau perempuan yang sedang dia bicarakan adalah orang yang ada dihadapannya kini. "Hmm... Tapi ya sudahlah" batin Nanda mencoba menerima.


"Nanda!"


Lamunan Nanda buyar seketika ketika telinganya menangkap suara yang sangat familiar memanggil namanya. Mata Nandapun langsung mencari ke sumber suara.


Alvin ternyata sudah berdiri di luar pintu kerjanya sambil menjinjing tas kerja. Sepertinya Alvin sudah siap untuk pulang.


"I-iya pak.." jawab Nanda dengan tergagap.


"Aku tunggu di parkiran"


"Hah?"


Seperti biasa Alvin langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Nanda. Nanda hanya bisa menelan lativa dan bergegas mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.


"Mas Dino, aku duluan ya"


"Okay" Dino mengangguk setuju.


Nanda bergegas menyusul boss besarnya itu menuju parkiran. Yang ada dibenaknya saat ini, untuk apa Alvin memintanya menyusul dirinya ke parkiran. Apakah Alvin berniat untuk mengajak dirinya pulang bersama? Bukankah selama ini Alvin tidak pernah berbaik hati mengajaknya satu mobil dengannya.


Nanda sudah sampai di parkiran mobil. Ia juga masih ingat letak mobil Alvin diparkir. Namun langkahnya meragu ketika dirinya sudah mau sampai di depan mobil suami statusnya itu.


Alvin menatap geram tak sabar memperhatikan langkah Nanda yang melambat.


Nanda terkaget ketika Alvin dengan sengaja membunyikan klakson mobil kepadanya. Dengan langkah ragu, Nanda mendekati pintu mobil Alvin. Alvin tidak keluar dari mobil, hanya membuka kaca pintu mobil. Wajahnya tetap saja dingin dan angkuh.


"Kamu ini manusia atau keong? Lambat banget gerakannya" gertak Alvin, namun tidak diambil pusing oleh Nanda.


"Masuk!!!"


"Kita mau kemana lagi? Bukankah jam kantor sudah selesai?"


"Jangan bikin aku marah Nanda!!" Suara Alvin memberat menunjukkan nada kesal yang tertahan.


Kali ini Nanda tidak ingin berdebat. Walau rasanya sangat malas harus satu mobil lagi dengan manusia angkuh seperti Alvin, Nandapun masuk ke dalam mobil dan tidak lupa memasang seatbelt.


Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kantor. Dan seperti yang sudah-sudah, sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun dari keduanya. Sepi dan sunyi.


Langit sudah gelap. Lampu jalanan sudah menyala terang. Suasana jalan pun menjadi terang dengan warna warni lampu yang menghiasi sepanjang perjalanan. Deretan toko-toko yang terang dengan model design lampu yang bervariasi membuat suasana malam terasa lebih hidup dan membuat nyaman para penikmat malam.


Ddddrrttt.... Ddddrrttt....


Nanda merasakan getaran ponsel dari dalam tas. Diambilnya ponselnya dari dalam tas.


Evan Calling...


Nanda menghela nafas ketika membaca nama yang ada di layar ponselnya. Rasanya sangat galau kalau menerima telpon dari Evan di samping Alvin. Alvin pasti ga akan suka.


Getaran ponsel terhenti. Nanda mengabaikan panggilan Evan. Dan nampaknya Evan tidak putus asa. Ponsel Nanda bergetar lagi. Dan nama Evan kembali menghiasi layar ponsel miliknya. Kali ini Nanda memutuskan untuk menerima panggilan telpon dari Evan. Masa bodoh dengan Alvin. Batin Nanda lagi.


[Halo kak Evan...]

__ADS_1


Alvin yang sedari tadi fokus dengan kemudinya secara refleks menatap tajam ke arah Nanda ketika mulut Nanda menyebutkan satu nama laki-laki yang ia benci.


[Hai Nanda... Kamu lagi dimana?]


[Aku lagi di jalan]


[Oh begitu, memangnya Kamu mau kemana?]


[Emm... Aku mau pulang. Ada apa ya kak?]


Lagi-lagi mata Alvin mencuri pandang ke arah Nanda yang sedang berbicara dengan suara yang sengaja dipelankan.


[Aku dengar beberapa hari ini kamu tidak pernah masuk kuliah. Benarkah?]


[Oh, Soal itu.. Aku... Emm... iya Kak, maaf ya. Aku sedang ada urusan lain]


[Hmm, baiklah. Besok harus masuk ya. Jangan bolos lagi]


[Se-sepertinya, besok aku juga masih belum bisa masuk Kak]


[Urusan kamu masih belum selesai?]


[Eemmm, iya] Nanda menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar merasa tidak enak hati dengan Evan yang sudah baik memperjuangkan pendidikan untuknya.


[Hmm... Ya sudahlah kalau begitu. Kamu selesaikan saja dulu urusanmu. Tapi kalau bisa jangan lama-lama ya. Kamu bisa ketinggalan banyak materi. Dan nilai ujian kamu nanti bisa jelek]


[Iya kak, baik]


[Oia Nanda, malam ini apa kamu ada waktu? Aku mau ajak kamu dinner?]


[Dinner??]


Mata Nanda terbelalak terkejut luar biasa ketika dengan tiba-tiba Alvin mengerem dan menghentikan laju mobilnya dengan mendadak. Kuping Alvin terasa gatal ketika mendengar kata dinner. Dengan kasar dan tanpa permisi, Alvin mengambil paksa ponsel Nanda dan mengambil alih pembicaraan.


[TIDAK ADA WAKTU UNTUK DINNER..!!]


Alvin menutup ponsel dan melemparnya kembali ke pangkuan Nanda.


"Kamuuuu... Arrrrrgghhhh" Nanda mengepalkan jemarinya dan menggeram kesal dengan sikap Alvin yang semena-mena.


"Ga usah norak!!"


Nanda mendengus kasar dan menyandarkan kembali kepalanya di kursi. Berdebat dengan Alvin pun terasa percuma. Karna pada akhirnya dirinya ga bakal bisa tenang.


Alvin membelokkan mobilnya memasuki sebuah restoran masakan Jepang yang cukup terkenal. Setelah mobil dirasa cukup baik terparkir, Alvin mematikan mesin mobilnya, membuka seatbelt dan bersiap untuk keluar. Namun tangannya urung membuka pintu mobil ketika matanya melihat sikap Nanda yang masih terdiam dengan seatbelt nya yang masih terpasang di tubuhnya.


"Kenapa diam aja?" ucap Alvin memulai pembicaraan. Nanda masih enggan untuk menjawab. Hanya tatapan datar yang Nanda tunjukkan sebagai wujud rasa kesalnya.


"Turun !!"


"Mau ngapain?"


"DINNER !!!" ucap Alvin dengan intonasi suara tinggi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2