Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Keputusan Besar VS Ide Gila


__ADS_3

Setelah semua berkas dan dokumen sudah ditanda tangani Oma Ana, Pieter segera merealisasikan apa yang sudah diperintahkan client VIP nya. Danapun mulai dicairkan dan disalurkan kepada yang berhak menerima.


Oma Ana tersenyumlah puas dan senang dengan kinerja Pieter. Lembaran demi lembaran kertas hasil laporan kerja Pieter sedang ia baca kini. Memang selama ini Pieter adalah orang yang bisa ia percaya dan diandalkan. Cara kerjanya yang cepat dan tepat membuat Oma Ana semakin percaya dengannya.


Wajah sumringah Oma Ana sangat kontras dengan dua orang yang kini sedang terlihat tegang menahan amarah. Desiana sang menantu ingin sekali meledakkan amarahnya kepada sang ibu mertua. Menurutnya, perbuatan ibu mertuanya ini sudah diluar batas. Menghambur-hamburkan uang dengan angka yang fantastis.


"Aku tidak mengerti dengan isi kepala ibumu. Dengan mudahnya ibumu membuang uang sepuluh milyar begitu saja..." pekik Desiana kepada suaminya Hadinata.


"Sayang, kamu tenanglah dulu. Aku benar-benar tidak tau dengan semua ini"


"Bagaimana aku bisa tenang. Uang sepuluh milyar itu bukan uang yang sedikit sayaaaang..."


"Iya aku tau. Tapi mau bagaimana? Lagipula itu kan memang uangnya Ibuku. Aku bisa apa?"


"Ibumu sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya dia mengeluarkan uang besar tanpa memberitahu kita terlebih dulu"


"Sudahlah sayang, lagipula uang yang ibuku keluarkan untuk hal yang baik. Kita tidak perlu khawatir"


"Tetap saja ibumu keterlaluan. Ibumu sudah tidak menganggap kita. Lagipula dengan uang sepuluh milyar seharusnya bisa sebagai modal renovasi hotel kita. Sudah banyak bagian gedung yang harus diperbaiki dan desain ulang. Benar-benar menyebalkan"


Hadinata mencoba menenangkan istrinya dengan memeluknya sambil mengusap-usap punggung tubuhnya. Berada di dalam pelukan suaminya, Desiana terlihat sedikit lebih tenang.


"Nanti aku coba bicarakan hal ini baik-baik dengan ibuku"


"Percuma saja. Dana kita sudah hilang"


"Sudahlah... Tenangkan dirimu. Sudah malam, lebih baik kita makan, ibuku pasti sudah menunggu kita di meja makan. Okay" Desiana hanya mengangguk menuruti ucapan suaminya.


Hadinata dan istrinya keluar kamar menuju meja makan. Suasana makan malam ini terlihat berbeda. Desiana sengaja menampilkan raut wajah asam di depan ibu mertuanya. Oma Ana tampak tenang menikmati makan malamnya. Rasa puas dan senangnya membuat makan malamnya terasa lebih nikmat dari biasa.


"Kalian sudah datang, ayo makanlah" ucap Oma Ana menyapa anak-anaknya.


Suasana makan malam seperti malam-malam biasanya, selalu hening dan hikmat. Desiana nampak tidak berselera dengan makan malamnya. Di benaknya masih dipenuhi rasa kesal dan kecewa dengan keputusan ibu mertuanya.


"Kau kenapa? Sakit? Aku lihat makanmu malam ini tidak berselera" tanya Oma Ana di sela-sela makannya. Oma Ana tau persis akan penyebab dari asamnya wajah menantunya yang serakah dengan harta. Apalagi kalau bukan masalah uang sepuluh milyar yang ia donasikan. Oma Ana sangat paham akan karakter dari menantunya yang kemaruk akan harta. Jadi tidaklah heran jika malam ini sikapnya berubah asam dan dingin.


"Aku tidak begitu lapar" jawabnya ketus. Hadinata sengaja menyenggol tangan istrinya itu sebagai isyarat untuk bersikap lebih sopan kepada ibunya.


"Apakah karena perihal donasiku membuat ***** makanmu hilang?" pertanyaan santai dari Oma Ana seketika membuat Hadinata merasa canggung. Hadinata merasa sedikit malu atas sikap kurang sopan yang ditunjukkan istrinya. Meski demikian, Desiana tetap saja tidak memperdulikan perasaan suaminya. Rasa kesalnya atas keputusan ibu mertuanya tetap saja tak bisa hilang begitu saja.

__ADS_1


"Bukankah sebaiknya sebelum mama memutuskan untuk berdonasi, mama bisa meminta pendapat dari kami? Atau minimal pendapat mas Hadinata. Uang sepuluh milyar dibuang begitu saja. Sungguh sangat disayangkan" Desiana sudah tidak sanggup lagi menahan rasa kesalnya. Uneg-uneg yang sedari tadi sudah mengendap di benaknya dengan lancar ia utarakan kepada mama mertunya.


Oma Ana sejenak terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut anak menantunya. Di ambilnya selembar tissue, lalu dengan tenang Oma Ana mengelap mulutnya dari sisa makanan yang mengotori bibirnya.


"Apakah jika aku meminta pendapat kalian, lalu kalian pasti akan setuju?"


"Kami tentu akan setuju. Tapi tidak dengan nominal sepuluh milyar" jawab Desiana dengan cepat.


"Lagipula, uang sepuluh milyar itu bukanlah uang yang sedikit." wajah Desiana semakin asam. Emosinya mulai terpancing meninggi.


"Aku hanya ingin berbagi saja dengan orang-orang yang kurang beruntung. Apakah itu salah?"


"Mama tidak salah. Hanya saja, maksud kami... Mama terlalu menghambur-hamburkan uang" timpa Hadinata mendukung istrinya.


"Apanya yang menghambur-hamburkan uang? Toh uang yang aku donasikan adalah uang milikku sendiri. Aku tidak memintanya dari kalian"


"Memang benar itu uang mama sendiri. Tapi uang itu di dapat dari hasil pembagian saham yang mama miliki. Andai mama waktu dulu menepati janji memberikan semua saham yang mama miliki kepada Alvin, uang mama pasti tidak akan sebanyak ini" perkataan Desiana kali ini berhasil menyulut emosi Oma Ana. Karna menantunya sudah kurang ajar menjajaki isi kantong miliknya.


"Meskipun andai aku tidak punya saham lagi di perusahaan yang Alvin kelola, uangku masih lebih banyak dari sejumlah uang yang aku donasikan. Aku masih punya saham di perusahaan lain. Nilainya juga tidak sedikit. Jangan pernah kau merendahkanku Desiana!!"


Desiana memucat. Ternyata ucapannya membuat mama mertuanya meradang dan menampilkan raut wajah yang mengerikan. Desiana baru tersadar bahwa apa yang mama mertuanya ucapkan barusa adalah benar adanya. Ia lupa kalau mama mertuanya ini adalah orang yang tajir melintir.


"Ini uangku. Aku punya hak penuh atas uang yang aku miliki. Mau aku kemanakan uangku, kalian tidak punya hak mencampurinya. Lagi pula uang yang aku berikan untuk kalian juga sudah sangat banyak. Kenapa kalian masih sibuk mengurusi milikku?" Oma Ana menatap tajam satu persatu ke arah Anak dan menantunya. Hadinata hanya terdiam sambil menunduk. Begitu juga dengan Desiana yang terdiam mendengar penjelasan mama mertuanya.


"Dan soal saham yang tidak aku berikan seluruhnya kepada anakmu Alvin, itu memang aku sengaja. Aku ingin Alvin bisa memperlakukan istrinya dengan baik. Bukan hanya sekedar menyandang status suami-istri di dalam catatan sipil. Aku ingin memiliki seorang cicit dari hasil pernikahan Alvin dan Nanda. Baru setelah itu aku akan memberikan seluruh saham yang aku miliki kepada Alvin dan cicitku, termasuk seluruh saham yang aku miliki di perusahaan lain. Tetapi jika sampai aku mati, Alvin belum juga memiliki seorang anak, maka seluruh kekayaanku akan aku hibahkan semuanya kepada semua orang-orang yang membutuhkan." tambah Oma Ana lagi dengan nada penuh penekanan.


Seperti di sambar petir di siang hari, Desiana super duber syok mendengar penjelasan tegas dari sang mama mertua. Jangankan seorang anak, mengakui pernikahan Alvin saja rasanya sangatlah tidak sudi apalagi harus menghadirkan seorang bayi di dalam pernikahan Alvin.


"Anak?" ucap Desiana tanpa sadar.


"Kenapa? Apakah kamu tidak menginginkan Alvin memiliki anak?" tanya Oma Ana menelisik.


"Bukan begitu ma, mungkin maksud istriku ini, Alvin belum waktunya untuk memiliki anak. Lagipula pernikahan mereka juga belum lama. Jadi belum waktunya memikirkan seorang anak" jawab Hadinata sambil sedikit terbata-bata.


"Kau selalu memanjakan istrimu. Aku sedih memiliki anak laki-laki sepertimu" ucap Oma Ana sedih. Hatinya bagai teriris menyadari bahwa anaknya lebih membela istrinya ketimbang ia, ibunya.


"Bukan begitu Ma.. Aku ini dipihak yang netral. Kebetulan saja pemikiranku dengan Desiana sama" Hadinata mencoba membela diri.


"Terserah apa pendapat kalian. Yang jelas, aku sudah memutuskannya. Dan keputusan ku sudah aku legalkan. Pieter sudah memprosesnya" Oma Ana beranjak dari kursi. Diraihnya tongkat kebesarannya, dan berjalan perlahan menuju kamarnya.

__ADS_1


Di meja makan masih tertinggal Desiana dan Hadinata yang masih larut dalam pikirannya masing-masing. Raut wajah Desiana semakin menggelap. Kedua tangannya mengepal menahan amarah. Ia masih belum bisa terima dengan keputusan sepihak yang di ambil mama mertuanya.


"Ini ga bisa dibiarkan" celetuk Desiana


"Sayang, sudahlah. Kita tidak perlu mengambil pusing dengan perkataan mamaku"


"Apanya yang tidak usah diambil pusing. Apa kamu tadi tidak dengar perkataan yang mamamu ucapkan? Dia ingin Alvin memiliki anak?? Dan kalau sampai mama mati Alvin belum juga punya anak, maka seluruh harta mama akan diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Apa-apaan ini??? Ini sungguh konyol. Aku bisa gilaaa..."


"Begitulah mamaku. Sifatnya keras. Kemauannya dari dulu tidak bisa terbantahkan" Haditana hanya bisa pasrah dan lemah.


"Aku tidak bisa membiarkan semua harta kita lenyap begitu saja. Kita harus berbuat sesuatu"


"Berbuat apa?" Hadinata nampak bingung dengan perkataan istrinya.


"Tidak ada pilihan lain sayang... Kita harus bisa membuat Nanda hamil"


"Apa? Hamil?" Hadinata terlihat sangat syok dengan ide gila yang terlontar dari mulut istrinya.


"Bagaimana caranya? Aku tidak melihat adanya keharmonisan antara Alvin dan Nanda. Dan sepertinya, mereka juga saling menjaga jarak"


"Besok malam kita menginap di rumahnya Alvin"


"Menginap?" ucap Hadinata membeo.


"He-em. Kalau nanti Nanda berhasil hamil lalu melahirkan, seluruh saham dan harta mamamu akan jatuh di tangan Alvin. Lalu aku akan ambil anaknya dan meminta Alvin untuk segera menceraikan Nanda. Dengan begitu tidak ada lagi beban yang harus kita tanggung"


"Sayang, apakah cara seperti itu tidak terkesan terlalu kejam? Aku tidak setuju kalau kita harus memisahkan anak dari ibunya"


"Lalu apakah kamu lebih rela memilih kehilangan harta kekayaanmu dan menjadi orang miskin? Lagipula, aku akan memberikan Nanda uang yang lumayan banyak. Uang itu nantinya bisa dia gunakan untuk melanjutkan hidup. Bukankah itu cukup adil?"


Hadinata tak menjawab. Dirinya masih mencoba mencerna perkataan istrinya. Disatu sisi hatinya tidak setuju dengan ide busuk yang akan dilakukan istrinya. Namun disisi lain, dirinya juga tidak mampu jika harus kehilangan banyak harta yang bisa menyulitkan hidupnya kelak.


"Ya sudahlah. Terserah kamu saja"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2