
"Rumah ini begitu besar dan luas. Tapi terasa sepi dan sunyi. Keluarga yang aneh" gumam Nanda sambil menyeruput cooffe latte nya yang sudah tidak begitu panas. Nanda sengaja memilih duduk di kursi area kolam renang yang cukup teduh untuk ia jadikan tempat istirahatnya. Nanda sendiri masih bingung apa yang akan ia lakukan di rumah itu. Assistant rumah tangga di rumah ini sudah sangat banyak.
Diambilnya ponsel miliknya yang sedari tadi ada di dalam tas kecilnya. Ternyata ponselnya sedari kemarin dalam posisi mati. Nanda sendiri dari kemarin juga tidak sempat mengecek ponsel miliknya. Rasa deg degan bercampur bingung ketika menyambut hari pernikahannya membuat dirinya melupakan keberadaan ponselnya.
Dinyalakannya ponsel android keluaran lama tapi masih bisa digunakan dengan baik, dibiarkannya menyala dengan sempurna. Dan benar saja, ketika ponselnya sudah berhasil menyala, puluhan pesan langsung masuk memenuhi memory. Perlahan di bacanya satu satu pesan pesan yang masuk. Dengan sabar, Nanda membalas semua pesan satu demi satu. Detak jantungnya langsung berdebar tak karuan ketika bu Silvi manager store tempatnya bekerja mengirimkan pesan menanyakan perihal dirinya yang tidak masuk hari ini. Pasalnya, Nanda hanya ijin tidak masuk dua hari. Dan ini adalah hari ketiga, jadi seharusnya dirinya masuk hari ini.
"Duh, mateng deh gue. Bu Silvi nyariin lagi... Gue jawab apa ya?" otak Nanda berpikir keras tentang sebuah alasan yang tepat dan masuk akal untuk diberikan kepada atasannya itu. Sambil menimang nimang ponselnya, akhirnya ada sebuah alasan yang dirasa tepat dan bisa di maklumi.
Ibu Silvi
[Nanda, kemana saja kamu? Kamu cuti cuma 2 hari, kenapa hari ini kamu tidak masuk? ]
Nanda
[Maaf bu Silvi, ibu saya masih sakit. Hari ini saya belum bisa masuk kerja. Besok saya akan masuk seperti biasa. Mohon maafkan saya 🙏 ]
"Maafin Nanda ya Bu. Nanda sudah menjadikan ibu sebagai alasan Nanda berbohong" gumam Nanda lirih.
Matahari mulai merangkak naik. Cacing perutnya juga mulai menuntut untuk diisi kembali. Nanda beranjak dari duduk dan berjalan memasuki rumah mewah milik Oma Ana. Mata Nanda menelusuri setiap sudut dari rumah itu sambil mencari sebuah ruangan penting yaitu dapur. Ia harus segera memberi makan para cacing cacing yang sudah ramai mendemo perutnya.
__ADS_1
Ada suara agak riuh di ruangan yang terletak sedikit di belakang. Ruangan yang cukup besar untuk disebut sebagai dapur. Ada sekitar empat orang yang terlihat sibuk sambil bercakap cakap di sana. Dan reaksi mereka langsung berubah canggung ketika kaki Nanda memasuki area dapur. Mereka langsung menghentikan kegiatannya dan langsung bersikap membungkukkan badan memberi hormat kepada nyonya muda baru mereka.
"Se-selamat siang nyonya Nanda, saya bi Sumi kepala koki di rumah ini. Ada gerangan apakah sehingga membuat nyonya harus datang ke dapur? Apakah ada makanan atau minuman yang anda butuhkan?" ucap bi Sumi kepala koki dapur dengan sangat sopan. Sikap ramah para pekerja membuat Nanda semakin canggung diperlakukan sangat istimewa seperti ini.
"Em... Maaf kalau saya sudah mengganggu aktivitas kalian. Apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap Nanda sambil menyengirkan senyumannya. Perkataan Nanda yang terlontar begitu saja sontak membuat para pekerja dapur terperangah dan tertegun tidak percaya dengan apa yang merek dengar.
"Tidak ada nyonya. Nyonya tidak sepantasnya berada di sini. Jika nyonya ingin makan atau minum, nyonya tinggal bilang saja. Kami akan segera menyiapkannya untuk anda"
"Oh, baiklah... Maaf saya sudah mengganggu kalian"
"Tidak apa apa nyonya. Kebetulan kami juga sedang mempersiapkan untuk makan siang. Jika nyonya tidak keberatan, anda bisa menunggu di meja makan. Kami akan segera menyiapkan hidangan disana" Nanda mengangguk pelan dan membalikkan badan berjalan menuju ruang makan.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Makanan pun sudah terjadi lengkap di atas meja. Namun tidak ada tanda tanda anggota keluarga akan menikmati makan siang. Perut Nanda semakin keroncongan. Ingin rasanya untuk mendahului memulai makan, namun rasa segan kepada pemilik rumah memaksa Nanda harus bersabar untuk menunggu beberapa saat lagi.
Setengah jam lamanya Nanda sudah menunggu. Air liurnya sudah hampir menetes di bajunya. Makanan yang tersaji juga sudah mulai dingin. Perut kosongnya membuat pikirannya semakin gelisah. Matanya mencari cari sosok pemilik rumah dan Alvin suami statusnya yang tak kunjung datang. Nanda menghembuskan nafas kasar, frustasi dengan kondisi keluarga aneh ini.
"Kenapa mereka ga pada makan sih? Apa mereka ga laper? Adduuuhhh... Aku lapeeerrr...." Nanda merintih kecil sambil memegangi perutnya. Tak lama bi Sumi, kepala koki datang memberikan informasi kepada Nanda.
"Nyonya... Sepertinya nyonya harus makan sendiri. Nyonya besar sedang tidak enak badan. Beliau meminta saya membawakan makan siang ke kamarnya. Dan tuan muda Alvin juga sama. Beliau juga ingin makan di kamar. Apakah nyonya tidak keberatan kalau saya menghangatkan kembali makanan makanan ini? Makanan ini sepertinya sudah dingin" Nanda mendengus kesal dengan kelakuan keluarga barunya itu. Terutama kepada Alvin. Tega teganya dia menelantarkan dirinya seperti ini. Nanda menipiskan bibir dan mengulas senyuman manis di wajahnya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tidak usah bi Sumi. Tidak usah dipanaskan lagi. Makanan ini masih tetap enak walaupun sudah dingin. Aku akan memakannya." ucapnya sambil mengambil piring dan segera mengisinya dengan nasi, sayur dan lauk yang menggugah selera. Bi Sumi hanya mengangguk dan segera membalikkan badan untuk kembali ke dapur meninggalkan Nanda sendiri di meja makan.
"Bi Sumi...." dengan cepat bi Sumi membalikkan badan dan menatap kembali ke arah Nanda.
"Iya nyonya"
"Emm... Apakah... Apakah Bi Sumi berkenan menemani aku makan? Sangat disayangkan meja makan besar dengan makanan sebanyak ini hanya ditempati satu orang saja. Lagipula kalau kita makan bersama, rasanya juga berbeda. Lebih enak dan nikmat"
"Tidak nyonya, mohon maafkan saya. Saya sudah punya tempat makan sendiri di belakang sana. Nyonya Nanda tidak perlu khawatir. Tempat kami para koki untuk makan juga cukup besar. Dan akan terlihat tidak sopan jika saya ikut bergabung makan bersama nyonya."
"Memangnya di rumah ini ada peraturan tidak boleh makan bareng dengan koki?" pertanyaan impulsif Nanda terlontar begitu saja dari bibirnya. Rasa penasaran yang besar membuatnya melontarkan pertanyaan itu secara spontan.
"Tidak ada nyonya. Tapi memang sudah seharusnya demikian. Saya permisi ijin kembali ke belakang. Selamat menikmati makan siang nyonya. Jika ada sesuatu yang anda rasa kurang, anda bisa menekan bel yang ada di bawah meja untuk memanggil saya" Bi Sumi kembali membalikkan badan dan dengan cepat membiarkan Nanda duduk menikmati makan siangnya sendirian. Nanda hanya mendengus pelan.
"Benar benar keluarga yang aneh" gerutunya lirih dan melanjutkan makannya. Perutnya yang sudah kelaparan membuatnya tetap fokus untuk menikmati berbagai makanan yang sudah tersaji di meja.
.
.
__ADS_1
.