
Oma Ana meremas gemas foto foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Foto yang berisi tentang kelakuan cucunya yang sudah dengan kurang ajarnya menurunkan dan meninggalkan Nanda di pinggir jalan. Raut wajah marahnya terlihat sangat menakutkan.
"Anak itu... Berani beraninya dia melanggar perintahku" tangan tua yang dipenuhi keriput itu masih menggenggam erat kertas foto. Dirinya sangat geram dengan kelakuan cucunya. Sepertinya menikahkan segera Alvin dengan Nanda adalah jalan terbaik supaya Alvin bisa lebih menghargai seorang wanita.
"Siapkan mobil" suara Oma Ana terdengar lantang.
"Baik Nyonya" Tanpa berlama lama, assistant pribadinya langsung menuruti perintah dan segera mempersiapkan apa yang telah diperintahkan.
Mobil sudah siap. Oma Ana langsung memasuki mobil dengan wajah geramnya. Suasana hatinya kurang bersahabat hari ini.
"Ke Butik Didi" ucapnya tegas kepada drivernya.
"Baik Nyonya" jawab Toni cepat sang driver pribadi yang telah setia mengabdi selama dua puluh tahun kepadanya.
Toni mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang dan sangat hati hati. Matanya sudah fokus dan konsentrasi menatap jalanan. Ia tak ingin insiden beberapa hari lalu ketika ia hampir menabrak seorang gadia bakal terulang lagi.
Setelah menempuh jarak dan menghabiskan waktu perjalanan, mobil Oma Ana akhirnya sampai juga di lokasi yang dimaksud. Oma Ana keluar dan berjalan perlahan dengan dibantu oleh tongkat kebesarannya. Kehadiran Oma Ana di butik itu disambut langsung dengan hangat oleh si pemilik butik. Didi, nama yang sering Oma Ana ucapkan. Oma Ana memang sudah sangat dekat dengan Didi. Pakaian yang dikenakannya sebagian besar hasil rancangan tangan dinginya.
"Ada apakah gerangan Nyonya Ana berkenan datang berkunjung ke butik saya? Seharusnya Nyonya tidak perlu repot repot untuk datang ke sini. Saya bisa mengirimkan assistant saya untuk mendatangi rumah Nyonya" sapa Didi dengan sangat sopan menyambut Oma Ana.
"Aku memang sengaja ingin datang ke sini. Aku ingin meminta bantuanmu"
"Jika saya memang bisa membantu Nyonya, maka akan dengan senang hati saya melakukannya"
"Hhmm... Bagus." Oma Ana mengangguk senang.
"Aku kesini ingin memintamu untuk membantuku membuatkan gaun pernikahan untuk cucuku Alvin dan calon istrinya." suara Oma Ana terdengar datar namun mampu membuat Didi terperangah tak percaya olehnya. Ia sangat paham karakter Alvin. Cucu semata wayangnya yang dingin dan sedikit arogan yang sangat sulit untuk di suruh menikah kini tiba tiba akan menikah. Sungguh sebuah berita yang menggembirakan.
__ADS_1
"Alvin akan menikah? Benarkah?" raut wajah penasaran Didi terlihat sangat jelas. Oma Ana mengangguk yakin.
"Iya. Dia akan segera menikah dengan wanita yang telah aku pilihkan untuknya"
"Apakah Alvin setuju dengan wanita yang anda pilihkan?" Didi langsung merasa tak enak hati ketika tanpa ia sadari mulutnya telah berani mengeluarkan pertanyaan yang mungkin saja bisa membuat client nya tersinggung.
"Dia harus setuju dengan wanita yang sudah aku pilihkan untuknya" jawab Oma Ana datar. Didi sendiri hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Oma Ana mengeluarkan selembar kertas berisi alamat rumah Nanda dan disodorkannya kepada Didi.
"Itu alamat rumah calon istrinya Alvin. Namanya Nanda. Tolong kau datangi dan segeralah lakukan pengukuran gaun pengantin untuknya. Masalah Alvin, kau bisa mengukurnya dari jas yang sering Alvin gunakan."
"Baiklah Nyonya. Aku akan segera mendatangi calon cucu menantumu dan akan aku buatkan gaun pengantin yang indah untuknya."
"Hhmm... Bagus. Kalau begitu aku permisi pulang" Oma Ana beranjak dari duduknya dan bersiap menunggu drivernya datang.
"Nyonya, saya mengucapkan banyak terima kasih karna nyonya sudah mempercayakan gaun pengantin pernikahan untuk cucumu kepadaku. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih" ucap Didi dengan setengah membungkukkan badannya.
"Baik. Hati hati di jalan Nyonya..." Didi mengantar Oma Ana sampai memasuki mobil mewahnya dan menatap sejenak mobil itu menghilang dari pelataran butiknya.
##########
Keesokan harinya Didi segera mengunjungi langsung alamat rumah yang diberikan Oma Ana kepadanya. Sesampainya di alamat, Didi menurunkan kaca mobilnya menatapnya dari kejauhan dan sempat tercengang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah rumah sederhana yang hanya berukuran 150 meter persegi berpagarkan lempengan besi yang sebagian sisinya sudah berkarat terlihat sangat sederhana dan jauh dari kata mewah apalagi megah.
Didi seakan ingin membantah kenyataan yang ada. Namun kertas kecil yang kini ia pegang yang berisi sebuah alamat memang benar adalah rumah yang ia tuju. Di tariknya nafas panjang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk turun dari mobil dan mencoba untuk mencari kebenaran dari rasa penasarannya. Dibenaknya terbersit pikiran tentang seorang Nyonya besar seperti Oma Ana akan berbesanan dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang sangat berbeda jauh dengannya. Bahkan bisa dibilang jauh dari perkiraan. Sepertinya ada kesalahan yang sudah terjadi dalam keluarga Oma Ana. Ataukah Oma Ana atau cucunya Alvin mendapatkan tekanan dari penghuni rumah tersebut? Tidak mungkin juga. Secara Oma Ana adalah orang kaya raya yang memiliki kuasa penuh serta harta yang melimpah yang bisa mengalahkan para musuhnya hanya dengan sekali jentikan jari.
Tuk.. Tuk.. Tuk...
__ADS_1
Dengan langkah kaki sedikit ragu, Didi memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Nanda.
Seorang gadis muda yang manis dan cantik dengan rambut tergerai dibawah bahu menatapnya heran di balik pintu.
"Maaf anda siapa ya?" tanya Nanda datar.
"Oh maaf, saya Didi dari The Bridal Wedding. Maaf apa benar ini rumah nona Nanda? Lebih tepatnya nona Vernanda?" Didi bertanya dengan gayanya yang elegan serta sopan.
Tatapan Nanda sedikit heran, memperhatikan penampilan laki laki setengah baya yang kini ada di hadapannya. Laki laki berkulit putih berkacamata, dengan pakaian modis dan simple namun elegan lengkap dengan sepatunya yang mengkilap menampakkan harganya yang sudah pasti mahal sedang menatap dirinya juga dengan tatapan yang tak kalah herannya.
"Iya benar. Saya Vernanda. Sepertinya saya tidak mengenal anda. Ada perlu apa anda mencari saya?" nada bicara Nanda terdengar ragu dan sedikit menjaga jarak.
"Saya ke sini ditugaskan oleh Nyonya Ana untuk mengukur tubuhmu" Nanda terperangah dengan kata kata mengukur tubuh. Apa maksud nya?
"Nyonya Ana? Maksud anda Oma Ana?" Nanda mengulangi nama yang sama untuk memastikan dan meyakinkan dirinya akan orang yang dimaksud adalah orang yang sama ia kenal.
"Ah, iya. Benar. Oma Ana. Beliau memintaku untuk membuatkanmu gaun pengantin. Makanya aku sengaja datang langsung ke sini untuk mengukur tubuhmu dan akan segera aku buatkan gaun itu untuk pernikahanmu nanti."
"Ga-gaun pengantin?" Nanda termangu dengan ucapan Didi yang menegaskan maksud kedatangannya.
Sejenak Nanda terdiam. Otaknya memaksanya untuk berpikir keras. Dia memang sudah menyetujui perjanjian dirinya dengan Oma Ana perihal menikahi cucunya, Alvin. Namun yang membuatnya tak menyangka bahwa rencana pernikahan dirinya akan secepat ini. Bahkan untuk sekedar berbincang bincang dengan Alvin pun belum sepenuhnya ia lakukan. Sikap angkuh dan dingin Alvin serasa ada sekat yang sangat tebal yang membentengi dia dan dirinya. Bagaimana jika pernikahan ini benar benar terjadi? Akan seperti apakah bentuk rumah tangganya nanti?
"Bolehkah saya masuk untuk segera memulai tugas saya?" ucapan Didi sontak membuyarkan lamunan Nanda. Nanda mengangguk cepat dan mempersilahkan Didi masuk ke dalam rumahnya.
Didi segera mengukur secara detail tubuh Nanda dan mencatat nya dalam buku agenda kecil miliknya. Hanya butuh waktu sebentar baginya untuk menyelesaikan tugas pengukuran untuk gaun pengantin Nanda. Nanda sendiri juga tak banyak bertanya tentang warna apa dan model seperti apa gaun yang akan dia buatkan untuknya kelak. Dirinya sadar diri bahwa ia tak punya hak sedikitpun untuk meminta atau bahkan mengatur segala hal terkait pernikahannya nanti. Baginya kebaikan Oma Ana yang sudah menghapuskan hutang ayahnya dan menanggung semua biaya pengobatan Ibunya sudahlah cukup. Kini tinggal dirinya lah yang harus melakukan kewajibannya membayar budi baik Oma Ana atas apa yang telah ia dan keluarganya terima.
.
__ADS_1
.
.