Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Panik


__ADS_3

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Nanda. Pelipisnya mulai terlihat basah. Detak jantung Nanda mulai tak beraturan. Rasanya ingin sekali Nanda kabur pergi sejauh mungkin menghindari intervensi Oma Ana. Posisi Nanda benar-benar tersudutkan. Sebentar lagi semuanya akan terbongkar. Hanya pasrah yang bisa Nanda lakukan saat ini.


Oma Ana meneguk perlahan teh hijau panas buatan Nanda. Sepertinya Oma Ana sangat menyukai teh hijau. Senyumnya mengembang ketika air teh itu menyentuh indra perasanya.


"Kapan Alvin pulang?" lagi-lagi pertanyaan Oma Ana membuat Nanda menjadi gugup untuk menjawabnya. Karna sejatinya, Nanda tidak pernah tau persis kapan suami statusnya itu akan pulang. Selama ini, Alvin tidak pernah sama hal jam pulang kantor. Suka-suka Alvin. Kadang Alvin pulang lebih awal, kadang sampai malam, bahkan kadang tidak pulang sama sekali. Jadi Nanda tidak pernah tau kapan tepatnya Alvin akan pulang.


"Se-sebentar lagi Oma. Sebentar lagi Mas Alvin akan pulang" Nanda menyengirkan deretan giginya ke arah Oma Ana untuk membuatnya tidak curiga kepadanya.


"Oma sudah makan belum? Nanda sudah masak makan malam. Bagaimana kalau Oma cobain masakan Nanda?" Nanda mencoba mengalihkan perhatian Oma Ana dengan menawarinya makan. Siapa tau perhatiannya kepada Alvin bisa teralihkan sesaat dengan masakannya.


"Aku ingin makan malam bersama dengan kalian. Tunggu Alvin sebentar lagi" Nanda tertegun mendengar jawaban Oma Ana. Nanda memamerkannya lagi senyum tipisnya dan menggigit bibir bawahnya. Sambil menahan nafas, Nanda berdoa kepada Tuhan agar segera mengirimkan Alvin untuk pulang ke rumah. Tak sanggup rasanya menanggung sendiri perasaan khawatir ini.


Tuhan memang baik. Doa Nanda terkabul. Pintu ruang tamu terbuka. Nanda dan Oma Ana langsung menolehkan pandangannya ke arah pintu. Ternyata benar, Alvin lah yang datang. Nanda bernafas lega ketika matanya dengan jelas melihat sosok Alvin yang tampan yang masih mengenakan stelan jasnya perlahan berjalan memasuki rumah.


Wajah Alvin terlihat terkejut ketika matanya melihat sosok Oma Ana sudah ada di dalam rumahnya.


"Oma? Tumben Oma ke sini? Apa ada? Apakah ada sesuatu hal yang penting atau mendesak yang membuat Oma harus datang ke sini?" Serentetan pertanyaan langsung Alvin lontarkan. Oma Ana hanya diam mendengarkan saja.


Mata Alvin memandang ke arah Nanda meminta penjelasan tentang semua ini. Nanda hanya menggelengkan pelan kepalanya sebagai isyarat kalau dirinya juga tidak mengerti.


"Aku bosan di rumahku. Aku butuh penyegaran. Aku sudah memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumahmu. Kau tidak keberatan kan?" Oma Ana melontarkan perkataannya dengan santai. Raut wajahnya yang dingin penuh kharisma tampak tenang dan ringan. Berbeda dengan Alvin yang terlihat kaget dan bingung. Bingung harus bagaimana mencari alasan untuk menolak keinginan Oma nya itu. Lagipula sepertinya sangat mustahil kalau Oma Ana akan berubah pikiran. Alvin sangat paham betul karakter Oma nya. Oma Ana adalah wanita yang memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat. Sangat sulit untuk membatah atau mematahkan keputusannya.


"Kau segeralah mandi. Aku sudah lapar" ucap Oma lagi memberi titah. Alvin masih saja berdiri mematung.


"Apa kau akan membiarkan aku kelaparan disini?" lamunan Alvin buyar. Alvin segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan bergegas mandi membersihkan diri untuk segera menemui Oma nya kembali.


Nanda masih terlihat canggung dan salah tingkah ketika harus menemani Oma Ana di ruang tamu. Nanda terlihat galau. Ia harus berpikir keras bagaimana caranya untuk memindahkan semua barang-barangnya ke kamar atas dalam waktu sekejap dan tanpa diketahui oleh Oma. Cara apa yang ampuh agar Oma Ana bisa keluar sebentar dari rumah agar Nanda bisa dengan segera memindahkan barang-barangnya ke kamar atas.


Tak butuh waktu lama menunggu, Alvin sudah selesai mandi dan langsung menemui kembali Oma nya.


"Oma, Mas Alvin sudah selesai mandi. Ayo kita makan. Oma sudah lapar kan?" Oma Ana hanya mengangguk pelan dan bangun dari duduknya, berjalan perlahan menuju meja makan.


Dengan cekatan, Nanda menyiapkan piring dan peralatan makan untuk suami dan Oma mertuanya. Nanda juga mengambilkan beberapa makanan untuk mereka.


"Eemm... Oma, maaf. Sa-saya hanya bisa memasak makanan rumahan seperti ini. Semoga Oma suka" lagi-lagi Nanda salah tingkah. Oma Ana hanya mengangguk pelan dan langsung mencicipi masakan Nanda tanpa memperhatikan kembali raut wajah Nanda yang sudah pucat menaham cemas.


"Masakan kamu lumayan. Enak, aku suka" puji Oma Ana masih sambil mengunyah makanannya. Nanda menghela nafas lega. Senyumnyapun mengembang. Setidaknya ia bisa memberikan suguhan yang layak makan untuk orangtua yang ia hormati.


Di sisi lain, Alvin terdiam menikmati makanannya tanpa bersuara sama sekali. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Nanda hanya meliriknya sekilas dan lalu sibuk dengan isi piringnya. Dan merekapun malam itu menikmati makan malam dengan tenang tanpa suara.


Setelah selesai makan, dengan cekatannya Nanda segera merapihkan piring-piring kotor dan membawanya ke dapur untuk ia cuci nanti. Saat ini yang terpenting adalah segera merapihkan barang-barang miliknya dan memindahkan dengan cepat ke lantai atas.


Nanda sengaja mendekati Alvin untuk meminta tolong padanya untuk mengajak Oma Ana ke rumah bagian samping atau ke halaman depan. Setidaknya Nanda ada kesempatan untuk membereskan isi kamarnya. Meskipun tidak semua barang-barang miliknya bisa dipindahkan ke atas, namun setidaknya, barang-barang utamanya tidak terlihat oleh Oma dan tidak menimbulkan rasa curiga Oma kepada mereka berdua.


"Mas Alvin..."


Alvin yang saat itu sudah berada di ruang tengah menolehkan pandangannya ke arah Nanda yang berjalan cepat kepadanya.


"Aaaarrrrggghhhh....."


Sepertinya malam itu Nanda kurang beruntung. Ketika ia berjalan menuju ke Alvin, kakinya menyandung anak kursi dan membuat dirinya hampir jatuh tersungkur ke lantai. Dan Nanda cukup beruntung. Kesialan yang hampir dialaminya bisa dihalang oleh Alvin yang dengan cepatnya menangkap tubuh Nanda.


Nanda jatuh dipelukan Alvin. Dan Alvin dengan sigapnya memeluk tubuh Nanda dengan erat. Nanda yang tersadar diposisinya saat ini, langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alvin dengan tersipu malu.


"Ma-maaf. Aku ga sengaja" Alvin tak menjawab. Tatapan wajahnya tetap dingin dan datar. Oma Ana tersenyum tipis melihat kejadian lucu kedua cucunya.

__ADS_1


Oma Ana saat ini tengah sibuk dengan ponselnya. Nanda mendekatkan kembali tubuhnya ke arah Alvin sambil berbisik agar suaranya tidak terdengar oleh sang Oma.


"Mas... Aku mau minta tolong sama kamu"


"Apa?"


"Tolong kamu ajak Oma ke samping atau ke halaman depan. Aku mau mindahin barang-barangku dulu" Alvin mengangguk cepat dan langsung paham dengan maksud Nanda. Karna kamar Nanda nanti yang akan digunakan oleh Oma Ana tidur. Kalau barang-barang Nanda terlihat disana, Oma Ana pasti akan curiga kepada mereka berdua. Dan Oma Ana juga pasti akan tau kalau ternyata selama ini mereka tidak pernah tidur satu kamar.


"Oma... Aku mau ajak Oma ke halaman samping. Di sana ada beberapa tanaman bunga yang Aku jamin Oma pasti akan suka" ucap Alvin membuka pembicaraan. Oma Ana menghentikan kegiatan menatap layar ponselnya dan beralih menatap ke arah Alvin. Cukup lama Oma Ana memperhatikan wajah Alvin. Tatapan curiga yang terpapar di wajah sang Oma.


"Sejak kapan kamu suka dengan tanaman bunga?" pertanyaan Oma Ana cukup menelisik dan sontak membuat Alvin salah tingkah. Karna memang benar, selama ini Alvin tidak pernah suka dengan jenis tanaman apapun. Alvin juga tidak pernah peduli dengan tanaman apapun. Jadi ketika Alvin menawarkan untuk melihat tanaman bunga, terasa sangat mencurigakan dan terdengar aneh di telinga sang Oma.


"A-aku hanya tidak ingin Oma bosan di rumahku. Sebenarnya tanaman itu Nandalah yang menanamnya. Aku hanya ingin menemani Oma saja ke sana" kali ini Nanda yang dibuat terkejut. Nanda tertegun menatap wajah Alvin. Kenapa dirinya dibawa-bawa? Kapan juga Nanda menanam tanaman bunga? Untuk ke halaman samping saja Nanda sangat jarang.


"Kalau Nanda yang menanam, bukankah lebih baik Nanda yang menemani aku ke sana. Lagipula, tau apa kau tentang tanaman bunga?"


"Oma, walau hanya sedikit yang mas Alvin tau tentang bunga, tapi Mas Alvin juga sangat teliti dengan cara menanam bunga. Nanda juga sering diajari sama mas Alvin cara-cara menanam dan merawat bunga dengan baik. Bener kan mas?" Nanda melempar senyum dan cengiran giginya ke arah Alvin. Alvin yang merasa disudutkan oleh Nanda hanya merespon ucapan Nanda dengan tatapan mata melotot kepadanya.


"Oma, lebih baik Oma sekarang ikut Mas Alvin ya melihat-lihat koleksi tanaman bunga kami. Nanda mau merapihkan kamar untuk Oma"


"Tidak usah. Besok pagi saja aku lihat. Malam ini aku cukup lelah. Aku ingin segera pergi istirahat. Kalau kau mau merapihkan kamarku, cepatlah pergi. Aku tunggu disini"


"Addduuhhh.... Mateng deh gue. Ya Tuhaaaannn... Apa yang harus aku lakukan? Tolong berikan petunjukmu, bagaimana caranya agar Oma Ana mau keluar sebentaaarrr aja dari dalam rumah"


Hati Nanda mulai bergemuruh berbicara sendiri dan memohon adanya pertolongan Tuhan untuk dirinya.


"Kenapa kau masih saja berdiri disitu? Cepat rapihkan kamarku. Aku mau istirahat" Nanda mengerjapkan matanya, kepalanya mengangguk cepat dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Nanda berpikir keras untuk bisa menyembunyikan sebagian barang-barang miliknya. Sayangnya itu tak berhasil. Tidak ada tempat yang bisa menampung barang-barangnya. Kali ini Nanda hanya bisa pasrah menghadapi apapun yang akan terjadi nanti. Yang bisa Nanda lakukan saat ini hanyalah merapihkan tempat tidur dan menata barang-barangnya dengan rapih. Toh percuma saja kalau dia dengan terang-terangan mengemasi pakaian ke dalam koper dan mengeluarkannya dari kamar. Oma Ana pasti akan bisa melihatnya dengan jelas. Dan itu sama saja mengumpankan diri ke dalam masalah besar.


"Oma... Kamar Oma sudah Nanda bereskan. Kalau Oma mau istirahat sekarang, silahkan" ucap Nanda sedikit terbata-bata. Oma Ana melepas kacamata yang ia kenakan ketika melihat ponsel. Oma Ana mengangguk senang sambil melempar senyum ramah. Senyum yang seakan menyimpan arti sebagai ucapan terima kasih.


Oma Ana mengambil tongkat kesayangannya dan lalu beranjak dari duduk menuju kamar yang sudah Nanda siapkan. Nanda ikut membantu membawakan koper-koper milik Oma dan dimasukkannya ke dalam kamar.


Ketika Oma Ana sudah memasuki kamar, langkahnya terhenti. Ia memandang sekeliling isi kamar. Ranjang besar yang akan dia tiduri sebentar lagi sudah tertata rapih. Udara kamar terasa sejuk dan wangi. Dengan cepat Oma Ana melangkahkan kakinya menuju lemari. Tanpa permisi kepada Nanda, Oma Ana langsung membuka lemari besar itu. Matanya tercengang melihat isi lemari yang sudah dipenuhi oleh tumpukan baju-baju perempuan. Wajah Nanda seketika memerah menahan cemas dan bimbang.


"Nanda, apakah ini semua adalah baju-baju milikmu?" pertanyaan Oma Ana sontak membuat Nanda kikuk dan tak berdaya.


"Eeemmm.... I-iya Oma" keringat dingin mulai mengalir dipelipis kepala Nanda. Tidak ada yang bisa ditutupi lagi saat ini. Hanya kejujuran yang harus diungkapkan.


"Kenapa baju-bajumu ada di kamar ini? Apakah selama ini kau dan Alvin tidak pernah tidur dalam satu kamar yang sama?"


"Bu-bukan begitu Oma. Baju-bajunya Mas Alvin banyak sekali. Di lemari atas sudah penuh dengan bajunya. Jadi... Saya menyimpan baju-baju saya di lemari bawah" jawab Nanda sambil menyengirkan giginya.


"Bukankah di lantai atas ada dua kamar? Kau kan bisa menyimpan pakaianmu di kamar satunya? Kenapa mesti bersusah payah naik turun ke bawah hanya untuk mengambil pakaian?"


"Mati gue.... Matiiii... Nanda... Kali ini tamatlah riwayatmu" ucap Nanda menggerutu dalam hati.


"Oh, I-itu Oma... Kamar atas sudah dijadikan sebagai ruang kerja Mas Alvin. Jadi, tidak mungkin kalau saya meletakkan lemari baju di sana" Nanda menghela nafas pendek ketika Oma nya terlihat sedikit percaya dengan perkataannya. Untung Nanda cukup cerdaa mencari alasan yang masuk akal yang membuat wajah sang Oma mencair dan tidak tegang lagi.


"Hmm... Baiklah. Aku mengerti"


"Oia Oma, Nanda bantu merapihkan baju-baju Oma ya. Biar Nanda masukka ke dalam lemari. Masih ada ruang lemari yang kosong kok Oma"


"Iya, baiklah" jawab Oma Ana. Dengan cepat Nanda merapihkan satu persatu baju-baju Oma, dimasukkan ke dalam lemari.

__ADS_1


"Baju-baju Oma sudah selesai Nanda masukkan ke dalam lemari. Oma silahkan istirahat. Nanda tinggal ya Oma" Oma Ana mengangguk pelan sambil tersenyum. Nanda menutup kembali pintu kamarnya dengan pelan dan mendudukkan diri di atas sofa.


***


Alvin sudah tidak ada di meja makan atau di ruang tengah. Sepertinya Alvin sudah masuk ke dalam kamar. Rasanya ingin sekali Nanda datang menghampiri Alvin dan mencabik-cabik wajahnya karna dengan enaknya Alvin lari dari masalah. Setidaknya rasa cemas ini juga harus ia tanggung. Bukan malah bersantai dan seolah tidak terjadi apa-apa.


Nanda menghela nafas kesal dan melangkahkan kakinya ke atas ke kamar Alvin. Nanda agak kikuk ketika dirinya sudah sampai di lantai dua. Lantai rumah yang hampir tidak pernah ia singgahi setiap harinya.


Diketuknya kamar Alvin. Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Nampaknya Alvin sengaja untuk tidak membukakan pintu kamarnya. Nanda mengetuk kembali pintu kamar Alvin dan kali ini dengan ketukan agak keras dan bertubi-tubi. Berhasil. Alvin langsung membuka pintu kamar dan memasang wajah asam disana.


"Berisikkk!!! Ada apa?" tanya Alvin dengan ketus. Nada ucapan Alvin sontak menyulut emosi Nanda jadi meninggi.


"Ada apa kamu bilang? Kamu ini sengaja melepaskan diri dari masalah?"


"Masalah? Masalah apa?" Alvin dengan santainya menjawab pertanyaan Nanda seraya menyandarkan tubuhnya di daun pintu.


"Kamu ini.... Uuurrrgghhhh...." Nanda mengencangkan genggaman tangannya dan menggertakan giginya menahan kesal akan sikap Alvin yang benar-benar menyebalkan.


"Mas, kamarku sekarang sudah di pake Oma. Trus aku sekarang tidur dimana?" Alvin mencibirkan bibirnya seraya menggidikkan dagunya ke arah kamar kosong di samping kamarnya.


"Tuh, kosong. Kamu tidur aja di sana" mata Nanda mengarah ke kamar kosong yang Alvin tunjuk. Ketika mata Nanda kembali ke arah Alvin, pintu kamar Alvin sudah tertutup. Nanda hanya bisa menghela nafas panjang dengan perlakuan Alvin kepadanya.


Dengan langkah lemas, Nanda berjalan menuju kamar kosong yang dimaksud. Dibukanya perlahan kamar kosong itu.


Cetteeeekkk....


Lampu kamar menyala. Nanda berjalan masuk ke dalam. Matanya menyusuri setiap sudut isi kamar. Kamar yang masih kosong. Tidak ada ranjang di sana. Hanya ada tumpukan kardus yang entah apa isinya dan sebuah lemari yang berdiri kokoh disana.


"Dasar manusia ga punya akhlak. Tega-teganya nyuruh gue tidur disini" Nanda menggerutu kesal.


Diketuknya kembali pintu kamar Alvin.


"Mas Alviiinn... Kalau kamu ga buka, aku akan teriak. Biarin aja kalau Oma nanti sampai denger teriakanku" Alvin pun akhirnya membuka pintu kamarnya kembali.


"Mau apa lagi?"


"Aku ga mau tidur di kamar itu. Kamu aja yang tidur disana. Kamar ini buat aku" ucap Nanda dan langsung menyelonong masuk ke kamar Alvin. Namun usahanya gagal. Dengan cepat, Alvin mendorong dahi Nanda dengan kuat yang membuat Nanda terdorong mundur.


"Jangan lancang!!" Alvin kembali menutup pintu kamarnya dan langsung menguncinya. Nanda tertegun dengan sikap Alvin yang sungguh kejam kepadanya. Dihelanya kembali nafas panjangnya.


"Sabar Nanda... Loe harus kuat. Loe harus sadar diri. Loe itu bukan permaisuri di rumah ini. Loe itu bukan siapa-siapa. Loe itu anak dari keluarga miskin. Loe ga mungkin mengusik apalagi bisa mengatur hidupnya Alvin. Loe harus tau diri Nanda... Tau diri..." tiba-tiba hati Nanda berkata-kata panjang lebar mengingatkan perihal statusnya. Tanpa terasa, dua bulir bening mengalir begitu saja dari ke dua matanya.


Nanda menyenderkan tubuhnya di dinding kamar Alvin. Tubuh itu perlahan melorot ke bawah dan Nandapun terduduk di lantai. Tidak mungkin baginya kalau harus tidur di sofa bawah. Jika nanti Oma bangun dan mendapati dirinya tertidur di sofa, Oma pasti akan curiga atau bahkan bisa marah. Akhirnya, Nanda memutuskan untuk duduk menyender di dinding, depan kamar Alvin. Itu lebih baik ketimbang jika dirinya tidur di kamar kosong. Kalau ada sesuatu, setidaknya ia bisa langsung mengetuk pintu kamar Alvin.


***


Pagi ini Alvin sudah rapih dan siap untuk berangkat kerja. Mata Alvin terperanjat kaget ketika membuka pintu kamar. Dirinya menemukan Nanda yang tertidur pulas di lantai depan kamarnya. Ada sedikit rasa bersalah terbersit di hatinya. Namun rasa itu segera ia pupus.


"Hei... Bangun..." Alvin mencoba membangunkan Nanda yang masih tertidur menggunakan kakinya. Digoyang-goyangkannya tubuh Nanda agar bangun. Sayangnya Nanda masih terlihat nyaman dengan tidurnya. Sepertinya semalam Nanda tidak bisa tidur dan baru tertidur menjelang pagi. Makanya pagi ini Nanda masih pulas.


Alvin berjalan melangkahi tubuh Nanda yang masih terpejam pulas di lantai. Diliriknya lagi ke arah Nanda. Tubuh Nanda masih tidak bergerak. Alvin menghela nafas panjang. Dengan berat hati, Alvin mengangkat tubuh Nanda dan memindahkannya ke atas ranjangnya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2