Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Harus Bagaimana?


__ADS_3

Celine dan Alvin saling berpelukan erat ketika suara operator bandara mengumumkan bahwa pesawat Celine sudah siap untuk diberangkatkan. Keduanya saling mengumpulkan pundi-pundi kerinduan yang harus tersimpan lama. Entah sampai kapan. Yang pasti sampai Celine kembali lagi ke Jakarta.


"Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa berdoa. Kabari aku kalau kamu sudah sampai" ucap Alvin sebagai nasehat perpisahan dengan wanitanya.


"He-em. Aku akan segera urus kepindahan aku ke Jakarta. Aku ingin selalu bersamamu sayang" ucap Celine masih dengan menggelayut di tubuh Alvin. Rasanya sangat berat mesti berpisah dengan lelaki hebatnya.


Alvin mengangguk setuju dan menghadiahkan senyuman manis untuknya. Celine membalikkan tubuhnya berjalan perlahan menuju lorong panjang menuju badan pesawat. Lambaian tangan perpisahan membuat kedua wajah mereka terlihat sendu diliputi kesedihan.


***


Nanda memutuskan untuk pergi ke radio tempat kerja keduanya. Walaupun hari ini tidak ada jadwal untuk dirinya siaran, setidaknya bisa membuang rasa penat yang membelenggu di hatinya.


"Nanda? Tumben banget siang-siang bisa ke sini? Loe cuti?" sapa Mega ketika Nanda baru sampai. Raut wajahnya dipenuhi keheranan melihat kejadian langka yang jarang sekali ada pada diri Nanda. Jadwal Nanda siaran dalam satu minggu hanya dua kali, dan itupun juga malam. Tapi sekarang, Nanda bisa muncul pada jam diluar jadwalnya siaran.


"Kak Mega apa kabar?" ucap Nanda sambil tersenyum. Bukannya mejawab pertanyaan Mega, Nanda malah balik melontarkan kalimat sapaan kepada kakak seniornya.


"Gue baik. Ayo sini duduk. Loe mau minum apa?"


"Ga usah kak. Aku jadi sungkan kalau kakak seperti ini"


"Ga pa pa... Santai saja"


Nanda mengangguk kecil dan duduk di sofa ruangan Mega. Radio tempatnya bekerja memang bukan radio besar. Namun lingkungan tempatnya bekerja sangatlah nyaman. Rekan kerja yang ramah, tata ruang yang minimalis tapi tidak membosankan, hal itulah yang membuat Nanda betah dan masih ingin meneruskan bekerja di sana.


"Btw, Loe kesini cuma mau main saja atau ada hal penting yang mau loe sampaikan ke gue?" ucap Mega menelisik.


"Cuma main saja kak. Aku sedang ambil cuti, daripada aku bosan di rumah aku sengaja datang ke sini untuk menemuimu. Kalau aku traktir minum kopi, kakak mau tidak?"


"Pastinya aku mau dong" sebuah suara laki-laki terdengar jelas langsung menyeletuk menjawab pertanyaan Nanda. Nanda langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Mas Yoga?" sapa Nanda sambil menyunggingkan senyuman.


"Wah.. Wah... Ada tamu cantik nih hari ini. Ayok kita minum kopi. Sekalian kita ngobrol-ngobrol. Jarang banget kan kita bisa seperti ini?"


"Setuju. Ayok cuuusss... Pamali nolak rejeki" ucap Mega dengan semangat dan lalu beranjak dari duduknya.


Mereka bertiga akhirnya pergi bersama menuju coffee shop yang kebetulan letaknya tidak jauh dari radio. Mereka berbincang-bincang sambil bercanda riang.


Just Info :


Yoga adalah pemilik radio tempat Nanda bekerja. Walau usianya masih muda, namun ia sudah mampu mendirikan sebuah radio swasta sendiri. Ya walaupun usahanya itu ada sedikit campur tangan orangtuanya, namun Yoga termasuk laki-laki pekerja keras yang cukup mandiri. Wajahnya juga cukup tampan.


Diam-diam, Yoga menaruh hati kepada Nanda. Sudah lama rasa itu ia pendam sendiri. Ia akan mengungkapkan isi hatinya kepada Nanda ketika waktunya tepat nanti. Sayangnya Yoga bukanlah tipe laki-laki pemberani yang bisa secara gamblang mengungkapkan isi hatinya kepada perempuan. Yoga terlalu takut kalau Nanda tau isi hatinya dan malah memilih untuk menjaga jarak dengannya. Hubungan baik yang sudah tercipta seperti ini terasa lebih nyaman jika harus berubah menjadi sekat yang membentang di antara keduanya.

__ADS_1


"Kamu aku antar pulang ya, Nda" ucap Yoga menawarkan diri.


"Ga usah mas. Biar aku pulang sendiri saja" tolak Nanda halus.


"Pamali nolak rejeki Nanda. Betul kan Mas?" Yoga mengangguk kecil sambil tersenyum.


Nanda mati kutu disudutkan seperti ini oleh kakak seniornya. Disatu sisi, ia tidak ingin menolak kebaikan dari boss nya. Namun di sisi lain, Nanda sungguh dibuat pusing. Karna tidak mungkin Nanda membiarkan Yoga mengantarnya sampai ke rumah. Karna rumah yang ia tempati saat ini sudah bukan rumah orangtuanya, melainkan rumah suami statusnya. Dan kalau Yoga tau tempat tinggalnya sekarang, pasti akan banyak pertanyaan yang akan muncul. Yoga pasti akan menanyakan keberadaan orangtuanya. Dan kalau Nanda membiarkan Yoga mengantarnya pulang ke rumah orangtuanya, ibunya pasti akan bertanya kenapa ia kembali lagi ke rumah. Perasaan galau seperti inilah yang saat ini sedang berkecamuk di hati Nanda. Jadi sebisa mungkin, Nanda harus berhasil menolak tawaran baik Yoga untuk mengantarnya pulang.


"Sekali lagi terima kasih mas Yoga. Aku bukannya menolak rejeki, tapi aku mau pergi ke suatu tempat lagi. Mumpung aku sedang cuti. Lagipula, mas Yoga juga pasti sibuk. Aku ga mau mengganggu pekerjaan Mas Yoga. Sudah mengambil waktu kalian seperti ini saja aku sungguh merasa tidak enak hati. Aku sudah mengganggu jam kerja kalian"


"Kalau diganggunya untuk ditraktir kopi mah, kita ga merasa terganggu. Bener ga mas?" jawab Mega cepat dan membuat semuanya tertawa.


"Beneran kamu ga mau aku antar?" ucap Yoga memastikan. Nanda mengangguk yakin.


"Iya Mas tidak perlu. Aku mau memanfaatkan cutiku kali ini untuk mengunjungi tempat-tempat yang sudah lama belum sempat aku singgahi" Yoga hanya menarik nafas panjang dan mendengus kecil.


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, segera kasih kabar ya" lagi-lagi Nanda hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kak Mega, Mas Yoga, aku pamit ya. Sampai bertemu lusa malam" ucap Nanda berpamitan sekaligus mengingatkan akan jadwal siaran dirinya lusa malam.


"Ok, Nanda. Terima kasih untuk traktiran kopinya ya..." Nanda tersipu malu mendengar ucapan terima kasih dari Yoga.


Seperginya Nanda, Mega dan Yoga masih duduk di posisinya. Yoga masih memandangi punggung Nanda yang bergerak menjauhinya. Mega sendiri hanya menarik nafas dan mendengus kecil.


"Entahlah. Gue juga ga tau sampai kapan gue bisa berani mengatakannya ke Nanda. Kadang gue berpikir, seperti ini jauh lebih baik daripada ketika Nanda tau perasaan gue dan dia malah menjaga jarak sama gue. Gue ga bisa jauh dari Nanda"


"Dasar payah. Kalau loe emang ga mau kehilangan Nanda, ya loe harus usaha dong. Bukan cuma pasrah seperti ini. Lagipula, loe juga belum tau kan apa reaksi Nanda setelah dia tau akan perasaan loe yang sebenarnya. Siapa tau Nanda juga punya perasaan yang sama seperti loe, tapi dia memilih untuk menunggu pernyataan dari loe, Ga. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Kalau seandainya cinta loe ga berbalas, setidaknya loe ga akan nyesel dikemudian hari. Karna loe sudah pernah mengatakannya ke Nanda" Yoga hanya terdiam mencerna perkataan Mega. Hatinya sungguh dilema.


***


Nanda sudah selesai mandi dan memasak makanan untuk makan malam. Direbahkannya kembali tubuh lelahnya di atas ranjang. Nanda mencoba memejamkan mata untuk berisitirahat sebentar. Namun matanya seakan masih enggan untuk terpejam. Perasaan sedih karna kehilangan pekerjaan utamanya masih sangat terasa. Namun di sisi lain ada hikmahnya juga ia sudah tidak bekerja. Setidaknya Nanda punya banyak waktu sekarang. Dan dia bisa lebih sering untuk datang mengunjungi ibunya.


Waktu berjalan cepat. Tak terasa hari sudah gelap. Sebentar lagi Alvin pulang. Nanda bangun dari rebahan dan menyalakan televisi di dalam kamarnya untuk menghibur diri. Baru beberapa saat Nanda menikmati acara televisi, suara bel rumah terdengar sangat nyaring yang seketika membuat Nanda tertegun bingung.


"Siapa yang mencet bel ya? Mas Alvin biasanya kalau pulang ga pernah mencet bel" gumam Nanda dalam hati.


Bel rumah berdentang kembali untuk yang kedua kali. Nanda semakin penasaran dengan sosok tamu yang datang. Nanda segera keluar dari kamar dan segera membuka pintu untuk melihat tamu siapakah yang malam-malam datang berkunjung.


Nanda terperangah tak percaya dengan mulut yang sedikit menganga ketika kedua matanya melihat sosok Oma Ana yang sudah berdiri di balik pintu.


"O-Oma...?" ucap Nanda gelagepan.


Oma Ana tak menjawab. Ia hanya melihat lekat ke arah Nanda yang terlihat canggung dan bingung akan kehadirannya. Nanda masih saja berdiri mematung menyambut kehadiran Oma Ana yang secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa aku boleh masuk?" ucap Oma Ana santai membuyarkan lamunan Nanda.


"Ah, te-tentu. Silahkan masuk Oma" Nanda mengekori Oma Ana yang saat ini telah memasuki rumahnya. Oma Ana datang tidak sendiri. Dia diantar oleh Markus. Dan yang membuat Nanda terkejut, Oma Ana datang dengan membawa dua koper besar. Untuk apa koper itu? Apa isinya? Tanya Nanda dalam hati.


"Silahkan duduk Oma. Oma mau minum apa? Biar Nanda buatkan ya"


"Buatkan aku teh hijau panas tanpa gula" Nanda mengangguk cepat dan bergegas ke dapur untuk memasak air panas dan segera mencari teh hijau yang dimaksud.


Setengah tergesa-gesa, mata Nanda mencari dan menelusuri isi rak lemari persediaan makanan didapurnya. Agak terkejut juga ketika matanya menemukan sekotak teh hijau. Dan Nanda juga baru menyadari kalau lemari persediaannya selalu dipenuhi oleh bahan makanan. Padahal hampir setiap hari ia memasak dan menggunakan bahan makanan. Namun isi lemarinya selalu saja penuh. Nanda sendiri juga belum pernah sekalipun berbelanja bulanan, karna di rumah semua bahan yang di butuhkan masih ada dan belum habis. Nanda mulai bertanya-tanya tentang siapakah orang yang selama ini mengurusi rumahnya. Ga mungkin juga Alvin yang melakukannya. Pasti selama ini ada seseorang yang Alvin suruh untuk merapihkan dan membersihkan rumah serta mengisi persediaan bahan makanan.


"Kau boleh pulang sekarang" ucap Oma Ana kepada Markus.


"Baik Nyonya. Jika nanti nyonya besar membutuhkan saya, mohon segera untuk mengabari saya" Oma Ana hanya mengangguk dan Markus pun segera pergi meninggalkan Oma Ana di rumah Alvin.


Nanda meletakkan secangkir teh hijau panas permintaan Oma Ana.


"Pak Markus kemana Oma?" tanya Nanda sambil celingukan mencari ke arah pintu yang masih terbuka.


"Dia sudah pulang" Nanda tertegun dengan jawaban Oma Ana yang terdengar datar namun penuh tanda tanya.


"Ke-kenapa Pak Markus ninggalin Oma?"


"Karna aku akan menginap untuk beberapa hari di sini" seketika wajah Nanda berubah pucat ketika mendengar niat Oma Ana yang akan menginap.


"Gawaaaaattttt.... Kalau Oma sampai nginep disini bisa ketauan semua tentang rahasia besar rumah tangga gue sama mas Alvin. Gawat... Gawat.... Trus gue tidur dimana?? Ya Tuhaaaannn.... Kenapa ini mesti terjadi??"


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak suka kalau aku akan menginap di sini?" tambahnya lagi membuyarkan lamunan dan semakin membuat Nanda salah tingkah.


"Ah tidak Oma. Tentu saja aku senang Oma berkenan untuk menginap di sini" Oma Ana menganggukkan kepala senang.


"Apa di bawah ada kamar kosong? Biar aku tidur di bawah saja. Aku lelah kalau harus naik turun tangga"


"Ma-masih Oma"


"Hmm... Bagus kalau begitu"


Nanda tidak ada pilihan lain selain mengatakan kalau masih ada kamar kosong. Padahal di bawah hanya ada satu kamar, yakni kamarnya sendiri. Kamar kosong hanya ada di atas, dekat kamar nya Alvin. Tapi Nanda hampir tidak pernah ke atas. Karna Alvin sudah melarangnya dengan keras kalau dia tidak boleh memasuki area milik Alvin.


"Silahkan diminum dulu teh nya Oma. Nanti kalau dingin, rasanya jadi kurang enak" Nanda berbasa basi untuk menutupi kegugupannya. Hatinya sedang bergemuruh menahan kekhawatiran yang amat sangat. Bagaimana tidak, di kamar bawah penuh barang-barang miliknya. Tidak ada satupun barang milik Alvin disana. Hal itu pasti akan membuat Oma curiga. Oma secara mendadak datang dan langsung ingin menginap. Tidak ada waktu untuk memindahkan semua barang-barang ke kamar atas.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2