
Alvin dan Nanda sudah duduk di dalam pesawat. Dalam waktu beberapa menit lagi pesawat akan siap untuk take off. Nanda tampak memejamkan mata sambil mulutnya komat kamit membaca doa keselamatan. Ini adalah pengalaman pertamanya menaiki pesawat dan langsung melakukan perjalanan panjang ke negri orang. Cara berdoa Nanda yang sambil komat kamit membuat Alvin tanpa sadar tertawa geli melihatnya. Alvin baru kali ini melihat ada orang yang berdoa sangat khusyuk dan sangat serius sambil mulutnya berkomat kamit.
Tak lama berselang, tiga orang pramugari cantik dengan pakaian yang cukup sexy menempatkan posisi untuk segera menjelaskan sekaligus mempraktekkan cara menggunakan sabuk pengaman dan tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi kejadian darurat. Nanda memperhatikan dengan serius penjelasan dan instruksi yang disampaikan si pramugari tersebut. Berbeda hal dengan Alvin yang masih sibuk dengan ponselnya. Alvin tampak cuek dan tidak memperdulikan sama sekali instruksi yang sedang diberikan para pramugari. Hal ini mungkin karna Alvin sudah sangat sering melakukan perjalanan menggunakan pesawat, jadi penjelasan itu tidaklah penting dan sudah sangat bosan untuk didengarkan.
Suara dari operator terdengar jelas untuk mematikan semua ponsel selama dalam perjalanan. Hal ini guna untuk meminimalisir adanya gangguan pesawat yang berasal dari signal ponsel. Semua penumpang mematikan ponsel mereka termasuk ponsel Alvin dan Nanda.
Perjalanan menuju negara Perancis memakan waktu yang cukup lama. Wajah Nanda mulai terlihat tegang dan pucat ketika pesawat mulai akan take off. Roda pesawat sudah mulai terasa bergerak melaju perlahan dan lama-lama mulai terasa kencang dan pesawatpun berhasil take off di udara. Keringat dinginpun mengalir deras di pelipis kepala Nanda. Disenderkannya kepalanya di dinding kursi, mencoba untuk merilekskan diri. Ketegangan Nanda ketika pesawat mulai take off membuat otot perutnya terasa kram dan kaku. Nanda meringis menahan sakit. Suara ringisan Nanda yang lirih tertahan, terdengar juga di telinga Alvin yang duduk di sebelahnya.
"Nanda, are you okay?" Alvin menatap cemas ke arah Nanda. Nanda memandang sekilas ke arah Alvin dan memberikan jawaban dengan anggukan kepala.
"Kamu kenapa? Kok keringetan gitu? Gerah?" Nanda lagi-lagi hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara. Otot perutnya yang tadi menegang kini mulai pulih dan terasa lebih baik. Raut wajah Nanda yang masih terlihat pucat membuat Alvin sedikit cemas. Ada yang tidak beres dari Nanda.
"Kamu pusing?" tanya Alvin lagi.
"He-em, Sedikit" jawab Nanda lemah.
"Ya udah kamu istirahat aja. Tekan tombol itu. Kamu tiduran, biar ga pusing" titah Alvin memberi instruksi. Nanda yang tak kuasa menahan rasa tak karuan dalam dirinya, hanya pasrah saja mengikuti perintah Alvin. Nanda merebahkan tubunya ke kursi pesawat kelas bisniss. Kepalanya yang tadi terasa agak pusing kini kembali normal. Dipejamkannya matanya mencoba untuk rileks dan menikmati perjalanan panjang ini. Kursi pesawat ini sangat nyaman untuk ditiduri. Ditambah lagi, beberapa hari ini kualitas tidur Nanda kurang baik. Tak butuh waktu lama, Nandapun akhirnya tertidur.
Alvin memandang ke arah kursi Nanda. Di sana terlihat Nanda yang sudah mendengkur halus seakan benar-benar menikmati perjalanan panjang ini dengan tidur.
"Dasar cewek aneh. Begitu aja langsung tidur, huft" gumam Alvin sambil tersenyum sinis. Perjalanan pesawat baru dimulai. Alvin memasang earphone untuk mendengarkan alunan musik-musik yang bisa dipilih di gallery musik yang tersedia. Mendengarkan musik adalah salah satu pilihan terbaik dalam melewati perjalanan panjang sekaligus mampu membunuh rasa bosan yang melanda.
***
Di Radio
Mega mendengus kesal ketika ponselnya berkali-kali gagal menghubungi ponsel Nanda. Tidak biasanya Nanda absen siaran tanpa alasan. Kali ini Nanda benar-benar sudah membuatnya kecewa. Lima belas menit lagi adalah jadwal Nanda siaran. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda kemunculan Nanda.
"Nandaaaaa.... Loe kemana sih? Di telpon hp nya mati pula. Ngeselin banget ini anak. Awas aja ntar kalau dia dateng, bakalan gue maki-maki, huft..." gerutu Mega gemas.
"Gimana Ga? Loe udah berhasil menghubungi Nanda?" tanya Yoga yang juga ikutan panik. Mega hanya menggeleng.
"Trus gimana ini? Sepuluh menit lagi udah harus ganti penyiar. Si Danu udah closing acaranya dia. Ga mungkin kalau dia yang ngelanjutin programnya si Nanda" ucap Yoga makin panik. Sejenak terlihat Mega berpikir keras, kemudian menhela nafas kasar dan akhirnya mengambil keputusan cepat.
"Ga ada pilihan lain. Terpaksa hari ini gue yang siaran gantiin Nanda"
__ADS_1
"Loe serius Ga?"
"Apa Loe aja yang siaran?" Yoga spontan menggelengkan kepala.
"No way... Ampun ibu suri. Monggo silahkan madam..." goda Yoga sambil mempersilahkan Mega berjalan menuju ruang siaran.
Dengan berat hati akhirnya Mega rela menggantikan jadwal Nanda untuk bersiaran hari itu. Di dalam hati, Mega mengumpat habis untuk Nanda dan merancang ancaman khusus yang akan ia berikan untuknya nanti. Gara-gara hari ini ia bersiaran menggantikan Nanda, rencana nontonnya dengan kekasih tercinta jadi terancam batal.
***
Pesawat yang membawa Alvin dan Nanda beserta ketiga bodyguardnya sudah berhasil mendarat dengan aman di landasan Paris Charles de Gaulle Airport. Bandara international ini lebih dikenal dengan nama Roissy Airport.
Nanda menarik nafas lega ketika pesawat yang ia tumpangi benar-benar sudah berhenti di atas tanah, tidak lagi di udara seperti beberapa jam yang lalu. Menjadi penumpang pesawat meski kelas bisniss rasanya tetap saja tidaklah nyaman. Detak jantung yang seakan berdetak lambat karna menahan rasa tegang membuat seluruh otot tubuhnya terasa kaku.
Langit di kota Paris sudah sangat gelap ketika Nanda dan Alvin keluar dari badan pesawat. Para bodyguard dengan sigap dan tanpa diperintah sudah langsung mengambil koper-koper sang majikan. Dua orang bule asli Perancis sudah tampak berjaga untuk menjemput kedatangan Alvin dan rombongan. Berbekal sebuah kertas bertuliskan "Mr & Mrs. Alvin" memudahkan para bodyguard utusan Oma Ana menemukan partner guide yang akan membawa mereka ke hotel dan ke tempat-tempat wisata yang nantinya akan mereka kunjungi.
Alvin dan Nanda menurut saja ketika para guide mengarahkan mereka untuk memasuki mobil dan langsung membawanya ke sebuah salah satu hotel mewah yang berada di kota Paris. Oma Ana benar-benar sudah merencakan honeymoon ini dengan sangat sempurna.
"Tuan Alvin, ini kamar anda. Silahkan Tuan dan Nyonya beristirahat. Kamar kami ada di sebelah. Jika anda butuh sesuatu, anda boleh langsung memanggil kami" ucap Jacson, salah satu bodyguard sambil menyerahkan magnet key kepada tuannya. Alvin hanya mengangguk cepat dan membuka kamar hotelnya. Nanda mengekori langkah Alvin memasuki kamar.
"Kenapa cuma ada satu tempat tidur? Trus nanti gue tidur dimana?" batin Nanda bertanya-tanya.
"Aku mandi duluan. Kamu bereskan sendiri barang-barangmu" ucap Alvin sambil berlalu menuju kamar mandi. Nanda hanya terpaku sedih di posisinya.
"Apanya yang mau diberesin? Baju aja ga bawa" gerutu Nanda lirih menjawab perintah Alvin yang sudah berlalu.
"Ya Tuhaaaannnn.... Kenapa aku harus sesial ini siiihhh?? Trus malam ini gue pake baju apa? Besok gue pake baju apa? Aaaarrrrgggghhh.... Bego banget sih gueeee... Ini ga lucu. Sumpah ini ga lucu... Uuurrrgghhhh...." Nanda mengacak-acak kasar rambutnya meratapi kebodohannya. Berpikir keras seperti bagaimanapun tetap saja hasilnya buntu. Dirinya benar-benar tidak punya baju untuk ganti.
Lima belas menit berlalu, Alvin sudah keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada dan handuk yang hanya dililitkan di pinggang. Dada kekar nan indah milik Alvin tampak sangat jelas menggoda mata. Nanda sedikit canggung melihat penampilan Alvin yang terbuka.
"Ka-kamu kenapa cuma pake handuk seperti itu?" ucap Nanda sambil sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Trus aku harus pake apa?" tanya balik Alvin yang membuat Nanda makin kikuk.
"Kamu kan bisa pake handuk kimono yang lebih tertutup mas"
__ADS_1
"Kenapa? Kamu takut tergoda sama aku ya? Gimana? Tubuhku lumayan menggiurkan kan?" entah kenapa tiba-tiba Alvin malah sengaja menggoda Nanda dengan kata-kata yang justru terdengar merendahkan diri Nanda. Nanda langsung mencibirkan bibirnya merasa kesal dengan perkataan Alvin.
"Iiihh... Pede banget. Siapa juga yang tergiur sama kamu. Sama sekali ga menarik. Aku mau mandi" Nanda berjalan cepat menuju kamar mandi berniat untuk membersihkan diri. Alvin menatap Nanda dengan tatapan geram menahan emosi. Jiwa perfect nya seakan meronta-ronta ketika ada perempuan yang dengan lancangnya berani mengatakan ketidak tertarikannya terhadap dirinya.
Ketika sudah berada di dalam kamar mandi, Nanda cukup terpukau dengan handuk-handuk putih bersih yang tertumpuk rapih. Namun dari tumpukan handuk itu tidak ada satupun handuk yang berbentuk kimono seperti yang sering disediakan di hotel-hotel mewah bintang lima. Handuk yang disediakan adalah handuk putih berbentuk kain panjang. Lagi-lagi Nanda harus menelan rasa kecewa karna rencana dirinya yang tidur mengenakan handuk kimono musnahlah sudah. Tidak ada pilihan lain selain meminjam baju Alvin untuk ia pakai tidur malam ini.
Nanda keluar lagi dari kamar mandi, berjalan ragu mendekati Alvin yang sudah berganti baju dengan kaos dan celana pendek.
"M-mas Alvin... Aku.. Aku boleh ya pinjam bajumu. Aku ga ada baju yang bisa aku pake untuk tidur malam ini. Boleh ya... Pleaseee..." suara Nanda terdengar memelas dengan wajahnya yang tertunduk malu. Alvin menatap wajah Nanda dengan tatapan sinis penuh cela.
"Kamu serius ga bawa baju sama sekali?" Nanda mengangguk pelan.
"Satu bajupun?" Nanda menjawabnya dengan anggukan lemah tak berdaya, menahan malu.
"Dasar bodoh !!! Pantas saja hidupmu selalu sial. Hidupmu terlalu ceroboh" ucapnya sambil membuka kopernya.
"Kamu ini mau pinjemin aku baju atau enggak? Kalau ga boleh ya udah ga apa-apa" gertak Nanda dengan kesal.
"Adduuhhhh..." Nanda mengaduh pelan ketika baju Alvin melayang dengan kasar menutupi kepala dan wajahnya. Alvin memberikan kemejanya kepada Nanda dengan cara melemparkannya dengan kencang ke arah Nanda yang tepat mengenai kepalanya. Dengan geram Nanda merapatkan gigi-giginya menahan kesal atas perilaku Alvin kepadanya.
"Kalau bukan karna terpaksa, gue juga ga sudi pinjem ini baju" umpat Nanda pelan dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Tiga puluh menit lamanya, Nanda menghabiskan waktunya di kamar mandi. Rasanya sangat risih ketika harus keluar dari kamar mandi sambil mengenakan pakaian laki-laki. Apalagi pakaian Alvin yang sudah pasti lebih besar ukurannya. Kemeja putih milik Alvin yang kebesaran sebenarnya masih nyaman dikenakan, cuma lebih terlihat sexy karna panjangnya hanya sampai sebatas paha. Rasa risih dan malu pun mulai menyelimuti segenap jiwanya.
Nanda keluar kamar mandi dengan langkah perlahan sambil mengendap-endap. Matanya fokus tertuju pada sosok Alvin. Dirinya sangat berharap kalau saat ini Alvin sudah tidur sehingga Alvin tidak perlu melihat kondisi dirinya saat ini. Dan benar saja, Alvin sudah ada di balik selimut tebal dengan mata yang terpejam. Nanda menghela nafas lega.
Lagi-lagi matanya masih mencari-cari tempat yang nyaman untuknya bisa merebahkan tubuh lelahnya dengan nyaman. Namun itu sia-sia. Tidak ada tempat yang nyaman untuk tidur kecuali ranjang besar satu-satunya yang ada di kamar ini. Tidak mungkin baginya jika harus tidur di sofa kecil dalam posisi duduk. Itu pasti akan membuat tubuhnya lebih tersiksa esok hari.
Dengan ragu, Nanda memberanikan diri untuk tidur satu ranjang bersama Alvin. Meskipun sebenarnya itu adalah hak Nanda sebagai istri Alvin, namun rasanya sangat risih dan aneh jika harus berbagi ranjang dengan Alvin.
Nanda meletakkan guling ditengah-tengah ranjang. Tubuhnya langsung bersembunyi di balik hangatnya selimut tebal. Rasa lelah selama perjalanan membuat matanya dengan cepat terpejam menjemput mimpi yang indah.
.
.
__ADS_1