
"Alvin.... Anak ituuu... Tidak pernah berubah. Benar-benar keterlaluan !!!" suara geram dari Oma Ana terdengar amat kesal dan mengancam. Jemari tuanya meremas dengan kuat gagang tongkat ketika matanya melihat setumpuk foto-foto hasil jepretan anak buahnya yang sengaja ia kirim untuk memata-matai kehidupan Alvin dan Nanda di rumah barunya. Foto-foto Alvin yang memperlakukan Nanda semena-mena dengan sengaja menurunkan istrinya di pinggir jalan, dan foto Nanda yang berjalan sendirian sepanjang jalanan komplek perumahan baik saat pagi ataupun malam telah berhasil membuat Oma Ana geram dan marah. Alvin ternyata sama sekali tidak bisa memegang komitmen yang telah diucapkannya. Janji akan menjaga dan memperlakukan Nanda dengan baik, ternyata hanya basa basi semata.
Rumah besar yang dimilikinya sekarang terasa sangat sepi sejak keputusan Alvin yang mengejutkan untuk pindah ke rumahnya sendiri. Hampir setiap malam Oma Ana melewatkan makan malamnya seorang diri. Hadinata anaknya, dan istrinya seakan dengan sengaja menjaga jarak dengannya sebagai ungkapan rasa kesal mereka karna sang Oma sudah dengan sewenang-wenang dan sepihak menjodohkan anak semata wayangnya dengan wanita yang bukan pilihannya maupun pilihan Alvin. Meski rasa hormat Hadinata dan istrinya masih mereka tunjukkan, namun Oma Ana tetap merasa kalau rasa hormat yang ditunjukkan anak dan menantunya itu hanyalah formalitas semata. Rasa hormat anak kepada orangtuanya. Tapi tak ada kehangatan di dalamnya. Mereka sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Bahkan untuk sekedar menelpon menanyakan apakah dirinya sudah makan atau belum, sudah tidak pernah dilakukan lagi oleh mereka.
Oma Ana tetap memaklumi. Ia memang salah telah menjodohkan Alvin secara sepihak dengan wanita pilihannya. Namun Oma Ana yakin, bahwa wanita yang ia pilihkan sebagai istri Alvin, bukanlah wanita yang sembarangan. Walaupun Nanda berasal dari keluarga yang bisa dibilang miskin namun Nanda mempunyai harga diri yang tinggi. Itu terlihat dari betapa gigihnya Nanda bekerja siang sampai malam untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Dimana uang itu jika sudah terkumpul langsung digunakan untuk membayar pengobatan ibunya yang sedang sakit. Tingkat prihatin dan sabarnya juga tinggi. Nanda sangat sangat kepada kedua orangtuanya. Selain itu yang Oma Ana sukai dari Nanda adalah Nanda tidak memiliki kekasih. Bukan berarti tidak ada satupun laki-laki yang tidak mau mendekati Nanda. Paras wajah Nanda yang manis, ramah dan tak membosankan membuat banyak laki-laki di luar sana berjuang keras hanya untuk mendapatkan hati Nanda. Itu artinya, Nanda belum tersentuh bukan?
Oma Nanda sudah menyelidiki secara detail tentang siapa Nanda dan bagaimana kepribadiannya. Nanda selalu menolak laki-laki yang mencoba mendekatinya. Prioritas utama Nanda adalah kesembuhan ibunya. Jika sang ibu sudah sembuh dari penyakitnya, barulah Nanda akan mencari pasangan hidup. Karna alasan itulah, Oma Ana merasa yakin bahwa menjodohkan Alvin dengan Nanda adalah keputusan tepat. Walaupun di sisi lain banyak konsekuensi yang harus ia terima. Baik dari relasi perusahaan yang sedikit mencibir akan besannya yang miskin, perubahan sikap Hadinata dan istrinya, sampai sikap Alvin sendiri yang membenci dirinya.
***
Para asisstant pembantu rumah tangga telah selesai menata berbagai hidangan menu sarapan pagi ini. Hadinata dan istri sudah lebih dulu sampai di meja makan. Seperti biasa, mereka langsung memulai makan pagi mereka tanpa menunggu Oma Ana datang. Tak lama berselang, Oma Ana datang dan langsung duduk di kursi makan.
"Pagi Ma..." ucap Hadinata dengan sopan menyapa ibunya. Oma Ana hanya mengangguk kecil menjawab kata sapaan dari anaknya.
Seorang Art menyiapkan piring dan menuangkan air jahe panas favoritenya.
__ADS_1
"Nyonya besar mau saya ambilkan menu apa?" ucap Art dengan sangat sopan.
"Aku mau bubur nasi saja" ucapnya dengan nada penuh wibawa.
"Baik nyonya" dengan cekatan Art itu mengambil sebuah mangkok sedang dan diisi bubur nasi lengkap dengan lauk sebagai.pelengkapnya. Oma Ana menikmati dengan tenang bubur nasi yang lezat masakan koki profesional rumahnya.
Mereka bertiga dengan tenang menikmati makan pagi mereka tanpa berbicara. Desiana yang sudah menghabiskan menu makan paginya, nampak dengan hati-hati mengelap bibirnya dengan tissue setelah meneguk air jeruk murni hangat sebagai minuman paginya.
"Ma... Maaf kalau mungkin ini terdengar sedikit lancang. Alvin kan sudah menikah. Seperti yang pernah Mama janjikan bahwa kalau Alvin sudah menikah, maka saham Mama yang sebesar 60% itu akan mama berikan kepada Alvin? Lalu, kapan rencana Mama untuk mengadakan rapat direksi pengalihan saham perusahaan?"
"Kau tidak perlu khawatir. Rapat direksi tentang peralihan saham perusahaan akan segera aku adakan. Tapi bukan sekarang waktunya. Aku ingin melihat dulu perkembangan dari pernikahan Alvin dengan Nanda. Aku tidak mau pernikahan ini hanyalah sebuah formalitas semata demi mendapatkan 60% sahamku" perkataan Oma Ana terlontar santai namun penuh penekanan. Desiana merasa kesal karna ibu mertuanya sudah dengan sengaja memperalat anaknya demi ketidak jelasan obsesinya itu.
"Tapi Ma, bukankah mama sendiri yang bilang, kalau Alvin mau menikah dengan wanita pilihan Mama, Mama akan segera mengalihkan 60% saham perusahaan Mama kepada Alvin? Urusan perkembangan pernikahan Alvin dengan istrinya, biarkan mereka saja yang tau. Lagipula mereka menikah juga bukan atas dasar cinta. Bagaimana bisa berkembang?" Desiana yang mulai terpancing emosi menatap gemas ibu mertua dengan tatapan malas yang sekilas.
"Aku rasa apa yang Desiana katakan itu benar Ma. Mama harus menepati janji Mama sendiri. Lagipula bukankah Alvin sudah menjalankan yang Mama perintahkan. Alvin sudah bersedia mengikuti kemauan Mama dengan menikahi wanita pilihan Mama. Jadi sudah sepatutnya kalau Alvin mendapatkan apa yang seharusnya menjadi haknya"
__ADS_1
Oma Ana sejenak terdiam, mencoba mencerna dengan baik perkataan-perkataan dari anak dan menantunya yang sangat matrealis. Di letakkannya alat makannya. Air jahe yang tadi masih mengepul panas, kini sudah menyusut uapnya. Disesapinya air jahe panas itu dengan tenang.
Oma Ana menarik nafas dalam untuk menenangkan hatinya yang mulai emosi dengan celotehan tak berguna anaknya yang hanya mementingkan masalah harta saja.
"Baiklah... Besok aku akan menyuruh orangku untuk menyiapkan rapat direksi pengalihan dari sahamku untuk Alvin" Senyum Desiana langsung mengembang ketika ucapan janji manis ibu mertuanya akan segera terwujud. Saking bahagianya, Desiana sampai meremas jari suaminya yang membuat suaminya menoleh ke arahnya dan ikut tersenyum bahagia penuh kemenangan.
"Tapi, aku hanya akan menyerahkan 25% dari sahamku. Sisanya akan aku serahkan semuanya ketika anak Alvin sudah terlahir di dunia ini" senyum bahagia penuh kemenangan yang tadi dimunculkan oleh pasangan suami istri pecinta harta ini seketika tandas berganti dengan senyuman asam dan kecewa.
"Keputusanku adalah mutlak. Tidak bisa diganggu gugat" dengan angkuhnya, Oma Ana bangun beranjak dari duduk yang dibantu oleh seorang Art meninggalkan kedua anaknya yang sedang menahan kecewa.
Oma Ana berjalan menuju taman belakang untuk menikmati keindahan bunga-bunga yang ia tanam dan ia rawat setiap hari. Menanam berbagai tanaman bunga memang kegiatan yang ia lakukan setiap harinya. Selain membuatnya senang, dengan melihat bunga-bunga indah yang bermekaran membuat hatinya lebih tenang menjalani kehidupan kakunya setiap hari.
.
.
__ADS_1
.