
Nanda cukup terkejut ketika Alvin memasuki rumah dengan membawa seorang teman laki-laki berkemeja polos abu gelap lengan panjang dilipat selengan, bertubuh tinggi, warna kulit kuning langsat membawa tas jinjing speedy berwarna hitam tersenyum ke arahnya. Bibirnya yang tersenyum membuat aura wajahnya terlihat tampan dan ramah. Tatapan matanya juga terlihat adem dan tenang.
Nanda menatap datar ke arah Alvin yang sudah menatapnya dengan tatapan tajam. Nanda juga tidak merespon senyuman dari teman laki-laki Alvin. Baginya Alvin atau temanya semua sama, laki-laki brengsek yang hanya bisa mengambil kesempatan pada setiap wanita.
"Kenalin ini dr. Zack. Dia temenku, dokter ahli kandungan. Dia sengaja aku bawa kesini untuk memeriksa kondisi tubuhmu" ucap Alvin memperkenalkan Zack kepada Nanda. Nanda hanya terdiam tak merespon sedikitpun ucapan Alvin kepadanya.
"Ok, tidak perlu membuang waktu. Silahkan loe mulai aja, Zack" titah Alvin.
"Baik" jawabnya cepat. Zack meletakkan tas Speedy nya di atas sofa dan mengeluarkan beberapa alat periksa, jarum suntik dan satu impul obat. Setelah dirasa cukup, Zack mulai mendekati Nanda yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
"Tunggu... Ada apa ini" pekik Nanda mencoba menghindar.
"Aku kan tadi sudah bilang, Zack akan memeriksa kondisi tubuhmu"
"Aku tidak merasakan hal yang aneh dengan tubuhku. Aku sehat. Aku tidak perlu diperiksa apa-apa"
"Tubuh kamu mungkin memang sehat. Tapi tubuh kamu butuh sesuatu agar tidak terjadi pertumbuhan di dalam tubuhmu" mulut Nanda ternganga mencoba mencerna perkataan Alvin yang terdengar membingungkan.
"Maksud kamu apa? Pertumbuhan apa? Aku ga ngerti"
"Emm... Aku boleh panggil Nanda saja ya..." ucap Zack menyela perbincangan Nanda. Nanda mengarahkan kepalanya menatap Zack masih dengan pandangan tidak mengerti. Hanya anggukan kecil sebagai jawaban Nanda atas permintaan Zack.
"Jadi begini Nanda. Aku diminta datang kesini oleh suami kamu untuk memeriksa kondisi kesehatanmu sekaligus memberikan vaksin KB untuk mencegah terjadinya kehamilan. Alvin cerita, katanya kamu sedang kuliah. Jadi supaya tidak mengganggu waktu kuliahmu, aku rasa tidak apa kalau kalian untuk sementara waktu menunda kehadiran anak dalam pernikahan kalian"
"Apaaa... KB?" pekik Nanda syok. Nanda menatap geram wajah Alvin yang terlihat datar dan santai. Bisa-bisanya Alvin menjebak dirinya dalam perlindungan KB. Ada apa ini? Apakah Alvin hendak menjadikan dirinya sebagai tempat pemuas hasratnya. Sehingga Alvin dengan sengaja menyuntikkan cairan KB ke tubuhnya agar tidak terjadi kehamilan selama melakukan berhubungan intim. Umpat Nanda dalam hati. Jiwa Nanda meronta-ronta menahan amarah tak terima dengan cara Alvin bersikap otoriter mengambil keputusan secara sepihak tanpa menanyakan terlebih dahulu dengannya. Benar-benar lancang !!!
"Iya? Apa Alvin belum memberitahumu tentang semua ini?" Nanda terdiam tak menjawab.
"Apa kamu tidak setuju jika kalian menunda kehamilan?" tambah Zack lagi memastikan.
"Bu-bukan... Aku dan Mas Alvin melakukan itu tidak sengaja dan hanya sekali." wajah Nanda memerah menahan malu. Zack tersenyum geli mendengar pengakuan lugu dari Nanda.
"Walaupun hanya dilakukan sekali kalau tidak ada alat pencegah, kemungkinan sel telur dibuahi ****** bisa saja terjadi dan tidak menutup kemungkinan bisa terjadi kehamilan" penjelasan Zack sontak membuat Nanda terperangah kaget dan panik.
"Tapi... Kalau melakukan hal itu hanya sekali apakah kemungkinan untuk tidak hamil bisa terjadi?"
"Itu tergantung kondisi tubuhmu juga. Kalau hormon di dalam tubuhmu saat itu dalam keadaan masa subur, kemungkinan hamil sangat besar. Sebaliknya, kalau hormonmu sedang tidak bagus, kemungkinan hamil juga sangat kecil" Nanda semakin bingung dengan penjelasan dr. Zack. Yang ada dipikirannya saat ini adalah rasa khawatir dirinya hamil.
"Maaf dr. Zack, Saya mau bicara dulu dengan Mas Alvin" tanpa sadar Nanda langsung menarik tangan Alvin menggiringnya masuk ke dalam kamarnya. Zack yang melihat adegan suami istri ini hanya bisa tertawa geli sambil menggelengkan kepala.
"Maksud kamu apa dengan semua ini mas?" bukannya menjawab pertanyaan yang Nanda lontarkan, mata Alvin justru sibuk memandangi isi kamar Nanda yang tertata rapih.
__ADS_1
"Kamar kamu nyaman juga ya..." ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Mas"
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
"Maksud kamu apa membawa dr. Zack ke sini dan ingin menyuntikkan vaksin KB ke tubuhku?"
"Maksud aku baik. Aku tau, kamu pasti belum ingin hamil kan? Makanya aku bawa Zack ke sini supaya memberikan cairan yang bisa mencegah kamu dari kehamilan" ucap Alvin dengan tenang.
"Jadiii... sebagai upaya pencegahan sebaiknya kamu menurut saja dan segera mendapatkan cairan itu sesuai dengan dosis yang sudah ditakarkan untukmu"
"Kenapa aku harus menerima vaksin itu? Lagipula, hubungan kita malam itu karna faktor tidak sengaja. Dan tidak akan pernah terulang lagi. Jadi, aku rasa aku tidak perlu menerima cairan vaksin seperti itu!" tegas Nanda penuh percaya diri.
"Hhmm... Mungkin pembelaanmu ada benarnya. Tapi aku tidak bisa memastikan kalau kejadian malam kemarin tidak akan terulang lagi. Siapa tau kamu sendiri nanti yang sengaja datang menggodaku? Bisa saja kan aku lepas kendali"
"Cukup mas. Jangan pernah berpikir kejadian malam itu akan terulang kembali. Aku akan pastikan semua itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ngerti!!"
"Yahh semoga saja. Dan soal suntik KB yang aku tawarkan, terserah kamu saja mau terima atau tidak. Yang pasti, status kita adalah suami istri. Kalau kita melakukan hubungan intim baik disengaja ataupun tidak, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang akan menyalahkan aku. Mengerti??"
Perkataan Alvin sontak membuat Nanda terperangah tak percaya. Dengan mulut yang sedikit ternganga, Nanda berusaha mencerna perkataan Alvin yang memang tidak salah. Namun, itu pemikiran umum pihak luar. Perkataan Alvin tidak bisa di samakan dengan kondisi saat ini. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan hubungan intim setiap waktu dan dalam status suka sama suka, sedangkan pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan sementara tanpa ada rasa cinta yang menyertai.
"Sepertinya aku harus selalu mengingatkan kamu ya Mas !! Denger ya mas Alvin, pernikahan kita bukan pernikahan yang sebenarnya. Hubungan kita hanya sebatas legal di atas kertas. Jadi, aku peringatkan kamu untuk jangan berbuat macam-macam sama aku. Atau, aku tidak akan segan-segan untuk melaporkan mu ke polisi!!!"
"Mau lapor polisi? Atas dasar apa? Pemaksaan? Atau pemerkosaan? Yang ada, kamu sendiri nanti yang akan mendapat malu Nanda.... " perkataan Alvin semakin membuat Nanda geram dan kesal. Sepertinya manusia kepala batu ini tidak mau terkalahkan.
"Zack sudah menunggu lama di luar. Lebih baik sekarang kamu keluar dan menurut saja demi kebaikan dirimu sendiri"
"AKU TIDAK MAU!!"
"Baiklah kalau itu pilihanmu. Kalau suatu hari nanti kamu hamil, jangan pernah kamu salahkan aku." ucap Alvin dengan santainya dan bergegas keluar dari kamar Nanda.
Nanda menatap geram sikap dingin Alvin yang berhasil membuat dirinya tersudut oleh pilihan yang menyebalkan. Akankah peristiwa malam itu akan terulang kembali? Hati Nanda berkata jangan menerima suntikan KB itu, namun disisi lain otak Nanda berpikir secara logika akan kemungkinan yang bisa saja terjadi. Melihat sikap Alvin yang labil dan semena-mena, tidak menutup kemungkinan peristiwa malam itu bisa saja terjadi lagi pada dirinya. Dan kalau peristiwa malam itu terjadi lagi, kemungkinan adanya kehamilan pun tidak bisa terhindarkan.
"Siapa juga yang mau mengandung anak Alvin. Huft... Iiihh.... Kok gue jadi kepikiran Alvin sih" gerutu Nanda.
Alvin keluar kamar yang tak lama diikuti oleh Nanda di belakangnya.
"Hmm... Rupanya pasutri yang satu ini sangat harmonis sekali ya" ucap Zack sambil bersedekap tangan seraya memperhatikan langkah kecil kedua orang yang baru saja keluar kamar secara bersamaan.
"So Nanda, bagaimana??" tanyanya lagi
__ADS_1
"Cepat berikan cairan itu!!" ucap Nanda ketus.
Dan tanpa menunggu lama, Zack pun segera mempersiapkan peralatan dan mengeluarkan sebuah cairan yang sudah ia siapkan di dalam tasnya. Sebelum Zack menyuntikkan cairan yang ia bawa, Zack mengukur tekanan darah Nanda. Hal ini memang harus dilakukan agar dokter mengetahui terlebih dahulu kondisi dari si pasien.
"Tensi kami bagus. Normal" dengan cekatan, Zack melipat kembali alat tensinya dan beralih dengan sebuah alat suntik yang ia isi dengan cairan."
"Tarik nafas, rileks ya... Ini tidak sakit kok" Zack mensugesti Nanda layaknya seorang anak kecil yang akan di suntik imunisasi. Dan benar saja, tangan Zack sungguh sangat ahli. Suntikan yang baru saja ia lakukan tidak begitu terasa dan dengan cepat selesai.
"Sudah selesai. Tidak sakit kan?" Nanda tidak menjawab. Zack tersenyum kecil ketika melihat wajah Nanda yang jutek berasa asam.
Zack kembali merapikan peralatannya dan bersiap untuk pergi.
"Dok" suara Nanda terdengar ragu.
"Ya"
"Apakah suntikan ini ada efek sampingnya?" Nanda setengah mati menahan malu melontarkan pertanyaan itu ke dokter Zack. Karna seperti artikel yang pernah ia baca dulu ketika masih sekolah bahwa cairan KB bisa memberikan efek samping yang kurang bagus bagi si penerimanya.
"Efek samping bisa saja terjadi oleh siapapun. Tapi, bisa juga tidak berefek apapun. Itu semua bergantung pada hormon tubuh kamu"
"Maksudnya?"
"Kalau tubuhmu merespon dengan baik cairan yang baru saja masuk, maka efek samping seperti keluarnya jerawat, flek hitam, atau bahkan badan menjadi mudah gemuk tidak akan terjadi. Oia, vaksin yang aku suntikkan tadi berjangka waktu tiga bulan. Nanti ketika sudah habis waktunya, aku akan memberimu vaksin yang sama"
Alvin hanya terdiam memandangi dokter dan pasien yang sedang berkonsultasi. Mata Alvin menatap tajam ke arah Nanda. Nanda sendiri yang sadar sedang diperhatikan oleh Alvin sengaja membalas tatapan Alvin dengan tatapan ketus dan jengkel.
"Gue langsung aja Vin. Gue harus balik lagi ke rumah sakit" Zack sudah berdiri dengan menjinjing tas bersiap untuk pergi.
"Loe ga mau ngopi-ngopi dulu? Atau sekalian makan? Udah mau jam makan siang nih"
"Ga usahlah bro. Gampang nanti di sana aja"
"Ok. Makasih ya"
"Sama-sama. Gue pamit ya" Alvin mengangguk dan menjabat erat tangan sahabatnya dengan tepukan di pundak.
"Nanda, saya pamit ya.. Hari ini kamu istirahat ya. Kalau bisa, jangan beraktivitas yang berat-berat dulu" Nanda lagi-lagi tidak menjawab. Hanya anggukan kecil saja sebagai jawabannya.
.
.
__ADS_1
.