
"Ka-kamu mau apa?" tanya Nanda impulsif.
"Bukankah tadi kamu bertanya, apa yang harus kamu lakukan?"
"I-ya" jawabnya sambil mengangguk.
"CIUM AKU!!!" titah Alvin dengan santainya.
"APAA..." pekik Nanda spontan dengan mata terbelalak.
"Iya, cium aku" ulang Alvin dengan wajah tenangnya.
"Jangan mimpi! Dasar gila"
"Nanda, kamu baru saja menanda tangani surat perjanjian kerja. Apa kamu lupa?"
"Iya benar, aku baru saja menanda tangani surat perjanjian kerja. Tapi mencium kamu? Itu bukan bagian dalam pekerjaanku!!" bantah Nanda dengan wajah singit.
"Lain kali, sebelum kamu menanda tangani surat perjanjian apapun, biasakan untuk membacanya dengan teliti. Aku ingatkan kembali isi dalam surat perjanjian itu! Di sana terdapat satu peraturan bahwa kamu harus melayaniku dengan baik. Baik pelayanan secara formal maupun non formal"
"Tunggu!! pelayanan non formal? Maksudnya apa?"
"Contohnya seperti yang barusan aku minta"
Nanda mengepalkan jemarinya. Alvin sungguh licik. Dia sudah menyisipkan peraturan jebakan di dalam perjanjian kerjanya.
"Kamu sengaja mempermainkan aku ya mas?"
"Tidak. Aku justru ingin membantu kamu"
"Aku ga ngerti sama jalan pikiran kamu mas"
"Bukankah kamu sangat menyukai sentuhanku? Jadi, supaya ke depannya kamu tidak menahan rindu, jadi aku sengaja menyisipkan satu peraturan yang menyenangkan khusus untuk kamu yang berstatus istriku"
"Kamu memang laki-laki gila yang tidak tau malu Mas Alvin! Perjanjian kerja aku batalkan. Aku tidak jadi bekerja disini!!"
"Silahkan saja kamu batalkan. Asal kamu siap membayar biaya pinaltinya"
"Pi-pinalty?" Alvin menipiskan bibir sambil mengangguk yakin.
"Perjanjian kerja yang barusan kamu tanda tangani itu menggunakan materai sayang... Dan itu ada kekuatan hukum di dalamnya. Nanti aku akan kirimkan soft copy perjanjian kerja yang tadi sudah kamu tanda tangani, agar kamu bisa membacanya kembali secara teliti. Bagaimana?"
Nanda terdiam melamun dan panik. Nanda mencoba mencerna kembali perkataan Alvin. Ia sungguh sangat menyesali kebodohannya yang sudah terlalu gegabah asal menanda tangani surat perjanjian kerja yang Alvin buat. Andai ia tadi lebih teliti, mungkin saat ini dirinya tidak masuk dalam perangkap licik Alvin. Nasi sudah menjadi bubur, jadi suka tidak suka semua harus dijalani sesuai peraturan yang sudah di tandatangani.
Alvin menatap Nanda yang terdiam termenung. Raut wajah Nanda terlihat galau. Tanpa disadari, Alvin tertawa kecil merasa lucu dengan sikap Nanda yang polos.
"Sudahlah... Hari kamu aku maafkan. Dan aku akan memberikan kamu kesempatan menggantinya nanti malam di rumah"
"Kalau kamu berani berbuat macam-macam denganku, aku akan hancurkan perusahaanmu Mas!!"
"Silahkan saja kalau kamu bisa" Alvin tertawa terkakak dengan sikap impulsif Nanda yang terdengar bodoh. Lagipula mau dengan apa Nanda bisa menghancurkan perusahaan besar seperti yang dimiliki keluarga Haditama ini?
Alvin menekan line telpon yang menghubungkannya dengan line telepon Dino. Menyuruhnya masuk ke ruangan kerjanya.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" sapa Dino dengan sopan.
"Kenalin ini Vernanda, assisten baru saya. Tolong kamu beri tahu semua hal tentang saya, dan sekalian kamu ajarkan tentang cara bekerja yang baik di perusahaan ini. Mengerti?"
"Mengerti pak. Baik akan saya laksanakan"
"Dan Nanda, untuk permulaan kamu bisa belajar banyak dari Dino. Dino ini sekretaris pribadi aku. Kamu harus bisa beradaptasi dengan cepat. Mengerti?"
Nanda yang canggung berada di hadapan Dino hanya bisa mengangguk pelan akan ucapan Alvin.
Dino mempersilahkan Nanda untuk mengikuti dirinya menuju meja kerjanya. Nanda pun mengangguk dan mengekori Dino dari belakang. Nanda sengaja keluar dari ruang kerja Alvin tanpa menolehkan kembali wajahnya ke arahnya. Tampaknya Alvin juga tidak begitu mempermasalahkan hal itu.
Dino menarik kursi dan mempersilahkan Nanda untuk duduk di sebelahnya. Dengan ramah, Dino menjelaskan panjang lebar tentang hal yang sudah diperintahkan Alvin kepadanya. Dengan seksama Nanda pun mendengar dan memperlihatkan semua yang diucapkan Dino.
"Gimana Nanda? Sudah paham kan?" tanya Dino setelah menjelaskan pemaparannya panjang lebar.
__ADS_1
"Hmm... Iya aku sudah mengerti"
"Oia Nanda, nanti siang kamu mau makan apa? Biar sekalian aku pesankan" ucapnya lagi menawarkan makan siang.
"Eemmm.. Apa saja boleh. Aku suka semua makanan kok" jawab Nanda sambil tersenyum.
Dari dalam Alvin memperhatikan Dino dan Nanda yang sedang bercakap-cakap. Mereka terlihat akrab dan dekat. Senyuman lebar merekah dari bibir Nanda membuat Alvin tidak geram. Pasalnya Dino yang baru saja kenal dengan istri statusnya itu dengan sekejap sudah bisa akrab dan bisa membuat istrinya itu tersenyum lebar.
***
Ddrrrtt... Ddrrrrttt...
Nanda merasakan getaran dari saku bajunya.
"Vira Calling.."
"Eemmm Mas Dino, maaf ya. Ponselku bunyi. Aku ijin terima telpon sebentar ya"
"Okay" jawab Dino sambil mengangguk
Nanda mencari tempat yang agak jauh agar bisa dengan leluasa menerima panggilan telpon dari sahabatnya itu
[Halo..] sapa Nanda
[Halo Nandaaaa... Loe lagi dimana? Loe baik-baik aja kan?] Nanda sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga karena Vira berbicara sambil berteriak di sebrang sana.
"[Gue baik-baik aja Vir. Loe jangan khawatir ya...]
[Gimana gue ga khawatir, loe pulang dijemput sama cowok yang gue belum kenal. Udah gitu loe ga kasih kabar sama sekali. Loe tuh masih anggep gue sahabat loe atau enggak sih Nda?]
[Viraaa... Maafin gue ya. Gue lupa ga kasih kabar ke elo. Tadinya gue pikir, gue mau nemuin elo sekalian makan siang bareng. Maaf ya gue udah bikin loe khawatir]
[Nandaaaa... Loe beneran baik-baik aja? Loe ga bohong kaaan??]
[Enggak sayaaaangg.. Gue baik-baik aja. Beneran. Besok kita atur waktu buat ketemuan ya]
[Iya janji. Udah dulu ya. Loe lanjutin kerjanya. Kalau ketauan jam kerja telpon-telponan, nanti loe bisa dipecat loh]
[Yeee... Emang jaman kerja sama si Mak lampir Silvi? Ketauan pegang handphone bakalan dipecat?]
[Hahahaha... Ya siapa tau boss baru loe juga sama galaknya kayak Bu Silvi]
[Salah loe Nda. Boss gue baik banget. Ganteng banget pula. Gue jadi iri sama elo Nda]
[Iri kenapa?]
[Ya karna loe kenal deket sama Boss gue. Pokoknya elo utang penjelasan detail tentang boss gue sama cowok misterius yang kemarin malem dateng jemput elo, titik!!]
[Iya, nanti semua akan gue jelasin ke elo]
[Gue catet nih ya. Awas kalau loe sampai ingkar. Gue tagih di akhirat nanti]
[Hahaha... Serem banget sih Vir]
[Makanya jangan sampai ingkar]
[Iya sayang... Udah dulu ya, bye Vira]
***
Nanda melanjutkan kembali training otodidak nya bersama Dino. Bekerja bareng Dino terasa menyenangkan. Dino orangnya ramah dan sabar. Suaranya juga lembut dan menenangkan. Berbeda jauh dengan Alvin.
Mata Alvin sesekali melirik ke arah meja Dino. Matanya lumayan panas melihat kemesraan yang ditunjukkan Nanda bersama Dino. Senyuman Nanda selalu tersungging lebar ketika berinteraksi dengan sekretaris pribadinya itu. Wajah Nanda juga terlihat ceria dan rileks. Tidak tegang ketika bersama dirinya.
Alvin merenggangkan ikatan dasinya yang terasa sesak menyekik leher. Entah kenapa ruangan kerjanya serasa panas dan membuatnya gerah. Dilihatnya jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Alvin beranjak dari kursinya untuk pergi makan siang. Ketika dirinya keluar dari ruangan, matanya menemukan mata Nanda yang masih terfokus memperhatikan Dino yang sedang menjelaskan materi seputar pekerjaan dirinya.
"Nanda..." kepala Nanda langsung mendongak ke arah suara.
"I-iya Pak"
__ADS_1
" Ikut saya, sekarang!" Alvin tidak menunggu jawaban Nanda. Dirinya langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Nanda yang masih terperangah bingung atas perintahnya.
"Udah sana, buruan kejar Pak Alvin. Kalau kamu kelamaan ntar dia bisa marah sama kamu" ucap Dino menasehati. Dino sudah memahami karakter boss besarnya itu yang segala sesuatu nya harus cepat dan sempurna.
"Ah iya. Sorry ya mas Dino. Nanti kita lanjutkan lagi ya belajarnya" Dino mengangguk sambil tersenyum senang.
Nanda beranjak dari kursi dan sambil setengah berlari mengejar Alvin yang tadi memanggilnya. Langkah Nanda terhenti mendadak dan hampir saja menabrak tubuh Alvin kalau Nanda tidak dengan cepat mengerem langkahnya.
Alvin sudah berdiri di depan lift menunggu Nanda menghampiri dirinya. Wajah dingin Alvin masih terpampang dengan jelas. Nanda hanya terdiam, mengikuti langkah Alvin memasuki lift. Di dalam lift keduanya juga hanya terdiam.
Tiiiingg...
Suara dentum lift terdengar nyaring disusul dengan terbukanya pintu. Alvin melangkah santai menuju parkiran mobilnya. Namun meski bagi Alvin langkahnya biasa saja, tetap saja membuat Nanda kesulitan untuk mengimbangi langkah kakinya yang panjang.
Sejenak Nanda terdiam mematung ketika Alvin sudah masuk ke dalam mobil. Rasanya sangat canggung untuk masuk ke dalam mobil Alvin. Karna selama ini dirinya memang hampir tidak pernah berada dalam satu mobil dengan suami statusnya itu. Lagipula, Alvin juga tidak memintanya untuk masuk ke dalam mobilnya. Jadi berdiri di luar mobil itu lebih baik. Siapa tau Alvin hanya ingin meminta dirinya mengikutinya sampai dia masuk ke dalam mobil.
Alvin mendongakkan kepalanya keluar dari jendela mobil. Dengan wajah geram Alvin menyuruh Nanda untuk masuk ke dalam mobilnya, lengkap dengan intonasi khasnya yang membuat telinga Nanda jengkel.
"Kamu mau masuk atau aku tabrak?" Nanda mengeratkan gigi gerahamnya menahan rasa kesal dengan pemilihan kosakata Alvin. Benar-benar manusia angkuh.
Tanpa banyak bicara, Nanda memilih untuk masuk ke dalam mobil Alvin, duduk diam dan membuang muka ke samping jendela. Alvin menghembuskan nafas kasarnya dan segera mendekatkan wajahnya ke arah Nanda duduk.
Betapa terkejutnya Nanda ketika wajah Alvin sudah terasa sangat dekat dengan wajahnya. Hanya berjarak satu ruas jari. Mata mereka saling beradu pandang. Pikiran Nanda pun jadi jauh kemana-mana. Detak jantungnya seketika berdetak tak beraturan.
Nanda menghembuskan nafas lega ketika ternyata Alvin hanya ingin memakaikan seatbelt dirinya yang belum terpasang.
"Kamu pikir aku mau menciummu?" ucap Alvin sambil tersenyum sinis. Nanda membalasnya dengan cibiran malas.
"Tenang saja, aku tidak akan semudah itu untuk mencium perempuan. Apalagi orangnya itu kamu" Nanda cukup tersinggung dengan perkataan Alvin. Ingin sekali rasanya ia membalas dengan makian yang sama. Namun Nanda lebih memilih untuk diam walaupun seluruh jiwanya merasa sangat marah. Marah dengan Alvin hanya akan membuang energinya saja.
Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran mewah. Dan tak butuh waktu lama mobilnya sudah terparkir rapih di pelataran parkiran yang cukup luas. Alvin keluar mobil dan langsung berjalan memasuki restoran tanpa memperdulikan Nanda.
Lagi-lagi Nanda hanya bisa menghela nafas panjang dengan sikap arogansi boss nya itu. Sikapnya benar-benar teramat menyebalkan. Alvin menyuruhnya ikut tapi dia ga bilang mau kemana dan tidak memintanya untuk ikut serta bersamanya ketika sudah sampai ke tempat tujuan.
Nanda cukup tau diri. Rasanya akan sangat malu kalau dirinya harus mengikuti Alvin memasuki restoran yang mana suami statusnya itu tidak ada basa basi menyuruhnya ikut masuk. Nanda memilih duduk di kursi depan restoran, menunggu boss nya menyelesaikan hajatnya.
Sayangnya pemikiran Nanda dan Alvin sangatlah berbeda. Alvin menganggap Nanda sama seperti wanita-wanita yang pernah ia ajak makan bersama di restoran. Walaupun dirinya yang terlebih dulu masuk, biasanya si para wanita pasti langsung akan membuntutinya dan ikut masuk, langsung duduk disampingnya. Namun sikap Nanda justru membuat Alvin geram sekaligus geli. Alvin tertawa geli ketika matanya menyaksikan Nanda yang sedang duduk sendiri diluar resto dengan wajah bete dan bingung.
Ponsel Nanda berdering. Dengan cepat Nanda meraih ponsel yang sedari tadi ia kantongi dan melihat sebuah nama yang tertera di sana. Ternyata Alvin yang menghubunginya.
[Halo...] sapa Nanda, malas.
[Kamu ngapain duduk di luar?]
[A-aku...]
[Masuk !!] titah Alvin
[Aku disini saja]
[Aku bilang masuk!!]
[Aku sudah dipesankan makanan sama mas Dino. Sayang kalau ga dimakan]
[Kamu baru mulai bekerja, sudah berani melawan perintah atasan? Nyalimu besar juga ya Nanda]
[Bu-bukaan itu maksudkuuu... Akuuu...]
Alvin mematikan ponselnya dengan kesal. Dia sudah tidak memperdulikan Nanda yang mau masuk atau tidak. Dengan santainya Alvin memesan menu makanan yang dia suka.
Perasaan Nanda bercampur baur. Rasa kesal, marah, takut bercampur menjadi satu. Dengan berat hati Nanda akhirnya masuk ke dalam restoran dan mencari meja Alvin. Nanda berjalan perlahan mendekati meja Alvin. Alvin hanya menatap dingin ketika dirinya duduk di depan kursi suami statusnya itu.
Makanan pun datang. Alvin yang sengaja memesan satu porsi makanan, dengan santainya melahap semua makanannya tanpa perasaan malu atau bersalah kepada Nanda. Nanda sendiri juga tidak berani meminta jatah makan siangnya kepada boss sombongnya itu. Akhirnya Nanda hanya diam menunggu sampai Alvin selesai makan sambil sesekali memainkan ponselnya.
.
.
.
__ADS_1