
Setelah selesai menikmati sarapan pagi, Alvin dan Nanda memasuki mobil untuk kembali ke rumah. Dan di dalam mobil sepanjang perjalanan suasana sangat hening. Tidak ada percakapan sama sekali. Masing masing larut dan sibuk pada pikirannya sendiri hingga tak terasa mobil Alvin sudah sampai di pelataran luas parkiran rumahnya.
Mesin mobil Alvin sudah dimatikan dan sudah terparkir di halaman rumah yang megah bak istana. Tangannya dengan cepat membuka sabuk pengaman yang sedari tadi mengikat tubuhnya.
"Diam dan jangan bergerak" suara gertakan Alvin berhasil menghentikan gerakan tangan Nanda yang sudah membuka sabuk pengamannya.
Dengan sikap dan gaya yang dingin, Alvin keluar dari mobil dan melangkah cepat ke arah pintu mobil lalu membukakan pintu untuk Nanda. Sesaat Nanda tertegun dengan sikap Alvin yang terlihat aneh. Nanda juga hanya mematung ketika Alvin mengulurkan tangan ke arah nya untuk membantu dirinya keluar dari mobil.
"Cepat keluar !!" Dengan ragu ragu akhirnya Nanda menerima uluran tangan Alvin dan keluar dari mobilnya.
Alvin masih menggenggam Nanda ketika tangan kekar satunya melempar daun pintu mobilnya. Wajahnya masih saja terlihat kaku dan dingin. Tidak ada senyuman sedikitpun di wajahnya.
"Kamu harus berpura pura mesra denganku di depan keluargaku. Kau mengerti !!" perkataan Alvin terdengar datar namun syarat akan ancaman di dalamnya. Nanda sendiri hanya bisa mengangguk pasrah mengikuti permainan yang sudah diatur oleh suaminya.
Alvin berjalan sambil menggandeng tangan Nanda. Tanpa sadar, mata Nanda memperhatikan dengan lekat tubuh laki laki tampan dengan postur tubuh yang sangat sempurna yang saat ini sedang menggenggam tangannya erat, menggandeng dengan tegas membawanya masuk ke dalam rumah megah yang masih terasa asing baginya.
Markus, kepala pelayan rumah membukakan pintu besar dan langsung membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Alvin dan Nanda. Sejenak Alvin berhenti di hadapan laki laki tua yang sudah mengabdi di rumah itu selama 28 tahun lamanya untuk menanyakan keberadaan Oma nya.
"Dimana Oma?" ucapnya dengan tetap menampilkan wajah arogant nya.
"Nyonya besar ada di kamar tuan muda" jawabnya dengan sangat sopan. Alvin hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan laki laki tua itu. Markus sendiri hanya bisa menghela nafas dengan sikap Alvin yang tak pernah berubah. Sikap dingin dan arogant nya masih sama bahkan sekarang lebih terasa. Mungkin karna banyaknya tekanan yang dibebankan dipundaknya sehingga membentuk karakter Alvin menjadi sosok yang independent, mandiri dan dingin.
***
Tuk... Tuk...
Alvin mengetuk pintu kamar oma Ana dengan ketukan sedang. Dari dalam terdengar balasan suara tua namun cukup tegas untuk suara seumurannya.
__ADS_1
"Masuk !!"
Perlahan Alvin membuka pintu kamar dan memberikan salam dengan sedikit membungkuk sambil menganggukkan kepala. Demikian juga dengan Nanda, ia mengikuti apa yang Alvin lakukan. Oma Ana yang sedang duduk dipinggir ranjang membalasnya dengan anggukan.
"Kapan kalian kembali? Duduklah..." Alvin tak menjawab pertanyaan Oma nya dan memilih untuk duduk di sofa dekat ranjang.
Kamar Oma Ana cukup besar. Bahkan bagi Nanda, kamar Oma Ana sangatlah besar. Sebuah ranjang besar dengan design mewah yang terukir pahatan tangan profesional dengan lemari besar serta beberapa sofa empuk yang melengkapi isi kamarnya membuat mata Nanda terpesona karenanya.
"Oma apa kabar? Oma sehat kan?" ucap Nanda berbasa basi. Oma Ana beranjak dari duduknya, berjalan perlahan lalu mendudukkan dirinya di sofa.
"Iya aku sehat. Bagaimana bulan madu sementara kalian? Apa Alvin membuatmu sulit?" Nanda hanya terdiam. Diliriknya perlahan wajah Alvin terlihat kaku dan tanpa ekspresi. Perkataan Oma Ana seakan mengetahui apa yang Nanda alami. Karna tanpa dijelaskan pun Oma Ana pasti sudah tau kalau Alvin pasti akan melewatkan malam pengantin mereka begitu saja.
"Oma, aku akan tinggal di rumah ini selama satu minggu. Setelah itu, kami akan pindah ke rumah kami yang baru" tanpa basa basi Alvin langsung mengungkapkan keinginannya tanpa memperdulikan perasaan orang yang diajaknya berbicara.
Oma Ana menghela nafas dalam yang sebelumnya sempat terdiam, sedikit syok dengan perkataan tegas cucunya.
"Apakah rumah ini masih kurang besar untuk bisa kalian tempati?"
"Kau masih bisa menjadikan rumah ini sebagai rumahmu. Dan juga akan lebih baik untukku mengawasimu" mata Alvin menatap tajam ke arah wanita tua penuh kharisma ini, menatapnya dengan tatapan geram.
"Apa maksud Oma mengatakan 'untuk mengawasiku'?" emosi Alvin meradang. Ia tak terima dengan ucapan mengintimidasi dari omanya terhadapnya.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar benar menjaga istrimu dengan baik"
"Aku memang tidak mencintai Nanda sebagai istriku. Tapi aku bukan laki laki yang tidak mempunyai tanggung jawab yang akan menelantarkan dia begitu saja. Maka dari itu aku ingin tinggal di rumahku sendiri sebagai bukti akan tanggung jawabku sebagai seorang suami"
Alvin berdiri dari duduknya dan langsung membungkukkan badannya sambil menganggukkan kepala dan bergegas membalikkan badan meninggalkan kamar Oma Ana tanpa berbasa basi berpamitan kepadanya. Nanda terperangah dengan sikap Alvin. Dengan rasa canggung dan kikuk yang teramat sangat, akhirnya ia pun dengan cepat beranjak dari duduk dan mengangguk anggukkan kepalanya kepada Oma Ana sebagai isyarat berpamitan.
__ADS_1
Sambil setengah berlari, Nanda menyusul langkah Alvin yang sudah cepat meninggalkan dirinya.
"Mas... Mas Alvin...." Alvin tak menghiraukan suara panggilan Nanda. Dengan langkah yang sangat percaya diri, Alvin berjalan menuju ke kamar pribadinya.
Untuk mengimbangi langkah Alvin yang sudah meninggalkan jauh dirinya, Nanda harus berlari mengejarnya. Dan...
Brruuukkkk.....
Alvin secara tiba tiba menghentikan langkahnya yang membuat Nanda harus menubruk punggungnya dari belakang.
"Ma-maaf... A-aku ga sengaja" ucap Nanda terbata-bata. Alvin hanya menatap sekilas, mendengus geram dan membuka pintu kamarnya dan memasukinya tanpa mengajak Nanda. Nanda hanya terdiam mematung di depan pintu kamar Alvin sambil menatapi pintu kamar yang sudah tertutup.
Cukup lama Nanda berdiri di depan pintu kamar Alvin. Namun Alvin tak kunjung keluar. Sambil menahan rasa kesalnya, Nanda memutuskan untuk berjalan jalan melihat lihat semua sudut dari rumah besar yang akan ia tempati selama satu minggu ke depan.
***
Para pekerja yang bekerja di rumah Oma Ana menyambut ramah kehadiran Nanda di rumah itu. Bahkan mereka selalu menawarkan berbagai bantuan, makanan kecil atau minuman hangat untuk bisa ia nikmati sambil menikmati suasana rumah. Sepertinya para pekerja di rumah ini sudah mengetahui status baru dirinya di rumah itu, sehingga mereka semua berbuat baik dan sangat ramah kepadanya.
Nanda duduk di salah satu kursi yang berada di pinggir kolam renang. Pagi yang mendung membuat udara masih terasa sejuk meski waktu pagi sudah mulai merangkak naik berganti siang.
Alvin berdiri termenung di balik tirai jendela kamarnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Mata Alvin tiba tiba dikejutkan akan pemandangan baru dari sosok Nanda yang duduk sendiri di samping kolam renang sambil menikmati secangkir kopi panas. Bibirnya tersenyum menengadah ke atas dengan mata yang terpejam. Nanda seakan akan sedang menikmati udara pagi yang terasa sejuk dan menikmatinya dengan hikmat.
Tanpa Alvin sadari, ekor bibirnya menyunggingkan senyuman sinis yang menyiratkan keanggkuhan dirinya.
"Dasar cewek norak"
.
__ADS_1
.
.