
Alvin kembali masuk ke dalam rumah setelah dirinya mengantarkan Zack pergi. Di dalam rumah, Alvin sudah disambut dengan tatapan sengit dari istri statusnya.
"Aku mau tanya satu hal sama kamu mas"
Alvin tak kalah tajam membalas tatapan sengit yang dipertunjukkan Nanda.
"Tanya apa?" jawabnya datar tanpa ekspresi.
"Untuk apa kamu menaruh banyak bodyguard di rumah ini" Alvin mengarahkan matanya menatap ke arah luar ke arah para bodyguard nya tampak sedang berjaga-jaga.
"Buat jagain kamu" jawaban Alvin terdengar santai namun sangat menusuk di telinga Nanda.
"Maksud kamu apa buat jagain aku?"
"Ya biar kamu ga kemana-mana?"
"Sejak kapan kamu perhatikan sama aku? Pake acara sewa bodyguard segala?"
"Sejak kamu jadi pembangkang"
"Pembangkang? Maksud kamu apa bilang aku pembangkang?!" suara Nanda mulai meninggi. Emosinya mulai terpancing dengan sikap dan jawaban Alvin.
"Kalau kamu mau nurut sama aku, aku akan bersikap lembut denganmu" ucap Alvin seraya membelai rambut Nanda dengan gayanya yang mencela.
"Aku bukan tahanan kamu ya Mas. Aku ini orang bebas yang punya hak untuk menentukan pilihan aku sendiri!!"
"Kamu bukan orang bebas sayang... Status kamu itu istri aku. Dan namamu tercatat di catatan sipil negara. So, semua pilihan yang kamu inginkan, semua harus atas sepersetujuan aku. Mengerti..."
"Denger ya mas Alvin!! Kalau kamu memperlakukan aku seperti ini, aku bisa berbuat nekad!!"
Alvin meraih tangan Nanda yang mengacungkan ke arahnya. Digenggamnya erat tangan itu dengan tatapan mata yang tajam menembus retina mata Nanda yang tak kalah tajamnya menatap dirinya.
"Jangan pernah mengancamku Nanda. Hidupmu dan bahkan orang tuamu, ada di tanganku. Jangan bikin aku marah. Karna hukumanmu akan sangat berat"
"Pengecut kamu mas!! Kamu hanya bisa membawa orang tuaku pada setiap hal. Karna kamu tau, memang disitulah kelemahanku. Kamu memang laki-laki yang paling menyebalkan di dunia ini. Aku benar-benar menyesal bisa ada di dalam hidup kamu!!!" pekik Nanda. Sekuat tenaga Nanda menahan air mata agar jangan sampai terjatuh dari bendungan matanya. Rasanya sangat tidak rela kalau Alvin harus melihat airmata nya yang sangat berharga.
"Silahkan kamu sesali semua yang ingin kamu sesali. Yang terpenting saat ini, kamu cukup patuh dan nurut sama aku. Okay" Alvin tersenyum puas seraya melepaskan genggaman tangannya dan berlalu pergi menuju kamarnya meninggalkan Nanda yang masih terdiam sedih menahan emosi.
Secara impulsif Nanda mengejar Alvin dan menarik jasnya yang membuat dirinya justru terperangkap lagi oleh tangan Alvin yang kekar.
"Mas Alviiinn...."
Karna mendapatkan serangan tiba-tiba, secara refleks Alvin menangkis tarikan tangan Nanda, menyandarkan ke dinding dan menguncinya dengan kedua tangannya yang kekar.
"Aaaarrrrggghhhh...." teriak Nanda spontan.
Mata mereka saling beradu. Detak jantung Nanda terasa tak menentu. Demikian pula yang Alvin rasakan. Ada semburan rasa unik yang tersemat ketika matanya beradu pandang dengan wanita yang kini menjadi istri statusnya.
"Ada apa? Kamu masih kangen sama aku, hemm??" goda Alvin sambil mendekatkan bibirnya ke hidung Nanda. Alvin sengaja menghembuskan nafasnya di wajah Nanda dengan agar Nanda bisa merasakan stimulus halus dirinya. Nanda menarik nafas dan mendorong sedikit tubuh Alvin agar wajahnya tidak terlalu dekat dengannya. Nanda takut Alvin bisa ******* bibirnya lagi kalau dia tidak cepat-cepat membenarkan posisinya saat ini.
"Aku sudah mengikuti kemauan mu. Biarkan aku pergi. Hari ini, aku ada jadwal siaran yang tidak bisa aku tinggalkan"
"Tidak bisa. Hari ini kamu tidak boleh pergi kemana-mana"
"Kalau hari ini aku ga dateng, aku bisa dipecat"
"Baguslah kalau kamu dipecat. Jadi kamu tidak perlu membuang waktumu untuk siaran di Radio kecil itu lagi?"
"Mas... Tolong sedikit aja ngertiin aku"
"Kamu dibayar berapa siaran disana? Lima juta? Sepuluh juta? Atau seratus juta?"
"Ini masalah tanggung jawab aku Mas. Kamu bisa ga sih ngertiin posisi aku??"
"Dimana-mana, yang namanya orang kerja itu cari uang. Kalau uang yang kamu dapatkan tidak sebanding dengan waktu yang kamu buang, untuk apa?" Nanda meremas erat jemarinya menahan rasa geram yang mulai meningkat. Dengan sikap berani, Nanda mendongakkan kepalanya seakan dengan terang-terangan menantang suami statusnya dalam beragumen.
"Baik, kalau memang itu persepsi kamu. Kalau begitu, sebagai gantinya aku akan berkerja di kantor kamu dengan gaji sebulannya seratus juta" Alvin cukup terperangah dengan jawaban Nanda atas pernyataan dirinya. Tak disangka ternyata istri statusnya itu bukan wanita bodoh yang hanya bisa pasrah akan semua keputusan nya. Sikap memberontaknya semakin membuat dirinya gemas. Hanya dengan gaji seratus juta yang Nanda minta sama saja seperti dirinya memberikan uang nafkah setiap bulannya. Dan itu bukanlah hal sulit.
Alvin tertawa geli mendengar ancaman Nanda.
"Seratus juta?" ucap Alvin membeo
"Iya seratus juta. Bukankah kamu sendiri yang bilang 'dimana-mana orang kerja itu cari uang. Dan waktuku sangat berharga jika hanya dibuang di rumah tanpa menghasilkan uang. Bagaimana? Apa kamu sanggup memberiku gaji segitu?"
__ADS_1
"Bagiku, gaji seratus juta bukanlah hal yang sulit. Tapi kamu juga harus tau, dengan memiliki gaji seratus juta setiap bulannya, maka konsekuensi waktu kerja kamu juga dipertaruhkan. Kamu bisa bekerja hampir 24jam untuk kepentingan kantor. Sanggup??"
"Sanggup. Deal" jawab Nanda cepat tanpa berpikir panjang. Suara Nanda juga terdengar lantang dan penuh percaya diri.
Baginya asal bisa menghasilkan uang, apapun pekerjaannya akan sanggup ia lakukan. Apalagi bisa mendapatkan gaji seratus juta setiap bulannya, amat disayangkan sekali kalau sampai ia lewatkan begitu saja. Yah walaupun pekerjaan ini mungkin hanya bertahan sampai masa kontrak pernikahannya selesai tidak masalah. Yang terpenting rekeningnya sudah terisi pundi-pundi materi yang bisa mencukupi kehidupannya kelak setelah ini.
"Baik kalau memang itu sudah jadi keputusan kamu. Besok aku akan urus secara legal status pekerjaanmu di kantor ku. Dan kamu juga harus tau, di kantor ku menerapkan sistem reward dan punishment bagi semua karyawan. Termasuk kamu"
"Baik, tidak masalah"
"Satu lagi... Kamu harus mentaati semua peraturan yang aku buat"
"Peraturan apa?"
"Tentunya peraturan ketika kamu di kantor dan di rumah" Nanda terdiam. Ia mencium aroma kelicikan Alvin terhadap dirinya.
"Kenapa? Kamu berubah pikiran?"
"Tidak!! Silahkan saja kamu buat, aku tidak takut"
"Hmm... Baiklah, aku mau kembali lagi ke kantor. Persiapkan diri kamu dari sekarang"
"Emm... Mas Alvin.."
"Kenapa lagi?"
"Apaaa... Apa aku masih boleh melanjutkan kuliahku? Aku akan merubah jadwal kuliahku menjadi kelas karyawan"
"Tidak bisa!! Bukankah tadi aku sudah bilang jam kerjamu bisa sampai dua puluh empat jam sehari"
"Tapi kan Sabtu Minggu kantormu libur. Aku bisa berkuliah di hari itu"
"Sabtu Minggu adalah harimu sebagai istriku di rumah, mengerti kamu!!"
Nanda mengepalkan jemarinya. Sikap Alvin dari sudut manapun sungguh selalu membuat dirinya kesal. Sikap arogansi Alvin benar-benar tiada duanya.
"Sabar Nanda, sabar... Orang kaya emang begitu... Sabaaarrr...." ucap Nanda menenangkan diri.
Dengan perasaan kacau, Nanda kembali ke kamar. Diraihnya ponsel miliknya. Nanda tidak berani menghubungi Mega secara langsung. Ia tak sanggup mendengar suara Mega yang pastinya akan sangat kecewa akan sikapnya yang tidak bertanggung jawab ini. Nanda hanya bisa mengirimkan pesan singkat ke Mega atas kemunduran dirinya sebagai karyawan freeland di radio kebanggaannya itu. Radio yang sudah menjadi tempatnya belajar, mendapatkan banyak teman, pengalaman dan penghasilan yang bisa membantu menopang kebutuhan hidupnya selama ini.
"Kak Mega, Mas Yoga, aku janji. Suatu hari nanti, aku akan datang untuk meminta maaf kepada kalian atas semua ini. Maafin aku Kak Mega, maafin aku mas Yoga..." ucap Nanda dalam isaknya.
***
Kali ini Alvin benar-benar menjalankan apa yang sudah disepakatinya dengan Nanda. Alvin segera memerintahkan ke Manager HRD nya untuk memasukkan nama Nanda ke dalam daftar karyawan di kantornya. Adapun jabatan yang nantinya Nanda miliki adalah jabatan yang sebenarnya tidak ada di dalam daftar divisi management. Namun apalah daya jika boss besar sudah memberi titah. Richard si manager HRD hanya bisa menurutinya tanpa bertanya banyak terhadap keputusan ini.
Hari ini Nanda mendatangi kantor Alvin dengan tujuan menanda tangani surat perjanjian kerja dirinya dengan perusahaan Alvin.
Dengan ragu-ragu, Nanda mengetuk ruang kerja Alvin. Dengan wajah datar khasnya, Alvin mempersilahkan Nanda masuk dan duduk di hadapannya. Alvin menekan line telpon Dino sang sekretaris pribadinya.
"Ya Pak..." sapa Dino
"Dino, tolong ambilkan berkas yang saya minta di pak Richard. Dia sudah paham. Tolong antar ke ruangan saya"
"Baik pak"
"Santai aja, ga usah tegang begitu" ucap Alvin mengalihkan pandangan Nanda. Nanda tak menjawab. Hanya senyuman kecil yang dipaksakan.
Tak lama, Dino masuk ke dalam ruangan mengantarkan berkas yang Alvin minta.
"Ini berkas yang bapak minta"
"Ok, thanks"
"Ada lagi pak?"
"Ga ada"
"Baik pak, saya permisi" ucap Dino sambil melirik sedikit ke arah Nanda duduk.
Alvin menyodorkan berkas di dalam map biru kepada Nanda. Nandapun menerima dan mulai membuka dan membacanya satu persatu isi halaman dari berkas itu. Cukup tebal juga berkas perjanjian kerja yang Alvin buat.
"Baca dengan teliti. Jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari" Nanda mengabaikan nasihat Alvin. Matanya masih serius membaca kata demi kata dari isi surat perjanjian kerja yang akan dia tanda tangani sebentar lagi.
__ADS_1
Mata Nanda terbelalak ketika mendapati sebuah kalimat yang bertuliskan :
'Bersedia menjalankan tugas apapun yang diperintahkan oleh atasan langsung, kapanpun, di manapun serta dalam kondisi apapun'
"M-mas Alvin..."
"Hmm..."
"Maksud kalimat dari isi perjanjian kerja ini apa?" Nanda menyodorkan berkas dan memperlihatkan isinya ke arah Alvin agar dia bisa membacanya dengan jelas.
"Yah, seperti yang kamu baca"
"Alvin bener-bener merealisasikan apa yang kemarin dia ucapkan. Bekerja dua puluh empat jam. Huft... Demi seratus juta. Semangat Nanda !!!" ucap Nanda dalam hati.
"Kalau kamu sudah yakin mau bekerja disini dengan syarat yang sudah aku jelaskan kemarin, silahkan segera kamu tanda tangani berkas perjanjian kerja itu, supaya anak buahku bisa segera memproses datamu dan kamu sudah bisa bekerja disini dengan gaji seratus juta. Gaji yang sesuai dengan permintaan kamu" perkataan Alvin terdengar santai namun syarat akan makna merendahkan dan penuh sindiran. Nanda menatap Alvin dengan tatapan geram menahan malu. Ucapan Alvin terdengar sudah merendahkan harga dirinya. Namun apalah daya. Saat ini yang Nanda butuhkan memang uang. Jadi, daripada hanya menerima uang dari belas kasihan Alvin yang terkesan terpaksa, masih lebih baik kalau dirinya mendapatkan uang dari hasil bekerja bukan?
"Hak cuti dan bonus tahunan, apakah nanti aku juga mendapatkan hak yang sama seperti karyawan lain?" tanya Nanda memastikan.
"Tentu. Tapi semua itu bisa kamu dapatkan kalau kamu sudah bekerja selama satu tahun" Nanda mengangguk mengerti.
Tanpa pikir panjang lagi, Nandapun menanda tangani surat perjanjian kerja yang kini ada di tangannya. Alvin tersenyum puas ketika melihat Nanda dengan bodohnya langsung menanda tangani berkas perjanjian kerja yang dia bikin sendiri khusus untuk mengerjai istri statusnya itu. Nanda sangat ceroboh karna tidak membaca isi perjanjian itu secara teliti.
"Ok, good. Kamu tunggu sebentar di sini. Berkas kamu akan segera aku kirimkan ke bagian personalia"
Alvin kembali menekan tombol line telpon Dino. Dan dengan cepat Dino datang dan membawa berkas Nanda untuk segera diproses.
"Ok Nanda. Welcome to my company. Semoga kamu tidak menyesal pernah bekerja di sini" Nanda masih terdiam dan menatap mata Alvin dengan tatapan datar dan biasa.
"Emm... Aku kapan bisa mulai kerja? Besok atau...?"
"Hari ini" jawab Alvin dengan cepat.
"Hari ini? Oh, ok baik. Lalu ruang kerjaku dimana?"
"Di sini" Alvin dengan santainya menjawab pertanyaan Nanda yang sontak membuat Nanda tercengang.
"Apaa...Di sini?" Alvin mengangguk yakin.
"Lalu, aku di sini sebagai apa?"
"Asisten pribadiku" Nanda menelan lativanya ketika telinganya dengan sangat jelas mendengar perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Alvin
"Dan sebagai asisten pribadi, kamu harus mulai terbiasa bekerja untukku selama dua puluh empat jam setiap harinya"
"Pekerjaan macam apa ini? Kamu sengaja menipu aku ya mas?"
"Di sini, aku adalah atasan kamu langsung. Dan kamu dilarang keras memanggilku dengan sapaan mas. Panggil saya 'Pak', mengerti!!" Nanda menggigit bibir bawahnya dan menghela nafas panjang untuk menenangkan diri serta membenarkan ucapan Alvin. Di kantor memang sudah seharusnya ia sebagai karyawan menghormati atasannya dengan baik.
"Baik pak Alvin"
"Hhmm.. Bagus. Apa kamu sudah siap bekerja hari ini Nanda?"
"Iya Pak, saya sudah siap" Nanda memaksakan diri untuk tersenyum manis di depan Alvin sebagai rasa hormatnya kepada atasan.
"Apa yang harus saya kerjakan pak Alvin?"
Alvin menatap wajah Nanda dengan senyuman nakal dan mencela. Senyuman licik penuh jebakan. Alvin beranjak dari kursi kebesarannya dan sengaja duduk di samping kursi Nanda dengan posisi kaki menyilang. Mata Nanda pun turut mengikuti langkah Alvin yang duduk mendekatinya. Mulut Nanda ternganga sedikit bingung akan sikap Alvin yang memang membingungkan. Sikap duduk Alvin terlihat elegan dan tenang.
Alvin tidak berbicara. Matanya masih menatap Nanda disertai senyuman nakal yang membingungkan.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Nanda impulsif.
"Bukankah tadi kamu bertanya, apa yang harus kamu lakukan?"
"I-ya" jawabnya sambil mengangguk.
"CIUM AKU!!!" titah Alvin dengan santainya.
"APAA..." pekik Nanda spontan dengan mata terbelalak.
.
.
__ADS_1
.