Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Terkuak


__ADS_3

Evan termangu ketika suara Alvin terdengar lantang menyela pembicaraannya bersama Nanda. Rasa bingung dan penasaran mulai terlintas dibenaknya. Ada apa dengan Nanda? Kenapa ada Alvin? Apakah saat ini Nanda sedang bersama Alvin? Bukankah biasanya Alvin tidak pernah menguping ketika Nanda sedang menerima telpon?


"Ini aneh. Ga biasanya Alvin seperti itu" gumam Evan lirih.


Evan melajukan mobilnya langsung menuju ke rumah Alvin. Sudah lumayan lama dirinya tidak bertemu dengan gadis pujaannya. Hanya dengan bertemulah obat mujarab memupus rasa rindu yang tertahan selama ini.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Alvin. Evan merendahkan kecepatan laju mobilnya sambil memperhatikan dengan lekat situasi rumah Alvin yang terlihat berbeda dari biasa. Rumah Alvin nampak agak ramai. Penjagaan ketat beberapa laki-laki berpakaian safari gelap tampak jelas menghiasi pelataran rumah Alvin.


"Alvin pake jasa bodyguard buat jaga rumah? Ada apa ini? Tumben Alvin kayak gini" gumam Evan keheranan. Evan mencoba kembali menghubungi ponsel Nanda, namun tidak diangkat olehnya.


Mobil Alvin tidak terlihat terparkir di depan teras rumahnya. Itu tandanya Alvin tidak ada di rumah. Dan bisa jadi Nandapun juga sama tidak ada di rumah. Evan mulai menganalisa sendiri tentang keberadaan si tuan rumah ini.


Dan untuk memupus rasa penasarannya, Evan pun memutuskan untuk menunggu Alvin dan Nanda pulang. Dirinya sangat yakin kalau malam ini Nanda pasti sedang bersama Alvin.


Evan mematikan mesin mobilnya agar para bodyguard Alvin tidak mencurigai keberadaan dirinya. Mobilnya juga terparkir tidak terlalu dekat dari rumah Alvin. Harus ekstra sabar untuk bisa mencapai tujuan. Apalagi batu penghalangnya lumayan keras.


***


"Mas Alvin... Terima kasih ya" ucap Nanda menahan malu.


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk makan malamnya. Makanannya enak"


Alvin tersenyum mencela. Bibirnya menggambarkan sebuah senyuman yang menyebalkan untuk dilihat. Namun meski begitu, hatinya cukup senang dengan ucapan tulus dari istri statusnya itu. Rasanya sangat puas bisa membuat istri statusnya itu tampak bergantung dengan dirinya hari ini.


"Menurutku makanan itu rasanya biasa saja. Masih ada yang lebih nikmat" Nanda memandang malas dan kesal dengan sikap Alvin yang mulai menunjukkan kesombongannya lagi.


"Bagiku, semua makanan yang dimasak dengan benar, rasanya pasti enak. Entah itu harganya mahal atau murah sekaliipun"


"Itu karna lidahmu ga punya nilai taste yang tinggi. Jadi kamu tidak bisa membedakan mana makanan yang berkualitas tinggi dengan makanan yang berkualitas rendah. Dasar bodoh"


"Yah, Memang benar. Untuk kalangan rakyat jelata seperti aku, bisa makan dengan baik setiap hari saja sudah sangat bersyukur. Apalagi kalau sampai bisa menikmati makanan yang lebih lezat, sudah pasti aku sangat mensyukurinya"

__ADS_1


"Heh, dasar rakyat jelata" ucap Alvin mengulangi perkataan Nanda. Nanda sendiri tidak ambil pusing ketika Alvin mengatai dirinya sebagai rakyat jelata.


Alvin kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah. Dan seperti biasa, di dalam mobil tidak ada kelanjutan pembicaraan. Sepi. Bahkan suara musikpun juga tidak terdengar di dalam sana. Kondisi seperti ini justru sangat di syukuri oleh Nanda. Setidaknya dirinya bisa istirahat memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.


Tin..Tin...


Suara klakson mobil Alvin terdengar nyaring memberi perintah para bodyguard nya untuk membuka pintu pagar. Mata Alvin seketika menyipit ketika sebuah cahaya putih tajam mengarah ke wajahnya. Pantulan cahaya yang sangat tajam menyilaukan membuat matanya kesulitan melihat siapa sosok yang sudah dengan lancangnya dengan sengaja berbuat tidak sopan.


Para bodyguard Alvin sudah membukakan pintu pagar tinggi menyambut mobil majikannya. Namun Alvin mengurungkan niatnya untuk memasukkan mobilnya ke dalam rumah. Mobil Evan mendekat. Alvin keluar dari mobil menyambut tamu tak diundang yang sudah berhasil membuatnya geram.


Evan turun dari mobil dengan wajah yang tenang. Tampilannya yang elegant menambah nilai plus dari wajahnya yang tampan. Nanda melebarkan mata merasa tak percaya dan penuh tanya akan maksud kedatangan Evan malam ini. Roman-romannya akan ada pertikaian antar kedua laki-laki tampan ini. Tanpa perlu ijin dulu kepada Alvin, Nanda pun ikut turun menyambut kehadiran Evan.


"Kak Evan?" sapa Nanda. Alvin spontan menolehkan pandangannya ke arah Nanda yang menyapa Evan dengan nada yang ramah. Darah Alvin terasa bagai tersulut api, panas dan marah.


"Nanda, bisa kita bicara sebentar?" ajak Evan dengan santainya. Evan sungguh tidak memperdulikan Alvin sama sekali.


"TIDAK BISA!!" sanggah Alvin dengan cepat.


"NANDA, MASUK KAMU..!!" suara Alvin terdengar meninggi.


"Mas Alvin, aku ingin bicara sebentar dengan kak Evan. Lebih baik kamu masuk saja ke dalam. Aku janji, aku tidak akan lama" Nanda mencoba menego perintah.


"Kamu berani ya membantah perintahku?"


"Alvin, bersikaplah lebih lembut dengan wanita. Lagipula aku hanya ingin sekedar berbicara sebentar dengan Nanda. Bukankah diantara kalian tidak ada hubungan apa-apa? Jadi tidak ada alasan buat kamu untuk melarang Nanda bukan?" kalimat panjang yang terlontar dari mulut Evan semakin membuat api dalam diri Alvin semakin membara. Alvin yang sedari tadi geram, mulai mencoba merilekskan diri dengan mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar.


"Gue dan Nanda ga ada hubungan apa-apa? Memangnya loe ga tau ya? (Alvin tertawa mencela) Oia, sorry. Loe pasti belum tau. Gue kasih tau malam ini sama elo. Buka telinga Loe lebar-lebar. Nanda itu istri gue... Gue dan Nanda sudah menikah. Dan pernikahan gue resmi terdaftar di catatan sipil" ucap Alvin dengan raut wajah menyebalkan penuh cela.


Evan menatap tajam ke arah Nanda yang menahan tatapan marah dan kesal kepada Alvin. Nanda sungguh menyayangkan sikap Alvin yang membocorkan rahasia besar dirinya kepada Evan.


"Kenapa? Kaget?" ejek Alvin menprovokator.


Evan masih terdiam dan mencoba untuk mendapatkan jawaban dari Nanda yang masih ikut terdiam.

__ADS_1


"Sayang, apa yang aku ucapkan benar kan?" lagi-lagi Alvin sengaja membuat Nanda merasa terpojok dengan kalimat suami statusnya itu.


"Nanda, apakah yang aku dengar barusan ini memang benar?" tanya Evan penasaran. Tatapan tajam mata Evan semakin membuat Nanda tak berdaya. Jika saat ini ia memilih untuk berbohong, keadaannya pasti akan lebih rumit. Akhirnya, Nanda hanya bisa pasrah dengan mengangguk lemah.


Entah setan mana yang tiba-tiba merasuki diri Evan, dengan cepatnya Evan melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah Alvin.


Boouughhhh...


Alvin jatuh tersungkur karna tidak siap menerima serangan dadakan dari Evan.


"Mas Alviiinn..." pekik Nanda. Dan suara pekikan Nanda membuat para bodyguard Alvin berlarian keluar menghampiri tuannya.


"Bangun Loe!! Brengsek !!" gertak Evan dengan nada mengancam. Alvin mengarahkan tangannya untuk menghentikan para bodyguard nya yang akan membalas menyerang ke arah Evan. Harga diri Alvin pasti akan jatuh kalau harus si bodyguard yang membalaskan hantaman keras ini.


Alvin bangun dibantu oleh salah satu bodyguard. Di sentuhnya sudut bibirnya yang basah. Darah segar teriihat jelas disana. Alvin tidak terlihat marah. Sebaliknya, Alvin justru terlihat sangat senang dan puas sudah berhasil membuat Evan si musuh bebuyutannya merasa putus asa. Tawa kecil mengejek tersungging di sudut bibirnya.


"Kenapa? Loe ga terima kalau Nanda ternyata lebih memilih gue daripada elo, hah?"


"Loe emang bajingan Alvin... !!" Evan kembali melayangkan pukulan mautnya ke arah Alvin. Namun kali ini tidak semudah itu menjatuhkan Alvin. Dengan posisi sigap Alvin dapat dengan mudah menghindar serangan Evan yang lumayan cepat. Perkelahian pun tidak dapat terelakkan. Alvin dan Evan sama-sama kuat. Keduanya juga terlihat mahir dalam ilmu bela diri. Nanda menggigit bibir bawahnya merasa galau dengan situasi ini. Hatinya bergejolak. Nanda merasa perlu untuk segera melerai kedua laki-laki ini. Perkelahian ini harus segera disudahi. Jika tidak, keduanya pasti akan berakhir di rumah sakit.


Nanda berlari ke arah Alvin dan merenggangkan kedua tangannya menghadap Evan.


"Stop!! Berhenti!!"


Kemunculan Nanda di tengah-tengah mereka yang secara tiba-tiba, membuat Evan yang sudah bersiap mengarahkan kepalan kuatnya ke arah Alvin harus tertahan.


"Nanda, tolong minggir. Aku harus menghajar laki-laki brengsek ini" ucap Evan dengan nafasnya yang tersengal.


"Cukup Kak !! Lebih baik Kakak sekarang pulang. Besok aku akan temui kakak untuk bicara" tanpa memperdulikan jawaban Evan, Nanda menarik lengan Alvin dan membawanya masuk ke dalam rumah. Evan hanya mampu memandangi kepergian Nanda dengan tatapan pilu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2