Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Undangan Makan Siang


__ADS_3

Seperti biasa setiap makan malam, seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan. Mereka menikmati makan malam dengan tenang dan hening. Begitupun dengan Oma Ana, tak ada suara yang melengkapi makan malam mereka.


Tak butuh waktu berlama lama untuk mereka menyelesaikan kegiatan makan malam mereka. Kalau bukan peraturan ketat yang dibuat oleh Oma Ana, Alvin lebih memilih untuk kabur sejauh mungkin menghindari Oma nya dan pastinya lebih memilih menghabiskan waktunya bersama teman temannya.


"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan" suara Oma Ana membuat semua orang yang ada di meja makan sontak menghentikan kegiatan makannya dan langsung mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Oma Ana. Tatapan yang sangat penasaran dan tak sabar untuk segera mendengarkan.


Oma Ana mengelap mulutnya dengan serbet sutra yanh khusus ia gunakan untuk makan dan meletakkannya kembali di meja.


"Aku sudah menemukan wanita yang cocok untuk dinikahkan dengan Alvin"


"Uhuk.. Uhuk.... " Alvin yang sedang minum tiba tiba tersedak ketika mendengar perkataan Omanya. Matanya melotot tak percaya. Tatapan garangnya terlihat menakutkan. Oma Ana tak bergeming. Ia masih tenang diposisi duduknya.


Hadinata dan istrinya hanya mampu saling bertukar pandang.


"Oma ga serius kan?"


"Kali ini Oma serius. Besok, Oma akan mengundang gadis itu untuk makan siang di sini. Dan semua harus hadir, tanpa kecuali" ucapnya penuh penekanan.


"Maaf Ma, sepertinya besok aku ga bisa hadir di acara makan siang. Aku sudah ada janji dengan Clientku yang baru datang dari Singapore" sanggah Hadinata mencoba meyakinkan Mamanya akan pekerjaannya tersebut.


"Batalkan semua janji. Besok adalah hari libur. Aku ga terima berbagai alasan. Kalian sudah terlalu sering menghabiskan waktu libur dengan orang lain di luar" suara Oma Ana terdengar datar namun mampu membuat bulu kuduk berdiri.


"Tapi Ma, Client ku yang satu ini adalah orang yang sangat penting dan susah untuk ditemui. Ini sangat mempengaruhi kerjasama perusahaan. Dan aku sudah membuat janji dengannya satu bulan yang lalu, ga mungkin aku batalkan begitu saja"


"Apakah jika kau bukan seorang direktur kau masih bisa bertemu dengan client pentingmu itu?Hah?? Kau harus ingat Hadinata, posisiku masih sebagai Komisaris Utama diperusahaan yang kau kelola. Jadi aku memiliki hak penuh atas dirimu" Hadinata hanya terdiam geram dengan tangannya yang mengepal. Istrinya membantu menenangkannya dengan menggenggam tangan suaminya.


Oma Ana beranjak dari kursinya dan berjalan perlahan menuju kamarnya. Alvin menatap geram ke arah kedua orangtuanya. Tatapan geram penuh kekesalan karna orangtuanya tak mampu berbuat banyak untuk bisa menggagalkan rencana gila dari Omanya itu.


"Haruskah aku menikah dengan wanita yang sama sekali aku ga kenal? Bagaimana karakternya? Dan dari mana asal muasal keluarganya?" Alvin sangat geram dengan situasi buntu seperti ini. Rasanya ia ingin kabur sejauh mungkin meninggalkan keluarganya.


"Kalau kamu ingin kita hidup sederhana, kamu boleh menolak keinginan Oma mu. Tapi sayangnya, Mama masih ga rela kalau harus hidup menderita Alvin. Tidak ada pilihan kecuali kamu menikah dengan wanita pilihan Oma kamu. Kalau kamu tak suka, kamu ga perlu melanjutkan pernikahan itu selamanya. Yang penting kalian menikah saja dulu" perkataan sang Mama sungguh terdengar sangat munafik dan tak bertanggung jawab kepada anaknya.


"Mama sedari dulu hanya memprioritaskan uang di atas segalanya. Tolong dong mama pikirkan perasaan aku. Aku yang akan menjalani pernikahan ini. Bukan kalian. Apakah kalian lebih sayang harta ketimbang kebahagiaan anakmu sendiri? Hah?"


"Alvin, Papa rasa apa yang mama kamu ucapkan ada benarnya. Dan papa sangat paham dengan karakter Oma kamu. Saat ini, Oma kamu benar benar sangat serius dengan ucapnnya. Kalau sampai kamu menolak, kita semua bisa hidup menderita. Termasuk kamu. Apa kamu lupa apa yang kemarin sudah diucapkan oleh Oma kamu? Dia akan menghibahkan 60% dari total kekayaannya ke lembaga sosial. Apa kamu rela kehilangan itu semua? 60% bukan jumlah sedikit Alvin.... Dan terkadang, mengalah untuk menang itu bisa menjadi sebuah keputusan yang tepat"

__ADS_1


"Kalian memang orang tua tak berguna. Bisanya hanya memanfaatkan anak sendiri demi kepentingan pribadi kalian" Alvin beranjak dari duduknya dan berniat mengakhiri pembicaraan yang memuakkan baginya.


"Alviiinn... Usiamu sudah hampir memasuki kepala tiga. Sudah waktunya kamu memikirkan urusan rumah tangga" ucap papanya penuh penekanan. Alvin menatap Papanya geram tak suka papanya mengungkit soal usianya.


"Aku masih 29 tahun. Dan aku masih muda. Tidak seharusnya kalian memaksakan aku untuk menikah. Apalagi dengan wanita asal asalan."


"Setidaknya tolong pikirkan masalah harta keluargamu yang bisa hilang dalam sekejap. Jangan sampai dari sebuah kesalahan kecil, kau akan menyesal selamanya... Ini saatnya kamu berbakti kepada orangtuamu Alvin..." tambah mamanya yang semakin membuat Alvin kesal.


"Kalian.... " Alvin semakin geram merasa dipojokkkan. Tangannya mengepal dan lalu meninggalkam meja makan.


Hadinata dan istri hanya saling memandang dan menggelengkan kepalanya. Mereka sebenarnya juga merasa bersalah atas apa yang sedang terjadi. Namun mereka pun juga tak mampu untuk menolak. Kemewahan dan kehidupan bergelimangan harta yang sudah mereka jalani selama ini membuat mereka tak rela jika mesti kehilangan harta melimpah yang akan membuat hidup mereka menderita hanya karna sebuah masalah kecil seperti ini.


Sayangnya pandangan mereka berbeda dengan Alvin yang merasa sebagai korban atas keserakahan mereka. Jika harus jujur, baik Alvin atau orang tuanya juga ga akan rela jika mesti kehilangan harta yang jumlahnya tak main main. Namun menikah dengan orang asing juga bukan solusi yang tepat bukan?


#########


Nanda sudah sampai di kediaman Oma Ana yang megah bak istana. Sebelumnya ia dijemput oleh bodyguard khusus yang dikirimkan Oma Ana ke rumahnya. Nanda tidak memiliki gaun yang indah. Jangankah gaun, sekedar dress yang layak pun dia tak punya. Nanda memang tak memiliki pakaian seperti itu karna dia jarang bepergian ke pesta pesta besar yang mewajibkannya mengenakan gaun atau dress yang indah.


Penampilan Nanda siang itu sangatlah sederhana dimata keluarga Hadinata. Setelan blouse berkerah dan celana jeans biru dengan tas selempang membuat penampilan Nanda seperti anak SMU yang akan pergi nonton ke bioskop.


Nanda berjalan pelan memasuki pintu utama Oma Ana menuju ke ruang makan. Di sana sudah berkumpul anggota keluarga inti yang sudah menunggunya. Dengan langkah malu malu Nanda mendekati meja makan dan menyapa dengan sopan.


"Oh, kamu sudah datang. Kemarilah, biar ku kenalkan dulu kamu dengan keluargaku." Nanda menuruti perintah,berjalan mendekati dirinya ke kursi Oma Ana.


"Kalian, dengarkan. Ini adalah Nanda. Wanita yang aku ceritakan kemarin malam. Nanda, dia adalah Hadinata dan istrinya, anak dan menantuku. Dan dia, adalah Alvin. Cucu semata wayangku, calon suamimu" Nanda menelan ludah dan merapatkan giginya ketika matanya bersirobok dengan mata Alvin yang tajam. Tatapan garangnya membuat jantung Nanda seakan hampir lepas dari tempatnya. Tatapan tajam dan sinis Alvin seketika langsung meruntuhkan kekuatan dalam diri Nanda. Dan tunggu... Sepertinya Nanda sedikit mengenali wajah itu...



"Sepertinya kita pernah bertemu... Bukan begitu nona Nanda?" ucap Alvin menebak nebak sambil mengingat. Degub jantung Nanda berdetak lebih cepat dari biasa dan otaknya langsung mentrasfer memory stimulus yang membuat dirinya teringat akan pertemuan tak disengaja dengan laki laki yang kini ada di hadapannya. Yups, pertemuan menyebalkan saat keluar dari lift. Alvin dengan kurang ajarnya menabrak dirinya dan memarahinya saat ia sudah meminta maaf.


"Jadi kalian sudah saling kenal?" pertanyaan Oma Ana membuat Nanda refleks untuk segera menyanggahnya. Dengan sedikit gemetar, Nanda memberanikan diri untuk menjawab.


"Emm... Kami belum saling kenal Oma. Hanya pernah ketemu sekali dan tanpa disengaja" Alvin menyunggingkan senyuman sinis dengan jawaban impulsif dari Nanda.


Oma Ana mendongakkan wajahnya dan menyuruh Nanda untuk duduk di kursi kosong sebelah Alvin. Nanda mengangguk dan mendudukkan dirinya di sebelah Alvin, laki laki kasar dan menyebalkan baginya.

__ADS_1


"Ayo kita makan" titah Oma Ana. Semua orang memulai untuk mengambil makanan dan menikmatinya. Pelayan rumah tangga mulai menuangi gelas gelas kosong dengan air putih. Nanda merasa sangat canggung berada di tengah tengah keluarga itu. Tatapan dingin dari ibunya Alvin membuat keringat dinginnya mulai membasahi pelipis kepalanya.


Tidak ada suara yang keluar saat makan siang berlangsung. Entah karna memang sudah menjadi peraturan dalam rumah ini atau memang ada hal lain yang membuat mereka enggan untuk bercakap cakap saat makan.


Nanda menolehkan pandangan ke Alvin. Dengan rasa canggung dan malu, di lihatnya sekilas wajah Alvin dari dekat. Wajah Alvin terlihat tampan meski dari samping. Kulit putihnya dan hidungnya yang mancung menambah nilai sempurna untuk seorang laki laki. Namun amat disayangkan, ketampanannya tidak didukung dengan kearifan sikapnya. Kesan pertama yang di dapat adalah kesan kasar dan arogan yang menyebalkan.


"Ga pernah lihat cowok ganteng ya? Sampai ga kedip itu mata" ucap Alvin lirih yang berhasil membuat Nanda tertegun dan terkikuk dengan sikap Alvin yang berhasil memojokkannya. Nanda menipiskan bibirnya untuk menutupi kegugupannya.


"Nih cowok GR banget, sumpah. Menyebalkan!!" umpatnya dalam hati.


Acara makan siang pun selesai. Hadinata berpamitan kepada ibunya untuk kembali ke kantor. Demikian halnya juga dengan istrinya, ia juga berpamitan untuk kembali ke hotel. Oma Ana hanya mengangguk dan membiarkan anak dan menantunya pergi. Yang terpenting baginya saat ini adalah Alvin dan Nanda. Karna memang merekalah yang menjadi point utamanya.


"Alvin, tolong nanti kamu antarkan Nanda pulang sampai ke rumahnya." titah Oma Ana dengan nada penuh penekanan. Alvin hanya mendengus merasa keberatan dengan perintah Omanya.


Dengan rasa terpaksa, Alvin bersedia mengantarkan Nanda pulang dengan mobilnya. Nanda bergegas berpamitan. Sangatlah tidak nyaman berlama lama di sana. Meski rumah Oma Ana sangatlah besar, namun terasa sepi dan kaku.


"Oma, Nanda pamit ya. Terima kasih untuk makan siangnya" Oma Ana mengangguk sambil tersenyum. Sikap ramah Nanda mampu membuat Oma Ana menjadi lembut kepadanya.


"Alvin, antar Nanda sampai ke rumahnya. Ingat, sampai depan rumahnya!!" bagi Alvin suara tegas Oma Ana yang memerintahnya sangatlah menyebalkan. Seenaknya menyuruh untuk sesuatu yang sia-sia.


"Baiklah..." jawabnya cepat dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Nanda melambaikan tangan ke Oma Ana dan mengikuti Alvin memasuki mobilnya.


Alvin melajukan mobilnya meninggalkan rumah dengan kecepatan yang cukup kencang. Tak ada perbincangan di dalam mobil. Nanda juga memilih untuk diam.


Kurang lebih dua kilometer jarak mobil Alvin dengan rumah, tiba tiba Alvin menghentikan mobilnya dengan santai. Nanda yang semula memandang ke arah luar, harus menolehkan pandangannya ke arah Alvin.


"Keluar!" suara datar Alvin terdengar santai tapi sangat menusuk. Nanda hanya ternganga tak mengerti.


"Hah?" Alvin menatap tajam mata Nanda tanpa senyuman sedikitpun di wajahnya.


"Aku bilang KELUARR!! Waktuku terlalu berharga untuk mengantarkan kamu pulang" Nanda menarik nafas panjang dan menganggukkan kepala. Ia menyadari akan posisi dirinya yang bukanlah siapa siapa.


Nanda keluar dari mobil Alvin dan berdiri dipinggir jalan. Dengan cepat, Alvin melajukan mobilnya meninggalkan dirinya yang masih terpaku sendiri di jalanan yang sepi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2