Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Terlambat Pulang


__ADS_3

Nanda terperjap kaget ketika suara alarm ponselnya berbunyi nyaring di telinganya. Alunan musik yang cukup keras yang sengaja ia pilih terdengar sangat berisik dan berhasil mengusik tidur nyenyaknya. Tidur nyenyak di ranjang empuk nan besar, dengan selimut tebal dan harum. Ditambah udara sejuk dalam kamar membuatnya seakan tidak rela jika mesti cepat-cepat harus beranjak dari sana.


Nanda memaksakan dirinya untuk tetap bangun dari mimpi indahnya. Jam digital di ponselnya sudah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Setelah mencuci muka, Nanda bergegas ke dapur untuk membuat sarapan. Meski semalam tidurnya sangat nyenyak dan nyaman, Nanda harus cepat menyadarkan dirinya akan tugas wajib yang harus ia lakukan. Bekerja! Yups, bekerja. Nanda tidak boleh terlambat sampai ke tempat kerja. Kalau tidak, bu Silvi pasti akan dengan hati memberikan omelan-omelan pedasnya kepada dirinya.


Pagi ini Nanda membuat nasi goreng dan omelet telur ayam sebagai menu sarapan mereka berdua. Meski Nanda tidak tau pasti apakah Alvin akan menyukai menu sarapannya pagi ini atau tidak, namun setidaknya nasi goreng yang ia buat bisa untuk mengganjal perutnya di pagi hari dan bisa memberikan tenaga untuk dirinya. Jika Alvin tidak mau makan nasi goreng buatannya, mungkin Alvin bisa menikmati makan paginya nanti di kantornya.


Nanda segera merapihkan hasil masakannya ke meja makan. Setelah dirasa cukup, Nanda berlari ke kamar untuk mandi membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi bekerja.


Tak lama berselang, Alvin berjalan menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Aroma harum sudah menyeruak ke seluruh ruang tengah. Sambil mengancingkan kancing lengan bajunya, mata Alvin tertarik pada menu nasi goreng dan omelet telur yang tersaji di meja. Menu sarapan yang terlihat sangat sederhana. Sangat kontras dengan menu makanannya setiap hari ketika dirinya masih tinggal di rumah Oma Ana.


"Selamat pagi...." Sapa Nanda santai. Alvin menolehkan kepalanya ke arah suara Nanda.


"Ini kamu yang masak?" pertanyaan Alvin terdengar ambigu dan lucu. Rumah besar yang hanya ditinggali dua orang manusia yang mana sang wanitanya belum paham betul akan lingkungan sekitar, mana mungkin dengan tiba-tiba Nanda keluar rumah untuk membeli makanan atau ada karyawan restoran yang mengantarkan pesanan makanan bukan?


"Iya" jawab Nanda cepat sambil menyengirkan deretan giginya yang rapih."Maaf, aku ga bisa masak yang rumit-rumit. Hanya makanan rumahan sederhana seperti ini yang bisa aku masak. Kalau kamu tidak suka, tidak apa-apa ga usah dimakan. Kamu silahkan makan di kantor atau kamu bisa mampir ke restoran favoritemu" tambah Nanda sambil menipiskan bibirnya.


Alvin hanya diam dalam duduknya. Nanda menghela nafas kecil dan tangannya bergegas mengambil dua sendok kecil nasi goreng ke dalam piringnya.


"Aku ijin makan duluan ya Mas." Nanda tak memperdulikan reaksi Alvin yang masih diam sambil mengawasi dirinya yang tengah asik menikmati nasi goreng.


Alvin masih saja terdiam sambil memasang wajah suramnya. Diliriknya sekilas wajah Alvin yang terlihat garang.


"Huft, pagi-pagi dah pasang muka jutek. Bikin ga semangat aja" gerutu Nanda dalam hati. Nanda menyibukkan diri dengan mengunyah makanannya dan membiarkan Alvin terus berdiam diri memandangi dirinya makan.


Tanpa diduga, Alvin mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng serta omelet dan langsung melahapnya tanpa suara. Alvin menikmati makan paginya dengan sikap tenang dan tetap tanpa suara. Gaya elegant nya terlihat sangat kental di dirinya. Seperti biasa, keduanya menikmati makan bersama tanpa ada suara atau percakapan yang menghiasi kegiatan sarapan mereka.


"Masakanmu lumayan. Terima kasih" setelah meneguk segelas air putih dan mengelap bibirnya dengan tissue, Alvin segera berdiri beranjak dari duduk dan mengenakan jas nya.


Melihat Alvin yang sudah bersiap untuk berangkat, Nanda juga tak kalah cepat untuk bersiap-siap berangkat bekerja.


"M-mas Alvin..."


"Ada apa" jawabnya cepat dengan ekspresi dingin.


"A-aku... Aku boleh ya numpang mobil kamu sampai ke pintu gerbang. Soalnya aku belum paham sama jalanan komplek rumah ini. Aku janji, hanya sampai pintu gerbang saja. Selanjutnya aku bisa pergi ke tempat kerjaku sendiri" ucap Nanda dengan intonasi serius.


"Hem..." hanya anggukan kecil dan jawaban malas yang Alvin tunjukkan. Nanda tak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Alvin. Ia segera meraih tas kerjanya dan berjalan cepat menyusul langkah Alvin yang sudah lebih cepat darinya.

__ADS_1


Mobil Alvin dengan cepat melaju meninggalkan rumah menyusuri jalanan komplek yang tertata rapih dan asri. Kanan kiri jalanan dihiasi oleh tanaman hijau dan bunga-bunga cantik yang memanjakan mata. Jarak rumah Alvin menuju pintu gerbang tidak terlalu jauh. Hanya sekitaran lima ratus meter.


Nanda telah bersiap-siap untuk turun dari mobil Alvin. Gaya Nanda yang simpel dengan kemeja blouse celana jeans hitam dan sepatu kets serta rambut yang diikat satu ke belakang dilengkapi tas ransel kecil membuat penampilan Nanda mirip seperti anak SMU yang baru lulus.


"Aku turun di sini saja" ucap Nanda setelah mobil Alvin bergerak keluar melintasi pintu gerbang perumahan yang cukup besar.


Mobilpun berhenti. Nanda membuka seatbelt dan bergegas untuk turun.


"Mas Alvin, terima kasih ya...." Alvin hanya mengangguk kecil. Nanda menipiskan bibirnya seraya menganggukkan kepala sebagai tanda pamit kepada Alvin.


Tanpa berlama-lama, mobil Alvin pun segera meluncur pergi meninggalkan Nanda yang masih terdiam berdiri di pinggiran jalan. Nanda menghela nafas panjang dan kemudian berjalan perlahan menuju jalan raya untuk mencari kendaraan umum. Kendaraan yang akan mengantarkan dirinya ke tempat kerjanya.


***


Suara ponsel Nanda bergetar berulang kali disaku celananya. Tak biasanya di jam sibuk seperti ini ponselnya bergetar berkali-kali. Apakah ini adalah telpon panggilan dari ayah atau ibunya? Hati Nanda bertanya-tanya.


Dengan cepat Nanda menyelesaikan melayani customer nya dan meminta Vira sahabatnya untuk menggantikan dirinya sebentar.


"Vir, sorry. Tolong gantiin gue sebentar ya. Gue mau cek handphone gue. Dari tadi geter mulu. Takutnya ada yang penting"


Dikeluarkannya ponsel miliknya. Ada tiga panggilan tak terjawab.


"Kak Mega telpon aku tiga kali. Ada apa ya?" jari tangan Nanda dengan cepat langsung menekan balik tombol nomor ponsel Mega dan berharap mendapatkan informasi penting darinya yang sudah menghubungi ponselnya berkali-kali.


Nomor ponsel tersambung.


[ Nandaaa.... Syukurlah. Akhirnya loe angkat juga telpon gue. Loe lagi sibuk ya? ]


[ Iya Kak lumayan. Customer hari ini lumayan banyak yang datang. Apalagi pas jam makan siang. Oia, Kak Mega tadi telpon aku ada apa ya? Ada hal yang pentingkah? ]


[ Iya, penting. Bahkan sangaaat penting... ]


[ Oia? Hal penting apa ya Kak? ]


[ Nanda, nanti malam loe gantiin gue siaran ya. Kebetulan malam ini gue lagi ada perlu. Pleaseee.... ]


[ Malam ini? ]

__ADS_1


[ Iya. Loe kan jomblo, pasti ga masalah dong... Ayo dong pleaseee... ]


[ Eemmm.... Baiklah ]


[Nah gitu dong. Terima kasih ya cantik. I love you beib. Bye... ]


Nanda memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Menarik nafas sejenak dan kembali ke tempatnya bekerja.


Info tentang Mega:


Mega adalah rekan kerja Nanda di Radio tempatnya bekerja. Yang membedakan antara Nanda dan Mega adalah, Mega adalah penyiar senior dan orang yang selalu melindungi Nanda. Jadi jika Mega membutuhkan bantuan, Nanda paling segan untuk menolaknya. Dan malam ini Nanda harus menepati janjinya untuk melakukan siaran malam untuk menggantikan jadwal siaran Mega.


***


Jam tangan Nanda sudah menunjukkan pukul 23.15 WIB. Dengan perlahan dan hati-hati Nanda membuka pintu rumah yang masih terkunci. Ruangan rumah nampak gelap. Ditutupnya perlahan pintu rumah dan tidak lupa menguncinya.


Ceteeekkk.....


Betapa terkejutnya Nanda ketika Alvin sudah berdiri di samping saklar lampu, menunjukkan raut wajah kaku dan tak suka melihat dirinya yang pulang sampai larut.


"M-mas Alvin..." Nanda sedikit gelagepan melihat Alvin yang berdiri bersender di dinding. Tatapan Alvin syarat akan makna mencela terhadap diri Nanda.


"Kamu pikir aku ini seorang assistant rumah tangga yang menunggu majikannya pulang? Hah?" Nanda tak mampu menjawab. Hanya diam yang bisa ia lakukan.


"Pekerjaan macam apa yang membuat kamu jam segini baru pulang? Menyedihkan" selesai menuntaskan ucapannya, Alvin langsung berbalik badan dan dengan arogant nya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Nanda hanya bisa menarik nafas panjang, bersikap sabar dan menerima atas perkataan hinaan yang baru saja terlontar dari mulut Alvin.


.


.


.


Kalau suka, kasih komentar ya kakak...


Terima kasih... ❤

__ADS_1


__ADS_2