
Alvin terperanjat kaget ketika matanya terperjap bangun. Mata Alvin menyusuri seluruh sisi kamar hingga pandangannya terhenti pada jam dinding besar yang terpasang di sudut kamar. Jarum jam menunjuk diangka tiga. Setengah berlari Alvin berjalan menuju kamar Nanda. Tanpa mengetuk pintu, Alvin langsung membuka pintu kamar Nanda dengan kasar.
Alvin harus menelan rasa kecewa menerima kenyataan bahwa ternyata Nanda saat ini tidak ada di kamarnya. Alvin berpikir keras tentang keberadaan Nanda sekarang. Apakah mungkin Nanda pulang ke rumah orangtuanya? Hal itu yang terlintas pertama kali di benak Alvin. Apakah dirinya harus merendahkan diri untuk menelpon orang tua Nanda, mengingat selama ini Alvin tidak pernah sekalipun menghubungi mereka. Tidak ! Orangtua Nanda pasti akan curiga. Kalau seandainya ternyata Nanda tidak ada di sana, mereka tidak mungkin tidak akan bertanya tentang keberadaan putri mereka. Dan masalah akan semakin meruwet. Dan jikapun benar Nanda sedang ada di sana, mereka juga pasti akan bertanya kenapa dirinya tidak ikut serta menemani putri mereka menginap di sana.
Alvin duduk di bibir ranjang Nanda sambil meremas kasar rambut panjangnya. Otaknya dipaksa untuk berpikir keras tentang mencari keberadaan istri statusnya itu. Entah kenapa hati Alvin terasa hampa ketika Nanda tidak ada di rumahnya. Ada sesuatu yang hilang. Meski selama ini mereka tinggal bersama dengan kamar dan dunia masing-masing, namun rumah tetap terasa berisi berbeda dengan saat ini. Rumah terasa sangat sepi dan hampa.
Alvin menghembuskan nafas panjang mencoba rileks agar bisa berpikir jernih. Dengan berat hati, Alvin kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, Alvin segera merengkuh benda ajaib yang bernama ponsel. Jari-jari Alvin bergerak mencari sebuah nama yang tentunya bisa ia andalkan. Dengan cepat Alvin menekan nomor yang dimaksud dan menyambungkan ponselnya tanpa perduli jam berapa sekarang.
[Halo Boss...] terdengar suara berat laki-laki yang sepertinya masih mengantuk.
[Saya ada pekerjaan baru buat kamu] ucap Alvin meyakinkan.
[Baik Boss.. Siap laksanakan]
[Saya akan kirimkan sebuah foto. Tugas kamu adalah... Mencari keberadaan orang yang ada di dalam foto itu. Saya mau, kamu pastikan orang yang saya maksud dalam keadaan baik-baik saja. Tugas kamu hanya mencari informasi. Kalau sudah ketemu, segera kabari saya, nanti biar saya yang menjemputnya sendiri. Paham kamu?]
[Paham Boss]
[Bagus. Saya kasih kamu waktu dua hari. Kalau kamu gagal, saya tidak akan pernah lagi menggunakan jasa kamu]
[Siap Boss. Saya akan lakukan yang terbaik. Saya akan kerahkan semua anak buah saya untuk mencari]
[Saya akan kirim setengah bayaran kamu. Kalau kamu berhasil, saya akan bayar kekurangannya plus bonus buat kamu]
[Baik, terima kasih boss]
[Ingat !! Kalian jangan sampai melukai target. Saya bunuh kalian kalau sampai orangku terluka]
[Baik Boss. Saya mengerti]
Sambungan telpon terputus. Sesuai janji, Alvin mengirimkan foto Nanda dan uang bayaran kepada orang bayarannya. Dengan penuh harap, Alvin berdoa agar orang bayarannya bisa berhasil menjalankan perintahnya dengan baik.
***
Vira terperanjat kaget ketika dirinya tidak menemukan Nanda di sebelah tidurnya. Dengan cepat Vira menyingkap selimut tebalnya dan berlari keluar kamar mencari cocok sahabatnya. Aroma wangi masakan pun sudah tercium menggoda Indra penciuman. Ternyata Nanda sedang masak menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi... Mandi dulu sana. Trus kita makan. Kebetulan masakanku juga sudah matang nih" sapa Nanda dengan ramah.
"Ya ampun Nanda... Gue kirain loe kemana. Ga taunya loe masak. Wangi bangeeettt... Hmm... Kayaknya enak nih" Nanda tersenyum manis mendengar pujian Vira
"Eh iya, maaf ya gue main masak aja bahan makanan loe."
"Ga pa pa kali... Gue justru malah bersyukur pagi-pagi ada yang masakin"
"Hari ini loe kerja kan? Buruan mandi, sarapan. Jangan sampai loe terlambat"
"Gue mau ambil cuti aja ah"
"Eeehh... Jangan. Ntar loe dibantai sama Bu Silvi"
"Tenang beib... Sekarang udah ga ada lagi yang namanya Silvi di kantor gue"
"Kantor?" Vira mengangguk yakin sambil tersenyum. Tangannya dengan nakal menyomot bakwan jagung yang baru diangkat Nanda.
"Gue dah pindah kerja Nda. Gue sekarang kerja di kantoran. Keren ya gue"
Nanda tertawa kecil mendengar gaya bicara Vira yang terdengar norak seperti anak kecil.
"Sejak kapan pindahnya?"
"Baru tiga bulananlah. Setidaknya pekerjaanku kali ini lumayan lebih baik. Orang-orangnya juga baik dan ramah. Ga kaku kayak di resto"
__ADS_1
"Baguslah kalau loe bisa dapet tempat kerja yang lebih baik. Selamat ya... Oia, kok kemarin loe bisa off"
"Kemarin hari Minggu gue di suruh masuk karena kantor lagi ada tender baru. Dan sebagai ganti hari libur, gue boleh ambil satu hari kerja buat off, istirahat di rumah"
"O begitu... Kantor loe asik ya Vir. Mantap lah..."
"He-em. Yah walaupun gue hanya staf admin biasa, tapi setidaknya lingkungan kerja kantor gue lebih baik. Mereka juga ga nge-push karyawan banget-banget. Ya, terkecuali kantor lagi ribet kayak kemarin tuh. Wajarlah ya kalau agak riweh sedikit"
"Oia Nda, gaji gue di kantor ini lumayan gede jadi gue lagi ambil kuliah ekonomi management nih. Kelas karyawan. Gue kuliah hanya di hari Sabtu aja. Tapi full dari pagi sampai sore" tambah Vira lagi dengan semangat. Nanda menatap takjub ke arah Vira. Ada sebuah rasa bangga ketika mendengar berita baik yang sedang dilakukan sahabatnya. Satu buah ibu jari Nanda acungkan ke arah Vira sambil tersenyum bangga.
"Vira... Gue bangga banget sama eloo... Semoga loe bisa sukses ya..." ucap Nanda dan merangkulkan tangannya memeluk erat tubuh Vira. Vira pun membalas pelukan Nanda.
"Udah sana mandi. Ga boleh bolos. Loe ga takut kalau posisi loe nanti diganti sama orang lain?"
"Nandaaa... Kok loe doain nya begitu?"
"Gue ga doain jelek sayang... Gue cuma ngingetin elo, cari kerja ditempat yang bagus itu ga gampang. Jadi loe ga boleh sia-sia in itu kerjaan. Paham?? Udah sana buruan mandi" Nanda mendorong tubuh Vira menuju kamar mandi.
"Iya... iya... Gue kayak lagi sama emak gue nih"
Vira menyelesaikan mandinya dan bersiap untuk pergi ke kantor. Mereka berdua menikmati makan pagi dengan hikmat. Vira terlihat sangat menikmati masakan Nanda. Terbukti semua makanan di piringnya langsung tandas dengan cepat.
"Masakan loe enak Nda. The best pokoknya" Nanda hanya tersenyum.
"Bisa aja loe Vir"
"Serius gue ga bohong. Kalau nanti loe dah nikah, gue yakin banget. Suami loe pasti akan sangat bersyukur bisa dapetin istri cantik yang pinter masak kayak elo" Nanda tiba-tiba tersedak mendengar perkataan Vira yang menyangkut pernikahan.
"Minum-minum... Loe kayak anak bocah aja makan pake kesedak segala"
"Iya nih. Sorry ya..."
"Nda, loe gue tinggal di rumah sendiri ga pa pa?" tanya Vira khawatir.
"Gue bisa pulang malem Nda. Beneran ga pa pa?"
"Iya, beneran. Udah sana berangkat. Jangan sampai terlambat, nanti loe bisa di pecat"
"Kalau dipecat ya cari kerjaan baru"
"Udah jangan bawel. Buruan sana berangkat"
"Baiklah, gue jalan sekarang ya mamaku sayang... Baik-baik di rumah ya..." goda Vira sambil tertawa.
Setelah bercipika cipiki Vira akhirnya berangkat kerja dan meninggalkan Nanda sendiri di rumahnya. Tapi Nanda cukup senang bisa tinggal di rumah Vira. Setidaknya hatinya saat ini cukup tenang jauh dari bayang-bayang Alvin si suami statusnya.
***
Waktu berjalan cepat. Tak terasa hari mulia gelap. Vira bersiap-siap untuk pulang. Namun sebelum pulang, dirinya sengaja menghubungi Nanda untuk menawarkan makanan untuk mereka santap malam ini. Namun ponsel Nanda ternyata tidak aktif.
"Dih nih orang. Pake ga aktiflah ponselnya. Kan gue jadi susah ngubunginnya. Huft" gerutu Vira.
Setelah Vira selesai membereskan mejanya dirinya mencoba menghubungi Nanda kembali. Pikirnya, siapa tau nomor ponselnya sudah aktif. Dan ternyata masih sama. Ponsel Nanda masih belum aktif.
"Nandaaaaa.... Loe ngeselin banget sih. Hp pake ga aktif segala" suara gerutuan Vira terdengar ditelinga Evan ketika tanpa sengaja dirinya sedang melintas melewati Vira yang sedang berdiri memegangi ponselnya sambil menggerutu.
"Kamu.. Karyawan baru di kantor ini kan?" sapa Evan mengagetkan Vira. Sadar sedang disapa oleh boss besar, Vira langsung bersikap hormat dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Se-selamat sore pak. Iya benar, saya karyawan baru. Perkenalkan nama saya Vira" Evan hanya mengangguk.
"Barusan saya dengar kamu menyebut nama Nanda. Temen kamu?"
__ADS_1
"Ah, iya pak. Kebetulan teman saya sedang menginap di rumah saya"
"Nanda temennya Vira, Nanda yang gue kenal juga atau bukan ya?" batin Evan bertanya-tanya.
"Oh begitu. Kamu mau pulang ya?"
"Iya pak"
"Ya sudah kalau begitu bareng sama saya saja. Saya antar kamu pulang"
"Ah tidak usah pak. Biar saya pulang sendiri saja"
"Tidak boleh menolak ajakan boss. Ini perintah!!" Vira tertegun, terpaku membisu. Perlahan dicubitnya lengan kirinya.
"Aww... Sakit. Bukan mimpi. Boss gue baik banget mau nganterin karyawan baru kayak gue" ucapnya lirih.
Mobil Evan sudah melaju pergi meninggalkan parkiran kantor. Vira juga sudah memberikan alamat apartemen nya kepada boss barunya itu. Di dalam mobil, tidak ada percakapan hangat. Keduanya saling diam. Hanya suara musik yang mengalun sebagai pengisi keheningan di dalam mobil. Beberapa kali Vira mencoba mencuri pandangannya ke arah Evan yang sedang fokus menyetir. Namun rasanya sungguh canggung jika untuk memulai pembicaraan. Karena Evan juga memilih untuk diam dengan pandangan lurus ke depan.
Mobil Evan sudah terparkir di halaman parkir apartemen Vira. Dengan masih canggung dan malu-malu, Vira mengucapkan terima kasih atas kebaikan boss nya yang sudah berkenan mengantarkan nya pulang dengan selamat.
"Terima kasih pak Evan. Bapak sudah sangat baik mengantarkan saya pulang" Evan mengangguk
"Sama-sama"
"Kalau gitu, saya turun ya pak. Sekali lagi terima kasih banyak"
"Em, Vira..."
"Ya"
"Apakah saya boleh mampir ke dalam?"
"Haaahhh??" Vira cukup syok mendengar permintaan boss nya yang terkesan terlalu cepat ingin mengenalnya lebih dalam.
"Bukan bukan... Begini, jadi sebenarnya saya juga sedang mencari teman saya. Kebetulan namanya sama, 'Nanda'. Beberapa hari ini ponselnya saya hubungi tidak aktif. Saya hanya ingin memastikan apakah teman kamu yang bernama Nanda itu orang yang sama seperti yang saya cari atau bukan." jelas Evan panjang lebar.
"Oh, begitu...
"Bagaimana? Boleh?"
"I-iya boleh pak, silahkan" dengan sangat terpaksa akhirnya Vira mengijinkan Evan untuk masuk ke dalam rumahnya untuk bertemu dengan Nanda.
***
Nanda setengah berlari menuju pintu ketika suara bel berbunyi. Nanda sudah mengira bahwa yang datang adalah sipemilik rumah, Vira. Dan benar saja memang Vira yang datang. Dengan wajah tersenyum berseri-seri Nanda menyapa Vira yang muncul di balik pintu. Namun senyum nya seketika berubah masam ketika matanya juga melihat sosok laki-laki familiar yang sedang ia hindari.
"Nanda... Ternyata kamu disini?" ucap Evan merasa lega. Nanda tak menjawab.
"Nanda... Loe dah kenal sama Pak Evan?" Nanda mengangguk pelan dan dengan cepat menarik tangan Vira membawanya masuk ke dalam.
"Kak Evan terima kasih sudah mengantarkan Vira pulang. Kami masuk dulu ya" Nanda segera menutup pintu apartemen dan segera menguncinya. Nafasnya terasa berat ketika dirinya terpergok sedang menginap di apartemen Vira.
"Dia siapanya elo, Vir?"
"Dia boss gue di kantor. Loe kenal juga sama boss gue" wajah Vira mendadak kepo dan penasaran. Hatinya bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Nanda dengan boss nya, Evan?
"Lebih baik loe bersih-bersih diri trus makan. Gue tidur duluan ya. Gue tiba-tiba ga enak badan" Vira merasa ada keanehan dari Nanda. Dan Nanda juga pasti sedang menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.
Dengan membawa rasa penasarannya, Vira menuruti perintah Nanda untuk membersihkan tubuhnya dan menikmati makan malam.
.
.
__ADS_1
.