
Apa yang sudah diutarakan oleh Oma Ana benar benar di realisasikan. Pagi ini setelah Hadinata serta Alvin pergi ke kantor, Oma Ana bersama sopir pribadinya bergerak menuju kantor dimana anak dan cucunya bekerja.
Suasana jalanan pagi menjelang siang itu tak terlalu ramai. Mungkin karna sebagian besar karyawan kantor sudah memulai aktivitasnya di kantornya masing masing.
Mobil Oma Ana melaju dengan kecepatan sedang. Oma Ana menikmati pemandangan pagi itu dengan menyandarkan tangannya di atas tongkat kebesarannya. Meski usianya yang sudah menua dan tubuh yang tak sempurna dimana harus dibantu dengan tongkat, namun semangat mudanya masih tetap berkobar dalam jiwanya. Suara lantang dan tegasnya pun masih terdengar seperti raungan singa yang siap memangsa siapa saja. Raut wajah seriusnya cukup membuat bulu kuduk berdiri dan tak mampu untuk menyanggah atau membantahnya.
Ccciiiiittttt.....
"Aaaaarrrggghhhh..." Nanda berteriak histeris, menutup matanya, syok dan kaget saat dengan tiba-tiba sebuah mobil sudah berada dalam jarak satu jengkal dari tubuhnya.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara melengking dari injakan rem mobil secara mendadak yang membuat Oma Ana yang duduk di kursi belakang harus tersungkur ke depan karena kaget.
"Toni, ada apa??" teriak Oma Ana syok.
"Maaf nyonya besar, saya hampir menabrak seorang gadis" keringat dingin Toni mulai membasahi kemejanya.
"Dasar bodoh!!! Sopir ga berguna!!! Matamu sudah buta sampai harus menabrak orang?"
Toni hanya pasrah menerima cacian dari majikannya yang lumayan bawel dan comel. Ia menyadari akan kesalahannya.
"Maafkan saya nyonya, tapi gadis itu tadi tiba-tiba langsung menyebrang. Saya kaget dan..."
"Tetap saja kamu yang salah..." umpatnya lagi. Oma Ana keluar dari mobil dan melihat keadaan gadis yang hampir ditabrak oleh sopirnya.
Vernanda Suitomo gadis yang hampir tertabrak mobil Oma Ana, terduduk lunglai di atas jalanan aspal. Kakinya terasa amat lemas. Detak jantung nya berdetak cepat dan tak wajar. Berkali kali Nanda manarik nafas sambil memegangi dadanya menenangkan diri dari rasa syok yang teramat mengejutkan. Kejadian yang sangat cepat yang hampir merenggut nyawanya. Kejadian yang mirip sebagai mimpi buruk di pagi hari.
"Kamu tidak apa-apa nak?" suara berat dari seorang wanita tua membuyarkan ketegangan jiwa Nanda yang masih di rayapi rasa syok yang teramat sangat.
Nanda mendongakkan kepala menoleh ke arah suara. Oma Ana membungkukkan badannya membantu Nanda untuk berdiri. Nanda menerima uluran tangan Oma Ana dan berdiri menuju sisi pinggir jalan.
__ADS_1
"Ma-Maafkan saya Nek. Saya kurang hati-hati. Saya tadi sedang buru-buru jadinya saya membuat mobil Nenek harus terhenti gara-gara saya" Nanda benar benar merasa sangat bersalah. Raut wajahnya pucat, tangan Nanda juga masih gemetar.
"Lain kali kamu harus lebih hati-hati ya... Memangnya kamu buru-buru mau kemana?"
"Saya mau kerja Nek. Saya dapet jatah shift 1. Jam 9 saya sudah harus sampai di sana. Makanya saya sangat terburu-buru"
"Kalau sudah tau jam 9 kamu sudah harus sampai, kenapa kamu ga berangkat lebih pagi?"
"Ibu saya sedang sakit. Jadi sebelum saya pergi bekerja, saya harus mengurus ibu saya terlebih dahulu" Oma Ana menganggukkan kepalanya berempati dengan apa yang dialami Nanda.
"Oia, ngomong-ngomong nama kamu siapa?"
"Oh, saya Nanda Nek."
"Ja-jangan Nek. Saya ga mau ngrepotin Nenek. Tempat kerja saya sudah ga begitu jauh kok. Saya tinggal naik angkot sekali lagi, sudah sampai" Nanda menolak secara halus penawaran Oma Ana.
"Biarkan sopir saya menerima hukumannya karna sudah kurang hati-hati mengemudi."
"Bukan sopir nenek yang salah. Tapi sayalah yang salah. Saya tadi asal nyebrang yang membuat sopir nenek harus mengerem kuat dan mungkin membuat Nenek juga ikut terkejut"
"Saya paling ga suka dengan orang yang suka menolak rejeki. Masukkk!!!" suara tegas Oma Ana terdengar mirip seperti perintah keras dari boss besar kepada bawahan. No interupsi.
Nanda tertegun, ternganga dan tak mampu berkata selain menuruti perintah dari Oma Ana.
Oma Ana kembali ke mobilnya. Dilihatnya Nanda yang masih berdiri mematung tanpa bergerak mengikutinya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu mau berdiri berapa lama di situ?"
__ADS_1
"Ah, i-iya Nek. Baik" Nanda berjalan mematuhi perinta Oma Ana memasuki mobil dan duduk di sebelahnya.
Toni melajukan kembali mobilnya menuju ke tempat kerja Nanda.
Nanda duduk dengan posisi tegang. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan orang baik seperti Oma Ana.
"Oia maaf. Nama nenek siapa?"
"Kamu boleh panggil saya dengan panggilan Oma Ana. Jangan panggil saya nenek. Saya tidak terbiasa dipanggil nenek" suara tegas Oma Ana terdengar dingin ditelinga. Meski suara wanita tua ini berat dan kadang gemetar, namun suaranya memiliki daya magnet yang menakutkan bagi yang mendengar. Sepertinya Oma Ana bukan orang biasa. Oma Ana pasti seorang yang memiliki kekuasaan dan terbiasa memimpin. Karna dari suaranya sudah bisa menggambarkan kan kepribadian tegas yang penuh kuasa. Batin Nanda berbicara.
"Ba-baik Oma Ana"
Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja Nanda, tidak terjadi percakapan lagi. Oma Ana lebih banyak diam menikmati pemandangan jalan. Nanda sendiri juga ikut diam dan menundukkan pandangannya. Rasa enggan dan takut berkecamuk dalam dirinya untuk tak banyak omong dengan wanita tua penuh kharismatik ini. Sesekali Nanda mencuri pandang ke arah Oma Ana yang sedang asik memandang pemandangan luar dengan yang terlihat sedang
menggenggam sebuah tongkat di tangannya. Tongkat itu terlihat sangat mahal. Kayu halus dan kuat yang sepertinya dari kayu jati pilihan, dipernis dengan sempurna membuat tongkat itu menjadi mengkilat dan terlihat indah.
Mobil Oma Ana hanya butuh waktu beberapa menit untuk sampai di tempat kerja Nanda. Setelah mengucapkan terima kasih, Nanda bergegas keluar dari mobil dan berdiri dipinggir jalan membiarkan mobil Oma Ana pergi meninggalkan dirinya. Setelah dirasa mobil Oma Ana sudah jauh, barulah Nanda berjalan menuju ke tempat kerjanya.
########
Setiap hari, Nanda bekerja di dua tempat yakni restorant makanan cepat saji dan radio swasta sebagai penyiar. Nanda sendiri tak melanjutkan kuliahnya. Kondisi ibunya yang sakit sakitan memaksa dirinya untuk bekerja ketimbang kuliah. Ayahnya yang bekerja hanya sebagai staf biasa di sebuah perusahaan swasta tidak mampu jika harus membiayai kuliah Nanda. Hal itu disebabkan karna biaya pengobatan sang istri yang cukup besar setiap bulannya.
Dengan bekerja, Nanda bisa membantu meringankan orangtuanya dalam mencukupi kebutuhan sehari hari dan bisa memiliki sedikit tabungan untuk kebutuhan mendadak. Ibu Nanda memiliki riwayat penyakit jantung yang cukup mengkhawatirkan. Jaminan kesehatan dari kantor ayahya tidak cukup sebagai harapan kesembuhan ibunya. Karna jaminan kesehatan yang diberikan dari kantor ayahnya memiliki batasan limit biaya. Jadi untuk menghemat limit, biaya rawat jalan terpaksa harus menggunakan biaya pribadi. Terkadang ayahnya pun harus berhutang di kantornya untuk mencukupi biaya pengobatan ibunya. Tutup lubang gali lubang sudah di lakukan ayahnya hampir 10 tahun lamanya.
.
.
.
__ADS_1