Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Beautiful Dinner


__ADS_3

Sepulang dari butik branded mahal, rombongan Alvin dan para bodyguard nya menikmati makan siang disebuah restorant bintang lima. Alvin tampak sangat menikmati makanannya. Begitu juga para bodyguard yang berada di meja lain juga terlihat lahap menikmati makan siang mereka. Namun lain halnya dengan Nanda. Makanan Perancis yang tersaji di mejanya terasa sangat asing di lidahnya. Nanda tidak bisa menikmati makan siangnya dengan baik. Menu makanan yang Alvin pilih hampir sebagian besar makanan setengah matang yang sangat sulit diterima lidahnya. Hanya roti dan selai serta ayam panggang bagian pinggirannya saja yang bisa diterima oleh lidah Nanda. Kalau sudah begini, mie instan adalah pilihan menu terbaik. Sayangnya di restorant ini, pasti tidak ada menu mie instant.


Nanda mengunyah makanannya dengan malas dan pelan. Satu potong roti dengan selai ditambah beberapa suwiran ayam sudah cukup memuaskan lidahnya. Tapi untuk perut? Makanan ini tidak cukup untuk membuat cacing-cacing di perutnya merasa kenyang dan tenang.


Nanda mencuri pandang ke arah Alvin. Alvin masih dengan tenangnya menikmati makanan miliknya. Ingin sekali rasanya Nanda meminta diberikan menu makanan yang lain. Tapi sepertinya itu pasti akan menjadi hal yang sia-sia. Nanda ga ngerti sama sekali arti dari tulisan menu yang bertuliskan bahasa Perancis dan ditambah lagi rendahnya wawasan dirinya akan makanan Perancis, membuat dirinya akhirnya mengurungkan niatnya untuk meminta makanan lain. Karna kalaupun ia memberanikan diri meminta makanan lain, pasti Alvin akan menyuruhnya sendiri untuk memesan makanan ia sukai. Itu sama saja memercikkan air got ke muka sendiri.


"Huft..." Nanda mendengus pelan. Alvin menghentikan makannya dan melirik ke arah Nanda yang tampak gelisah.


"Kamu kenapa?" Nanda terkejut dengan pertanyaan Alvin dengan tatapan matanya yang menelisik tak suka.


"Ga apa-apa" jawab Nanda cepat. Meski mulutnya berkata tidak ada apa-apa, namun wajah asam Nanda tak bisa menutupi isi hatinya yang sebenarnya. Alvin memperhatikan isi piring Nanda. Makanan di piringnya masih cukup banyak. Sepertinya Nanda tidak menyukai menu makanan yang ia pilihkan untuknya.


Alvin tersenyum mencela dan kembali melanjutkan makannya.


"Kamu ga suka sama makanannya?" tanya Alvin santai disela-sela makannya.


"Jujur iya. Aku ga bisa makan makanan mentah seperti ini. Boleh ga kalau aku dipesankan mie instan aja mas. Aku masih laper" rengek Nanda tanpa merasa malu.


"Mie instan? Kamu pikir kita ini lagi makan di pinggir jalan?" Nanda memayunkan bibirnya. Dan benar saja, Alvin tidak akan mungkin mengabulkan pemintaannya.


Selesai menyantap makan siang, Alvin meminta untuk kembali ke hotel. Schedule honey moon yang sudah tertata rapi harus berubah total. Para bodyguard pun akhirnya harus mencoret daftar kegiatan yang seharusnya mereka jalani.


***


Sesampainya di kamar hotel, Alvin langsung merebahkan diri di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Sementara Nanda, dirinya sibuk membongkar isi paper bag besar. Matanya terperangah tak percaya dengan baju-baju yang ia pegang saat ini. Baju-baju mahal yang di dominasi dengan model pakaian terbuka membuat Nanda harus menghela nafas panjang.


"Huft, buang-buang duit aja. Lagian siapa juga yang mau pake baju model kayak gini" gumam Nanda lirih. Hatinya sungguh menyayangkan sikap Alvin yang terlalu mudah menghambur-hamburkan uang. Andai saja Alvin mau menuruti kemauannya, baju-baju yang dibeli pasti tidak akan terasa percuma.


Alvin bangun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Sekeluarmya Alvin dari kamar mandi, mata Nanda terperangah dengan penampilan Alvin yang sudah mengenakan handuk kimono berwarna putih. Pertanyaan besar memenuhi kepala Nanda. Dari mana Alvin bisa mendapatkan handuk kimono itu. Bukankah semalam tidak ada di kamar mandi?


"Kamu mau kemana Mas? Kok kamu bisa pake handuk kimono? Dapet dari mana?" pertanyaan impulsif Nanda terlontar begitu saja dari mulutnya ketika Alvin berjalan begitu saja ke arah pintu kamar.

__ADS_1


"Tadi pagi aku minta sama receptionist" jawab Alvin datar.


"Ooo... Trus ini kamu mau kemana?"


"Aku mau berenang, gerah. Kamu mau ikut?" dengan refleks dan cepat, Nanda menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sangat yakin menolak tawaran Alvin yang sama sekali tidak menarik.


"Ya sudah" Alvin keluar kamar begitu saja tanpa berbasa-basi lagi.


"Dingin-dingin begini apa enaknya berenang?" gumam Nanda lirih. Nanda menghela nafas lega karna akhirnya dirinya bisa dengan leluasa tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang mulai lelah.


Baju-baju mahal yang Alvin beli, dibiarkannya begitu saja tertumpuk di atas sofa. Hanya beberapa baju yang dirasa cocok dan sesuai dengan seleranya, sudah Nanda gantung dan di masukkan ke dalam lemari. Selesai beberes baju, Nandapun melarutkan dirinya ke dalam selimut tebal dan segera melelapkan matanya ke dalam mimpi yang semoga bisa indah.


***


Nanda memerjapkan mata sambil menggeliatkan tubuhnya dengan suara erangan yang cukup keras. Puas sekali rasanya bisa tidur dengan nyenyak tanpa adanya gangguan dari Alvin. Suara dering telpon kamar berbunyi santun. Awalnya dibiarkan saja suara telpon itu berdering dan akhirnya berhenti dengan sendirinya. Namun suara dering telpon berbunyi lagi untuk yang ke dua kalinya. Dengan ragu, Nanda mengangkat telpon itu.


"Halo..." ucap Nanda pelan.


"Selamat sore Nyonya, maaf saya mengganggu istirahat Nyonya. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa nanti malam kita akan pergi makan malam di restorant dekat menara Eiffel. Nanti Nyonya dan Tuan bisa sekalian menikmati pemandangan malam di sana sekaligus melihat pertunjukkan kembang api"


"Benar Nyonya. Mohon Nyonya dan Tuan sudah bersiap sebelum jam tujuh malam ini. Perjalanan ke sana memakan waktu tiga puluh menit. Jika terlambat, waktu makan malam Nyonya dan Tuan juga bisa ikut terlambat"


"Hmm... Baik, saya mengerti. Terima kasih ya"


"Terima kasih kembali Nyonya"


Nanda meletakkan kembali gagang telponnya dan langsung terperanjat kaget ketika membalikkan tubuhnya. Alvin sudah dengan santainya duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya. Alvin juga sudah terlihat rapih. Sepertinya Alvin sudah membersihkan tubuhnya setelah puas berenang.


"Bikin kaget aja" celetuk Nanda spontan.


"Biasa aja, ga usah lebay" Nanda mencibirkan bibirnya sebagai reaksi sebal sikap arogant Alvin.

__ADS_1


"Tadi bodyguard nya Oma bilang, sebelum jam tujuh malam ini, kita diminta sudah bersiap-siap. Mereka akan membawa kita untuk makan malam di restorant dekat menara Eiffel. Trus katanya juga, nanti malam akan ada pertunjukan kembang api. Waaahhh.... Senangnya... Pasti seru banget itu acaranyaaa... Menara Eiffel.. Ditambah kembang api... Ya Tuhaaannn... Aku ga bisa bayangin bakalan secantik apa kembang apinya...." Tanpa sadar, Nanda menjelaskan sambil tersenyum-senyum sendiri yang membuat Alvin menjadi ill feel kepadanya.


"Heh cewek norak!! Ga pernah liat kembang api?" gertak Alvin dengan tatapan mata tidak suka.


"Apaan siiihh. Biasa aja kaliii... Emangnya kenapa kalau aku norak? Masalah buat kamu?"


"Aku peringatkan ya... Jangan bikin aku malu. Ngerti !!!" Nanda memanyunkan bibirnya menahan rasa kesal yang mulai menggunung. Sikap dan perkataan Alvin benar-benar membuatnya emosi. Kalau Alvin bukan cucu Oma Ana yang sudah baik kepadanya, Nanda tak akan segan-segan untuk menonjokinya.


***


Tepat pukul setengah tujuh malam waktu Paris, para bodyguard Oma Ana sudab bersiap menjemput cucu majikannya di depan kamar VIP nya. Alvin dan Nanda juga sudah bersiap dengan jas dan gaun malamnya. Penampilan Nanda malam itu berhasil membuat Alvin terpukau. Riasan wajah sederhana yang Nanda aplikasikan di wajahnya, dengan rambutnya yang ikal dibiarkan terurai serta gaun berwarna hijau mint yang sangat pas di tubuh Nanda membuat penampilan Nanda malam ini terlihat berbeda. Nanda terlihat anggun dan sangat manis. Pesona wajah cantik yang tidak membosankan di pandang mata.


Di dalam hati, Alvin sempat memuji kecantikan Nanda malam ini. Ia tak pernah menyangka kalau Nanda bisa berpenampilan anggun yang membuat dirinya terlihat lebih cantik dan menawan dari biasanya. Namun tidak mungkin jika seorang Alvin akan berterus terang secara blak-blakan. Rasa takjubnya secepat mungkin ia pupus dan ia buang sejauh mungkin. Hatinya kembali mengingatkan tentang Celine sang kekasih hatinya. Hanya Celine yang paling cantik untuknya, bukan Nanda.


Meski penampilan Nanda malam ini terlihat sangat cantik, namun sebenarnya Nanda sedikit merasa kurang nyaman dengan gaun yang ia kenakan. Gaun yang dipilihkan asal-asalan oleh Alvin ini modelnya agak terbuka bagian atas. Meski gaun ini panjang, namun belahan gaunnya juga tinggi ke atas. Jadi kalau dipakai ketika berjalan, paha Nanda akan terlihat dengan jelas. Tapi mau bagaimana lagi? Hampir semua baju yang Alvin belikan kemarin modelnya hampir sama seperti ini semua. Cuma beda warna, model baju dan aksesories.


Setelah menempuh waktu kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya mereka sampai juga di lokasi. Restorant bintang lima dengan pemandangan langsung menghadap ke menara Eiffel yang sudah diterangi lampu-lampu serta pemandangan kota Paris di waktu malam membuat suasan makan malam Alvin dan Nanda terasa sangat romantis.


Nanda begitu takjub dengan pemandangan menara Eiffel dan berucap syukur tiada terkira kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki indah yang telah diberikan untuknya. Jangankan berharap untuk bisa melihat langsung Menara Eiffel yang terkenal indah dan romantis, bermimpi pun tidak pernah. Bagi Nanda yang memiliki penghasilan kecil, Menara Eiffel hanya bisa ia lihat di majalah atau di internet. Tak pernah terduga olehnya kalau dirinya saat ini benar-benar melihat secara langsung dengan kedua matanya Menara Eiffel yang kata orang dijadikan lambang cinta dan keromantisan.


Raut wajah Nanda terlihat sangat sumringah dan penuh rasa syukur. Matanya selalu menuju ke arah Menara. Saking seriusnya menatap keindahan Menara, Nanda sampai tidak memperhatikan kalau pelayan restorant sudah meletakkan menu makanan di atas mejanya.


Alvin sengaja membiarkan kenorakan istri statusnya. Dibiarkannya Nanda menikmati keindahan malam kota Paris. Alvin mulai sibuk menikmati makan malamnya tanpa memperdulikan Nanda lagi.


Menu dinner malam ini adalah Steak daging sapi wagyu dengan sayur dan potato rebus serta saos bumbu rahasia restorant yang sudah pasti akan memanjakan lidah customer.


"Waaahh... Sepertinya makanan ini lezat sekali. Selamat makan Mas Alvin" Nanda yang akhirnya menolehkan pandangannya ke atas meja, sontak terkagum-kagum dengan menu makanan lezat yang sudah tersedia di atas mejanya. Nanda langsung melahap daging steak itu dengan lahapnya. Tekstur daging wagyu yang lembut berpadu dengan saos bumbu rahasia ditambah dengan sayuran segar sebagai pelengkap serta potato yang berperan sebagai karbohidrat membuat nafsu makan Nanda meningkat tajam.


Menu dinner malam ini sangat cocok dan bisa diterima lidah Nanda dengan baik. Rasa lapar yang tertahan sejak tadi siang, kini telah terbayar lunas. Tak butuh waktu lama, seporsi steak dan segelas strawberry juice sudah tandas oleh Nanda. Hatinya Nanda sangat bahagia malam ini. Perut kenyang ditambah suasana romantis dan keindahan pemandangan Menara Eiffel sungguh nikmat yang tiada duanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2