Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Tamu Istimewa


__ADS_3

Mulut Mega ternganga terpesona dengan gaun cantik di tangannya saat ini. Gaun cantik dan indah yang selama ini belum pernah ia miliki faktanya kini ada di tangannya. Mega menatap tajam ke arah Nanda, tatapan penuh curiga.


"Ini serius buat gue?"


"He-em" jawab Nanda cepat sambil mengangguk. "Suka ga?" kali ini Mega yang mengangguk.


"Cantik bangeeetttt.... Ini gaun mahal banget Nanda. Sebentar!! Gue mau tanya. Loe dapet dari mana ini gaun? Loe ga nyuri kan Nda?"


"Iih... Enak aja. Kak Mega kok begitu?? Jahat banget nuduh aku nyuri"


"Bukan begitu Nanda. Gaji loe tiga bulan di sini di tambah gaji di tempat kerja fast food loe aja, belum tentu cukup untuk membeli gaun ini. Apalagi ini merk branded dan keluaran baru, jadi wajar dong kalau gue curiga"


"Sebenarnya gaun itu pemberian dari seseorang"


"Pemberian seseorang?" ucap Mega membeo. Dan lagi-lagi Nanda hanya mengangguk.


"Cowok?" Nanda mengangguk lagi.


"Kalau gitu kenapa loe kasihkan ini gaun ke gue?"


"Soalnya aku ga suka sama modelnya" jawab Nanda sambil menyebutkan sederetan giginya.


"Kalau cowok loe nanti marah gimana?"


"Tenang saja kak Mega. Dia ga akan marah"


"Btw, cowok itu pacar loe ya?" Nanda hanya terdiam bingung.


"Loe beruntung banget Nanda. Cowok loe orang tajir. Buktinya dia mampu beliin loe gaun mahal kayak gini. Ada fotonya ga? Gue liat dong" Mega mulai kepo dan mulai penasaran.


"Kak Mega apaan sih. Dia bukan pacar aku kak. Serius" Mega menatap Nanda dengan tatapan tak percaya.


"Udah ah, Aku mau siap-siap dulu ya. Bentar lagi jatahku siaran" Nanda berlalu begitu saja meninggalkan Mega yang masih penasaran.


Nanda yang berjalan agak tergesa-gesa menuju ruang siarannya tak sengaja berpapasan dengan Yoga yang baru keluar dari pantry dengan membawa secangkir kopi di tangannya.


"Selamat pagi kak Yoga" sapa Nanda ramah.


"Nandaaaa.... Kamu kemana aja?"


"Ma-maaf Kak Yoga, aku ga kasih kabar. Kemarin aku ada sedikit masalah. Jadi ga sempat kirim kabar ke sini. Maafin aku ya kak"


"Ya sudah, tapi lain kali tidak boleh terulang lagi ya. Kamu kan statusnya karyawan di radio ini. Yah walaupun kamu bukan karyawan tetap, tapi tetap saja kamu harus mengikuti peraturan di sini"


"Iya kak. Baik. Tidak akan terulang lagi. Janji !" Nanda mengarahkan dua jarinya berbentuk huruf V sambil menyengirkan deretan giginya yang rapi.

__ADS_1


"Kak Yoga aku duluan ya. Bentar lagi jatahku siaran" Yoga mengangguk pelan dan tersenyum simpul ketika Nanda sudah pergi memunggunginya.


Mata Yoga melirik ke ruangan Mega ketika dilihatnya Mega sedang sibuk memandangi gaun berwarna biru laut di tangannya sambil tersenyum.


"Eheemm.... Baju baru nih" goda Yoga.


"Masuk, Ga" Yoga pun tergoda untuk masuk ke ruangan Mega untuk ikut melihat-lihat gaun barunya.


"Cantik ga?"


"Cantik" jawabnya simple.


"Ini dari Nanda, Ga. Dia bilang, gaun ini dikasih sama temen cowoknya. Gila ini gaun mahal bangeeettt" seketika Yoga mengernyitkan dahinya ketika Mega mengatakan teman cowoknya Nanda. Yoga menghela nafas panjang lalu pergi keluar dari ruangan Mega. Mega langsung menyadari tentang perkataannya yang barusan pasti sudah membuat Yoga tersinggung.


Hari ini sesuai dengan janjinya, Nanda bersiaran dua kali. Pertama pagi dan yang kedua siang jam tiga. Dengan semangat Nanda menyelesaikan kegiatan siarannya dengan hati yang senang.


Nanda menikmati makan siang bersama Mega di kantin sebelah kantor tempat langganan mereka makan.


"Oia Nda, gue tadi lupa belum bilang sama loe" ucap Mega di sela-sela makannya.


"Soal apa kak?"


"Siang nanti kita siaran bareng. Hari ini ada narasumber dari rumah sakit dan universitas kedokteran yang mau promosi kampus mereka"


"Semoga saja" Nanda tersenyum simpul dengan reaksi Mega yang terlihat biasa-biasa saja. Nanda paham banget, Mega hanya tertarik pada pembahasan tentang style, fashion atau tentang kecantikan.


***


Tiga puluh menit sebelum waktu siaran, sang Nara sumber sudah datang. Mega dan Yoga menyambut tamu mereka dengan ramah. Dua cangkir teh manis panas dan sepiring kudapan telah disuguhkan di atas meja. Mega dan Yoga tampak tengah berbincang-bincang ringan dengan kedua Nara sumber hari ini. Perbincangan mereka pun diselingi tawa renyah. Ternyata si Nara sumber datang tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa satu goodybag besar yang berisi souvernir untuk crew radio dan para pendengar nanti yang ikut berpartisipasi.


"Nanda..." panggil Mega ketika Nanda tak sengaja melintas ruang tunggu tamu menuju ruangannya.


"Ya kak"


"Sini masuk" dengan sedikit malu Nanda masuk dan tidak lupa menampilkan senyum manisnya.


Deg...


Nanda terkejut ketika matanya bersirobok dengan wajah laki-laki yang pernah ia kenal.


"Nanda kenalin. Ini nara sumber kita. Ini dr. Gery dosen fakultas kedokteran Univ xxx, dan yang ini dr. Evan spesialis bedah" Nanda menganggukkan kepala membalas sapaan para Nara sumber.


"Halo semuanya... Saya Nanda. Nanti saya minta sharing ilmunya ya dok" ucap Nanda ramah.


"Ah mba Nanda ini bisa aja. Kita ke sini cuma sekedar mau numpang promosi kampus kita aja kok" ucap Gery membalas sapaan Nanda. Nanda pun hanya tersenyum kecil menanggapi sikap merendahnya Gery.

__ADS_1


Perbincangan singkat pun terjadi. Ruang tunggu tamu yang berukuran tidak terlalu besar terdengar riuh siang itu. Hingga akhirnya waktu siaranpun tiba.


Kegiatan siaran siang itu berlangsung seru dan menyenangkan. Dua jam lamanya berlalu begitu cepatnya. Banyaknya pendengar yang menanggapi membuat waktu dua jam siaran mereka sangat tidak terasa. Bahkan ketika mereka harus mengakhiri kegiatan siaran mereka, Mega dan Nanda harus tega menyudahinya karena masih banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari para pendengar yang belum bisa dijawab oleh Gery dan Evan.


Sebenarnya topik siaran mereka siang itu hanya sekedar promosi kampus dengan jurusan fakultas kedokteran saja. Tapi entah kenapa perbincangan siang mereka terasa sangat hangat dan menarik. Mungkin karena penjelasan dari Evan dan Gery yang santai tapi penuh makna serta adanya sisipan iming-iming kemudahan mendapatkan bea siswa membuat calon mahasiswa dan mahasiswi penasaran dan tertarik untuk bergabung dengan kampus mereka sehingga membuat mereka banyak melontarkan banyak pertanyaan-pertanyaan.


"Wah nampaknya perbincangan kita siang ini seru sekali ya dok? Tapi sayangnya kita harus mengakhiri pertemuan kita nih. Mohon maaf ya sobat pendengar kami harus pamit. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat di jawab, kalian boleh mengirimkan kembali pertanyaan kalian ke alamat email dokter Evan atau dokter Gery ke alamat email dokterevan@z.mail.com atau ke doktergery@hayoo.com. Untuk dokter Gery dan dokter Evan terima kasih ya sudah sudi mampir ke tempat kita, terima kasih juga untuk sharing ilmu dan promosi menariknya. Semoga makin banyak calon mahasiswa dan mahasiswi yang mendaftar di kampus dokter ya... Sehat selalu untuk dokter dan semoga makin sukses ke depannya. Amiiiinn... Ok akhirnya saya Mega dan... saya Nanda pamit, sampai bertemu besok yaaa... Yuk daa daaaa... bye...bye...." sapa terakhir Mega dan Nanda mengakhiri siaran mereka. Satu lagu terbaru langsung berbunyi nyaring sebagai lagu penutup siaran.


Sebelum meninggalkan ruang siaran, Mega dan Nanda saling berjabat tangan dengan Gery dan Evan sebagai tanda terima kasih.


"Oia, ini kartu nama saya" Gery dan Evan memberikan kartu namanya masing-masing untuk Mega dan Nanda.


"Wah terima kasih ya dok. Btw, Kalau saya mau konsultasi by phone boleh ya dok?" goda Mega.


"Boleh dong..." balas Gery tak mau kalah.


"Kalau begitu kami mau langsung ijin pamit ya. Masih banyak kerjaan yang belum selesai" ucap Evan berpamitan.


"Oh iya baik dok. Sekali lagi terima kasih ya dok untuk waktunya" sambung Mega.


Mega dan Nanda mengantar Gery dan Evan sampai ke parkiran.


"Emm... Nanda" Evan membalikkan badan sebelum dirinya akan memasuki mobil.


"Ya"


"Boleh saya minta nomor hp kamu?" Nanda sedikit tertegun, terkejut ketika Evan tiba-tiba menanyakan no ponselnya.


"Bo-boleh.." dengan canggung dan sedikit ragu akhirnya Nanda memberikan nomor ponselnya kepada Evan.


"Terima kasih ya" ucapnya sambil tersenyum. Nanda hanya mengangguk kecil.


Mobil yang dikendarai Gery dan Evan meluncur pergi meninggalkan parkiran.


"Cieee... Gebetan baru nih" goda Mega yang spontan membuat wajah Nanda memerah menahan malu.


"Kak Mega apaan sih?"


"Dokter Evan lumayan ganteng kok. Sayang aja gue dah punya cowok. Kalau gue masih single, gue embat tuh dokter" tambah Mega sambil terkekeh.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2