Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Ribet


__ADS_3

Oma Ana sudah terlihat di ruang tengah. Wajahnya tampak segar. Sepertinya semalam tidurnya cukup baik. Oma Ana juga sudah terlihat rapih. Mata dan tangannya sudah disibukkan dengan gadget miliknya. Oma Ana terlihat sangat serius memperhatikan deretan email-email yang masuk.


"Pagi Oma..." Oma Ana menoleh ke arah suara Alvin yang menyapanya.


"Hmm..." Oma Ana tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Kau sudah rapih. Nanda mana?"


"Dia masih tidur" jawab Alvin cepat. Diliriknya isi meja makan yang masih kosong. Biasanya setiap pagi Nanda sudah menyiapkan sarapan dan secangkir kopi untuknya. Namun kali ini berbeda. Alvin hanya menghela nafas menahan jengkel.


"Nanda masih tidur?" ucap Oma Ana membeo. Oma Ana sedikit terkejut mendengar perkataan Alvin yang menyebutkan bahwa Nanda masih tidur. Yang ia tau, Nanda adalah wanita yang rajin yang selalu bangun pagi. Tapi pagi ini tumben sekali Nanda belum bangun. Tiba-tiba terlintas diotaknya bahwa mungkin saja semalam Alvin dan Nanda bercinta sampai pagi dan membuat Nanda kelelahan olehnya, makanya pagi ini Nanda bangun terlambat.


Senyum tipis pun terlukis diwajah wanita tua penuh kharisma itu.


"Aku berangkat dulu ya Oma. Mungkin sebentar lagi Nanda bangun"


"Kau tidak sarapan dulu?"


"Aku sarapan di kantor saja" Alvin pergi berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Oma Ana lagi.


"Kapan kau akan berubah Alvin?" Oma Ana hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.


***


Nanda menggeliatkan tubuhnya merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Ditariknya kembali selimut tebal yang saat ini menyelimuti tubuhnya. Rasanya sangat nyaman sekali. Kesadaran Nanda seketika menyatu dan matanya terbelalak ketika dilihatnya selimut tebal yang tengah membungkus tubuhnya. Dengan seketika Nanda terbangun dan terperanjat kaget sekaget-kagetnya.


"Dimana ini?" perlahan mata Nanda menyusuri seluruh isi ruang kamar Alvin. Setelahnya matanya berlanjut melihat ke arah tubuhnya.


Nanda menghela nafas lega karna posisinya saat ini ia masih berpakaian lengkap. Masih sama dengan pakaian yang ia pakai semalam.


"Ini kamar Alvin? Ternyata isi kamarnya seperti ini? Ranjang Alvin nyaman sekali" Nanda memanyunkan bibirnya melamun sesaat. Secara impulsif Nanda menggumam mengagumi keindahan isi kamar Alvin yang sangat mewah. Semua perabotan terlihat mahal.


Nanda terperanjat lagi karna mengingat akan Oma Ana.


"Gawat, gue kesiangan. Oma belum sarapan" Nanda bergegas turun dari ranjang Alvin dan merapihkan kembali selimut tebal miliknya.


Nanda mengikat rambut panjangnya dan bergegas keluar kamar Alvin berjalan menuruni anak tangga dan langsung menuju dapur. Kehadiran Oma Ana yang sudah duduk di sofa tengah cukup mengagetkan Nanda dan sempat membuatnya salah tingkah.


"Selamat pagi Oma... Maaf saya kesiangan. Oma mau sarapan apa? Biar Nanda buatkan ya" ucap Nanda tergesa-gesa. Matanya sudah sibuk mencari bahan-bahan makanan dari dalam kulkas.


"Bagaimana tidurmu Nanda? Apakah nyenyak?"


"Ah, iya Oma" Nanda melempar senyum manisnya kepada Oma Ana. Tangannya dengan cekatan membuatkan secangkir teh hijau kesukaan Oma nya.


Pagi ini Nanda membuatkan sarapan nasi dan bihun goreng special. Nanda tidak begitu tau selera Oma Ana. Jadi ia memutuskan untuk membuatkan dua menu sarapan sekaligus.


"Oma, ayo kita sarapan dulu. Nanda sudah membuatkan nasi dan bihun goreng lengkap dengan sayur, telur, ayam dan sosis. Oma suka yang mana?" Oma Ana berpindah duduk ke meja makan. Aroma wangi masakan Nanda membuat selera makannya bangkit. Kebetulan juga perutnya memang sudah lapar.


"Aku akan mencoba keduanya" jawaban Oma Ana sontak membuat Nanda seakan terbang ke atas langit rumah. Dengan semangatnya Nanda mengambilkan nasi dan bihun goreng buatannya ke piring Oma Ana. Tentunya dengan porsi yang pas.


Pagi itu Nanda dan Oma Ana menikmati makan pagi mereka dengan hati yang bahagia. Oma Ana sepertinya sangat menyukai masakan Nanda. Sepiring sarapannya dengan cepat habis dilahapnya.


"Kamu memang pintar memasak ya Nanda. Orangtuamu pasti sangat bangga bisa memiliki putri yang pintar masak sepertimu"


"Oma terlalu memuji." Nanda tersipu malu. Wajahnya memerah dengan pujian dari Oma Ana.


"Setelah ini apakah kau ingin pergi bekerja? Aku tidak apa di rumah sendiri" Nanda menggeleng dengan cepat.


"Tidak Oma. Beberapa hari ini Nanda sedang cuti. Jadi Nanda bisa menemani Oma selama tinggal di sini" Nanda menyunggingkan senyum palsunya untuk menutupi kebohongannya.

__ADS_1


"Hmm... Benarkah? Baguslah kalau begitu"


"Setelah ini Oma mau bagaimana? Nanda akan temani Oma kemanapun Oma suka. Oma mau berkebun? Melihat tanaman bunga? Jalan-jalan ke taman? Atau mau pergi shopping?"


"Aku mau melihat tanaman bungamu saja. Bunga-bunga yang bermekaran dan berwarna warni membuat hati terasa damai. Orangtua seusiaku sudah tidak sanggup jika harus shopping berjalan berkeliling mall seharian. Bisa-bisa encokku kambuh lagi" Nanda tertawa renyah mendengar lelucon yang di lontarkan Oma Ana. Melihat Nanda tertawa, Oma Ana juga ikut tertawa.


Dengan sabar, Nanda menemani Oma Ana menikmati tanaman bunga di samping rumah. Sebenarnya Nanda juga terkejut dan takjub dengan keindahan berbagai tanaman yang sudah ada di sana. Seingatnya, dirinya tidak pernah sama sekali mengurus masalah tanaman. Namun entah siapa dan bagaimana, tanaman bunga itu sudah ada di sana dan tumbuh indah berwarna warni. Apakah semua ini Alvin yang membuatnya? Mungkin saja. Hati Nanda bertanya-tanya.


Puas menikmati tanaman bunga, Oma Ana kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Begitu juga dengan Nanda. Dengan alasan ingin mengambil pakaian ganti, Nanda akhirnya berhasil juga memasuki kamarnya untuk mengambil beberapa helai baju, termasuk baju untuk malam nanti. Namun sayangnya, kali ini Nanda harus menumpang mandi di kamar Alvin.


"Semoga Mas Alvin ga marah kamar mandinya gue pake. Lagipula ini juga karna terpaksa" gumam Nanda ketika menaiki anak tangga dan menuju kamar Alvin.


Mata Nanda terbelalak ketika memasuki kamar mandi Alvin. Tanpa ia sadari, mulutnya berdecak mengagumi isi kamar mandi Alvin.


"Ya Tuhaaaannn... Ini kamar mandi apa kamar tidur? Gede bangeeett... Kamar tidur gue di rumah ibu aja ga segede ini" Nanda memukul kepalanya sendiri menyadari kebodohannya.


"Norak banget sih loe Nanda... Alvin itu kan orang kaya ya jelaslah semua barangnya pasti bagus dan mewah. Mana bisa loe samain sama kamar mandi orang biasa kayak elo..." Nanda mendengus ambigu. Antara kagum dan kesal sangat sulit untuk dibedakan saat ini. Karna, kamar mandi yang ada di dalam kamarnya tidaklah sebesar milik Alvin. Dan kemewahan dari sebuah kamar mandi, bagi Nanda ini adalah suatu pemborosan yang berlebihan.


Dengan cepat, Nanda membersihkan diri di kamar mandi Alvin dan juga dengan terpaksa memakai sabun mandi milik Alvin.


Selesai mandi, Nanda bergegas turun dan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk dirinya dan Oma.


Mata Nanda celingukan menyusuri semua sudut ruangan. Tidak ada Oma Ana. Sepertinya Oma Ana masih di kamar.


"Oma masih di kamar? Apa Oma kecapekan ya? Hmm.. Biarinlah kalau Oma tidur. Gue masak deh. Masak apa ya? Kira-kira Oma sukaa apa ya?" Otak Nanda berpikir keras menemukan menu makan siang yang cocok dengan selera Oma Ana. Matanya masih memilah-milah bahan makanan yang ada di kulkas.


Suara berisik masakan Nanda mulai terdengar. Aroma harum masakannya juga sudah menyebar memenuhi ruangan. Dengan cekatan, Nanda menyiapkan bahan makanan dan memasaknya dengan sepenuh hati.


Oma Ana keluar dari kamar ketika Nanda sudah selesai menyajikan makanan di atas meja makan. Nanda melempar senyuman manis sebagai tanda sapaan kepada Oma Ana.


"Oma pasti sudah lapar kan? Ayo Oma kita makan. Makanannya sudah siap"


Nanda menyiapkan peralatan makan untuk Oma Ana dan bersiap untuk mengambilkan makanan di atas piringnya.


"Tunggu Nanda. Duduklah dulu" Nanda tertegun dengan titah Oma Ana yang menyuruhnya duduk.


"Telpon Alvin sekarang. Suruh dia pulang untuk makan siang bersama"


"A-apa?" mulut Nanda ternganga, terperangah karna terkejut. Nanda tak pernah menyangka kalau Oma Ana bakal menyuruh dirinya untuk menghubungi ponsel Alvin.


"Tunggu apa lagi? Telpon dia sekarang!" suara gertakan Oma Ana terdengar sedikit meninggi membuat posisi Nanda tersudutkan. Namun Nanda hanya bisa diam mematung di kursinya.


"Ma-maaf Oma. Saya tidak punya nomor ponselnya mas Alvin. Jadi saya...." ucap Nanda sambil menunduk.


"Kalian sudah tinggal satu rumah berbulan-bulan tapi tidak punya no ponsel? Apakah hubungan kalian serumit ini? Atau jangan-jangan tebakanku selama ini benar. Kau dan Alvin tidak pernah tidur bersama dan masih menjalani kehidupan masing-masing?" geraman Oma Ana penuh tekanan.


"Tii.. Tidak kok Oma. Saya dan Mas Alvin selama ini selalu tidur bersama. Hubungan kami juga selalu baik"


"Hubungan baik macam apa? Nomor ponsel Alvin saja kau tidak punya" ucap Oma Ana dengan nada sinis.


"Ini nomor Alvin, cepat kau telpon. Suruh dia pulang" Oma Ana menyodorkan ponselnya kepada Nanda. Wajah Oma Ana berubah asam. Nanda salah tingkah ketika dirinya mengetik nomor ponsel Alvin dan mulai menelponnya. Entah kenapa detak jantungnya jadi tidak beraturan. Rasanya sangan sungkan untuk menghubungi Alvin dan menyuruhnya pulang. Sangat canggung dan aneh bagi dirinya jika harus berbuat seperti itu.


*Di Kantor Alvin*


Ponsel Alvin berdering nyaring. Matanya menatap sekilas ke nomor baru yang masuk di ponselnya. Nomor baru yang tidak dikenal. Rasanya sangat malas untuk menerima panggilan telpon itu. Alvin pun akhirnya membiarkan panggilan itu berlalu begitu saja. Tak lama berselang, ponselnya berdering lagi dengan nomor yang sama yang barusan masuk. Alvin menghela nafas kasar, mengambil ponselnya dan menghentikan sejenak pekerjaannya. Dengan aura khas kakunya, Alvin akhirnya mengangkat panggilan telponnya.


[Haloo !] suara Alvin terdengar kaku dan galak.


[Ha..Halo.. Mas Alvin ini aku, Nanda]

__ADS_1


Alvin terperangah ketika suara disebrang sana menyebutkan nama 'Nanda'. Nama yang sangat familiar baginya. Alvin cukup terkejut Nanda bisa menghubunginya. Karna seingatnya dirinya tidak pernah memberikan nomor ponselnya kepada istri statusnya itu.


[Nanda??? Tunggu, kamu dapat dari siapa nomor ponselku?] telisik Alvin dengan nada tidak suka.


[Dari Oma] jawab Nanda kikuk. Alvin menarik nafas panjang sambil merebahkan tubuhnya ke kursi kerjanya sambil mengambil posisi rileks.


[Ada apa?] suara Alvin masih terdengar dingin dan kaku.


[Emm... Mas Alvin, Oma minta kamu untuk pulang siang ini. Oma mau makan siang sama kamu? Apakah kamu bisa...]


[Aku sibuk. Kamu saja yang makan siang sama Oma] jawab Alvin dengan cepat, menyela perkataan Nanda.


[Tapi Mas, Oma...]


[Sebentar lagi aku ada meeting. Aku ga bisa] lagi-lagi Alvin menyela perkataan Nanda. Dan kali ini langsung mematikan ponselnya.


Alvin melempar ponselnya begitu saja di atas meja kerjanya sambil menghela nafas kasarnya. Dipijit-pijitnya perlahan ujung pangkal hidungnya. Kepalanya terasa pening setelah menerima telpon dari Nanda.


***


Nanda memasang wajah memelas di hadapan Oma Ana. Oma Ana hanya menatapnya dengan ekspresi datar.


"Maaf Oma, saya ga berhasil menyuruh Mas Alvin untuk pulang. Mas Alvin bilang, sebentar lagi dia ada meeting. Makanya ga bisa"


"Telpon dia sekali lagi !!"


"A-apaa..."


"Kau sambungkan saja. Biar aku yang bicara" mulut Nanda sedikit ternganga. Dan dalam sekejap Nanda kembali tersadar dan segera menghubungi ponsel Alvin kembali.


Di sisi lain, Alvin yang masih terpejam dalam sandaran duduknya harus dikejutkan lagi dengan panggilan telpon Nanda. Nomor ponsel Nanda memang belum ia simpan. Namun memory otaknya masih bisa mengenali nomor Nanda yang belum lama menghubunginya.


[Ada apa lagi??] suara ketus Alvin terdengar kasar menyapa Nanda.


[Apakah seperti ini caramu memperlakukan istrimu, Alvin?] Alvin terperangah ketika telinganya dengan jelas mendengar suara gertakan keras dari Omanya.


[Oma?]


[Aku minta sekarang juga kau pulang. Temani aku makan siang!!]


[Tapi Oma, sebentar lagi aku ada meeting penting..]


[Apa gunanya kau punya assistant pribadi kalau masalah meeting saja harus kau sendiri yang menangani?]


[Meeting ini cukup penting Oma]


[Waktumu hanya satu jam dari sekarang] Oma Ana memutus sambungan telponnya. Hal itu membuat Alvin mengeratkan gigi-giginya menahan amarahnya. Sikap Oma Ana yang sengaja ingin mendekatkan dirinya dengan Nanda benar-benar membuat Alvin kesal. Pasalnya, sikap Oma terkesan terlalu otoriter yang dengan semena-mena sudah memaksakan kehendak kepadanya. Dengan berat hati dan terpaksa, Alvin mengenakan kembali jas nya dan bergegas turun ke lantai parkiran vip untuk kembali ke rumah.


"Alvin sedang dalam perjalanan pulang. Kita makan setelah Alvin kembali" ucap Oma Ana datar tanpa ekspresi sambil berlalu beranjak dari duduk dan berpindah ke sofa ruang tengah untuk bersantai.


Nanda sendiri masih terdiam dalam posisi duduknya. Ada rasa bingung bercampur kesal atas sikap Oma Ana. Di dalam hati, Nanda melampiaskan emosinya dengan berteriak kencang. Kenapa juga Oma Ana harus menyuruh Alvin untuk pulang. Bukankah itu sama saja membuat dirinya kerja dua kali? Masakan yang sudah siap untuk disantap pasti akan dingin dan kurang nikmat untuk dinikmati. Dan ketika nanti Alvin pulang, itu berarti dirinya harus memanaskan ulang makanan ini bukan?


"Huft, melelahkan sekali..." ucap Nanda dalam hati. Tanpa ia sadari, Oma Ana melihat ekspresi Nanda yang sedang memanyunkan bibirnya. Oma Ana hanya tersenyum simpul. Nampaknya Oma Ana mengetahui dengan pasti perasaan apa yang Nanda rasakan saat ini.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2