Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Dilema


__ADS_3

Pagi ini Nanda sengaja berangkat pagi-pagi sekali. Ia sengaja menghindar dari Alvin. Amarahnya masih membara. Rasa bencinya belum pudar. Pagi ini Nanda juga sengaja tidak meninggalkan sarapan untuk Alvin. Tidak seperti kebiasaan yang sering ia lakukan.


Alvin menuruni anak tangga bersiap untuk pergi ke kantor. Setelan jas berwarna biru navy gelap lapis tiga yang ia kenakan membuat Alvin semakin terlihat sangat tampan dan berwibawa. Hampir semua wanita di kantornya terpesona oleh ketampanannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Alvin memiliki kharisma yang sangat menawan kaum hawa. Siapapun pasti akan luruh oleh pesonanya. Sayang, sifat dan sikap Alvin kurang mendukung kesempurnaan dari ketampanan wajahnya.


Alvin mengerutkan dahi ketika matanya melihat meja makan dalam keadaan kosong. Alvin berjalan ke kamar Nanda. Diketuknya berkali-kali pintu kamar Nanda. Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Nanda. Alvin membuka pintu kamar Nanda dan memperhatikan sekeliling ruang kamar. Kamar Nanda terlihat sepi dengan pemandangan ranjang yang sudah rapih. Sepertinya, kamar ini sudah ditinggalkan oleh tuannya.


Alvin menghela nafas panjang dan menutup kembali pintu kamar Nanda. Tanpa pikir panjang, Alvinpun segera mengambil kunci mobil dan bergegas pergi menuju kantor. Mobil Alvin melaju cukup kencang menyusuri jalanan komplek rumahnya. Kaki kanannya dengan tiba-tiba menginjak rem dan perlahan menghentikan laju mobilnya. Dari kejauhan nampak Nanda sedang berbincang dengan seseorang yang berada di dalam mobil. Sepertinya orang itu sedang menawarkan tumpangan kepada istri statusnya itu. Alvin memperhatikan dengan lekat gerak gerik Nanda.


Dan benar saja, seorang laki-laki muda dengan penampilan rapih dan elegant keluar dari mobil mewah membukakan pintu mobil untuk Nanda. Nanda terlihat ragu dan malu-malu menerima ajakan si laki-laki itu. Namun akhirnya Nanda masuk juga ke dalam mobil itu.


Alvin mencengkram erat gagang stir mobilnya. Giginya saling mengerat menahan amarah.


"Lagi-lagi Evan... Brengseeekkkk!!" umpat Alvin sambil memukul keras gagang stirnya.


Emosi Alvin serasa terbakar kembali setelah semalam dirinya merasa menang atas keberhasilan dirinya menghapus jejak bibir Evan di bibir Nanda.


***


Di mobil Evan


Nanda terdiam, matanya di arahkan ke jendela samping menikmati pemandangan jalanan yang lumayan padat pagi itu. Evan juga terdiam. Keduanya nampak canggung dan sungkan. Hanya suara musik slowrock yang mengalun merdu mengiringi perjalanan mereka.


"Nanda..." akhirnya Evan memberanikan diri untuk memecah keheningan.

__ADS_1


"Ya" jawab Nanda pelan.


"Soal semalam... Aku minta maaf ya" Nanda menatap Evan sekilas lalu kembali menunduk.


"Sikapku semalam, sungguh diluar kendaliku. Entah kenapa aku bisa melakukan hal itu sama kamu. Mungkin buat kamu ini terlalu cepat. Tapi saat ini, rasa ini sungguh sangat menggangu untukku." Nanda menatap lagi ke arah Evan yang mengemudi sambil sesekali melirik ke arahnya. Sejatinya Nanda tidak begitu paham dengan perkataan Evan. Jadi Nanda lebih memilih diam dan membiarkan Evan yang berbicara mengungkapkan isi hatinya.


Nanda terperanjat kaget ketika Evan dengan tiba-tiba meminggirkan laju mobilnya ke pinggir jalan. Nanda menatap tajam ke arah Evan yang masih fokus memarkirkan mobilnya. Evan lanjut menatap balik Nanda dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.


"Nanda... Aku suka sama kamu. Jadilah kekasihku. Aku bisa melindungimu jauh lebih baik ketimbang Alvin" ucap Evan yakin dengan penuh penekanan. Mulut Nanda ternganga mendengar pengakuan Evan. Tatapan Evan terlihat jujur dan benar-benar tulus. Tidak ada kebohongan di sana.


"Aku tidak akan memaksamu menjawabnya saat ini. Aku akan sabar menunggu jawabanmu sampai kamu siap menjawabnya" tambah Evan lagi.


Nanda membuang muka ke arah lain. Digigitnya bibir bawahnya mencoba untuk tenang. Nanda benar-benar pusing dengan pengakuan Evan yang secara mendadak. Ia juga tidak menyangka kalau Evan akan secepat itu memiliki rasa suka kepadanya.


"Aku ga perduli tentang bagaimana hubunganmu dengan Alvin. Aku hanya perduli dengan dirimu Nanda. Kalau kamu lebih memilih aku, aku bisa membebaskanmu dari cengkraman Alvin. Dan bagiku itu bukan hal yang sulit" sanggah Evan sungguh-sungguh. Tatapannya tajam menatap mata Nanda. Degub jantung Nanda spontan menjadi tidak karuan.


"Maaf Kak Evan, sepertinya aku sudah terlambat. Aku turun disini saja" ucap Nanda mengalihkan pembicaraan. Tangan Nanda dengan cekatan menarik katup pintu mobil dan bergegas keluar dari mobil Evan. Setengah berlari Nanda menyetop taksi yang sedang melintas dan pergi berlalu begitu saja. Evan menatap pilu Nanda dan menghela nafas panjang melihat sikap Nanda yang sudah menggantungkan perasaannya.


Di dalam taksi, Nanda mencoba mengatur irama nafasnya yang sedikit terengah-engah menahan gejolak hati yang membuat detak jantungnya seperti sedang berlari maraton ratusan meter.


***


Sepagian ini Alvin nampak beda. Alvin terlihat gelisah dan tidak fokus. Semua karyawan habis kena omelannya. Apapun yang dilakukan karyawannya semua salah di mata Alvin. Suasana kantor pun mendadak sunyi dan hening seperti kuburan. Para karyawan tidak ada yang berani bersenda gurau seperti hari-hari biasa.

__ADS_1


Alvin pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Pikirannya sedang kalut. Perasaannya terasa aneh dan tidak jelas. Dipandanginya wajahnya di cermin. Dicermin Alvin seolah melihat wajah Nanda yang sedang menatapnya dengan tajam. Alvin juga teringat kembali kejadian semalam ketika dirinya mencium bibir Nanda dengan kasar. Ciuman itu terasa sangat manis dan nikmat. Alvin seperti terkena aliran listrik yang menyengat tubuhnya dan membuat dirinya tak berdaya. Alvin mengusap kasar wajahnya, lalu merapihkan kembali penampilannya sebelum dirinya kembali ke ruang kerjanya.



"Pak Alvin saya mau mengingatkan, jam dua belas nanti bapak ada janji makan siang dengan client PT. XXX di restoran ZZZ sekaligus meeting membicarakan rencana proyek perusahaan kita yang terbaru" Dino sekretaris pribadi Alvin menjabarkan panjang lebar tentang schedule yang harus Alvin jalani hari ini.


Alvin mendengus kasar. Hari ini dirinya merasa tidak semangat membahas masalah proyek. Di otaknya saat ini sedang dipenuhi rasa kesal dan amarah kepada istri statusnya. Entah kenapa, Alvin saat ini sangat ingin meluapkan amarahnya kepada istri statusnya itu. Padahal selama ini tidak pernah sedikitpun terlintas tentang Nanda di pikirannya.


"Tolong kamu handle meeting itu. Saya ada keperluan mendadak" jawab Alvin sambil meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja kerjanya.


"Tapi pak, meeting ini sangat penting. Ini bukan proyek biasa. Nilainya puluhan milyar" Dino menjelaskan dengan cemas.


"Bilang saja ke client kita, saya ada keperluan yang sangat penting yang tidak bisa di tunda-tunda lagi"


"Tapi Paaak..." ucap Dino mencoba menahan kepergian Alvin.


"Segera kabari saya kalau ada sesuatu yang urgent. Jangan lupa, bikin laporan terkait meeting kamu hari ini. Saya pergi dulu" Alvin bergegas pergi meninggalkan Dino yang masih kebingungan menghadapi client kakapnya nanti siang. Dino hanya bisa menarik nafas panjang sambil menggerutu kesal atas sikap semena-mena bossnya terhadap dirinya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2