
Hati Evan benar-benar terasa perih. Entah kenapa hatinya terasa hancur ketika tau akan kenyataan pahit tentang status Nanda yang merupakan istri sah dari Alvin. Pertanyaan demi pertanyaan telah memenuhi kepala Evan. Saat ini yang ada diisi kepalanya adalah bagaimana kronologinya Alvin dan Nanda bisa menikah. Kenapa Alvin sampai mau menikah dengan Nanda. Siapakah sosok Nanda sebenarnya? Bagaimana dengan Celine? Bukankah Alvin dan Celine sudah berhubungan lama? Kenapa bukan Celine yang dinikahi oleh Alvin. Kenapa jadi Nanda?
Evan memukul mukul gagang stirnya dan meremas keras rambut kepalanya. Dibiarkannya rambut rapih nya menjadi berantakan. Toh sedari tadi juga sudah berantakan. Dirinya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Nanda dan Alvin sudah menikah? Ga... Ga mungkin. Gue ga percaya".
"Alviiinn... Loe emang laki-laki bajingan. Gue ga akan biarkan Nanda hidup menderita sama elo. Nanda milik gue. Sampai kapanpun akan tetap jadi milik gue!" gumam Evan geram.
***
Alvin membanting tubuhnya di atas sofa. Dengan cepat, Nanda mengambil kotak P3K yang tersedia di lemari dan beberapa bongkahan batu es. Dengan perlahan dan hati-hati, Nanda mengompres luka memar pada sudut bibir Alvin yang membengkak.
"Auw..." rintih Alvin pelan.
"Ma-maaf. Sakit ya.."
"Menurut Loe???"
"Iya maaf. Ya sudah kamu saja yang pegang"
"Tidak mau!"
"Udah sakit masih galak aja, huft..." gerutu Nanda lirih. Meskipun suara gerutunya lirih, namun telinga Alvin cukup jelas menangkap suara.
"Ini semua gara-gara kamu. Dan kamu harus tanggung jawab atas kesembuhanku"
"Kamu yang berantem kenapa harus aku yang tanggung jawab?"
"Aauuuwww sakit.. Bisa pelan ga sih?" Suara Alvin meninggi. Alvin memekik sakit karna Nanda dengan sengaja menekan kompresan di lukanya.
"Kalau kamu tadi tidak turun dari mobil, perkelahian ini tidak akan terjadi" ucap Alvin membela diri.
"Kamu sadar ga sih? Justru penyebab dari perkelahian ini kamu mas"
"Kenapa jadi aku?"
"Kalau saja tadi kamu tidak bilang ke Kak Evan tentang status hubungan kita. Ini semua tidak akan terjadi. Kamu ga perlu berantem dan rahasia kita juga tidak akan terkuak"
"Jadi kamu menyesal? Evan sudah tau status kamu yang sebenarnya?"
"Jelas saja aku menyesal. Pernikahan ini adalah rahasia kita. Aku tidak ingin ada orang lain yang tau tentang hal ini"
"Hei... Kamu lupa? Pernikahan kita dihadiri oleh beberapa orang, relasi perusahaan dan beberapa karyawan. Jadi ini juga tidak bisa dikatakan sebagai hubungan rahasia."
__ADS_1
"Iya aku tau. Tapi setidaknya, masih banyak orang-orang yang tidak mengetahui pernikahan kita"
"Maksudmu termasuk Evan?"
"Tentu saja!!"
"Hmm, lalu... Menurut kamu apa reaksi Evan kalau dia sampai tau, ternyata kita juga sudah pernah melakukan hubungan suami istri? Apakah Evan masih akan tetap mengejar-ngejar kamu? Atau malah sebaliknya?"
"CUKUP MAS..!! Aku tegaskan sekali lagi ke kamu ya Mas, itu murni sebuah kecelakaan. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah hubungan"
"Tapi malam itu kamu terlihat benar-benar menikmatinya loh... Malam itu kamu sangat liar dan nakal. Aku sampai tidak percaya kamu bisa seperti itu" seketika raut wajah Nanda memerah menahan malu.
Buuggghhh....
Nanda dengan sengaja mendorong kompresan di tangannya dan lalu pergi.
"Aauuuwww.... Nanda... Mau kemana kamu!!!" Nanda tidak memperdulikan pekikan dan panggilan keras Alvin. Nanda terus berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa sadar, Alvin tertawa geli dengan sikap Nanda. Ada sebuah rasa bahagia yang aneh, yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Alvin merebahkan tubuhnya di atas sofa merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah berduel bersama Evan simusuh bebuyutannya. Kedua matanya terpejam. Namun ketika matanya terpejam, bayangan kejadian panas di malam bersama Nanda seketika terlintas kembali. Alvin membuka mata untuk mencoba melupakan sejenak. Namun ketika matanya terpejam, bayangan itu muncul kembali.
"Ah, shiitt... Ga Bener ini" ucapnya sambil mengacak-acak rambut depannya. Alvin beranjak dari sofa berjalan perlahan ke lantai dua menuju kamar. Sejenak langkahnya terhenti ketika melintas di depan kamar Nanda yang tertutup rapat. Diambilnya nafas panjang dan lalu kembali melangkahkan kaki ke lantai atas.
***
Lampu rumah sudah padam. Seluruh sisi ruangan terasa gelap dan sunyi. Hanya beberapa lampu sudut yang menyala redup sebagai sumber cahaya rumah. Dibukanya pintu kulkas. Mata Alvin menyusuri isi kulkas. Diperhatikannya dengan seksama isi kulkas. Mata Alvin tertarik dengan sebuah mie instan dan deretan telur, sosis, berbagai olahan bakso, daging asap dan sayuran hijau yang tertata rapih di tempatnya.
"Kayaknya makan mie enak nih" ucapnya lirih.
Namun bukan Alvin kalau tidak membuat orang lain menderita. Alvin segera mendatangi kamar Nanda, mengetuknya dengan ketukan bertubi-tubi dan ketukan keras yang menimbulkan suara yang berisik. Suara ketukan keras yang dilakukan Alvin berhasil membuat Nanda yang sudah tertidur, menjadi terperanjat bangun kaget olehnya.
Dengan wajah kesal Nanda membuka pintu yang masih saja diketuk oleh Alvin.
"Kamu apa-apaan sih mas? Berisik tau" gertak Nanda kesal.
"Aku lapar" ucap Alvin dengan santai.
"Terus?"
"Bikinin aku mie instan. Lengkap dengan topping dan sayur. Pedes ya..." titah Alvin sambil berlalu pergi meninggalkan Nanda yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih setengah.
"Mas please...!!! Kamu bisa ga sih ga mengusik waktu tidur orang lain? Hah??" jawab Nanda kesal.
__ADS_1
"Ga usah cerewet!! Buruan masak!"
"AKU GA MAU, AKU NGANTUK!!"
"Terserah... Tapi jangan harap bulan ini kamu dapat gaji seratus juta"
"Ya udah ga apa-apa potong aja"
"Okay. Gajimu aku potong 95%" ucap Alvin santai sambil berlalu pergi.
"APAAA... Ya bener aja kamu mas!!"
"Silahkan kamu pilih, mau masak atau potong gaji"
"rrrrrrggghhhhh....." Nanda menggeram. Meski berat hati, akhirnya Nanda pun pergi ke dapur membuatkan semangkok mie instan pesanan majikannya.
Kurang lebih dua puluh menit, Nanda sudah selesai menyiapkan semangkok mie panas sesuai pesanan majikannya alias suami statusnya. Dengan muka asam, Nanda memanggil Alvin yang sedang asik bermain game di sofa.
"Mas, mie kamu sudah matang nih..." teriak Nanda ketus. Alvin menghentikan permainan gamenya dan bergegas menuju meja makan. Semangkok mie panas yang sudah tersaji di meja membuat air liur nya mengalir kegirangan.
"Duduk, temani aku makan" titah Alvin sambil meraih sepasang sumpit.
"Kamu kan cuma nyuruh aku buat masak, bukan buat nemenin kamu makan"
"Kamu baca lagi point ke 7 isi perjanjian kerja yang sudah kamu tandatangani" ucap Alvin santai, mengingatkan. Nanda membulatkan matanya ketika dengan hafalnya Alvin menyebutkan posisi point isi perjanjian kerja dirinya. Sepertinya Alvin memang sengaja yang membuatnya sendiri.
"Terserah" efek ngantuk yang masih terasa membuat Nanda sengaja mengabaikan perkataan Alvin. Nanda membalikkan badan meninggalkan Alvin untuk kembali ke kamar.
Secepat kilat tangan Alvin merengkuh lengan Nanda dan menariknya. Nanda memekik karna tidak siap dengan perlakuan Alvin. Mata mereka saling beradu pandang. Wajah mereka pun hanya berjarak satu ruas jari. Keduanya hanya saling diam dan saling menatap satu sama lain. Alvin menatap tajam mata Nanda yang terlihat kaget dan panik.
"Jangan coba-coba berani mengabaikan perintahku, karna aku bisa memberimu hukuman yang berat" suara Alvin terdengar lirih namun penuh penekanan.
"Aku ngantuk banget mas, boleh aku tidur sekarang? Kalau kamu seperti ini, besok aku bisa bangun kesiangan. Kalau aku datang terlambat, nanti aku pasti dapet omelan dari kam.. mmmppphhh...." mata Nanda terbelalak lagi ketika untuk kesekian kalinya Alvin tanpa ijin merenggut bibirnya dengan paksa. Tangan Alvin juga merengkuh pinggang Nanda dan merapatkan ke tubuhnya yang kekar. Tubuh Nanda terkunci oleh tangan kekar Alvin. Ketika dirinya mencoba untuk mendorong tubuh suami statusnya itu, malah membuat posisi tubuhnya menjadi berbalik memeluk si pemilik tubuh kekar itu. Dan posisi itu justru dimanfaatkan Alvin semakin merasa nyaman ******* bibir istri statusnya itu.
Tanpa disadari, Nandapun terbuai menikmati ciuman Alvin. Dirinya larut dalam kenikmatan. Teknik ciuman Alvin memang patut diacungi jempol. Ciuman Alvin berpindah tempat ke leher Nanda yang mulus. Nanda merintih kecil menahan rasa geli yang nyaman.
"Aaakkkkhhhh...." Nanda memekik kencang ketika Alvin dengan sengaja membuat kiss mark di leher Nanda. Jejak bibir Alvin tertinggal jelas di sana.
"Keterlaluan kamu mas" ucap Nanda sambil mendorong tubuh Alvin dan lalu berlari masuk ke dalam kamar.
Sementara Alvin? Bibirnya mengembang senang. Senyum kepuasan terlihat jelas di sana. Dan tanpa merasa bersalah sedikitpun, Alvin lanjut menikmati semangkuk mie yang telah dimasakkan Nanda untuknya. Rasa mie ini terasa lebih nikmat dari makanan apapun. Karna di dalamnya masih terasa ******* dari sepasang daging kenyal yang baru saja ia sentuh.
.
__ADS_1
.
.