Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Senyuman Pasrah


__ADS_3

"Tunggu...." emosi Nanda sudah meninggi. Celine dan Alvin menoleh ke arah Nanda yang menghalau kepergiannya.


Nanda membalikkan badan dan dengan cepat melangkahkan kaki mendekatkan dirinya sejajar dengan Celine. Dan....


Ppllaaaakkkkk....


Alvin cukup terkejut dengan keberanian sikap Nanda yang menampar Celine di depan umum. Wajah Celine memerah karna marah. Sorot mata kebencian menatap tajam ke arah Nanda.


"Aku mungkin memang perempuan bodoh. Tapi aku bukan perempuan licik yang dengan sadar bermain gila dengan suami orang. Kau... Perempuan yang tidak tau malu"


"Beraninya kau..." Alvin menghalau tangan Celine yang hendak menampar pipi Nanda dan bergegas menariknya untuk segera keluar dari restorant.


"Ayo pergi" ucap Alvin sambil menarik tangan Celine dan membawanya keluar.


Nanda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Entah setan mana yang telah merasukinya hingga tanpa ia sadari, dirinya telah berani mengibarkan bendera perang kepada Celine.


"Nanda, ke ruangan saya" suara tegas ibu Silvi membuyarkan lamunan Nanda. Dengan langkah gontai, Nanda mengikuti ibu Silviana memasuki ruang kerjanya.


"Duduk..." raut wajah ibu Silvi terlihat menggelap. Sepertinya hari ini adalah hari apes yang sudah digariskan nasib untuk Nanda.


Nanda duduk dengan wajah tertunduk dan pasrah.


"Saya sungguh malu dan kecewa dengan sikap yang kamu lakukan kepada customer tadi. Berani sekali kamu menampar customer? Apa kamu lupa pembeli adalah raja? Kenapa kamu tidak bisa menahan emosi kamu sedikit saja? Walaupun mungkin kamu diposisi yang benar, bukan berarti kamu boleh melakukan perbuatan tercela seperti tadi. Mengerti kamu!!!"


"Maafkan saya bu. Saya khilaf"


"Khilaf kamu bilang?? Perbuatan kamu ini sudah mencoreng nama baik restorant ini. Saya ga ngerti lagi harus bersikap bagaimana atas perbuatan kamu"


"Sekali lagi saya minta maaf kepada ibu atas kelalaian sikap saya. Tapi sungguh, saya tidak pernah bermaksud untuk memperlakukan customer dengan tidak baik. Saya..."


"Sudah cukup. Saya ga mau dengar penjelasan kamu yang bertele-tele. Maaf Nanda, mungkin kontrak kerja kamu dengan restorant ini cukup sampai hari ini saja. Masalah kasus kamu selanjutnya, akan saya selesaikan nanti"


"Maksud ibu, saya dipecat?"


"Uang pesangonmu akan saya transfer setelah masalahmu selesai saya proses"

__ADS_1


"Tapi bu..."


"Segera beresin barang-barangmu. Kamu boleh pulang sekarang. Semoga kamu bisa mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik"


"Tolong kasih saya satu kesempatan lagi bu. Saya mohon... Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini"


"Maaf Nanda, saya tidak bisa mentolerir perbuatanmu. Tolong kamu mengerti. Selamat siang" Nanda menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dengan langkah yang berat, Nanda keluar dari ruang kerja Bu Silvi dan ke ruang karyawan untuk mengemasi barang-barangnya.


Vira yang sedari tadi cemas dan sesekali menolehkan pandangannya ke pintu ruang kerja ibu Silvi langsung ikut berlari ke ruang karyawan menghampiri Nanda yang terlihat lesu dan murung.


"Nanda, bagaimana tadi di dalam? Bu Silvi ngomong apa? Loe masih aman kan? Loe baik-baik aja kan Nda? Loe masih tetep kerja kan? Loe ga dipecat kan Nda?" Vira menyerbu Nanda dengan serentetan pertanyaan yang sedari tadi sudah ada di benaknya. Namun Nanda hanya terdiam. Wajahnya masih lesu dan sedih.


"Nanda... Jangan bilang kalau si nenek sihir itu udah mecat elo?"


"Ssstttttttsss... Vira kecilin suara loe. Kalau bu Silvi sampai denger, nanti elo kena masalah"


"Abis gue penasaran banget Nda... Loe dipecat ya?" Nanda menatap Vira dengan tatapan sendu dan kemudian mengangguk pelan.


"Kurang ajar, bener-bener ya itu nenek sihir ga bisa adil sama anak buah. Gue tau Nda kalau elo tuh ga salah. Gue liat kok kalau si cewek itu yang sengaja nyenggol tangan loe dan numpahin makanannya. Dasar cewek licik. Gue sumpahi itu cewek putus sama cowoknya dan selamanya jadi perawan tua yang ga laku-laku" dengan semangatnya Vira mengumpat dan menyumpahi Celine, perempuan yang sudah membuat temannya harus kehilangan pekerjaannya.


"Gue yakin banget kalau itu cewek belum nikah sama cowoknya. Lagipula biarin aja mereka selamanya ga bisa nikah. Biar itu jadi hukuman dia, huft"


"Viraaa... Ga boleh gitu ah, ga baik. Jangan suka doain orang yang buruk-buruk. Kalau doa loe mental ke diri loe sendiri bagaimana? Loe kan juga belum nikah?"


"Iiihhh... Nandaaa... Elo ini ya... Gue belain malah balik nyumpahin gue? Elo ini sahabat gue atau bukan sih?" Nanda tertawa kecil oleh sikap gemas yang ditunjukkan Vira. Di cubitnya gemas pipi Vira sambil menyunggingkan tawa.


"Maafin atas sikap gue selama ini ya Vir. Mulai besok, gue udah ga bisa kerja bareng lagi sama elo. Maaf ya" Nanda meraih tangan Vira dan digenggamnya erat. Vira yang hatinya mudah tersentuh, dengan mudahnya meneteskan airmata kesedihannya karna harus berpisah dengan partner kerja yang sangat ia sayangi.


"Nandaa...." Vira memeluk Nanda dan menangis sesegukan di dalam pelukan Nanda. Nanda pun membiarkan sejenak Vira menangis mengungkapkan perasaan sedihnya di dalam pelukannya.


"Heii... Dasar cengeng. Stop nangisnya. Ntar gue ikutan nangis juga nih"


"Walaupun loe dah ga kerja lagi sama gue disini, tapi kita masih bersahabat kan Nda? Kita masih bisa ketemuan kan? Makan bareng, shopping bareng? Atau nge date bareng sama pasangan kita masing-masing nanti?"


"Hahahahaa..... Pasti dong sayang.. Tapi kalau nge date bareng, hmmm... Gue ga janji ya. Lagian mana enak pacaran bareng-bareng. Dasar cewek aneh" Vira memanyunkan bibirnya ke depan dan membuat wajahnya terlihat lucu.

__ADS_1


"Gue balik ya. Loe harus tetep semangat!!! Ingeeettt... Cari duit yang banyak. Biar bisa buat traktir gue makan. Okay..."


Nanda memeluk sekali lagi tubuh Vira sebagai tanda perpisahan. Setelahnya, Nanda bergegas keluar dari ruang karyawan dan berpamitan dengan teman-teman kerjanya yang lain. Meski Nanda berusaha untuk tetap tersenyum ketika berpamitan dengan teman-teman kerjanya, raut wajah kesedihannya tetap terlihat dengan jelas. Namun Nanda tetap berusaha tegar dan ikhlas menerimanya.


***


Di mobil Alvin


Celine mendengus kesal dan memanyunkan bibirnya. Hatinya sungguh kesal dan marah dipermalukan di depan umum oleh Nanda.


"Kenapa kamu sengaja membiarkan aku dipermalukan di depan umum seperti itu? Kenapa juga kamu tidak membiarkan aku membalas tamparan wanita sialan itu, Alvin? Pipiku sakit... Hatiku juga lebih sakit" Celine menangis sesegukan menahan rasa sakit dan kesalnya. Sementara Alvin, dia hanya diam dan melajukan mobilnya dengan tenang.


"Wanita sialan. Lihat saja, aku akan balas perbuatanmu hari ini. Kau akan menyesal" Alvin menepikan mobilnya dengan tiba-tiba yang membuat Celine terkejut dan tertegun.


Ccciiiiiiiittttt.......


"Alviinn..." Celine menatap tajam ke arah Alvin yang sudah menepikan mobilnya.


"Dengar Celine. Aku ga suka dengan perbuatan kamu hari ini. Benar-benar perbuatan rendahan. Kalau kamu merasa dirimu dipermalukan, itu karna hasil ulahmu sendiri. Aku ga pernah menyangka kamu akan berbuat perbuatan hina seperti itu. Aku kira kamu itu dari kalangan kelas atas, bisa bersikap dan berfikir rasional. Ternyata kamu sama saja seperti orang jalanan yang tidak tau etika. Memalukan"


"Alviiinnn.... Kenapa kamu tega berkata seperti itu? Apakah kamu ga suka kalau aku menyakiti istri statusmu? Apakah kamu sudah mulai jatuh cinta dengan dia?" suara Celine meninggi, airmatanya semakin mengalir deras.


"Ini tidak ada kaitannya dengan masalah cinta"


"Kalau kamu memang tidak cinta, kenapa kamu terkesan melindungi perempuan itu?"


"Aku memang tidak mencintai Nanda. Tapi bukan berarti aku mengijinkan kamu untuk menyakiti dia. Mengerti kamu!"


"Kamu memang laki-laki menyebalkan Alvin. Munafik!!" Celine membuka pintu mobil Alvin dan keluar ke jalanan dan langsung menghentikan taksi yang sedang melintas.


Alvin hanya menghela nafas panjang melihat tingkah laku Celine. Entah kenapa melihat Nanda yang di dzolimi oleh Celine, hatinya terasa sakit. Seperti ada rasa tak rela dan kasihan. Mungkin karna selama ini sikap Nanda sangat baik kepadanya, dan Nanda juga tidak pernah mencampuri urusan pribadinya, sehingga membuat Alvin merasa sangat sungkan ketika di depan matanya Nanda diperlakukan tidak manusiawi oleh wanita yang ia cintai. Ada rasa kecewa yang dalam kepada Celine karna telah melakukan perbuatan kotor dan rendahan untuk menjatuhkan seseorang yang tidak bersalah.


.


.

__ADS_1


__ADS_2