Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Ciuman Ke Dua


__ADS_3

Nanda membereskan piring kosong bekas makan siangnya bersama Alvin. Nanda juga sengaja tidak langsung mencuci piring kotor itu. Otaknya masih kepikiran dengan jam kuliah yang masih tersisa. Masih ada dua kelas lagi yang masih bisa ia kejar untuk diikuti.


Selesai mencuci tangan, Nanda segera meraih tasnya dan bergegas berpamitan dengan Alvin untuk kembali ke kampus.


"Tugasku sudah selesai. Aku mau kembali ke kampus" ucap Nanda sambil berjalan cepat menuju pintu tanpa memperdulikan jawaban dari Alvin.


"BERHENTI!!" gertak Alvin dengan nada suara meninggi. Nandapun terpaksa menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menatap Alvin dengan tatapan geram.


"Aku mau bicara sama kamu. Duduk !!" titah Alvin dengan penuh penekanan. Nanda tak bersuara. Hanya mendengus pelan dan lalu duduk di sofa berhadapan dengan Alvin.


Alvin menutup ponselnya dan menatap wajah Nanda yang masam. Entah kenapa hari itu Alvin bisa sabar menghadapi sikap Nanda yang garang dan ketus. Biasanya, Alvin pasti sudah akan naik darah kalau diperlakukan seperti itu oleh siapa saja.


"Sejak kapan kamu berkuliah di kampus XXXX ?" Nanda tidak langsung menjawab. Hatinya masih kesal dengan sikap arogansi Alvin yang sudah mengacaukan kuliahnya hari ini.


"Buat apa nanyain soal itu? Bukannya selama ini kita jalan masing-masing?"


"Jawab pertanyaan aku!!" Alvin melototi Nanda dengan tatapan geram. Nanda menghembuskan nafas kasar. Sikap Alvin benar-benar sudah sangat mengintimidasi dirinya.


"Dua Minggu yang lalu" jawab Nanda cepat malas berdebat.


"Apa kamu juga mengambil fakultas kedokteran sama seperti Evan?"


"Iya. Karna aku memang ingin menjadi seorang dokter" sikap dingin dan jawaban yang seakan menantang membuat Alvin memerah menahan amarah.


"Ganti fakultas atau kamu tidak usah kuliah" Nanda melebarkan matanya benar-benar syok dengan perkataan Alvin yang barusan.


"Apa hak kamu memintaku untuk berganti fakultas? Ini hidupku, aku yang memutuskan sendiri semua hal yang ingin aku pilih dan apa yang ingin aku lakukan. Kamu tidak berhak mencampurinya"


"Apa kamu lupa dengan statusmu saat ini, heemm??"


"Aku tidak pernah lupa. Aku selalu ingat tentang statusku"


"Bagus kalau kamu masih ingat. Jadi, kamu sudah tau bukan apa yang seharusnya kamu lakukan"

__ADS_1


"Aku ini hanya istri status mu saja Mas Alvin, bukan istrimu yang sesungguhnya. Dan itu pun hanya berlaku dua tahun saja. Jadi aku masih punya hak penuh untuk menentukan kehidupanku"


"Dua tahun ? Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan? Selama dua tahun kamu adalah istriku Nanda... Dan selama dua tahun itu juga, kamu harus patuh kepadaku. Mengerti kamu !!!" Nanda mengeratkan gigi-giginya. Ucapan Alvin benar-benar menyudutkan posisinya.


"Kamu egois Mas. Aku menyesal pernah ketemu sama orang seperti kamu"


"Oia??" senyum sinis Alvin terlihat sangat jelas terlukis di bibirnya. "Bukankah dengan bertemu diriku sudah memberikan keberuntungan yang indah untukmu dan orangtuamu?"


Tangan Nanda mengepal erat. Emosinya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Perkataan Alvin seakan telah menginjak-injak harga dirinya. Kalau tidak teringat akan kedua orang tuanya mungkin saat ini Nanda sudah membalas perkataan Alvin dengan umpatan-umpatan yang bisa membuat Alvin sakit hati.


"Di dalam hidupku, cuma kamu laki-laki yang sungguh sangat menyebalkan yang pernah aku temui"


Alvin memicingkan matanya dan merespon ucapan kesal Nanda dengan tertawa kecil. Tatapan permusuhan yang Nanda lukiskan sama sekali tidak membuat Alvin gentar.


"Aku rasa masih ada waktu untuk kita kembali ke kampus XXXX" ucap Alvin dengan santai.


"Aku bisa pergi sendiri!!!"


"Tidak bisa... Aku ingin memastikan dengan pasti kalau kamu pindah fakultas hari ini juga. Atau... Kamu pindah kampus saja, bagaimana? Aku bisa bantu atur semuanya untuk kamu"


"Baiklaaahhh... Kalau kamu memang tidak mau pindah kampus. Setidaknya kamu bisa pindah fakultas"


"Aku ga mau pindah fakultas atau pindah kampus. Dan aku juga tidak butuh bantuan apapun dari kamu saat ini"


"Benarkah?? Kalau sesuatu yang tidak menyenangkan tiba-tiba menimpa orang tuamu apakah kamu yakin masih tidak membutuhkan bantuanku???"


Emosi Nanda sudah tidak dapat ditahan lagi. Ingin sekali rasanya Nanda menonjok keras ke wajah Alvin.


"MAS ALVIN... !!!" Nanda berdiri dan menatap tajam tak berkedip.


"Kalau kamu berani menyakiti kedua orang tuaku, aku akan membunuhmu!!!"


"Membunuhku?? Ha-ha-ha... Dengan cara apa kamu membunuhku?" Alvin terlihat sangat santai menyikapi amarah Nanda yang mulai meninggi. Bahkan Alvin juga masih sempat menggoda Nanda dengan ikut berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda yang sontak membuat Nanda menjauhkan diri darinya.

__ADS_1


"Aku ga punya waktu berlama-lama berbasa basi denganmu!!" Nanda melontarkan kalimat terakhirnya untuk mengakhiri percakapannya dengan Alvin. Dengan cepat, Nanda membalikkan badan dan hendak pergi meninggalkan Alvin yang masih berdiri di hadapannya.


"Aaauuuuwww.... Saakkkiiiittt!!!" pekik Nanda ketika dengan cepat tangan Alvin meraih tangannya dan menariknya dengan kasar.


Tarikan tangan Alvin membuat tubuh Nanda berada sangat dekat dengan tubuh Alvin.


"Kamu itu istriku Nanda... Sudah seharusnya kamu mematuhi perkataan suamimu. Jadilah istri yang baik"


"Lepasin aku Mas. Sakiiiiitt....!!!"


"Kalau kamu nurut, aku tidak akan menyakitimu"


"Kamu gila Mas. Ga waras kamu!! Lepasin akuuu..." Alvin tersenyum sinis dengan gertakkan Nanda. Tatapan kebencian Nanda kepadanya malah semakin membuat dirinya semakin gemas dan masih ingin berlama-lama mempermainkan perasaan Nanda.


Bukannya melepaskan cengkraman tangannya, Alvin justru melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Nanda dan sengaja menyatukan bibirnya dengan bibir Nanda yang manis.


Nanda syok hampir mati ketika bibir Alvin menempel lagi dengan bibirnya. Dorongan tangannya berkali-kali sebagai reaksi penolakan dirinya atas ciuman Alvin, sama sekali tidak bisa membuat tubuhnya bergeser sedikit pun dari cengkraman Alvin. Tubuh Alvin seperti batu besar yang sangat berat yang sulit digeser. Yang ada, Alvin malah semakin mengeratkan tubuh Nanda ke dalam pelukannya.


Alvin sama sekali tidak memberikan ruang untuk Nanda bisa bebas. Ciuman Alvin semakin panas. Seperti kesetanan Alvin ******* rakus bibir Nanda. Diciuminya bibir itu sampai puas. Nandapun akhirnya hanya bisa pasrah menunggu Alvin melepaskan Pagutan ciumannya dari bibirnya.


Plaaaakkkk....


Satu tamparan keras mendarat lagi di pipi Alvin. Air mata Nanda mulai bercucuran membasahi kedua pipinya. Dengan nafasnya yang tersengal-sengal, Nanda masih mencoba berdiri tegar dengan tetap menunjukkan tatapan penuh kebencianny terhadap Alvin.


"Kamuuuu.... Kamu keterlaluan Mas!!! Aku benar-benar sangat benci sama kamu!!! Dan akuuu... Aku ga mau bicara lagi sama kamu!!!" teriak Nanda dengan keras.


Nanda berlari memasuki kamarnya dan membanting pintunya dengan kasar. Alvin duduk di sofa. Pikirannya kacau. Entah setan mana yang sudah merasukinya. Kenapa tiba-tiba dirinya malah mencium lagi istri status nya itu.


Ini bukan rasa cinta. Ini hanya sebuah pelampiasan dari gengsinya yang tak ingin terkalahkan. Tapi kalau hanya sebuah rasa gengsi, kenapa harus diungkapkan dengan sebuah ciuman?


Alvin mengacak kasar rambutnya. Hari ini ia segan untuk kembali ke kantor. Dan kalau pun ia kembali ke kantor, pikirannya yang sedang kacau justru malah bisa mengacaukan segalanya. Alvin melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya. Sepertinya dengan mandi bisa sedikit merilekskan pikiran kalutnya saat ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2