Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Tak Punya Pilihan


__ADS_3

"Ayah, ada apa?" ucap Nanda yang sudah duduk disebelahnya.


"Ayah juga ga tau Nanda" ucapnya jujur.


Oma Ana mendongakkan dagunya ke arah Nanda dan ayahnya yang sedang bercakap cakap pelan.


(Berdehem)


"Kalian pasti bertanya tanya kenapa aku memanggil kalian berdua ke sini bukan?" Nanda mengangguk pasti membenarkan ucapannya.


"Nanda, apa kau tahu kalau ayahmu memliki hutang yang sangat besar di perusahaan ini?" Nanda cukup terkejut dengan apa yang diucapkan Oma Ana. Setau Nanda, ayahnya memiliki hutang bukan di perusahaannya bekerja. Akan tetapi hutang di sebuah Bank.


"Ayah, benarkah apa yang dikatakan Oma Ana? Bukankah kata Ayah, Ayah berhutang di sebuah Bank?" Suitomo hanya menundukkan kepala. Ia tak mampu menjawab pertanyaan dari putrinya.


"Jawablah Ayaaahhh..." ucap Nanda setengah memaksa.


"I-iya. Yang di katakan Nyonya Besar benar." ucapnya terbata bata.


"Maaf Oma Ana, memangnya hutang Ayah saya berapa?"


"Akmal, coba kamu sebutkan berapa total nominal hutang yang dimiliki oleh laki-laki ini"


"Baik Nyonya" Akmal langsung membuka sebuah map yang berisi data rincian hutang yang dimiliki oleh Suitomo.


"Total keseluruhan dari hutang bapak Suitomo adalah sebesar 250 juta rupiah"


Mulut Nanda ternganga tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia langsung menolehkan tatapannya ke arah Ayahnya yang sudah sedari tadi tertunduk lesu.

__ADS_1


"Ayah... Ke-kenapa besar sekali hutang Ayah?"


"Maafkan Ayah Nanda. Biaya pengobatan ibu kamu sangat besar. Jadi Ayah terpaksa harus meminjam uang dari perusahaan ini setiap bulannya"


"Lalu hutang Ayah di Bank bagaimana? Apakah sudah lunas?" Suitomo hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.


Nanda tertunduk lesu. Tubuhnya terasa lemas. Ia menyadari bahwa biaya pengobatan ibunya memang cukup besar. Namun yang ia tak sangka ternyata nominal hutang ayahnya sudah sebesar itu.


"Aku ingin menawarkan kerja sama yang menguntungkan buat kalian"


"Ke-kerja sama?" ucap Suitomo gagap.


"Ya" ucap Oma Ana sambil masih mendongakkan wajahnya ke depan. Tak ada senyuman sedikitpun darinya.


"Ke-kerjasama apa Nyonya?" Suitomo memberanikan diri untuk bertanya tentang kepastian dari kerjasama yang dimaksud.


"APAAA.... MENIKAH??" ucap Nanda setengah teriak. Matanya melotot karna kaget dengan perkataan yang baru saja ia dengar.


"Dengan menikah, aku akan menganggap lunas semua hutang Ayahmu dan aku akan membiayai semua biaya perawatan ibumu sampai sembuh. Anggap saja ini sebagai kompensasi dariku sebagai imbal balik dari jasamu yang sudah mau menikah dengan cucuku"


"Oma Ana, maaf jika mungkin aku lancang. Tapi pernikahan adalah hal yang sakral. Bukan sekedar perjanjian atau suatu perkara yang sifatnya hanya sementara. Lagipula, memangnya cucu Oma bersedia menerima tawaran untuk menikah denganku?"


"Alvin akan menikah dengan wanita yang aku pilihkan. Jika kau menolak, maka Ayahmu harus segera membayar semua hutang-hutangnya. Dan jika tidak, aku tak segan segan menjebloskan Ayah mu ke penjara" ancaman Oma Ana membuat Nanda bergidik dan tercengang. Ternyata ini serius.


Nanda dan Ayahnya saling bertatapan. Tak ada pilihan lain selain menerima tawaran gila dari Oma Ana. Bagi Nanda, yang terpenting hutang Ayahnya lunas dan biaya pengobatan ibunya terjamin. Lagipula tak mungkin juga ia harus mengorbankan Ayahnya untuk mendekam dipenjara.


Nanda menatap sendu wajah ayahnya yang tertunduk lemah menahan malu. Ia tau, ayahnya juga pasti berat melakukan hal ini. Namun tidak ada pilihan lain. Tidak mungkin ia membiarkan Ayahnya mendekam dibalik jeruji besi. Biarlah dirinya yang menanggung. Mungkin ini bisa menjadi bukti bakti dirinya sebagai anak kepada orang tua.

__ADS_1


"Baiklah Oma Ana, aku bersedia untuk dinikahkan dengan cucumu, Alvin" ucap Nanda berakhir dengan pasrah.


"Hmm... Bagus. Aku akan segera mempersiapkan semuanya. Kau dan orangtuamu tinggal tunggu saja kabar selanjutnya dariku"


"Baik Oma Ana"


Oma Ana beranjak dari kursinya dan langsung pergi meninggalkan Nanda dan Ayahnya yang masih berada di dalam ruangan.


"Maafkan Ayah Nanda. Ayah tak mampu menjadi orangtua yang baik buat kamu dan ibumu. Ayah merasa sangat tak berguna sebagai orangtua" Suitomo menitikkan airmata kesedihan yang dalam karna harus mengorbankan kebahagiaan putrinya demi melunasi hutang hutangnya.


"Ayaaahhh... Ayah jangan nangis. Ini semua sudah garis hidup yang harus kita jalani. Nanda ikhlas kok meski harus menikah dengan laki-laki yang Nanda ga kenal. Yang penting Ayah dan Ibu tetap hidup, selamat dan sehat. Mungkin memang ini jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untuk kita" Nanda menggenggam erat tangan sang Ayah dengan airmata yang tak kalah derasnya dengan sang Ayah.


"Ya sudah, kalau begitu Ayah kembalilah bekerja. Aku juga akan kembali ke tempat kerjaku. Hal ini tidak perlu terlalu Ayah pikirkan. Nanda ga mau Ayah ikut sakit seperti Ibu" Suitomo hanya menganggukkan kepala sambil menyeka sisa airmatanya.


#########


Oma Ana duduk termangu di dalam mobil. Pikirannya masih tertaut pada Nanda. Gadis manis yang ia temui tanpa sengaja. Dan secara kebetulan pula, Nanda ikut masuk dalam kasus laki-laki yang ingin ia interogasi.


"Hmm... Sepertinya dia gadis yang baik. Dia sangat sayang dengan orangtuanya. Selain itu, anak itu sepertinya juga pekerja keras. Semoga aku ga salah menjodohkan Nanda dengan cucuku Alvin" ucap Oma Ana dalam batinnya.


Sopir pribadinya dengan tatapan fokus ke depan dengan sangat hati hati melajukan mobil kembali ke kediaman Oma Ana yang megah bak istana.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2