
Nanda mengepal erat tangannya dengan geram. Nafsu makannya seketika hilang karna ucapan Alvin. Maksud Alvin apa tiba-tiba ia melontarkan kalimat pernyataan seperti itu?
"Ya Tuhaaannn.... Aku ingin pernikahan palsu ini bisa segera berakhir. Aku ingin bebas. Aku ingin terbebas dari belenggu orang-orang kaya menyebalkan yang hanya bisa memanfaat orang lemah untuk kepentingan pribadinya. Aku ingin bebas ya Tuhaaannn..." Nanda menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Menutupi butiran-butiran airmata yang mulai membasahi kulit pipinya.
***
Alvin melajukan mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Pikirannya kacau sekacau hatinya. Setelah lelah mengemudi dengan tujuan yang tidak jelas, akhirnya Alvin memutuskan untuk mampir di sebuah club malam. Di sana Alvin memesan satu botol anggur. Hanya minumanlah yang bisa mengerti kegalauan hatinya saat ini. Setidaknya dengan menikmati minuman, beban di hatinya sedikit lebih ringan. Lagipula tubuh Alvin cukup kuat jika hanya menampung satu botol anggur saja.
Alvin sengaja memesan ruang vvip. Ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun.Tapi ia masih bisa menikmati dentuman keras suara musik yang diputar oleh DJ. Suara ponselnya terasa bergetar di saku jaket ketika Alvin sedang menikmati gelas yang ke tiganya. Dilihatnya nama yang tertera di layar ponselnya 'Celine Calling'. Tanpa pikir panjang Alvin segera menerima panggilan itu.
"Haloo..."
"Sayang... Kamu sedang ada dimana? Kenapa ada suara ramai sekali di sana?"
"Di club" jawabnya singkat dan malas.
"Sayang... Kamu ada masalah? Kemarilah.. Aku tunggu" Celine langsung menutup sambungan ponselnya. Ia tidak ingin Alvin membantah penawaran baiknya. Alvin yang mulai setengah mabuk hanya mencibir kecil perkataan Celine dan meletakkan ponselnya di atas meja. Dilanjutkannya kembali gelas yang ke empat. Disesapinya perlahan isi gelasnya yang mulai membuat dirinya tenang dan bahagia dalam alam bawah sadarnya.
Alvin meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja dan beranjak pergi meninggalkan tempat club malam. Jalannya yang sudah mulai sempoyongan membuat dirinya harus bertabrakan dengan orang-orang yang berada di ruangan besar yang ramai dan sesak.
__ADS_1
"Sorry..." ucap Alvin ketika tubuhnya tanpa sengaja menabrak pada seorang wanita.
"Hai beib... Kamu mau kemana. Masih sore. Ayo kita lanjutin minumnya lagi. Aku juga bisa nemenin kamu sampai kamu puas" Alvin menatap wajah wanita itu dan tersenyum payah kepadanya. Alvin juga membiarkan jari-jari si wanita sexy itu menjamah dada bidangnya dan mencoba untuk menggodanya lebih lanjut.
"Tubuh kamu bagus sekali beib. Kamu pasti laki-laki yang sangat perkasa." Alvin hanya tersenyum ketika tubuhnya terasa dipeluk dan bibir si sexy menempel di telinganya sambil membisikkan kalimat pujian kepadanya. Alvin yang masih setengah sadar merasa bangga dan senang atas pengakuan orang yang baru ia temui dengan wajah angkuhnya. Dentuman keras suara musik yang memekakan telinga dan arahan DJ yang menggema, membuat suasana malam menjadi semakin ramai dan menyenangkan. Orang-orang yang berada disana seakan terbuai dan terlarut dalam kesenangan sesaat yang bisa menghilangkan kepenatan jiwa.
Alvin sengaja menikmati sentuhan gratis dari wanita sexy yang baru ia temui. Wajahnya cukup manis, kulitnya juga putih dan lembut. Lekukan tubuhnya yang indah dan menggoda membuat naluri kelakiannya menjadi liar. Toh bukan Alvin juga yang meminta. Tapi si wanita itu yang dengan suka rela menggodanya. Alvin sengaja ingin bermain-main sebentar dengan wanita ini. Sayang kalau harus melewatkan rejeki manis dan menyenangkan.
"Oia, namaku Viona. Nama kamu siapa?"
"Aku ga punya nama" Viona mengerutkan dahi. Tawanya langsung membahana karna merasa lucu dengan jawaban Alvin.
"Sorry, aku harus pergi" ucap Alvin mencoba untuk pergi. Namun tangan Viona berhasil menarik lengan Alvin untuk mencegah Alvin pergi begitu saja.
"Kamu pikir kamu ini siapa bisa pergi begitu saja. Kamu sudah menikmati sentuhan tubuhku. Jadi kamu ga bisa pergi begitu saja" Alvin yang semula setengah sadar, kini mulai pulih. Wajahnya menggelap ketika kalimat Viona yang mengintimidasi dirinya telah membangunkan jiwa kasarnya untuk membalas ketidak sopanan sikap Viona yang sudah seenaknya mengatur-atur dirinya.
"Kamu sendiri siapa? Kamu hanya wanita murahan yang ingin tidur dengan laki-laki kaya yang bisa kamu manfaatkan hartanya. Benar bukan? Heh, sorry nona. Aku ga tertarik sama kamu" Alvin menepis kasar tangan Viona yang tadi mencengkram lengan jaketnya.
"Heiii.... Heiii..." Alvin berlalu begitu saja tanpa memperdulikan suara terikan Viona yang berharap dirinya akan berbalik kepadanya.
__ADS_1
Alvin melajukan mobilnya ke apartemen Celine. Malam ini ia ingin menghabiskan malam bersamanya. Bersama wanita yang ia cintai.
***
Celine setengah berlari ke arah pintu ketika suara bel apartemennya berbunyi nyaring tanpa henti. Alvin memang sengaja menekan bel apartemen Celine bertubi-tubi. Ia tidak sabar untuk segera dibukakan pintu.
"Alvin..." ucap Celine ketika membuka pintu apartemennya. Alvin memasuki pintu, langsung memeluk tubuh Celine dan menyandarkannya di dinding. Di lumatnya habis bibir Celine. Celine awalnya sedikit kaget dengan sikap Alvin yang tiba-tiba langsung menyerangnya dengan ciuman panas. Namun permainan ciuman Alvin yang sangat ahli membuat dirinya terbuai dan ikut menikmati.
"Alvin, kamu abis minum ya? Mulut kamu bau alkohol. Aku ambilkan kamu... Mmmmmppphhh...." Alvin tidak membiarkan Celine membuang waktu untuk berbasa basi. Hasratnya sudah meninggi. Alvin melepas jaket dan kaosnya kesembarang arah. Diarahkannya perlahan tubuh Celine ke kamar sambil masih memagut bibirnya. Tangan Alvin bermain menyusuri lekukan tubuh Celine yang indah. Satu demi satu pakaian merekapun terlepas dari tubuh masing-masing.
"Alviiinnn...." ucap Celine dengan manjanya sengaja menggoda Alvin yang sudah mulai tak sabar untuk segera menyentuhnya.
"Aaaakkhhhh...." desahan Celine mulai terdengar ketika Alvin mulai menyentuh tubuh Celine dengan liar. Dengan senang hati Celine menerima perlakuan demi perlakuan yang Alvin lakukan kepadanya. Bahkan dirinya sangat menikmati dan menyukainya. Alvin sudah sangat ahli dalam hal bercinta. Bagaimana tidak, sudah lima tahun mereka menjalin hubungan. Dan sudah tak terhitung juga berapa kali mereka bercinta saling memuaskan hasrat cinta mereka yang sama besarnya. Setiap kali ada kesempatan, mereka pasti akan melakukannya demi wujud rasa cinta mereka yang besar. Dan Celine juga tidak pernah bosan dengan permainan Alvin. Bagaimana mungkin Celine merasa bosan dengan Alvin, Alvin laki-laki tampan yang yang sangat kuat di atas ranjang. Kalaupun ada wanita lain yang Alvin sentuh, pasti wanita itu juga akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang Celine rasakan setiap kali bersama dengan Alvin kekasih hatinya dalam kondisi nikmat seperti ini.
.
.
.
__ADS_1