Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Ganti Rugi


__ADS_3

Alvin memasuki rumah ketika Nanda sedang sibuk memasak di dapur. Mata mereka saling beradu sesaat, tanpa menyapa dan tanpa mengeluarkan sepatah dua kata. Alvin langsung menaiki anak tangga menuju kamar. Dibasahinya rambut kepalanya dengan air dingin. Dibiarkannya kucuran air dingin membasahi kepala dan seluruh tubuhnya. Alvin mencoba merilekskan tubuhnya di bawah pancuran air shower.


Malam itu Alvin hanya menggunakan celana pendek dengan kaos oblong tipis berwarna hijau lumut. Rambutnya masih basah. Aroma sabun maskulin dan shampo beraroma mint dan lemon masih tercium jelas dan terasa segar di hidung. Alvin turun menuju meja makan. Di sana sudah ada Nanda yang sibuk menyiapkan makanan untuk mereka makan berdua.


Nanda menyodorkan piring kosong kepada Alvin masih tanpa bicara. Rasanya masih enggan dan kesal atas kejadian tadi siang. Alvin menerima uluran piring itu dan langsung mengambil nasi lengkap dengan sayur dan lauk. Setelah Alvin selesai mengambil makanan yang ia suka, kini giliran Nanda yang mengambil. Mereka makan dengan tenang masih tanpa suara. Alvin sesekali mencuri pandang ke arah Nanda yang menikmati makanannya dengan kepala menunduk. Wajah Nanda masih terlihat sedih dan murung. Dan sepertinya malam ini Nanda juga tidak terlihat bersemangat menikmati makanannya. Walaupun makan malam dimalam sebelumnya mereka lewati tanpa suara, namun malam ini terasa berbeda. Lebih dingin dan kelabu.


Nanda mengelap bibirnya dengan tissue menyudahi makan malamnya. Tubuhnya terasa lelah dan letih. Terutama hati dan pikirannya.


"Aku sudah selesai makan. Aku duluan ya Mas, ngantuk" suara Nanda terdengar ketus. Dan itu memang disengaja. Nanda berniat untuk beranjak dari duduk namun terhenti ketika suara Alvin menghalaunya untuk bangun dari duduknya.


"Tunggu" Alvin meletakkan sebuah kartu ATM di depan meja Nanda. Mata Nanda mengikuti arah tangan Alvin yang meletakkan sebuah kartu berwarna hitam signature tepat di atas meja tempatnya duduk.


"Apa ini?" ucap Nanda polos.


"Anggap saja itu sebagai ganti rugi kejadian tadi siang. Nomor pin nya ada di balik kartunya"


"Maksud kamu apa? Dan apa hubungannya dengan kejadian tadi siang?"


"Aku tau, kamu hari ini kehilangan pekerjaan. Isi ATM itu cukup untuk mencukupi kebutuhanmu selama satu tahun" jawab Alvin santai sambil melanjutkan suapan makannya.


"Mas Alvin ga perlu repot-repot bertanggung jawab. Lagipula, itu juga bukan kesalahan Mas. Dan soal pekerjaanku, mungkin sudah bukan rejekiku lagi untuk bekerja di sana" Nanda tersenyum asam ketika mengingat kembali keputusan Bu Silviana yang memberhentikan kontrak kerjanya tadi siang.


"Kalau begitu, anggap saja itu uang nafkah yang sudah seharusnya aku berikan untukmu"

__ADS_1


"Aku kan bukan istrimu yang sebenarnya Mas. Jadi aku rasa, kamu tidak perlu merasa terbebani untuk memberiku uang nafkah"


"Kalau kamu ga mau, buang saja. Pantang bagiku untuk menerima kembali sesuatu yang sudah aku berikan kepada orang lain" suara Alvin meninggi. Terdengar ketus dan angkuh. Alvin beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan Nanda yang masih termangu di meja makan. Alvin menaiki kembali anak tangga dan masuk ke kamar. Nanda hanya terdiam sambil memandangi punggung Alvin yang bergerak menjauh darinya.


Dihelanya nafas panjang. Diraihnya sebuah kartu ATM berwarna hitam mengkilap dengan desaign yang mewah bertuliskan nama 'Alviano Hadinata'. Di pandanginya dengan seksama kartu ATM itu.


"198891, nomor yang aneh. Hmm..." ucap Nanda lirih ketika membaca deretan angka sebagai angka pin dibalik kartu ATM.


Nanda memasukkan ATM itu ke saku celana, dan lalu membereskan sisa makan malam mereka sebelum akan pergi tidur.


***


Pagi ini Nanda hanya menyiapkan roti panggang lengkap dengan berbagai selai sebagai menu sarapan mereka. Nanda juga sudah menyiapkan secangkir kopi hitam tidak begitu manis kesukaan Alvin.


Alvin menyesap kopi buatan Nanda dengan tenang. Wajah kakunya masih sama seperti hari-hari biasa. Dingin dan tanpa ekspresi.


"Terima kasih" ucap Nanda membuka percakapan. Alvin menatap Nanda dengan tatapan tanya sedikit kaget dengan perkataan Nanda yang secara tiba-tiba mengucapkan kata terima kasih kepadanya.


"Untuk apa?"


"Untuk nafkah yang sudah kamu berikan untukku" Alvin terdiam sejenak mencerna perkataan Nanda. Senyum mencelanya tersungging disudut bibirnya dan kembali menatap Nanda dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Nanda.


"Bersenang-senanglah" Nanda terperangah dengan ucapan Alvin. Alvin sendiri selesai berkata langsung beranjak pergi meninggalkan Nanda yang masih kebingungan dengan maksud dan arti ucapan Alvin yang barusan.

__ADS_1


"Bersenang-senanglah? Apa maksudnya?" ucap Nanda membeo perkataan Alvin. Otaknya terus berpikir keras mengartikan maksud dari perkataan Alvin.


"Sebenarnya dia ikhlas atau enggak sih kasih gue ATM? Kok ucapannya rancu gini? Maksudnya apa coba? Apa maksudnya bersenang-senang? Apa dia pikir gue ini merasa puas karna sudah berhasil mendapatkan sebagian hartanya dia? Kurang ajar.... Alviiiinnn... Elo emang brengseeeekkkk...." Nanda meremas erat jemarinya dan mengeratkan deretan giginya menahan emosinya. Perkataan Alvin pagi ini benar-benar sudah menusuk perasaannya.


"Tunggu..." tiba-tiba terlintas pikiran konyol sedikit gila pada benak Nanda.


"Alvin bilang, bersenang-senanglah. Hmmm.... Kenapa ga gue realisasikan saja ucapannya. Gue akan habiskan duit loe Alvin. Biar loe tau, gue ini perempuan mahal yang ga cukup dibayar hanya dengan sebagian isi ATM loe, huft..." Nanda segera berganti baju dan bersiap pergi menuju mesin ATM terdekat untuk melihat isi ATM yang Alvin berikan untuknya semalam.


***


Nanda terperangah tak percaya ketika matanya dengan jelas melihat di layar mesin ATM deretan angka nol yang sangat banyak. Jari Nanda menghitung jumlah angka nol di layar monitor.


"Dua Milyar?" ucap Nanda lirih. Kakinya terasa lemas. Niat hati yang awalnya ingin bersenang-senang menghabiskan uang Alvin, kini kandaslah sudah. Seketika Nanda merasa bingung mau diapakan uang sebanyak itu. Bersenang-senang seperti apa yang selayaknya ia lakukan? Dibenaknya saat ini tidaklah ada rencana yang matang untuk dirinya bersenang-senang dengan uang Alvin yang terasa asing baginya. Lagipula, selama ini Nanda sudah terbiasa hidup sederhana dengan gaji yang cukup untuknya bertahan hidup selama satu bulan. Namun kini ia dihadapkan dengan uang dalam jumlah melimpah yang justru membuat dirinya menjadi gelisah. Ditambah lagi raut wajah Alvin tadi di meja makan yang terkesan meremehkan, membuatnya enggan untuk menyentuh uang pemberian suami statusnya itu.


Nanda menghela nafas panjang. Dikeluarkannya lagi kartu ATM dari mesin dan disimpannya kembali ke dalam dompet. Hari ini Nanda bingung mau kemana. Jadwal siarannya adalah sore hari menjelang malam. Sedangkan sekarang, hari masih pagi beranjak siang.


"Hmm... Gue dah ga kerja lagi sekarang. Gue jadi ada waktu buat nengokin ibu. Ya, gue lebih baik pulang ke rumah ibu. Ibu pasti seneng banget kalau gue dateng" tanpa pikir panjang, Nanda bergegas menuju ke rumah masa kecilnya dimana ia bahagia hidup bersama kedua orangtuanya yang sangat mencintai dan menyayangi dirinya sepenuh hati. Sebelum ke rumah ibu, Nanda menyempatkan mampir ke toko kue untuk membelikan beberapa potong kue kesukaan ibu dan ayahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2