Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Satu Komplek


__ADS_3

"Oia Nanda, ini buat kamu" Evan menyodorkan sebuah amplop putih besar dan di letakkannya di sebelah piring Nanda.


"Ini apa?"


"Bukalah"


Dengan ragu-ragu, perlahan Nanda membuka isi amplop. Ternyata isinya sebuah kertas. Nanda membaca deretan tulisan rapih yang tertulis di selembar kertas itu. Seketika mata Nanda terbelalak tak percaya dengan apa yang ia baca.


"Be-bea siswa??" ucap Nanda terbata-bata. Evan tersenyum manis sambil mengangguk pelan.


Nanda menatap wajah Evan dengan tatapan tajam tak percaya. Khayalan semalam tentang bea siswa kini nyata adanya.


"Ke-kenapa tiba-tiba kamu memberikan aku bea siswa? Bukankah kemarin kalian menjelaskan bahwa yang berhak menerima bea siswa ini adalah siswa siswi pilihan yang masuk kriteria. Kenapa semudah ini kamu memberikannya untukku?"


"Aku punya jatah 2 tiket bea siswa yang bebas bisa aku berikan untuk siapa saja sesuai keinginanku. Dan aku sudah memutuskan, kamu salah satu orang yang beruntung itu Nanda. Jangan tolak kesempatan ini" Evan melempar senyum manisnya ketika matanya melihat raut wajah Nanda yang masih terlihat syok.


"Nanda, kamu harus punya satu mimpi besar yang harus kamu wujudkan. Kamu ingin bisa melihat orangtua kamu bahagia bukan??" Nanda masih terdiam dengan ucapan Evan yang penuh penekanan.


"Jadilah seorang dokter. Dengan menjadi dokter, minimal kamu bisa turut andil dalam mengobati ibumu" tambah Evan lagi. Nanda bergegas menyeka dua bulir bening yang mengalir begitu saja dari kedua matanya.


"Nandaa... Kamu nangis?" Evan mendadak terlihat panik ketika matanya menangkap mata Nanda yang mulai basah.


"Maaf Kak Evan. Aku ga sengaja. Aku sungguh terharu..." Nanda mengeringkan kedua matanya dengan tissue dan lalu tersenyum manis memulihkan keadaan.


"Kak Evan, terima kasih banyak. Aku janji, aku akan belajar dengan sangat giat. Sekali lagi terima kasih..."


"Aku senang dengan semangatmu. Semoga semangatmu ini tidak pudar sampai kamu menyelesaikan study mu nanti" Nanda mengangguk bahagia, wajahnya berseri.


"Besok kamu langsung saja ke kampus xxx ke bagian kesiswaan. Kamu lengkapi administrasi siswa baru dan kamu serahkan surat bea siswa itu. Mereka sudah paham"


"He-em. Baiklah"


Evan dan Nanda sudah menyelesaikan makan siang mereka. Evan jg sudah membayar billing tagihan. Evan dan Nanda berjalan berdampingan keluar menuju tempat parkiran. Namun langkah Nanda berhenti sebelum keduanya sampai ke tempat mobil Evan terparkir.


"Kak Evan, aku sampai di sini saja. Aku duluan. Kak Evan hati-hati di jalan ya. Sekali lagi terima kasih untuk semuanya" Evan tidak langsung menjawab. Ditatapnya wajah Nanda dengan tatapan heran bercampur kesal. Baru kali ini ia menemui seorang perempuan yang tidak ingin ia antar sampai rumah.


"Kamu mau kemana?" pertanyaan impulsif Evan spontan membuat Nanda salah tingkah.


"A-aku mau pulang kak. Aku ada masih ada janji lagi dengan orang lain"


"Masuk mobilku. Aku antar kamu sampai rumah"


"Ti-tidak usah kak... Biar aku pulang sendiri saja. Aku tidak mau ngrepotin kakak terus-terusan"


"Aku paling pantang membiarkan seorang perempuan untuk pulang sendiri. Apalagi aku yang sudah mengajakmu ke sini. Jadi sudah seharusnya aku bertanggung jawab untuk mengantarkanmu pulang" Evan tidak menunggu jawaban dari Nanda. Tangannya dengan cepat langsung menggandeng tangan Nanda dan membawanya ke mobil. Nanda tak mampu menepis genggaman erat tangan Evan. Nandapun akhirnya hanya pasrah.


Mobil Evan sudah meluncur pergi meninggalkan restoran. Suasana di dalam mobil masih hening. Nanda merasa sangat canggung sekali berduaan di dalam mobil dengan Evan, laki-laki yang baru saja ia kenal. Walaupun Evan sangat baik kepadanya, namun rasanya tetap harus waspada.

__ADS_1


"Kamu tinggal dimana?" tanya Evan membuyarkan lamunan Nanda.


"Em.. Aku di..."


"Kamu belum pikun kan Nanda?" goda Evan yang berhasil membuat Nanda malu. Nanda menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tinggal di Perumahan Garden City" jawab Nanda polos.


"Oiaaa? Serius?" tanya Evan penuh tanya. Nanda menolehkan kepalanya sambil mengangguk, menatap heran ke arah Evan yang masih fokus menyetir.


"Iya, aku serius" jawab Nanda meyakinkan.


"Wah, kenapa ini jadi sebuah kebetulan ya... Aku juga tinggal di sana. Kamu di blok apa? Aku di Red Diamond. Kamu dimana?"


"Aku di Black Diamond"


"Ok" senyum Evan mengembang lebar. Ia merasa lucu karena tak menyangka bahwa ternyata dirinya harus tinggal satu komplek dengan Alvin.


Evan memang tidak tau kalau Alvin juga ternyata tinggal di komplek perumahan elite itu. Karena Evan baru pindah ke Jakarta. Rumah yang ia tempati saat ini pun hasil dari pilihan Joshua assistant pribadinya. Evan hanya terima beres dengan rumah yang dipilihkan Joshua untuk dirinya tempati.


Komplek perumahan elite ini memang sangat tertata rapih, bersih dan nyaman. Fasilitas yang disediakan juga lengkap. Mulai dari taman, tempat olahraga, kolam renang, fasilitas gym bahkan taman bermain anak-anak juga tersedia di sini. Dari segi keamanan juga sudah tidak perlu diragukan lagi. Perumahan ini dilengkapi CCTV di berbagai sudut dan dijaga 24 jam oleh team keamanan yang sudah sangat terlatih dan sangat profesional. Maka tak heran, yang bisa menempati komplek perumahan ini adalah orang-orang dari kelas atas.


Tak terasa mobil Evan sudah sampai di depan gapura besar komplek perumahannya dan bersiap untuk masuk. Tampak dua orang petugas keamanan dengan sopan memberhentikan mobil Evan dan menanyai kartu anggota kepemilikan rumah. Dengan wajah tenang, Evan menunjukkan kartu yang diminta. Tak lama berselang, palang pintu pun bergerak ke atas mempersilahkan mobil Evan untuk masuk.


Mobil Evan sudah terparkir di depan halaman rumah Alvin. Rumah besar yang terlihat sangat mewah. Evan mulai tidak sabar untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang seketika muncul dari benaknya.


"Nanda... Boleh aku bertanya?"


Nanda mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil Evan dan menunggu pertanyaan apa yang akan dilontarkan Evan.


"Ini benar rumah kamu?" bibir Nanda seketika terasa kaku. Evan terlihat curiga.


"Eeemmm... Bukan. Ini bukan rumahku"


"Lalu??" tanya Evan lagi menelisik.


"Ini memang bukan rumahku. Tapi aku benar tinggal di sini"


"Apakah kamu dan Alvin tinggal satu rumah?"


Untuk beberapa detik Nanda terdiam. Dan tak lama Nanda mengangguk membenarkan dugaan Evan.


"Oohh begitu... Apakah Alvin yang memintamu untuk tinggal bersama?"


"Iya"


"Nanda... Maaf kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu. Apakah kamu juga tau, siapa yang dulu menjadi pacarnya Alvin?" tanya Evan hati-hati.

__ADS_1


"Iya aku tau. Celine adalah kekasihnya mas Alvin. Bahkan sampai sekarang mereka masih sebagai pasangan kekasih" jawab Nanda dengan ringan. Evan terlihat kaget dengan raut wajah Nanda yang datar dan sangat biasa tanpa ada rasa kesal atau cemburu sedikitpun.


"Apaaa?? Alvin dan Celine masih pacaran? Trus kamu sendiri diam saja melihat mereka seperti itu?" Nanda menatap wajah Evan dengan lekat, lalu tersenyum simpul sambil mengangguk.


"Aku turun ya Kak. Terima kasih sudah mengantarkan aku sampai rumah" Nanda keluar dari mobil diikuti oleh Evan yang juga ikut keluar.


Nanda dan Evan terlihat berbincang-bincang di depan halaman rumah Alvin.


Sepasang mata dari dalam mobil dengan lekat memperhatikan dua insan manusia yang tengah berdiri berhadapan sambil mengobrol. Sepertinya obrolan mereka terlihat seru. Sesekali tampak dari keduanya senyum tawa renyah menghiasi wajah keduanya.


Alvin memarkirkan mobilnya ketika mobil Evan sudah pergi dari depan halaman rumahnya. Wajah Alvin menggelap. Aura kebencian dan amarah selalu muncul setiap dirinya melihat sosok Evan.


Nanda menoleh kaget ketika pintu rumah terbuka terbuka.


"Mas Alvin?? Tumben kamu sudah pulang" alih-alih menjawab pertanyaan Nanda, Alvin justru menatap Nanda dengan tatapan gelap tajam, dan syarat akan amarah.


"Diantar siapa kamu barusan?"


"Oh... I-itu... Aku..."


"JAWAB!!!" Alvin mendorong tubuh Nanda ke dinding dan menguncinya dengan kedua sebelah tangannya.


Suara bentakan keras Alvin membuat Nanda takut dan detak jantungnya berdetak tidak beraturan. Mata Alvin juga menatap penuh kebencian. Berada dalam situasi seperti ini membuat Nanda bingung dan sangat tidak nyaman.


"A-aku diantar sama kak E-Evan" jawab Nanda terbata-bata.


"Rupanya kamu sudah lupa dengan ucapanku waktu itu ya Nanda"


"U-ucapan yang mana?" Nanda benar-benar bleng dan tidak ingat sama sekali dengan ucapan Alvin yang mana yang dimaksudkan oleh Alvin.


"Aku peringatkan sekali lagi, jauhi dia. Mengerti kamu!!!" Alvin menekankan kalimat terakhirnya dan kemudian beranjak pergi membebaskan Nanda yang ketakutan.


"Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan kak Evan. Dia baik"


Langkah Alvin terhenti. Dengan cepat Alvin membalikkan tubuhnya dan mendekatkan nya lagi ke wajah Nanda. Sikap Alvin yang mendekatkan wajahnya terlalu dekat spontan membuat Nanda menjauhkan wajahnya dari jangkauan Alvin.


"Jangan buat aku marah. Kau akan menyesal" selesai mengatakan kalimatnya, Alvin pergi meninggalkan Nanda yang masih terdiam mematung. Alvin sungguh tidak memperdulikan Nanda yang masih dilanda kebingungan.


Sebelum Alvin menaiki anak tangga, Alvin sejenak menolehkan pandangannya ke Nanda.


"Jam 7 kita berangkat ke rumah Oma" tanpa basa-basi lagi, Alvin menaiki anak tangga memasuki kamarnya. Nanda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sikap dan ancaman Alvin sungguh sangat menyebalkan. Tanpa alasan yang jelas, Alvin bisa-bisanya mengancam dirinya dan mengekang kebebasan hidupnya.


"Dasar menyebalkan. Hufttt..." gerutu Nanda, kesal.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2