
Mobil Ana sudah sampai di perusahaannya. Seorang security dengan seragam safari berwarna hitam berkancing warna emas dengan hormat membukakan pintu untuknya dan membantunya menaiki anak tangga menuju lobby perusahaan.
Oma Ana meski sudah jarang datang ke kantor, namun hampir semua karyawan lama masih sangat familiar dengannya. Mantan boss yang lumayan galak tapi sangat peduli dengan para karyawannya. Semasa kepemimpinan Oma Ana dulu, bisa dikatakan Oma Ana adalah boss yang cukup royal dengan para karyawannya. Tidak pelit dalam menaikkan gaji dan kesejahteraan karyawannya.
Oma Ana tidak memasuki ruang kerja anaknya, Hadinata atau cucunya Alvin namun ia memilih untuk ke ruang meeting. Akmal,Assistant pribadinya yang masih setia di kantor tersebut dengan sigap melayani semua yang ia butuhkan.
"Maaf kalau saya lancang bertanya. Nyonya besar ada keperluan apa datang ke kantor ini? Apa yang bisa saya bantu?" ucap Akmal dengan sangat sopan.
Oma Ana sendiri meskipun fisiknya tidak ada di kantor, namun hak kuasanya masih lebih besar ketimbang anaknya sendiri si Hadinata yabg saat ini sudah menjabat sebagai Direktur Utama di kantor ini. Karna itulah tidak heran kalau Oma Ana masih menjadi salah satu orang yang berpengaruh dalam perusahaan itu.
"Apakah di kantor ini ada karyawan yang memiliki pinjaman yang cukup besar?" pertanyaan Oma Ana membuat Akmal terperangah dan ternganga. Otaknya terpacu untuk berpikir keras dengan maksud apa dibalik pertanyaan big boss nya itu.
"Oh, a-ada nyonya"
"Panggil orangnya kesini. Suruh menghadap saya, sekarang!!" titah Oma Ana ibarat titah raja yang tak terbantah dan segera dilaksanakan.
"Baik Nyonya" Dengan sedikit ragu, Akmal segera menghubungi bagian personalia untuk segera menghubungi orang yang dimaksud.
Setelah selesai, Akmal pun kembali lagi ke ruang meeting untuk menemani big boss, Oma Ana.
"Nyonya mau minum apa?" Akmal mengalihkan pembicaraan serta ingin mencairkan raut wajah boss nya yang terlihat tegang dan serius.
"Tolong bikinkan saya teh hijau panas tanpa gula" jawabnya singkat.
"Baik nyonya" Akmal pamit undur diri untuk menghubungi petugas office boy untuk segera membuatkan minuman nya.
Sepuluh menit kemudian seorang laki-laki separuh baya yang sudah terlihat menua berjalan perlahan mendekati ruangan meeting. Dengan langkah ragu ia berjalan perlahan. Keringat dingin mulai membasahi kemeja yang ia kenakan. Pikiran negatif pun berkecamuk di kepalanya.
Sesampai nya di depan pintu ia mengetuk pintu ruang meeting. Tangannya gemetar. Kaki kaki nya pun ikut merasakan hal yang sama. Baru kali ini ia di panggil terkait masalah hutangnya di perusahaan. Rasa takut dikeluarkan bekerja dari perusahaan pun menyelimuti seluruh jiwa raganya.
Akmal membuka pintu dan mempersilahkan nya masuk. Dengan langkah gemetar dan perlahan ia memasuki ruangan meeting yang cukup besar itu sambil menundukkan pandangannya. Info yang ia terima dari bagian personalia terkait pemanggilan dirinya yang berkaitan dengan hutang yang ia miliki membuat tubuhnya gemetar saat memasuki ruangan meeting yang lumayan besar itu. Seorang nenek tua yang tak pernah ia lihat sebelumnya sudah berada di dalam ruang itu menanti kehadirannya.
Oma Ana memperhatikan laki-laki itu dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
"Duduklah" titahnya. Suara beratnya terdengar sangat menyeramkan.
Laki-laki itupun duduk di kursi berhadapan dengan Oma Ana.
"Nyonya, ini bapak Suitomo. Orang yang Nyonya maksud" Oma Ana hanya mengangguk-angguk mengerti.
Suara ketukan pintu mengalihkan konsentrasi Oma Ana ketika seorang office boy datang memberikan secangkir minuman pesanannya.
"Silahkan Nyonya" ucap office boy itu sambil membungkuk sopan dan bergegas meninggalkan ruangan. Oma Ana sendiri tak merespon ucapan dari si office boy itu.
"Akmal, kau boleh keluar"
"Baik Nyonya" ucapnya sopan dan segera keluar dari ruangan. Akmal masih berjaga di luar menunggui boss besarnya selesai.
Oma Ana menatap Suitomo yang berkeringat. Kemejanya terlihat basah.
"Aku dengar, kau punya banyak hutang di perusahaan ini. Apakah itu benar?" ucapnya membuka percakapan.
"Be-benar Nyonya" jawabnya terbata bata.
"Kau meminjam uang untuk apa? Apakah gajimu terlalu kecil sehingga kau tidak mampu mencukupi kebutuhan keluargamu?"
"Istri saya punya riwayat sakit jantung Nyonya. Setiap bulan saya harus membawanya pergi berobat."
"Bukankah perusahaan ini juga memberikan perlindungan kesehatan untuk keluargamu?"
__ADS_1
"Be-benar Nyonya, namun limit kesehatan yang saya miliki tidak cukup untuk membiayai pengobatan istri saya. Jadi dengan terpaksa saya melakukan pinajam uang dari perusahaan ini" Oma Ana hanya terdiam. Wajahnya yang serius masih dengan tenangnya memperhatikan dengan seksama laki-laki yang ada dihadapannya kini.
"Apa kau memiliki seorang putri?" pertanyaan Oma Ana membuat Suitomo terkejut dan tak mengerti akan maksud dari pertanyaannya itu.
"Pu-punya Nyonya. Saya memiliki seorang putri"
"Berapa usianya sekarang?"
"22 tahun" lagi lagi Oma Ana hanya mengangguk angguk.
"Bisakah kau memanggilkan putrimu itu untuk datang ke kantor ini sekarang?" Suitomo terperangah, sangat terkejut dengan permintaan dari boss besarnya itu.
"Ma-maaf nyonya kalau saya lancang. Kalau boleh tau, untuk apa nyonya menginginkan putri saya untuk datang ke kantor ini?" ucapnya dengan sangat hati-hati.
"Lakukan saja perintahku!! Atau kau ingin aku keluarkan dari perusahaan ini?" ancaman Oma Ana sungguh membuat bulu kuduknya berdiri dan membuat dirinya mati kutu.
"Ja-jangan Nyonya, baik saya akan menelpon anak saya untuk segera datang ke kantor ini secepatnya"
"Baik. Waktumu hanya setengah jam" tanpa pikir panjang, Suitomo segera menghubungi ponsel Nanda anaknya.
*****
Nanda membawa dirinya ke belakang saat ponsel miliknya berbunyi. Nanda langsung menerima panggilan telpon itu yang berasal dari ayahnya. Rasa khawatir dan sedikit panik langsung muncul dipikirannya karna ayahnya sangat jarang menghubunginya di saat ia bekerja apalagi di waktu pagi hari seperti ini.
"Halo Ayah ada apa?" sapa Nanda sambil setengah berbisik agar atasanya tidak memergoki dirinya yang menerima telpon saat bekerja.
"Nanda, maaf Ayah mengganggu waktu bekerjamu. Tapi Ayah sedang butuh bantuanmu nak."
"Bantuan apa Ayah?"
"Nanda, tolong kamu datang ke kantor Ayah sekarang juga. Waktu Ayah tidak banyak" Nanda membulatkan matanyanya semakin panik dengan perkataan dari sang Ayah.
"Cepat Nanda... Ayah tunggu kamu datang kemari. Nanti Ayah akan kirim alamat kantor Ayah ke ponsel kamu. Ayah tunggu kamu sekarang"
"Ayah... Ayah..." Suitomo sengaja langsung mematikan ponselnya. Ia tak mampu untuk berpanjang lebar menanggapi pertanyaan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh putrinya. Sebab, ia sendiri ga akan bisa menjawabnya. Hal itu karna ia pun juga belum mengetahui maksud dari boss besarnya itu.
Nanda memaksa kepalanya untuk berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk ia sampaikan kepada atasanya agar ia bisa segera keluar dari tempat kerjanya dan segera menemui Ayahnya di kantornya.
Setelah dengan perjuangan keras mencari alasan, akhirnya Nanda berhasil keluar dari tempat kerjanya. Dengan menggunakan jasa ojek yang mangkal dekat tempat kerjanya Nanda bergegas pergi menuju kantor ayahnya.
Kurang lebih setengah jam lamanya, Nanda akhirnya sampai di kantor Ayahnya. Nanda sempat bergumam takjub dengan besarnya kantor dimana tempat ayahnya bekerja.
Ayah Calling....
"Nanda kamu sudah dimana?" baru saja tombol hijau ditekan, suara Ayahnya sudah lebih dulu terdengar tanpa memberi kesempatan dirinya untuk menyapa.
"Nanda sudah sampai di kantor Ayah. Baru aja" jawab Nanda dengan suara yang agak kencang karna suarannya beradu dengan suara angin yang berhembus siang itu.
"Kamu nanti masuk ke lobby lalu bilang saja mau ke ruang meeting lantai 3 bertemu dengan ibu Juliana"
"Ok Yah"
Nanda setengah berlari memasuki lobby kantor. Setelah mendaftarkan dirinya ke reseptionist, ia di persilahkan memasuki lift dengan membawa tanda pengenal khusus sebagai tamu perusahaan.
Nanda berjalan menuju lift. Deretan lift yang tersedia cukup banyak membuat Nanda harus sedikit bersabar menanti pintu lift yang terbuka yang nantinya akan membawanya ke lantai yang ia tuju.
Tttiiiinnngg...
Suara dentingan khas dari lift terdengar nyaring. Pintu lift sebelah pojok terbuka. Nanda berlari kecil menuju lift itu. Karna posisi dirinya berada agak jauh dari lift yang terbuka.
__ADS_1
Brrruuukkkk...
"Aaawwww....." teriak Nanda refleks.
Saking terburu buru nya Nanda ga sengaja harus bertabrakan dengan Alvin yang saat itu akan keluar dari lift. Benturan mereka cukup keras sehingga membuat Nanda harus terdorong ke belakang. Wajah garang Alvin terpampang jelas tidak suka.
"Mata loe buta???" bentaknya kasar sambil menunjukkan tatapan garang.
"Ma-maaf. Aku ga sengaja"
"Maaf maaf..."
"Yeee... Ya udah sih. Kan gue juga dah minta maaf" ucap Nanda kesal dengan suara yang semakin lama semakin pelan.
" Loe bilang apa barusan?" Alvin terpancing emosi ketika ternyata telinganya mendengar perkataan yang diucapkan oleh Nanda.
Alvin setengah membungkukkan tubuhnya menatap garang ke arah Nanda. Nanda spontan berusaha menjauhkan dirinya dari gerakan laki-laki di depannya yang tidak ia kenal.
"E-enggak apa-apa. Aku ga bilang apa-apa. Permisi...." mata Nanda melihat ada pintu lift yang terbuka. Ia segera lari menuju pintu itu dan segera menekan tombol tutup agar pintu lift nya segera tertutup.
Alvin merasa sangat geram dengan kelakuan Nanda. Wajahnya masih saja terlihat tak bersahabat.
"Hah... Aman.. Akhirnya gue bisa lolos dari manusia angkuh. Huft... Mimpi apa ya gue semalem bisa ketemu orang angkuh kayak dia." Nanda memegangi dadanya dan mencoba rileks mengatur nafasnya yang sempat tak beraturan.
Tak lama pintu lift terbuka. Nanda segera mencari ruang meeting dimana ayahnya berada saat ini.
Seorang laki-laki separuh baya berdiri di depan pintu besar. Ia tak sendiri. Ada dua laki-laki yang ikut berjaga disana. Dengan langkah ragu, Nanda memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.
"Maaf, saya ingin bertanya. Ruang meeting ada di sebelah mana ya pak?"
"Apa kamu anak dari pak Suitomo?" Nanda terperangah, terkejut dengan pertanyaan laki-laki itu. Sepertinya kehadirannya memang sudah sangat ditunggu tunggu.
"I-iya"
"Silahkan masuk nona" laki-laki itu mengetuk pintu dan terlihat berbicara sebentar dengan orang yang berada di dalam dan tak lama dari itu, laki-laki itu mempersilahkan Nanda untuk masuk.
Nanda mengikuti laki-laki itu memasuki ruangan yang sangat besar.
"Nyonya, putri bapak Suitomo sudah datang" ucap Akmal dengan sopan.
Oma Ana menolehkan pandangannya ke arah Nanda. Dan mereka pun tampak saling terkejut satu sama lain.
"Oma Ana?" ucap Nanda dengan sangat antusias
"Nanda?"
"Jadi dia anakmu?" Oma Ana melempar tanya kepada Suitomo yang masih terlihat tegang.
"I-ya Nyonya"
Wajah Nanda yang awalnya terlihat datar, langsung berubah keheranan ketika melihat ke arah ayahnya yang raut wajahnya sudah terlihat kaku dan tegang. Sepertinya sedang terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan di sini. Batin Nanda berbicara.
.
.
.
**Jangan lupa klik like dan tinggalkan jejak di kolom komentar ya kakak...
__ADS_1
Terima kasih... 😘**