
Mobil Alvin melaju kencang menyusuri jalanan aspal yang diramaikan lalu lalang kendaraan yang melintas. Seperti biasa di dalam mobil sport mewah yang hanya ditumpangi dua orang manusia terasa hening tanpa adanya suara percakapan atau suara musik. Mata Alvin fokus ke depan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nanda yang duduk disebelahnya. Sesekali Nanda mencuri pandang ke arah Alvin dan seketika pula matanya langsung beralih ke pemandangan jalan.
Mobil Alvin berhenti sebentar ketika akan memasuki sebuah kawasan elite yang di jaga ketat oleh beberapa security berpakaian khusus. Nanda berdecak kagum ketika matanya membaca sebuah tulisan membentang besar disepanjang gapura depan, pintu masuk perumahan. Sebuah nama perumahan elite yang tidak semua orang bisa memilikinya.
Alvin menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam dengan tulisan berwarna kuning keemasan kepada security. Para security langsung menganggukkan kepala, memberi hormat lalu membuka palang dan segera mempersilahkan mobil Alvin untuk memasuki area perumahan itu. Kartu hitam bertuliskan warna gold sungguh membuat rasa penasaran bagi Nanda.
"M-mas Alvin... Kartu hitam yang tadi itu... Kartu apa?" wajah Nanda memerah menahan malu, karna mungkin saat ini Alvin menganggapnya kampungan yang kepo sama barang orang. Namun karna saking penasarannya dengan kartu itu, maka Nanda harus menepis jauh rasa malunya demi mengetahui fungsi kartu hitam itu.
"Maksudmu kartu ini?" Alvin memamerkan kartu yang Nanda maksud ditangan kirinya dan lalu dengan cepat melemparkan kartu itu ke arah Nanda.
Dengan sigap, Nanda menangkap kartu hitam yang Alvin lempar dan menangkupnya di atas dadanya.
"Huft, Kasar bangettt... Ga ada sopan-sopannya sama sekali nih orang" ucap Nanda lirih sambil memandang malas ke arah Alvin yang masih fokus menyetir. Dipandanginya dengan seksama kartu hitam metalic dengan tulisan berwarna keemasan yang sangat elegant dan menuangkan kesan mewah dan mahal. Dalam kartu itu tertulis nama perumahan lengkap dengan alamat jalan serta nomor rumah. Tanpa disadari, Nanda berdecak kagum melihat kartu yang saat ini masih ia pegang.
"Waaawww.... Ini kartu bagus sekaliii...." Alvin tersenyum mencela ketika tanpa sadar mulut Nanda berdecak kagum mengagumi keindahan dari sebuah kartu yang memang baru pertama kalinya ia lihat.
"Itu buat kamu. Simpan jangan sampai hilang. Kalau sampai hilang aku jamin kau tidak akan...." wajah Nanda seketika memucat ketika perkataan Alvin terhenti. Perkataan Alvin syarat akan sebuah ancaman yang sepertinya cukup mengerikan. Nanda menatap lekat ke arah Alvin untuk mendapatkan sebuah penjelasan dari kelanjutan perkataannya yang sempat terputus.
"Ti-tidak akan apa?" tanya Nanda hati-hati.
"Heh, dasar bodoh." senyuman sinis dan cacian Alvin sungguh terdengar menyebalkan dan membuat telinga Nanda terasa gatal.
"Jika kartu itu sampai hilang, kau akan tidur dijalanan !! Karna kamu tidak akan bisa masuk ke dalam perumahan ini. Kau mengerti?" mulut Nanda menganga, syok akan penjelasan yang baru saja terlontar dari mulut Alvin. Raut wajah bingung Nanda terlihat jelas disana. Sederet pertanyaan sudah memenuhi kepalanya.
Hanya sebuah kartu saja bisa menentukan siapa saja orang-orang yang boleh memasuki kawasan perumahan ini. Sungguh tempat yang rumit. Padahal di komplek perumahan Oma Ana tidak ada sistem kartu seperti ini. Benar-benar merepotkan. Berulang kali Nanda menggerutu dalam hati sambil mengutuki dirinya kenapa bisa mempunyai nasib sial seperti ini. Harus bertemu dan berurusan dengan laki-laki rumit dan menyebalkan. Bagaimana kalau suatu hari ia benar-benar menghilangkan kartu itu. Habislah sudah riwayatnya. Jika pulang dan kembali ke rumah ibu, pasti ayah dan ibu akan memarahinya karna sudah menjadi istri yang tidak baik.
__ADS_1
Nanda menggelengkan kepalanya membuyarkan lamunan akan pikiran buruknya dan berharap semua akan berjalan baik dan tidak ada kejadian menyedihkan kedepannya.
Mobil Alvin sudah terparkir di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah Alvin tingkat dua. Rumah bergaya modern dengan design mewah yang pastinya di buat oleh seorang arsitektur yang sudah profesional. Rumahnya memang tidak sebesar dan semegah rumah Oma nya. Tapi bagi Nanda, rumah Alvin termasuk rumah yang sangat besar jika dihuni hanya dua orang saja.
"Waaawww... Besar sekalii... A-apa ini rumahmu?"
"Menurutmu? Ayo turun!!" dengan sikap dinginnya, Alvin keluar dari mobil mengabaikan Nanda yang masih terlihat celingukan dan norak dengan pemandangan barunya.
Alvin menekan kunci bagasi agar Nanda bisa mengambil tas koper miliknya. Dengan susah payah Nanda mengambil koper dan membawanya sendiri ke dalam rumah Alvin.
Ceteeekk....
Lampu rumah menyala. Terlihat dengan jelas seluruh isi ruangan rumah. Nanda semakin norak tak henti-hentinya mengagumi isi rumah barunya. Dinding yang bercat kan warna putih bersih membuat ruangan rumah terlihat sangat luas. Nanda berdiri mematung dengan bola mata yang bergerak memutar memperhatikan satu persatu isi ruangan.
Tadinya Nanda kira rumah yang akan ia tempati masih kosong dan belum memiliki perabotan yang lengkap. Ternyata dugaannya salah. Alvin sudah mengisi rumahnya dengan perabotan lengkap dan mahal. Perabotan rumahnya di dominasi warna hitam dan putih sesuai selera Alvin. Semua lengkap. Mulai dari perabotan ruang tamu, meja makan, dapur sampai kamar tidur.
"NANDAAA....!!" Nanda terperanjat kaget ketika suara gertakan yang cukup keras terlontar dari mulut Alvin.
"Ah... I-iya... A-ada apa Mas?" untuk menutupi rasa gugupnya Nanda menyunggingkan senyuman tiga jari sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini kamarmu..." Alvin membuka sebuah kamar yang sudah lengkap dengan sebuah ranjang empuk berukuran cukup besar, sebuah lemari besar, dan lemari rias disebelah ranjang yang terlihat sangat indah dan mewah.
Nanda mendekat ke arah Alvin yang berdiri di depan pintu calon kamarnya. Mata Nanda hari itu benar-benar dimanjakan oleh keindahan dunia yang sungguh nyata. Barang-barang mewah yang selama ini belum pernah ia miliki kini ia bisa miliki dan menikmatinya.
"Masuklah. Di kamarmu juga ada kamar mandi. Aku rasa, kamarmu ini cukup nyaman bukan?" meskipun perkataan Alvin tersirat sebuah ejekan, namun memang benar bahwa kamar miliknya sangat nyaman untuk ditempati. Ruangan yang cukup besar, dengan pendingin ruangan yang baik dan masih ditambah adanya sebuah kamar mandi di dalam kamar yang nantinya akan membuat Nanda lebih nyaman karna ia punya privasi yang lebih intens.
__ADS_1
Nanda menyunggingkan sebuah senyuman manis dan tulus kepada Alvin.
"Mas Alvin, terima kasih. Kamar ini sangat bagus dan sangat nyaman. Terima kasih sudah memberiku tempat yang sangat indah. Aku senang sekali." Alvin sedikit terkesiap dengan sikap lebay yang ditunjukkan Nanda. Nanda menampilkan senyuman lebar yang penuh rasa syukur dan bahagia. Nanda mengungkapkan ucapan terima kasihnya dengan tulus kepada Alvin. Namun tanggapan Alvin sangat datar dan masih terasa dingin. Alvin hanya menganggukkan kepala menanggapi sikap Nanda yang sedikit berlebihan.
"Hemm... Baguslah kalau kau suka. Kamarku ada di atas. Aku mau tidur. Oia, tolong kamu kunci pintu depan ya..." ucapnya sambil berlalu meninggalkan Nanda.
"Baik Mas" tanpa pikir panjang, Nanda langsung berjalan cepat menuju ke ruang tamu hendak mengunci kembali pintu yang masih terbuka. Namun tiba-tiba ia segera membalikkan tubuhnya karna teringat akan sebuah pertanyaan penting yang harus ia tanyakan kepada Alvin.
"Mas Alvin...." Alvin berhenti dan menolehkan kepalanya ke arah Nanda.
"Ada apa?"
"Emm... Maaf, ada yang ingin aku tanyakan."
"Katakan" jawab Alvin cepat
"A-apa di rumah ini hanya ada kita berdua saja?"
"Memangnya harus ada berapa orang?"
"Bu-bukan begitu. Maksud aku... Apakah selain kita berdua, ada seorang pembantu yang nantinya akan tinggal disini?"
"Tidak ada" jawab Alvin cepat dan segera melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sejenak Nanda hanya terdiam dan terpaku. Nanda menghela nafas panjang untuk mengembalikan kesadarannya. Ia harus menerima kenyataan pahit ketika tidak ada seseorang yang akan menemani dirinya di rumah ini. Jika Alvin pergi ke kantor dan entah kapan akan pulang, maka sudah bisa dipastikan kalau dirinya hanya akan seorang diri di dalam rumah sebesar ini.
.
__ADS_1
.
.