
Matahari sudah keluar dari peraduannya. Sinarnya yang perkasa sudah menerangi sebagian alam. Semua makhluk dibumi menyambutnya dengan suka cita. Seperti Nanda saat ini yang sudah berjalan menyusuri jalanan komplek menuju pintu gerbang besar perumahan elit yang ia tinggali. Langkahnya dipercepat seiring dengan mulai meningginya sang maha surya.
Seperti biasa ketika melintasi pintu gerbang utama, Nanda menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis menyapa sekaligus memberi hormat tanpa permisi kepada para security yang berjaga di sana. Langkahnya seketika terhenti ketika sebuah mobil sport hitam melintas dengan cepat mendahului langkah Nanda yang sedang tergesa-gesa. Nanda menghela nafas panjang. Matanya menatap tajam ke arah mobil belakang mobil itu. Memory otaknya pun langsung memberikan sinyal informasi tentang si pemilik mobil. Yups... Betul. Mobil Alvin. Nanda sudah hafal dengan nomor plat mobil Alvin. Walaupun dia sendiri sangat jarang menaiki mobil itu.
Sekali lagi Nanda menghela nafas panjang untuk menyabarkan dirinya atas perlakuan Alvin yang barusan. Walau sudah satu bulan usia pernikahan mereka, namun sepertinya Alvin belum bisa menunjukkan sikap baik kepada Nanda. Minimal setiap pagi, Nanda diperbolehkan menumpang di mobilnya, walaupun itu hanya sampai di depan pintu gerbang utama saja. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Faktanya, Alvin hanya sesekali menawarkan tumpangan kepada Nanda. Dan Nanda sendiripun juga enggan jika setiap pagi harus meminta tumpangan kepada Alvin. Karna takut Alvin tidak mengijinkannya atau jika pun diperbolehkan, Alvin melakukannya pasti karna terpaksa atau setengah hati. Nanda lebih memilih untuk mandiri tanpa bergantung kepada oranglain. Toh ini juga akan lebih baik ke depannya nanti. Tidak akan ada yang namanya hutang budi.
***
Cuaca hari ini sangatlah terik. Sepertinya sang surya sedang bersemangat menunaikan tugasnya. Pagi baru saja beranjak siang. Namun peluh yang keluar sudah membasahi pelipis kepala dan baju. Tanpa membuang waktu Nanda segera bergegas menuju tempat kerja. Sesampainya di tempat kerja, Nanda segera menempatkan diri pada pekerjaannya.
Nanda melempar senyum kepada temannya, Vira yang sama-sama memiliki jadwal shift yang sama dengannya.
"Loe dah sarapan Vir?" ucap Nanda di tengah-tengah kesibukannya.
"Belum. Loe?" jawab Vira cepat seraya melempar balikkan pertanyaan Nanda. Nanda sendiri hanya menggeleng pelan sambil tersenyum. Tangannya masih tetap sibuk mempersiapkan orderan yang masuk.
"Semangaaatttt" ucap Nanda kembali dengan senyumnya serta tangannya yang mengepal ke atas, memberi semangat untuk Vira dan juga dirinya. Senyuman manis itupun berbalas manis untuk dirinya.
***
Waktu berjalan cepat. Tak terasa matahari sudah beranjak naik dan mulai turun perlahan menuju ke peraduannya kembali. Sepasang sejoli yang sedang di mabuk nafsu baru saja selesai menuntaskan hasrat mereka yang menggebu sama besarnya.
Celine merapatkan kembali tubuhnya ke lengan Alvin dan menyusupkan wajahnya ke leher Alvin seraya memeluk erat perut Alvin yang kekar dengan manja. Kepuasan yang telah ia rasakan membuat tubuhnya terasa ringan dan sangat nyaman. Alvin selalu bisa memuaskan dirinya. Perlakuan dan permainan ranjang yang diberikan Alvin untuknya sungguh membuatnya selalu ketagihan dan selalu ingin terus melakukannya ketika ada kesempatan bertemu dengan kekasihnya itu. Ditambah lagi milik Alvin yang besar dan keperkasaannya yang sangat kuat membuatnya tidak rela untuk membuang waktu begitu saja ketika bersama kekasihnya, Alvin.
Sebuah penyesalan yang teramat dalam Celine rasakan kini ketika ia harus menerima kenyataan bahwa status Alvin secara resmi bukanlah miliknya. Andai dulu ia menerima lamaran Alvin dan tidak mementingkan egonya, mungkin saat ini dirinya adalah wanita paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak? Bersuamikan lelaki tampan dengan materi berlimpah dan nyaris tak akan bisa habis serta memiliki kekuatan besar di atas ranjang. Wanita mana yang sanggup menolak kharisma laki-laki seperti itu?
"Sayaanggg... Terima kasih ya... Kamu sudah membuatku sangat senang hari ini. Kamu... Selalu luar biasa..." suara parau Celine terdengar manja. Celine sengaja merebahkan kepalanya di lengan Alvin yang kekar. Dipejamkan lagi matanya dan dihirupnya dalam-dalam aroma khas tubuh Alvin yang selalu menggoda. Alvin sendiri hanya diam dengan matanya yang terpejam. Meski terpejam, Celine tau kalau Alvin belum tidur.
"Sayaaangg..." ucap manja Celine lagi.
"Hmmm"
__ADS_1
"Lusa aku sudah harus meninggalkan Jakarta. Kalau kamu kangen sama aku bagaimana? Kamu bisa tahan sampai aku kembali lagi ke sini kan?"
"Kali ini aku tidak bisa menjaminnya" sikap dingin Alvin kembali menyeruak ke udara membuat Celine harus mendongakkan kepalanya memandang tajam wajah Alvin yang masih terpejam.
"Kok kamu jawabnya begitu?"
"Aku kan sudah punya istri. Jadi tidak ada lagi yang harus aku tunggu. Bukan begitu??"
"Sayaaangg.... Aku akan usahakan untuk mengatur jadwalku agar aku bisa melakukan pemotretan lagi di Jakarta dan bisa kembali lagi di pelukan kamu yang menggairahkan. Atau... Aku akan meminta kepada management ku untuk memindahkan aku ke Jakarta saja. Bagaimana? Kamu senang kan sayang?" ucap Celine masih dengan manjanya dengan jarinya menyusuri dada bidang Alvin.
"Untuk apa?" suara Alvin terdengar datar dan sedikit menjengkelkan.
"Ya biar kita bisa selalu bersama, Sayaaangg.... Seperti ini. Kamu suka kan?"
"Kenapa baru sekarang kamu berpikiran untuk tinggal di Jakarta setelah sekian kalinya aku memintamu untuk tinggal disini dan menikah denganku?" Alvin membuka lebar matanya dan menyandarkan kepalanya setengah duduk di belakang sandaran ranjang.
"Maafin aku ya sayang... Aku sungguh menyesal. Aku sudah terlalu egois. Andai dulu aku tidak terlalu mementingkan egoku, saat ini kita pasti sudah menjadi pasangan yang paling berbahagia"
"Sayangnya mimpimu itu berbanding terbalik dengan kenyataan"
"Aku senang akhirnya kamu rela mengorbankan karirmu dan memilih tinggal bersamaku. Aku harap, kamu bisa menjaga dirimu selama kamu jauh denganku. Hanya aku yang boleh menyentuhmu. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu kalau kamu sampai berani menghianati kepercayaanku, Celine" ucapan ultimatum Alvin terdengar jelas sebagai ancaman yang mengerikan.
"Iya sayaaaang.... Kamu harus percaya sama aku. Aku ga akan pernah menghianati kamu. Aku sayang banget sama kamu. Sayang dan cinta banget" jawab Celine tak kalah manja sambil mengusap perut Alvin yang membuat gairah Alvin kembali meningkat.
"Sayang, Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Celine hati-hati.
"Apa?" Alvin menolehkan matanya ke arah wajah Celine yang tengah menengadah dengan mulut yang sedikit terbuka. Bibirnya yang ramum membuat Alvin tak kuasa untuk tidak menciumnya.
"Hhhhmmmmpppp...." desahan Celine tertahan ketika bibir Alvin sudah dengan rakusnya ******* bibir Celine kembali. Menindihnya dengan cengkraman tangannya yang kuat. Tangan Alvin juga secara otomatis bermain nakal menyusuri wilayah dada Celine yang menggunung.
Celine mendorong tubuh Alvin dan langsung menghirup oksigen sebanyak mungkin karna paru-parunya terasa kosong akan oksigen karna sulitnya bernafas dari tekanan ciuman Alvin yang sangat kuat dan penuh hasrat. Alvin harus mendengar dan menjawab pertanyaan yang selama ini sudah memenuhi benaknya.
__ADS_1
"Alvin, stop. Kalau kamu teruskan, aku jamin kamu ga akan bisa kembali ke kantor dan batal meeting dengan client pentingmu itu" Alvin hanya tersenyum nakal mendengar ancaman Celine.
"Sayang, tolong jawab pertanyaan aku. Pertanyaan ini benar-benar membuatku hampir gila. Kamu... apakah kamu... Eemmm.... Sudah pernah menyentuh istri statusmu itu?" dengan seketika mata Alvin melebar ketika pertanyaan Celine terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Jangankan menyentuhnya. Memegang tangannya pun aku tidak pernah"
"Benarkah? Kamu ga bohong kan sayang?" raut wajah senang penuh kepuasan terlukis dengan sangat jelas di wajah Celine. Ternyata Alvin benar-benar sangat mencintai dirinya seorang.
"Apakah nada bicaraku terdengar seperti orang yang sedang berbohong?"
"Aku percaya sama kamu. Terima kasih ya sayang, karna kamu tidak mudah tergiur oleh pesona perempuan lain" Celine semakin mengeratkan pelukannya dan kali ini gantian dirinya yang menghujani Alvin dengan ciuman panas. Mulai dari pipi, bibir sampai leher Alvin dan sengaja meninggalkan jejak merah di sana. Alvin sedikit jengkel dengan perlakuan Celine yang barusan. Pasalnya Alvin masih harus kembali ke kantor dan jejak merah yang Celine tinggalkan pasti akan terlihat jelas di mata setiap orang.
"Celineee.... Kamu sengaja ya?"
"Iyaa..." jawabnya cepat sambil menyengirkan giginya. "Biar semua orang tau kalau kamu adalah milikku"
"Aku masih harus kembali ke kantor Celine. Dan aku bisa jadi bahan tawaan anak buahku"
"Kamu sayang kan sama aku? Kalau sayang, kenapa mesti malu?" Alvin hanya mendengus kecil dan lalu menyingkapkan selimut putih yang tadi menutupi tubuhnya bersama Celine. Alvin bergegas bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk mandi membersihkan diri. Celine hanya tertawa kecil melihat sikap Alvin yang dingin. Celine tidak marah, karna memang demikian karakter Alvin. Dingin dan kaku. Namun dibalik itu semua, Alvin adalah tipe laki-laki yang sangat penyayang dan perhatian.
***
Alvin sudah selesai mandi. Saat ini tangan Alvin tengah sibuk merapihkan kembali kemejanya yang tadi terserak dilantai. Celine juga ikut membantu mengancingkan kemeja Alvin.
"Sayaaang... Sebelum kamu kembali ke kantor, kita makan dulu ya... Aku laper.." ucapnya seraya merapihkan kerah baju dan dasi Alvin.
"Boleh. Kebetulan aku juga lapar"
"Tunggu aku ya sayang... Aku mau membersihkan tubuhku dulu. Ga lama kok. Lima menit" Celine berlari menuju kamar mandi untuk bergegas mandi. Ia tau kalau Alvin bukanlah laki-laki yang cukup sabar untuk menunggu. Jadi ia harus cepat.
.
__ADS_1
.
.