Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Butik Mahal


__ADS_3

Hari sudah beranjak pagi, namun matahari di kota Paris sepertinya masih enggan untuk menampakkan wajahnya. Hembusan angin di musim dingin yang mulai menyapa membuat temperatur udara terasa lebih dingin dari biasa. Dengan mata yang masih terpejam dengan nyawa setengah sadar, Nanda merasakan sebuah keanehan yang terjadi pada dirinya.Dada Nanda terasa sesak. Nafasnya terasa berat seakan ada batu besar yang sudah menghimpit tubuhnya.


Perlahan Nanda membuka katup matanya dan mencoba untuk membebaskan diri dari rasa tidak nyaman. Betapa terkejutnya Nanda ketika tangan kekar Alvin sudah melingkar kuat di atas perutnya. Kepala Alvin juga sudah menempel di atas pundak Nanda. Lengan Alvin seperti batu besar dan berat benar-benar sangat sulit untuk di pindahkan. Semakin Nanda berusaha untuk menggeser tubuh Alvin, semakin erat juga Alvin memeluk tubuh Nanda. Mungkin Alvin mengira Nanda adalah sebuah guling yang nyaman sebagai teman tidur.


"Mas Alviiin... "Nanda mencoba membangunkan Alvin yang masih terpejam. Namun usahanya gagal. Alvin sama sekali tak berkutik. Dengkuran halusnya masih terdengar seirama.


"Mas... Bangun mas"


"Heeemmm... Ada apa? Aku masih ngantuk" suara parau Alvin terdengar malas. Alvin benar-benar masih enggan untuk bangun.


"Ini... Tolong singkirin tangan kamu. Aku ga bisa nafaaaasss...." Nanda sengaja menaikkan nada bicaranya agar Alvin tersadar dari tidurnya.


Alvin membuka sedikit katup matanya dan mulai menyadari kesalahan pada posisi tidurnya. Dengan sigap, Alvin langsung menarik tangannya dan berputar posisi membelakangi Nanda. Nanda menghela nafas panjang merasa lega sudah terbebas dari situasi menyebalkan diluar ekspektasinya.


Dilihatnya jam di ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi waktu Paris. Sebenarnya Nanda ingin sekali bangun dan mandi. Namun rasa galau kembali menyelimuti jiwanya.


"Kalau gue mandi, trus gue pake baju apa? Masa iya baju gue yang kemarin gue pake lagi? Kan udah kotor. Hmm... Ya udah deh, mau ga mau gue harus tunggu Mas Alvin bangun. Baru deh gue mandi, trus pinjem bajunya lagi, huft.."


***


Nanda terperanjat kaget ketika ada sebuah rasa lembab yang menempel di wajahnya. Ternyata rasa lembab itu berasal dari handuk basah milik Alvin yang dilemparkan ke wajahnya. Alvin sudah terlihat rapih dan segar. Kemeja lengan pendek bermotif abstrak dengan celana panjang berwarna gelap terlihat sangat serasi di tubuh Alvin.


"Cepat bangun!! Kamu mau baju ga?" perkataan Alvin sontak membuat Nanda bersemangat dan langsung duduk.


"Maauuu..." ucap Nanda cepat sambil mengangguk-anggukkan kepala dengan sangat antusias.


"Aku kasih kamu waktu 10 menit buat siap-siap" ucap Alvin dengan santainya seraya menyisir rambut.


"Apaaa? 10 menit?"


"Cepat mandi atau kamu akan tinggal seharian di kamar?"


"I-iyaaa, oke-oke aku mandi sekarang" secepat kilat Nanda loncat dari ranjang dan langsung masuk kamar mandi.


Nanda sudah siap untuk pergi. Wajahnya sangat cerah dan ceria. Setidaknya untuk beberapa hari kedepan Nanda sudah tak bingung lagi dengan masalah pakaian. Sebelum pergi berbelanja, mereka dan para bodyguard pergi sarapan bersama.

__ADS_1


Sejujurnya Nanda sangat tidak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan pagi itu. Baju kemarin yang ia kenakan ketika berangkat menuju Paris. Ada aroma asam yang menggelitik indera penciuman. Meski sudah disemprot parfum, bau asamnya tetap saja masih tercium. Tapi mau bagaimana lagi? Setidaknya baju ini masih lebih baik ketimbang harus memakai baju Alvin yang kebesaran.


Rombongan Alvin sudah sampai di depan toko perlengkapan baju wanita. Toko baju ternama yang sangat terkenal hampir di seluruh dunia. Nanda juga cukup familiar dengan nama toko yang ia singgahi saat ini. Merk ternama yang memiliki harga selangit bagi orang-orang berkantong tipis seperti Nanda.


Mulut Nanda ternganga dengan tatapan tajam tak percaya. Di dalam mimpi sekalipun, tidak pernah terbayangkan oleh Nanda kalau saat ini dirinya benar-benar berada di toko dengan merk branded mahal. Nanda mencubit lengan tangannya memastikan kalau saat ini dirinya memang berada dalam dunia nyata dan tidak sedang bermimpi.


Seorang bodyguard dengan sigap membukakan pintu dan mempersilahkan tuannya untuk memasuki area toko. Dengan wajah dingin dan percaya diri penuh, Alvin melangkahkan kakinya memasuki toko. Berbeda dengan Nanda, ia yang masih saja terdiam berdiri mematung di depan pintu.


"Jadi mau beli baju ga?" ucapan Alvin seketika membuyarkan lamunan Nanda. Dengan cepat, Nanda melangkahkan kakinya memasuki area toko.


Di dalam toko, Alvin dan Nanda disambut dua orang pelayan bule yang ramah. Nampak Alvin berbincang-bincang menggunakan bahasa Inggris kepada kedua pelayan perempuan itu. Nanda yang kurang begitu fasih dengan bahasa Inggris, hanya bisa diam sambil memperhatikan suami statusnya yang sedang berbincang-bincang dengan para pelayan di toko itu.


Tak lama, Nanda digiring oleh seorang pelayan bule wanita menuju deretan baju-baju yang tergantung rapih di etalase lemari kayu besar. Nanda semakin kagum sekaligus bingung dengan berbagai pilihan model baju-bajunya. Sebagian besar model baju disana berjenis gaun dan terbuka. Nanda yang tak terbiasa mengenakan gaun terbuka mulai kebingungan dengan pilihan model baju-bajunya.


Alvin mulai jenuh menunggu Nanda memilih pakaian. Sudah satu jam lamanya, Nanda belum kembali menuju kasir tempatnya duduk menunggu. Akhirnya Alvin memilih untuk menghampiri Nanda yang masih sibuk memilih pakaian.


"Masih lama?" Nanda menolehkan pandangannya ke arah suara Alvin.


"Aku bingung mas"


"Bingung kenapa?"


Alvin menarik nafas panjang dengan kasar. Sikap arogant nya mulai muncul lagi.


"Ukuran bajumu apa?" tanya Alvin menahan kesal.


"S"


Alvin mulai memilih baju-baju dan langsung mengambilnya tanpa bertanya dulu kepada Nanda apakah ia suka atau tidak. Kalau menurutnya bagus, langsung diambilnya tanpa melihat harga atau bertanya kembali kepada Nanda apakah ia suka atau tidak dengan baju yang ia pilih. Nanda menatap Alvin yang tengah sibuk mengambil beberapa baju dengan tatapan keheranan. Alvin bisa dengan cepat memilih baju-baju. Hanya sekali lihat dan dirasa cocok, Alvin langsung mengambilnya dan menyuruh pelayan untuk mengambilkan size yang sesuai dengan ukurannya.


"Mas... Kamu ga salah ambil baju kan? Aku ga suka dengan model yang ini"


"Kalau ga suka tinggal buang saja. Beres kan?" ucapnya sambil berlalu pergi menuju kasir. Nanda mengekor dari belakang mengimbangi langkah Alvin yang cepat. Selain baju-baju yang sudah Alvin ambil, seorang pelayan bule wanita juga telah menyiapkan sebuah kotakan besar yang berisi pakaian dalam wanita.


"Bayar !!" Alvin menatap Nanda sambil menggidikkan dagunya ke arah baju-baju yang tertumpuk di meja kasir.

__ADS_1


"A-apaaa??"


"Aku bilang, bayaaaarrr!!!" perkataan Alvin terdengar penuh akan syarat ejekan. Nanda mengepal erat genggaman tangannya menahan emosi.


"Aku harus bayar pake apa? Aku ga ada uang"


"Bukannya kamu udah aku kasih uang?" tatapan penuh cela Alvin benar-benar membuat Nanda naik darah. Alvin seakan sengaja untuk mempermainkan dirinya. Dengan cepat, Nanda membuka tasnya dan mengambil kartu hitam yang pernah Alvin berikan kepadanya.


"Maksud kamu kartu ini?" Alvin menyedekapkan kedua tangannya di dada sambil melempar senyuman mencela yang menyebalkan.


"Memangnya kamu punya kartu lagi selain kartu itu, hmm?" Nanda mengeratkan giginya mencoba untuk bersabar. Tanpa basa basi lagi, Nanda langsung menyodorkan kartu hitam miliknya kepada kasir. Uang dua milyar yang ada di dalam kartu ATM nya sudah pasti seharusnya cukup untuk membayar baju-baju ini.


"Sorry Miss, your card cannot be used. Is there another card?" (Maaf nona, kartu anda tidak bisa digunakan. Apakah ada kartu lain?)


Kasir menyerahkan kembali kartu hitam ke Nanda. Kepanikan bercampur malu mulai menyeruak di wajah Nanda. Ingin sekali Nanda berlari menjauh dan menghilang secepatnya agar jiwa miskinnya tidak terlalu terinjak-injak.


"Emm... I am sorry. I didn't buy these clothes" (Saya mohon maaf. Saya tidak jadi beli baju-baju ini)


Wajah Nanda memerah menahan malu. Alvin dengan sombongnya tertawa mengejek ke arah Nanda sambil menyodorkan kartu kredit hitam bertuliskan world elite miliknya kepada sang kasir. Kartu kredit dengan limit unlimited yang bisa digunakan untuk bertransaksi di seluruh dunia.


"Use my card" (Gunakan kartu saya)


Nanda memandang geram ke wajah Alvin yang masih menampilkan tawanya yang tertahan.


Dua buah paper bag besar sudah siap di atas meja kasir. Alvin menerima kembali kartu kreditnya dan dengan gayanya yang elegant dimasukkannya kembali kartu itu ke dalam dompetnya.


"Tuh baju kamu. Bawa!!" Nanda enggan untuk membantah perintah Alvin. Nanda mengambil dua buah paper bag besar itu dan menentengnya berjalan keluar toko. Dengan sigap, seorang bodyguard menawarkan diri mengambil alih barang bawaan yang Nanda bawa.


"Maaf nyonya. Biar saya saja yang membawanya. Nyonya silahkan jalan duluan"


"Tidak usah pak. Saya ga repot kok"


"Maaf nyonya, ini sudah bagian dari tugas saya" bodyguard yang baik hati itu langsung mengambil paper bag besar dari tangan Nanda dan langsung membawanya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2