Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Keinginan Oma Ana


__ADS_3

POV EVAN


Setelah berpamitan dengan Nanda, Evan melajukan mobilnya meninggalkan Nanda yang masih berdiri di depan halaman rumahnya. Evan mengerutkan dahi berfikir keras tentang Nanda, wanita yang sudah berhasil membuatnya penasaran. Entah faktor apa yang sudah membuatnya seperti ini. Apakah karena kedekatan Nanda dengan Alvin atau memang murni rasa penasaran Evan terhadap diri Nanda, entahlah. Yang jelas, saat ini Nanda sudah berhasil singgah di pikiran Evan.


"Nandaa..." Evan tertawa kecil ketika tanpa sadar bibirnya sudah menyebutkan nama seorang perempuan.


"Gue penasaran sama ini cewek. Dia itu bodoh atau memang terpaksa bodoh? Dia tau Alvin punya pacar, tapi kenapa dia masih mau tinggal bersama? Ada apa ini? Apakah Alvin sengaja menindas ini cewek? Atau ada perjanjian kerjasama? Heeemmm.... Alvin.. Loe selain arogant, ternyata Loe lebih brengsek dari gue!!" gerutu Evan dalam mobil.


Sesampainya di rumah, Evan tidak langsung mandi membersihkan diri. Ia menjatuhkan diri di atas sofa empuknya dan menyandarkan kepalanya sejenak supaya lebih rileks. Evan memejamkan mata dan menarik nafas panjang.


Evan langsung membuka matanya lebar-lebar. Syok sekali ketika ia menyadari saat matanya terpejam, wajah Nanda saat itu juga muncul di pikirannya. Wajah manisnya yang tersenyum manja terlintas jelas di pelupuk matanya.


"Nandaaa... Oh ya Tuhaaann... Ada apa ini?" Evan memijit pelan pangkal hidungnya. Dihembuskannya nafasnya perlahan untuk mengembalikan suasana hatinya yang tiba-tiba berantakan.


***


Mobil Alvin melaju dengan kecepatan sedang berjalan menuju rumah Oma untuk memenuhi undangan makan malam bersama. Di dalam mobil seperti biasa suasana terasa hening. Tidak ada percakapan sama sekali. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Alvin fokus mengemudi dengan tatapan lurus ke depan. Sedangkan Nanda lebih senang mengarahkan matanya ke arah samping dimana dirinya bisa memandang pemandangan jalanan.


Suasana jalanan malam itu tidak terlalu ramai, sehingga tidak terjadi kemacetan yang bisa membuat waktu tempuh menuju rumah Oma Ana menjadi lama.


Mobil Alvin sudah memasuki pelataran halaman rumah Oma Ana yang luas. Alvin dan Nanda turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Di pintu mereka sudah disambut oleh Markus kepala assistan rumah tangga.


"Selamat malam Tuan Muda, selamat malam nyonya" sapa Markus dengan sopan. Tubuhnya membungkuk tanda penghormatan kepada cucu sang tuan rumah. Alvin membalasnya dengan sebuah anggukan.


"Apa kabar pak Markus?" mulut Markus ternganga tak percaya Alvin membalas sapaannya dengan menanyai tentang kabar dirinya. Ini adalah hal langka yang tidak pernah Alvin lakukan sebelumnya.


"Sa-saya baik Tuan. Nyonya besar sudah menunggu anda di dalam. Silahkan..." Alvin berjalan menuju ke ruang makan diikuti Nanda di belakangnya.


Dan benar saja. Oma Ana, Hadinata beserta istrinya sudah bersiap di meja makan. Dua orang assistant rumah tangga tampak sibuk menata makanan dan minuman untuk para majikannya.


"Selamat malam Oma, Papa, Mama..." sapa Nanda canggung. Oma Ana mengangguk sambil tersenyum senang dengan kehadiran cucu dan menantunya. Beda hal dengan Mama Alvin yang hanya memandang sinis kepada Nanda.


"Kalian duduklah..." titah Oma Ana. Alvin dan Nanda menempati kursi yang sudah disediakan. Assisten rumah tangga dengan sigap membantu mengambilkan makanan lengkap beserta lauk dan sayur. Meski sudah tiga bulan Nanda menjadi menantu di keluarga Oma Ana, namun rasa canggung masih sangat kental dirasakan Nanda. Sikap kedua mertuanya yang masih dingin membuat Nanda masih sulit untuk bisa beradaptasi dengan baik di sana. Nanda masih merasa seperti orang asing di sana. Hanya ketika bersama Oma Ana saja, Nanda merasakan kehangatan dari orangtua.


"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Oma Ana secara tiba-tiba di sela-sela makannya. Pertanyaan Oma Ana sontak membuat Nanda mematung. Nanda sengaja memilih diam, dan membiarkan Alvin saja yang menjawabnya.


"Lumayan" jawab Alvin cepat. Dengan waktu bersamaan, Mama Desiana tersenyum sinis. Wajahnya dengan jelas menampilkan raut wajah jengah setengah mengejek. Dan lagi-lagi Nanda hanya mampu diam dan menundukkan pandangannya ke piring.


"Aku dengar kalian pulang lebih awal. Kenapa cepat sekali?" tanya Oma Ana lagi.

__ADS_1


"Aku masih banyak urusan" jawab Alvin lagi. Oma Ana mengelap mulutnya dengan tissue dan menyudahi kegiatan makannya. Sementara yang lain masih tampak sibuk makan.


"Nanda..." panggil Oma Ana.


"Iya Oma"


"Malam ini kau dan Alvin apakah akan menginap di sini? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian"


Nanda tak kuasa menjawab pertanyaan Oma Ana. Nanda memandang ke arah Alvin memberinya kode untuk menjawab pertanyaan Oma nya. Namun nampaknya Alvin sengaja tidak merespon kode yang Nanda kirimkan untuk nya.


"Emm... Sa-saya... Saya terser.."


"Baik Oma, kami akan menginap di sini" Alvin dengan tiba-tiba menjawab pertanyaan Oma Ana. Nanda menatap Alvin nanar dan hanya bisa menghela nafas pelan menyikapi sikap Alvin yang spontan.


Oma Ana tersenyum senang mendengar jawaban dari kedua cucunya.


Selesai acara makan malam, Hadinata meminta Alvin untuk masuk ke ruang kerjanya. Sementara Nanda memilih mendampingi Oma Ana berbincang-bincang di ruang tengah sambil membantu Oma Ana merangkai bunga.


Desiana, mama Alvin dengan sikapnya yang sombong dengan tegas berpamitan ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaan kantor yang masih belum selesai. Oma Ana hanya tersenyum miris ketika melihat menantunya memilih pergi dan asik dengan dunianya ketimbang bergabung bercanda dengan menantunya. Oma Ana juga sangat menyayangkan sikap Desiana dimana menantunya itu sama sekali tidak menyapa Nanda yang kini sudah menjadi bagian dari hidupnya.


"Waahh, Oma sangat lihai merangkai bunga ya? Bunga-bunga ini jadi terlihat cantik sekali Omaa... Hhhmmmm.... Wangi lagi..." ucap Nanda memuji keterampilan tangan tua Oma Ana yang memang sudah sangat lihai merangkai bunga.


"Walaupun Alvin terlihat angkuh dan dingin, sebenarnya dia adalah cucu laki-lakiku yang sangat hangat dan penyayang. Jika dia menyukai sesuatu, dia akan menjaganya sepenuh hati. Aku ingat ketika dulu aku memberinya seekor anjing. Alvin memelihara anjing itu sampai besar. Mengajaknya bermain, memberinya makan dan memandikannya. Sampai suatu hari anjing itu mati. Alvin sangat sedih sampai-sampai dia tidak mau makan. Aku menawarkan jenis anjing lain sebagai pengganti anjingnya yang sudah mati. Tapi dia menolak dan tidak mau lagi memelihara anjing" Oma Ana menghela nafas sejenak untuk mengatur nafasnya. Nanda terdiam dan sesekali tersenyum merespon cerita Oma Ana yang mulai mengupas masa lalu cucu kesayangannya.


"Sama halnya dengan Celine, pacar Alvin. Aku rasa kau juga pasti sudah tau siapa dia. Mereka menjalin hubungan cukup lama. Sebenarnya aku juga tau kalau yang Alvin sukai bukanlah Celine. Tapi entah kenapa, Celinelah yang menjadi pacarnya Alvin. Aku ini bukan orangtua bodoh yang percaya begitu saja. Aku mencium aroma tidak baik dari hubungan mereka. Makanya aku kekeh tidak merestui Alvin menikah dengan Celine dan malah menikahkan cucuku denganmu Nanda. Walaupun kamu bukan berasal dari keluarga kaya, tapi hatimu sangat kaya. Sejak pertama aku bertemu denganmu, aku sudah tau bagaimana kepribadianmu. Alasan itulah yang menjadikan aku mantap menyerahkan cucuku kepadamu" Nanda yang semula fokus memperhatikan dan mendengarkannya cerita Oma Ana tentang Alvin seketika langsung salah tingkah ketika Oma Ana memuji dirinya secara terang-terangan. Nanda tertawa kecil dan langsung menyanggah pujian yang baru saja ia terima.


"Ah, Oma bisa aja. Saya tidak sesempurna yang Oma pikiran. Saya masih harus belajar banyak untuk mengenal dan memahami Mas Alvin" ucap Nanda menahan malu.


"Aku cukup senang dengan perubahan sikap Alvin. Sejak menikah denganmu, sikap kasar Alvin sudah banyak berkurang" Oma Ana hanya tersenyum simpul dan begitupun juga dengan Nanda. Garis keriput wajahnya makin ketarik ketika ia tersenyum. Namun wajah Oma Ana ketika tersenyum jauh terasa lebih teduh dan adem dibandingkan jika Oma Ana diam.


Alvin berjalan melintasi ruang keluarga dimana di sana sudah nampak Oma Ana dan Nanda yang sedang tertawa renyah sambil menata rangkaian bunga.


"Alviiinnn.... Kemarilah." titah Oma Ana. Alvin yang semula hendak naik ke lantai dua menuruti perintah Oma dan duduk di sofa dekat mereka.


"Kebetulan kalian sudah di sini. Aku ingin bicara"


Nanda dan Alvin duduk diam. Mata mereka fokus memperhatikan ke wajah Oma Ana.


"Alvin, Nanda... Kau bisa melihat bagaimana aku saat ini. Aku bukan lagi wanita muda yang masih kuat dan mampu menunggu lama. Tubuhku sudah renta. Dan aku tidak tau masih berapa lama lagi aku hidup. Aku sangat berharap sebelum aku dipanggil Tuhan, aku bisa melihat anak kalian terlahir di dunia ini" Nanda ternganga syok mendengar perkataan Oma Ana. Rasanya ingin sekali ia kabur dan bersembunyi yang jauh.

__ADS_1


"Oma ngomong apaan sih? Aku dan Nanda masih tahap perkenalan. Jadi dalam waktu dekat ini aku belum bisa memberimu seorang cicit" jawab Alvin mencoba memberi pengertian.


"Aku tau kalian belum menjalankan sebagaimana selayaknya hubungan suami istri. Itu hak kalian. Tapi kalian harus ingat, kalian itu suami istri. Masing-masing punya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Jadi, berhentilah bermain-main menjadi orang asing. Bukankah terasa aneh tinggal dalam atap yang sama tapi bersikap seperti orang asing?"


"Maaf Oma, aku ngantuk. Aku ingin ke kamar." tanpa sungkan dan basa basi, Alvin beranjak dari duduk dan berlalu begitu saja menaiki anak tangga ke lantai dua menuju kamar pribadinya. Nanda merasa sangat canggung sekali berada dalam posisi seperti ini. Tidak ada kata atau kalimat yang bisa ia ucapkan sebagai pembelaan dirinya atau sebagai perwakilan suaminya. Hanya tatapan pilu yang bisa Nanda lakukan.


"Maafkan aku Oma, mungkin keinginan mu ini selamanya tidak bisa aku berikan. Karna setelah dua tahun ini, aku dan mas Alvin akan bercerai" ucap Nanda dalam hati.


"Maafkan kami ya Oma" akhirnya hanya kalimat maaf saja yang bisa Nanda ucapkan. Oma Ana tersenyum sambil mengangguk.


"Pergilah... Sana susul suamimu"


"Saya disini saja Oma. Saya masih mau menemani Oma. Rangkaian bunga kita kan belum selesai"


"Tidak usah dilanjutkan. Kau istirahat saja. Aku juga sudah lelah." Oma Ana bangkit dari duduk dan bergerak perlahan menuju kamar.


"Nanda bantu ya Oma" Nanda membantu dengan menjaga gerakan langkah Oma Ana menuju kamar. Setelah memastikan Oma beristirahat, Nanda keluar dari kamar Oma Ana.


Kini Nanda diliputi rasa galau. Apa yang harus ia lakukan malam ini. Sangat risih rasanya kalau ia harus masuk ke dalam kamar Alvin. Namun ia juga pasti akan malu sendiri kalau ia memilih tidur di sofa ruang keluarga Oma Ana yang sangat luas.


Dengan langkah ragu dan sungkan, Nanda akhirnya memberanikan diri untuk memasuki kamar pribadi Alvin. Kamar yang dulu pernah ia tempati bersama suami statusnya.


Nanda mengetuk pintu kamar Alvin perlahan. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Dicobanya dibuka gagang pintu. Ternyata tidak terkunci. Nanda masuk perlahan.


Mata Nanda tertegun ketika mendapati Alvin duduk masih dengan baju lengkapnya dengan tangannya menggenggam segelas anggur merah favoritnya. Nanda menghela nafas pendek mencoba menenangkan dirinya menghadapi Alvin.


Nanda berjalan perlahan mendekati Alvin yang terdiam. Meski rasanya sangat sungkan, tapi Nanda tetep harus memberanikan diri untuk berbicara dengan Alvin.


"Mas Alvin..." Alvin tidak menjawab. Hanya tatapan matanya menatap tajam ke arah Nanda.


"Aku boleh ya pinjam bajumu lagi... A-aku ga punya baju di sini" mendengar kalimat permohonan Nanda yang canggung membuat Alvin tersenyum mencela.


"Terserah" Nanda menghela nafas panjang menahan emosi yang hampir menyeruak. Jawaban tak ikhlas Alvin memang membuat gatal telinga.


Nanda tidak mengambil pusing sikap dingin Alvin. Dibukanya lemari besar Alvin dan dipilihnya satu kemeja Alvin yang ukurannya agak panjang. Kemudian Nanda bergegas berganti pakaian sekaligus mencuci muka di kamar mandi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2