Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Dirampas Paksa


__ADS_3

Tangan Alvin mengepal kencang menahan emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun kepalanya. Ketidak sengajaan dirinya mengintip dari balik jendela ternyata telah berhasil membuat matanya harus menyaksikan pemandangan menyebalkan yang membuat dirinya terjebak ke dalam amarah yang membara.


Entah kenapa ketika mata Alvin melihat Evan yang dengan lancangnya sudah berani mencium istri statusnya di depan rumahnya, dengan spontan amarahnya muncul dan langsung membesar. Evan seakan dengan terang-terangan telah berani membangunkan singa tidur yang kelaparan.


Api kebencian yang sudah lama surut, kini seakan tersulut lagi dan mulai membesar kembali. Alvin merasa tidak rela barang miliknya akan diambil Evan untuk yang kedua kalinya. Cukup sekali Evan menggores luka. Kali ini, Alvin akan mati-matian menjaga barang miliknya meski baginya, Nanda bukanlah sebuah mainan yang berharga.


Mata Nanda menatap tajam ke arah wajah Alvin yang sudah menggelap. Tatapan mata ketakutan dan was-was. Kali ini Nanda benar-benar merasa takut dengan raut wajah Alvin. Pasalnya kali ini Nanda sudah terlalu jauh berhubungan dengan Evan.


Alvin berjalan perlahan mendekat ke arah Nanda yang masih bersender di daun pintu. Wajah Nanda memucat. Tidak ada raut wajah ramah sama sekali yang ditunjukkan Alvin. Yang ada hanyalah raut wajah menakutkan mirip seperti pembunuh berdarah dingin.


"Ma-Mas Alviiiin... Ka-kamu belum tidur?" ucap Nanda berbasa basi. Kalimat impulsif yang terlontar begitu saja karna rasa panik yang tersemai.


Alvin tidak menjawab pertanyaan Nanda. Masih dengan tatapan dinginnya, Alvin menyentuh dagu Nanda mendongakkan nya ke atas sehingga membuat Nanda lebih fokus menatap wajah Alvin.


"Bagaimana rasanya dicium sama dokter muda yang tampan, hem? Apakah nikmat?" Nanda hanya terdiam dengan kalimat cela yang Alvin lontarkan. Tidak ada gunanya menjawab. Toh Alvin juga tidak akan suka atas jawaban dirinya.


"Aku capek Mas. Maaf" Nanda menepis tangan Alvin dan mencoba kabur dari belenggu Alvin.


Tangan Alvin dengan cepatnya mendorong kembali tubuh Nanda dan kembali tersender di daun pintu.


"Kenapa harus Evan? Kenapa bukan laki-laki lain? Oohh... Atau kamu memang tidak mampu mencari laki-laki lain yang lebih kaya dari aku?" mata Alvin menatap lekat ke bola mata Nanda. Tatapan tajam yang perlahan berubah menjadi tatapan mencela. Nanda menelan kembali lativanya mengumpulkan seluruh keberanian nya menghadapi suami statusnya yang garang.


"Memangnya kenapa kalau aku memilih Evan? Urusannya sama kamu apa? Kamu punya kehidupan sendiri. Dan aku tidak pernah mencampurinya" Alvin tertawa mengejek. Dan tawanya semakin membuat Nanda terpancing emosi.

__ADS_1


"Kamu memang tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadiku, Nanda..." suara Alvin sengaja dibuat pelan namun penuh tekanan yang membuat Nanda mulai merasa jengah dengan sikapnya.


"Kalau begitu kamupun juga sama. Kamu ga berhak mencampuri urusanku!!!" gertak Nanda mencoba melawan.


"Kalau laki-laki itu bukan Evan, mungkin aku tidak akan mencampuri urusanmu"


"Evan atau bukan, ITU BUKAN URUSANMU" suara Nanda meninggi. Sikap Nanda membuat Alvin semakin mengeratkan cengkraman tangannya. Nanda merintih menahan sakit dari eratan tangan Alvin yang sudah membuat lengannya terjepit.


"Aku tidak akan pernah membiarkan milikku dirampas lagi oleh manusia brengsek seperti dia. Termasuk kamu!!!"


"Aku ga ngerti maksud kamu mas. Ini sudah malam, tolong biarkan aku istirahat. Aku lelah"


"Kamu mau tau apa yang menjadi maksudku?" nada menggoda Alvin terdengar sangat menjijikan di telinga Nanda. Nanda menatap Alvin dengan tatapan penuh tanya. Berharap Alvin dengan segera menjelaskan semua unek-unek yang ada di dalam kepalanya.


"Mmmmmpppphhhhh......" Nanda mendesah syok. Mata Nanda terbelalak lebar sampai bola matanya seakan ingin keluar dari tempatnya.


Dengan cepat dan kasarnya Alvin langsung mendekap pinggang Nanda dan menyatukan bibirnya dengan bibir Nanda. Alvin ******* rakus bibir Nanda. Ciuman Alvin seakan-akan ingin menghapus bekas jejak bibir Evan yang sudah menempel di bibir Nanda.


Nanda berkali-kali berusaha mendorong tubuh Alvin jauh-jauh dari tubuhnya. Namun tubuh Alvin seperti batu besar yang sangat sulit untuk di geser. Tubuh Alvin tak tergeser sedikit pun. Ciuman Alvin semakin dalam dan panas. Alvin sama sekali tidak memperdulikan erangan, pukulan bahkan cakaran tangan Nanda. Alvin juga tidak memberi Nanda kesempatan untuk menarik nafas, yang akhirnya membuat Nanda berhenti memberontak dan berhenti meronta-ronta dan diam menikmati ciuman Alvin yang tidak bisa ia nikmati.


Lumayan lama Alvin ******* habis bibir Nanda. Setelah dirasa puas, Alvin melepaskan tubuh Nanda. Alvin tersenyum mencela penuh kepuasan ketika melihat Nanda yang terbatuk-batuk dan terengah-engah karna perbuatannya. Nanda memang tidak ahli dalam berciuman. Karna Nanda memang tidak pernah berciuman dengan laki-laki manapun sebelumnya. Bibir Nanda sampai bengkak karna ulah Alvin.


Nanda menatap geram ke arah Alvin. Tatapan penuh kebencian yang teramat sangat. Mata Nanda memerah menahan tangis. Air matanya sudah mulai memenuhi kelopak matanya.

__ADS_1


Pplllaaaakkkk....


Sebuah tamparan yang cukup keras berhasil mendarat di pipi Alvin. Alvin tidak berkutik. Tamparan itu memang pantas untuknya.


"AKU BENCI SAMA KAMU !!"


Nanda berlari masuk ke dalam kamar. Di bantingnya keras pintu kamar yang membuat suara gaduh yang cukup keras. Alvin menyentuh kembali bibirnya yang masih basah. Senyum sinis tersungging di bibirnya. Ada rasa puas yang sulit dijelaskan kata-kata.


Nanda membantingkan tubuhnya di atas ranjang dan membenamkan wajahnya di sana. Air matanya mengalir deras. Pikirannya kalut dan kacau. Kejadian malam ini benar-benar telah meremukkan hatinya. Perlakuan kasar Alvin sungguh tak bisa dimaafkan.


***


Di kamar Alvin


Alvin duduk termenung bersender di sofa dengan satu tangan menyangga dagu. Bayangan atas perlakuan impulsif nya terhadap Nanda masih terlintas jelas dipelupuk mata. Entah kenapa dirinya bisa terpancing emosi dan bahkan tersulut amarah melihat Evan mencium istri statusnya itu. Mungkin karna dendam masa lampau dirinya kepada Evan yang masih ada membuat segala sesuatu yang berkaitan dengannya spontan membuat dirinya kesal dan marah.


Alvin mengacak rambutnya dengan kasar dan kembali teringat wajah Nanda yang penuh amarah. Alvin tersenyum kecil sambil mengusap pipinya mengenang tamparan lumayan keras dari Nanda. Tamparan Nanda memang lumayan terasa sakit namun anehnya Alvin tidak kesal sama sekali atas kejadian itu. Yang ada rasa senang dan puas yang kini sedang menguasai jiwanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2