Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Kalah Start


__ADS_3

Nanda benar-benar mengunci diri di dalam kamar. Bahkan Nanda juga tidak keluar kamar untuk makan malam. Alvin hanya menghela nafas ketika dirinya tidak menemukan menu makan malamnya di meja. Alvin hanya bisa mendengus pelan meratapi sikap Nanda yang sedang kesal kepadanya.


Alvin membuka kulkas, diambilnya sebuah minuman kaleng bersoda ringan dan kembali lagi ke kamarnya.


Dddrrrtt... Ddrrrrttt...


Nanda melirik lemas ke arah ponselnya.


Evan Calling...


Enggan sekali rasanya untuk menerima panggilan masuk dari Evan. Selain karna suaranya yang berubah sembab karna efek tangisannya, saat ini Nanda hanya ingin merebahkan tubuhnya bermalas-malasan di atas ranjang tanpa gangguan dari siapapun. Diabaikannya telpon masuk dari Evan.


Ponsel Nanda berdering lagi. Nama yang sama tertera jelas di ponsel Nanda. Dengan rasa malas, akhirnya Nanda menerima telpon masuk dari Evan.


[Haloo...] sapa Nanda lirih.


[Nanda... Kamu sakit? Kok suara kamu agak beda?] Evan memang jenius bisa langsung menebak kondisi Nanda yang berbeda


[Enggak kok, Kak. Aku ga kenapa-napa]


[Beneeerr??] ucap Evan curiga.


[He-em. Kak Evan telpon aku ada apa?]


[Aku mau ajak kamu makan malam? Bisa?]


[Lain kali saja ya Kak]


[Kenapa? Kamu takut Alvin tidak mengijinkan kamu keluar denganku?]


[Bukan. Aku hanya sedang males saja untuk keluar rumah malam ini. Aku mau tidur cepat, besok pagi-pagi sekali aku sudah harus berangkat. Aku ada kelas pagi]


[Besok kamu aku antar ke kampus ya. Aku jemput kamu ke rumah]


[JANGAAANN...] pekik Nanda refleks.


[Kenapa?]


[Aku ga mau melihat kalian bertikai lagi hanya gara-gara aku]


[Gara-gara kamu? Maksudnya?]


[Pokoknya jangan. Aku lebih nyaman pergi sendiri]


[Hmm... Ya sudah kamu istirahatlah. Sampai jumpa besok]


[Bye Kak]


***


Pagi-pagi sekali mobil Evan sudah terparkir di depan halaman rumah Alvin. Evan sengaja menjemput Nanda. Mata Nanda terbelalak kaget ketika dirinya melihat Evan sudah berdiri menyender di samping mobilnya, dengan setelan jas rapih melempar senyuman manis ke arahnya. Nanda menelan lativanya dan sedikit gugup khawatir jika Alvin tiba-tiba keluar rumah dan melihat kejadian ini.

__ADS_1


Dan benar saja, tak berselang lama, Alvin yang sudah berpakaian tak kalah rapihnya dengan Evan, tiba-tiba keluar pintu bersiap untuk pergi. Wajah Alvin seketika menggelap ketika pagi-pagi matanya sudah disuguhi pemandangan tak mengenakan. Alvin melangkahi Nanda yang masih berdiri mematung di posisinya. Dengan tatapan tajam penuh permusuhan, Alvin melangkah mendekat menuju Evan berdiri.


"Berani sekali loe pagi-pagi sudah ada di depan rumah gue? Cari mati?" gertak Alvin menyapa tamunya. Evan hanya tertawa geli mendengar kata sapaan dari Alvin.


"Aku ke sini bukan ingin bertemu denganmu Alvin. Tapi aku mau menjemput Nanda" jawab Evan dengan nada yang ringan dan santai. Evan sama sekali tidak gentar dengan tatapan permusuhan yang ditunjukkan Alvin kepada.


"Menjemput Nanda" (Alvin tertawa mencela)


"Loe sopir barunya dia?"


"Yaahh... Anggap saja begitu" Alvin mengeratkan gigi gerahamnya menahan emosi dari jawaban Evan.


"Nandaaa... Kamu sudah siap?" Nanda tak berani menjawab. Hanya anggukan gugup yang bisa ia lakukan.


Evan dengan santainya membuka pintu mobil miliknya memberi kode agar Nanda segera memasuki mobilnya. Nanda mengarahkan pandangannya ke arah Alvin. Tatapan canggung dan bingung. Dihadapkan pada posisi seperti ini, Nanda lebih senang pergi sendiri dengan berjalan kaki ketimbang harus berada di tengah-tengah dua laki-laki yang justru membuat dirinya merasa sangat tidak nyaman.


Nanda menghela nafas sejenak lalu melangkahkan kaki menuju arah pintu mobil Evan yang sudah terbuka. Langkah Nandapun terhenti ketika tangan kekar Alvin dengan cepat menarik kencang lengan Nanda, mencegah langkahnya memasuki mobil Evan. Degub jantung Nanda berdetak tak beraturan ketika matanya saling beradu pandang dengan mata Alvin yang sudah menatapnya dengan tajam, mengisyaratkan larangan keras bagi dirinya mendekati mobil Evan.


Evan tertawa kecil melihat tingkah Alvin yang kekanak-kanakan. Sikap overprotektif nya hampir sama ketika dirinya masih bersama Jovita wanita pertama yang Alvin cintai yang walau akhirnya harus kecewa karena dihianati.


"Kamu ga perlu terlalu khawatir Alvin. Aku bisa menjaga Nanda dengan baik" ucap Evan santai namun masih terlihat elegant.


"Apa loe bilang? Menjaga dengan baik? Memangnya loe siapanya Nanda?"


"Mas cukup...!! Aku ga punya waktu buat dengerin perdebatan kalian"


"Kamu!! Masuk mobilku!!!" bentak Alvin kepada Nanda dengan nada penuh penekanan.


"Ingat Alvin, Nanda punya hak untuk memilih. Lagipula bukankah di hatimu sudah ada Celine?" perkataan Evan berhasil memprovokasi Nanda menjadi kesal. Telinganya sangat risih mendengar nama wanita yang sudah dengan terang-terangan mengibarkan bendera perang dengannya.


***


Cuaca hari ini cukup terik. Matahari sepertinya sedang bahagia menyinari alam dengan pancaran sinarnya yang sangat cerah menegaskan warna langit yang berwarna biru terang.


Mobil Pieter sudah terparkir di halaman luas rumah Oma Ana. Mobil sedan abu gelap keluaran Eropa edisi khusus dengan cat mobil yang sangat glossy, sudah pasti bisa menggambarkan dengan jelas akan sosok orang dari kalangan berkelas. Yups, Pieter adalah pengacara pribadi Oma Ana. Laki-laki elegant berusia lima puluh dua tahun sudah menjadi orang kepercayaan Oma Ana. Pieter sendiri sudah menjadi pengacara pribadi Oma Ana dua belas tahun lamanya. Meski umurnya sudah tidak muda lagi, namun wajah Pieter masih terlihat muda dan energik.


Marko mempersilahkan Pieter memasuki rumah dan mengantarkannya ke ruang kerja pribadi Oma Ana. Di sana sudah ada Oma Ana yang sudah menunggunya. Pieter setengah membungkuk sebagai tanda hormatnya kepada Oma Ana sebelum dirinya duduk bergabung dengan client VIP nya itu.


"Duduklah..." titah Oma Ana menyambut kedatangan Pieter.


"Baik, terima kasih Nyonya" jawabnya dengan sopan.


"Kau mau minum apa?"


"Tidak usah Nyonya. Saya baru saja ngopi di kantor"


"Hhhmmm.... Ya sudahlah. Kalau begitu, aku mau langsung ke pokok pembicaraan saja"


"Baik Nyonya, silahkan"


"Maksud dan tujuanku menyuruhmu datang ke rumahku adalah aku ingin kau membantuku menyalurkan dana yang sudah aku siapkan kepada orang-orang yang membutuhkan"

__ADS_1


Pieter mengangguk mengerti dengan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Oma Ana.


"Baik Nyonya, akan saya laksanakan perintah Nyonya. Dan untuk daftar calon penerima, apakah Nyonya sudah membuatnya?"


"Aku sudah membuat beberapa daftar calon penerima yang layak. Tapi, sepertinya, daftar yang aku buat jumlahnya masih terlalu sedikit. Kau bisa kan buatkan aku tambahannya lagi?"


"Baik Nyonya. Saya akan buatkan. Apakah ada kriteria yang Nyonya inginkan?"


"Hmm... Iya. Aku ingin kau buatkan daftar seluruh panti asuhan dan panti jompo yang ada di negeri ini. Kirimkan mereka bantuan uang yang cukup. Jangan biarkan para penghuni panti kekurangan makanan dan minuman. Berikan juga mereka pakaian yang layak. Kasihan, mereka para lansia dan anak-anak yang kurang beruntung harus tinggal di tempat itu dan tidak bisa menikmati hidupnya dengan baik"


"Baik Nyonya. Berapa total dana yang akan nyonya donasikan?"


"Sepuluh Milyar"


"Se-sepuluh Milyar??" Pieter membeo. Dirinya syok mendengar sejumlah nominal yang fantastik yang terlontar santai begitu saja dari mulut client wanita tua di hadapannya.


"Apakah Nyonya serius?" tanya Pieter memastikan.


"Hmm..." Oma Ana mengangguk penuh keyakinan.


"Baiklah Nyonya, saya akan segera mempersiapkan semuanya. Kalau begitu saya permisi dulu"


Setelah mendapatkan anggukan dari boss besarnya, Pieter melanjutkan tugasnya dan bergegas kembali ke kantor untuk merealisasikan tugas barunya.


***


"Terima kasih Kak Evan" Evan mengangguk sambil tersenyum.


"Hari ini aku mau ke sebuah laboratorium pembuatan kosmetik skin care. Mau ikut ga? Nanti di sana kamu bisa konsultasi langsung dengan dokter spesialis. Yah, kali aja kamu ada keinginan untuk merawat kulit wajahmu biar selalu kelihatan muda" Evan tertawa geli ketika tanpa disadari, Nanda memegang kulit wajahnya. Raut wajahnya juga berubah sendu.


"Kenapa? Kok diam?"


"Aku baru sadar, selama ini aku memang ga pernah memperhatikan kesehatan kulit wajahku. Soalnya perawatan wajah menggunakan teknologi skin care harganya lumayan mahal. Jadi aku ga pernah terpikirkan untuk membeli produk skin care" Nanda tertawa kecil menahan malu.


"Meski kamu ga pernah pake produk skincare, tapi kulit wajahmu tetap terlihat cantik dan mempesona. Kamu sederhana tapi mempesona. Dan aku suka dengan apa yang kamu miliki saat ini" Nanda mendadak kikuk dan sangat canggung. Hanya senyuman kecil sebagai ekspresi rasa malu yang terlukis di wajahnya.


"Bohong banget sih kamu kak. Aku tau kamu sedang menggodaku kan? Udah ah, aku turun dulu ya. Bye..."


Dengan cepat Evan menarik lengan tangan Nanda, dan mata keduanya pun saling beradu.


"Aku serius. Apa yang barusan aku ucapkan adalah benar dari hatiku. Jadilah kekasihku Nanda.." lagi-lagi kalimat Evan membuat Nanda tertegun. Kalimat permintaan untuk menjadi kekasihnya terulang lagi.


"Beri aku waktu Kak Evan. Aku belum siap membicarakan masalah ini dengan serius"


"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap" Nanda tersenyum senang sambil mengangguk.


"Aku turun ya Kak. Sekali lagi terima kasih" Evan hanya mengangguk menyetujui.


Di dalam mobil, Evan hanya bisa memandangi punggung Nanda yang berjalan menjauh dan menghilangkan dibalik kokohnya dinding gedung. Setelah menghela nafas pendek, Evan kembali melajukan mobilnya meninggalkan kampus dan kembali menuju kantornya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2