
Alvin diam termenung di kursi kerjanya. Tumpukan map yang harus ia tanda tangani sudah menumpuk di atas meja diabaikannya begitu saja. Kejadian semalam masih terbayang jelas di benaknya. Kejadian langka yang berhasil membuat konsentrasinya hari ini terpecah. Pergulatan panas semalam dirinya dengan istri statusnya telah berhasil mengalihkan pikiran dan dunianya kembali ke sosok wanita yang telah membuatnya bahagia semalam.
Alvin tidak pernah menyangka sama sekali kalau mamanya memiliki ide gila seperti semalam. Namun juga tidak bisa dipungkiri, kalau dirinya sangat senang menanggapi kelakuan Nanda yang menggila semalam. Rasa puas yang sulit diungkapkan dengan kata-kata bahkan rasa puasnya kali ini lebih terasa sangat berbeda.
Tanpa disadari, Alvin terlihat sesekali tersenyum dalam lamunannya. Sampai-sampai Alvin tidak mendengar suara ketukan pintu dari Dino asisten pribadinya.
Dino memperhatikan dengan seksama wajah Alvin yang tertangkap sedang melamun dengan sesekali tersenyum. Sepertinya boss nya ini sedang bahagia.
"Pak Alvin... " panggilan Dino tak terdengar di telinga Alvin. Mata Alvin masih terlihat kosong ke depan.
"Pak Alvin... " ucap Dino lagi. Dan kali ini berhasil membuyarkan lamunan Alvin. Dengan cepat Alvin memperbaiki posisi duduknya dan kembali menunjukkan sikap aslinya yakni, cool.
"Ada apa?" tanya Alvin sambil mendongakkan dagunya.
"Maaf pak, saya mau ambil berkas. Apakah sudah bapak tanda tangani?" Dino yang kikuk, menyengirkan deretan giginya agar boss nya tidak marah karna sudah mengganggu lamunannya.
"Ah iya. Sebentar. Kamu duduk dulu"
"Baik pak"
Alvin memusatkan kembali matanya dengan sederetan tulisan yang tercetak rapih dan membacanya sekilas lalu menanda tangani berkas-berkas tersebut. Dino memperhatikan boss nya dengan tatapan mata yang berseri-seri yang membuat Alvin risih olehnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum?"
"Ah, tidak pak. Saya hanya sedikit heran saja pagi-pagi melihat bapak sudah melamun. Sambil senyum-senyum pula. Bapak lagi senang ya..." goda Dino
"Jangan sok tau kamu. Nih berkas yang kamu minta" Alvin melempar berkas yang sudah ia tanda tangani ke arah Dino.
"Oia pak, jam dua siang nanti bapak ada jadwal meeting ya bersama Pak Hendra client kita dari PT. XXX"
"He-em. Sudah sana kembali kerja, jangan sok tau dengan urusan saya. Potong bonus mau kamu?"
"Jangan Pak !! Ok pak siap, laksanakan" jawab Dino dengan cepat dan langsung bergegas kembali ke mejanya. Dari pada gara-gara bercanda berujung potong bonus, Dino lebih memilih untuk menghindar segera dari si boss yang terkenal berdarah dingin.
***
Seharian ini Alvin melakukan aktivitas kerjanya seperti biasa. Bertemu dengan client, meeting bersama sampai makan malam bersama. Sampai-sampai Alvin harus pulang sedikit terlambat. Malam ini Alvin memang sengaja makan di luar bersama client. Dirinya tau pasti, kalau malam ini sudah pasti tidak akan ada makanan yang tersaji di atas meja makan. Istri statusnya sedang marah besar. Sudah pasti Nanda tidak akan sudi memasakkan makanan untuknya.
Alvin melemparkan jas nya begitu saja di atas sofa. Dipejamkannya matanya untuk meredakan rasa penat dan lelah di seharian bekerja. Suasana rumah sepi dan hening. Tidak nampak tanda-tanda kehidupan di sana. Mata Alvin menyusuri seluruh sisi ruang rumahnya. Hanya daa dinding dan perabotan rumah yang membisu.
Mata Alvin tertuju ke pintu kamar Nanda. Dengan melawan rasa malas, Alvin menyeret paksa kakinya berjalan menuju kamar Nanda.
Tuk... Tukk..
Alvin mencoba mengetuk pintu kamar Nanda. Tidak ada jawaban dari dalam. Alvin masih mencoba mengetuk pintu Nanda. Namun karna tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya Alvin memberanikan diri untuk menerobos masuk ke dalam kamar Nanda.
Klik...
Pintu kamar Nanda tidak terkunci. Alvin menerobos masuk menyusuri isi kamar Nanda sambil meneriakkan nama istri statusnya.
"Nandaaa..."
"Kamu di kamar mandi?"
"Nandaaa..."
__ADS_1
Lagi-lagi tidak ada suara sahutan. Dengan cepat Alvin membuka pintu kamar mandi. Namun di kamar mandi hanya ada dinding kosong yang dingin.
Alvin mendengus kasar. Entah kenapa dirinya tiba-tiba merasa sangat frustasi mendapati kamar istri statusnya dalam keadaan kosong. Alvin mencoba untuk sabar dan kembali ke kamar untuk membersihkan tubuhnya.
Tubuh Alvin sudah segar setelah disiram air dingin. Dengan masih mengenakan handuk kimono berwarna hitam, Alvin membantingkan tubuhnya ke sofa. Diambilnya ponsel miliknya yang tergeletak di atas ranjang. Jari Alvin menggerakkan layar ponsel mencari satu nama dan segera menekan tombol hijau.
Nomor yang hubungi sedang tidak aktif. Cobalah untuk beberapa saat lagi.
Alvin meremas gemas ponsel dalam genggamannya. Lalu dilemparkannya sembarangan di atas ranjang. Dengan emosi bercampur kesal, Alvin mengambil kaos oblong dan celana pendek. Untuk menghilangkan rasa penat, Alvin merebahkan tubuhnya di ranjang. Dipejamkannya matanya untuk merilekskan pikirannya dari segala kepenatan yang sedang ia rasakan.
***
Flashback Nanda
Dddrrttt... Dddrrttt...
Ponsel Vira mengalun merdu. Mata Nanda terbelalak tak percaya ketika dirinya membaca sebuah nama yang sangat familiar dan sudah lama tidak pernah menghubunginya. Dengan cepat, jari Vira pun langsung menekan tombol warna hijau dan menyapa ramah.
[Halooo... Nandaaaaa....Apa kabaarrr??? Ya Tuhaaan... Mimpi apa gue terima telpon dari elo..]
Nanda sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya ketika suara sapaan Vira terdengar menggelegar di telinga.
[Gue baik Vira. Loe apa kabar?]
[Gue juga baik. Nandaaa... Gue kangen banget sama elooo]
[Iya, gue juga kangen banget sama elo. Makanya gue telpon elo. Oia Vir, maaf nih. Loe sekarang lagi kerja atau di rumah?]
[Gue lagi off hari ini. Kebetulan banget loe telpon gue. Kita jalan yuk.. Ke Mall, atau ngopi-ngopi gitu? Gue traktir deh, Gimana?]
[Vira, gue boleh ke rumah loe ya...]
[Sekarang boleh?]
[Boleh dong...]
[Ok, gue ke sana sekarang ya]
[Ok beib. Gue tunggu yaa...]
Sambungan telpon terputus. Nanda bernafas lega karna telah mendapatkan tempat untuknya bisa menenangkan diri. Tanpa pikir panjang, Nanda mengemasi baju dan beberapa barang ke dalam tas ransel.
Sekitaran satu jam lebih sedikit, Nanda sudah sampai di apartemen Vira. Apartemen yang Vira sewa bukanlah termasuk apartemen mewah. Bisa dibilang apartemennya mirip seperti rumah susun modern. Namun apartemen ini cukup nyaman untuk ditempati. Harga sewanya juga masih terjangkau.
Nanda tidak perlu bertanya lagi tentang nomor apartemen Vira. Karna dulu sewaktu masih sama-sama bekerja di restoran cepat saji, Nanda sering menghabiskan waktu luangnya bersama sahabatnya itu.
Nanda menekan bel rumah Vira. Suara Vira terdengar sayup-sayup dari dalam meneriakkan untuk bersabar dibukakan pintu.
"Nandaaa...." pekik Vira sambil memeluk erat tubuh Nanda.
"Ayo masuk-masuk" titah Vira sambil mendorong lembut tubuh Nanda memastikan masuk.
"Loe mau minum apa Nda? Panas, dingin?"
"Apa aja boleh"
__ADS_1
Vira membuka kulkas dan mengambil dua kaleng softdrink berserta cemilan.
"Nih minum dulu" Nanda menerima dan mengangguk senang.
"Vir..." suara Nanda terdengar sendu membuat Vira menatap lekat wajah Nanda.
"Loe kenapa Nda? Gue liat kok kayaknya loe lagi sedih. Cerita dong... Gue siap buat dengerin"
"Maafin gue ya"
"Maaf untuk apa? Kok loe dateng tiba-tiba minta maaf?" Nanda tersenyum tipis menanggapi sanggahan Vira.
"Maaf karena gue dah lama banget ga pernah hubungin elo. Sekalinya ngubungin, gue malah ngrepotin elo"
"Ngrepotin apaan sih Nda. Masa iya temen jauh-jauh dateng trus gue merasa direpotin sih? Enggak sayaaangg...."
"Sebentar! Loe lagi ada masalah ya?" tebak Vira sambil menelisik wajah Nanda yang menunduk.
Nanda hanya mampu mengangguk pelan.
"Vira, gue boleh ga nginep di sini untuk beberapa hari?" Vira tertegun dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Nanda. Hatinya senang sahabatnya bisa tinggal bareng dengannya. Namun juga ada rasa penasaran tentang ada apa dibalik ini semua kenapa tiba-tiba Nanda ingin tinggal bareng dengan dirinya. Bukankah Nanda masih punya orang tua. Dan hubungan mereka juga sangat baik. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba Nanda ingin pergi meninggalkanku orang tuanya.
"Loe serius Nda, mau tinggal bareng sama gue? Trus orang tua loe nanti bagaimana? Loe lagi berantem sama bonyok loe?" Nanda tak menjawab. Hanya gerakan pelan gelengan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Vira.
"Ini ga ada hubungannya sama orang tua gue. Tapi gue belum bisa cerita banyak sama elo. Gue butuh tempat buat nenangin diri. Boleh ya Vir"
Mata Nanda mulai berkaca-kaca. Sepertinya beban hatinya saat ini memang sedang kacau. Vira merangkulkan lengannya dan memeluk Nanda membawanya ke dalam pelukan hangat. Ditepuk-tepuknya pundak Nanda untuk membantu menenangkan pikirannya.
"Loe boleh tinggal disini seberapa lamapun loe mau. Justru jujur gue seneng banget loe mau tinggal bareng sama gue. Gue jadi ada temen ngobrol kan setiap hari" Nanda mengangguk dalam pelukan Vira.
"Kalau loe mau nangis, ga usah ditahan Nda. Menangislah... Gue temenin" dan tak lama, airmata Nanda meluncur begitu saja dari penampungannya. Nanda menangis sesegukan menumpahkan kepenatan dalam hatinya. Dengan lembut, Vira mengelap pipi Nanda yang basah. Sekotak tissue di atas meja satu persatu mulai berkurang untuk mengelap airmata dan ingus Nanda. Vira sengaja membiarkan Nanda menangis sampai dirinya puas.
Puas menangis, kucuran airmata Nanda pun mereda. Perasaan Nanda cukup membaik setelah dirinya menangis. Vira merebahkan tubuh lemah Nanda di atas sofa. Membiarkannya untuk istirahat sebentar.
"Nanda, loe udah makan? Kalau belum, gue siapin makanan buat loe ya" Nanda menggeleng setengah sungkan.
"Nanti aja Vir. Gue belum kepengen makan. Gue mau tidur dulu ya sebentar. Kepala gue agak berat"
"Ok, loe tidur deh. Nanti kalau udah enakan, kita makan bareng ya"
Nanda merengkuh tangan Vira dan menatapnya tajam.
"Vira, terima kasih ya... Loe dah jadi Dewi penolong buat gue"
"Loe ini kenapa sih Nda. Jangan melow gitu napa. Gue risih tau. Udah sekarang loe tidur, jangan terlalu dipikirin masalah loe. Rileekkksss... Okay" Nanda tersenyum kecil sambil mengangguk.
"Kalau nanti suasana hati loe dah membaik, loe cerita ya... Siapa tau gue bisa ngebantuin loe" lagi-lagi Nanda hanya mampu tersenyum pelan. Sangat bersyukur sekali dirinya memiliki teman baik seperti Vira.
Ditariknya nafas dalam berkali-kali untuk bisa menenangkan hatinya. Nanda memejamkan matanya berusaha tenang. Walau dipikirannya masih tergambar dengan jelas kejadian kemarin malam dimana Alvin sudah merenggut satu-satunya harta berharga yang ia miliki dalam hidup.
Life must go on...
Itu hanya secuil teori yang sering dengan mudah diucapkan banyak orang. Namun realitanya tak semudah mengucapkannya. Hidup memang harus tetap berjalan. Tapi berjalan seperti bagaimana? Jika hidup dilingkupi rasa sesal dan frustasi apakah hidup akan bisa berjalan dengan semestinya?
.
__ADS_1
.
.