Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Rencana Oma


__ADS_3

Setelah menunggu sekitaran satu jam lamanya, akhirnya Alvin pun datang. Wajah lelahnya tak menghapus ketampanan wajahnya. Tubuh tegap Alvin tetap berkharisma dan sempat membuat Nanda yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya seketika mengalihkan pandangannya dan terpukau olehnya.


"Oma, aku sudah datang" ucap Alvin dengan wajah dinginnya.


"Heemm... Baiklah, ayo kita makan" Oma mengangguk senang dan beranjak dari duduknya berpindah ke meja makan.


"Sebentar Oma, biar Nanda panaskan lagi makanannya"


"Tidak usah. Makanannya masih hangat. Masih enak untuk dimakan. Ayo kita makan. Aku sudah lapar" Nanda hanya mengangguk pelan dan dengan canggung mengambilkan makanan untuk Alvin dan Oma.


Mereka menikmati makan siang dengan tenang. Hampir tidak ada suara dari ketiganya. Nanda juga ikut memilih diam dan menikmati makan siangnya yang terasa kaku.


"Aku sudah selesai. Aku akan langsung kembali lagi ke kantor" ucap Alvin setelah menghabiskan segelas air mineralnya.


"Aku sudah menyiapkan perjalanan bulan madu untuk kalian berdua" perkataan Oma Ana terlontar datar dan nyaris biasanya. Namun perkataannya mampu membuat Nanda dan Alvin syok mendengarnya. Nanda bahkan sampai tersedak dan batuk-batuk.


"APAAAA..." ucap Alvin dengan nada keras tak percaya.


"Kenapa reaksimu seperti itu? Bukankah selama ini kalian sudah tinggal bersama? Lagipula sejak kalian menikah, kalian juga belum pernah honey moon"


"Aku ga butuh honey moon. Pekerjaanku sangat padat" sanggah Alvin dengan cepat. Nanda menatap Alvin dengan pandangan ragu-ragu.


"Aku sudah siapkan semuanya. Jadwal penerbangan kalian adalah lusa. Pergilah... Besok orang-orangku akan datang ke sini untuk menjemput kalian"


"Oma... Tidak bisakah Oma berhenti mengatur kehidupanku? Selama ini aku sudah mengikuti kemauan Oma. Harus sampai kapan kau memperlakukanku seperti ini?" nada suara Alvin mulai meninggi. Emosinya mulai tak terkendali.


"Mas Alviiinnn.... " Nanda mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Alvin. Mata Nanda sedikit melotot sebagai isyarat Alvin untuk menurunkan emosinya.


"Aku sudah kenyang. Aku mau istirahat dulu" raut wajah Oma Ana terlihat sedih. Tanpa berbasa basi lagi, Oma Ana langsung beranjak dari duduk dan berjalan masuk menuju kamar.


Alvin mendengus kasar. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Yang pasti, hatinya sedang kacau. Alvin menatap ke arah Nanda sekilas lalu berdiri hendak pergi kembali. Nanda yang merasa harus meluruskan masalah ini, dengan cepat menahan Alvin agar tidak berlalu pergi begitu saja.


"Mas Alvin... Aku mau bicara" Alvin hanya menatap Nanda dengan pandangan sinis.


"Aku rasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan"


"Ada! Dan ini penting. Duduk!!" Alvin cukup terperangah dengan nada Nanda yang tinggi dan dengan kepercayaan diri yang tinggi berani sudah memerintah dirinya untuk duduk. Tapi entah kenapa, Alvin memilih menurut dan kembali duduk pada kursinya.


"Aku ga punya banyak waktu untuk mendengarkan basa basi" ucap Alvin sambil melirik ke arah jam tangan mewahnya.


"Mas... Please... Turunkan ego mu sedikiiiittt aja. Bersikaplah lebih arif kepada Oma. Dia orangtua yang paling berjasa dalam hidupmu. Walaupun menurutmu Oma itu otoriter, tapi setidaknya Oma itu sangat sayang dan perhatian sama kamu. Lembutlah sedikit. Kamu ini sudah dewasa. Bukan lagi anak-anak yang bisanya merajuk kalau keinginannya tidak terpenuhi. Apa kamu tidak lihat? Wajah Oma kelihatan sedih"


"Tau apa kamu tentang hidupku? Kamu ga perlu mengguruiku seperti ini. Kamu pikir kamu ini siapa bisa mengatur hidupku?"


"Dengar ya bapak Alviano Hadinata yang terhormat. Aku ini mungkin bukan terlahir dari keluarga kaya yang sederajat denganmu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat! Kamu sudah menikahiku dan menjadikanku sebagai istrimu. Jadi secara hukum agama dan hukum negara aku punya hak penuh atas diri dan kehidupanmu. Kau Mengerti!!!!" entah setan dari mana yang membantu Nanda melontarkan kata-kata gertakan penuh tekanan yang membuat Alvin tak mampu untuk membantahnya.


"Kaauuu...." Alvin mengepalkan tangan menahan emosi. Ia tak menyangka kalau Nanda mampu membuat dirinya tak berkutik di hadapannya.


"Jangan kamu pikir, disini yang menjadi korban hanya dirimu seorang. Aku juga tertekan dengan kehidupan rumah tangga palsu ini. Hidupku jadi ga bebas lagi seperti dulu. Tapi aku masih mau menjalani semua ini demi orang-orang yang aku sayangi. Jadi cobalah kamu sedikiiiitt saja bisa membuka pikiran kamu. Minimal untuk membalas budi jasa orangtua yang sudah menghidupimu selama ini. Sudah memberikan kemewahan dalam hidupmu"


"Jangan pernah samakan kehidupanmu dengan kehidupanku. Selamanya kau dan aku tidak akan pernah sama! Mengerti kamu!!!"


"Selamanya kita memang tidak akan pernah sama Alviano Hadinata. Pikiran kita memang tidak akan pernah seirama. Tapi selama kita masih berada dalam ikatan pernikahan palsu ini, selama itu pula kita akan terlihat sama. Mumpung Tuhan masih diberimu kesempatan untuk bisa membahagiakan orangtumu, maka berbaktilah. Walaupun itu hanya sekedar pura-pura. Aku ga keberatan menjalani rumah tangga palsu ini dengan berpura-pura terlihat romantis dan baik-baik saja di depan orangtua kita. Walaupun faktanya berbeda. Sampai nanti di batas waktu perceraian yang sudah kita sepakati, barulah kita berterus terang kepada orangtua kita. Setidaknya saat ini mereka tidak terlihat sedih karna ulah kita. Nantinya mereka juga akan menyadari kalau sebenarnya pernikahan kita tidaklah baik-baik saja seperti yang ada dalam pikiran mereka. Tapi setidaknya, kita tidak menyakiti hati mereka terlalu dini. Kamu paham kan maksudku?" Alvin terdiam, mencoba mencerna perkataan Nanda. Perkataan Nanda ada benarnya. Selama ini Alvin hampir tidak pernah membahagiakan orangtuanya terutama Oma nya. Selama hidupnya, ia selalu ingin orangtuanyalah yang harus selalu mengerti semua keinginannya. Semua keinginannya harus dipenuhi. Apapun itu. Dan orang yang selalu memanjakannya dan selalu mengabulkan keinginannya adalah Omanya.


Alvin mengacak-acak kasar rambutnya. Ada sebersit penyesalan kepada Omanya.


"Mas, besok lusa kita harus tetap pergi. Dan koper yang kita bawa adalah koper kosong" Alvin menatap tajam ke arah Nanda. Tatapan tajam penuh tanya.


"Koper kosong? Apa maksudmu?"


"Aku tidak mau kita mengecewakan Oma yang sudah baik kepada kita. Besok kalau orangnya Oma datang, kita biarkan mereka mengantar kita sampai bandara. Supaya mereka ga curiga, kita tetap boarding pass dan check in ticket. Mereka pasti hanya akan mengantar kita sampai depan lobby boarding saja. Ketika pesawat akan berangkat, kita ga usah masuk. Setelah itu kita bisa kembali pulang tanpa sepengetahuan Oma. Bagaimana?" Alvin mengangguk-anggukkan kepala. Baginya, ide nakal Nanda lumayan masuk akal.

__ADS_1


"Ok. Aku setuju" Alvin kembali bangkit dari duduknya sambil merapihkan jas nya ingin bersiap kembali ke kantor.


"Mas Alvin..." Alvin kembali menolehkan pandangannya ke arah Nanda.


"Selama di depan Oma, atau kedua orangtuaku dan mungkin di depan kedua orangtuamu, berpura-puralah kamu menikmati pernikahan ini. Jangan buat mereka kecewa. Pleaseee...." Alvin tidak menjawab permohonan Nanda. Hanya kerutan dahi dan picingan mata yang Alvin tunjukkan. Kemudian tak lama, Alvinpun pergi tanpa berpamitan kepada Nanda layaknya suami yang berpamitan kepada istrinya.


Nanda sendiri tidak mengerti dengan pasti arti dari sikap Alvin tersebut. Baginya, asal Alvin sudah mau mendengarkan perkataannya sudahlah cukup.


***


Sepergian Alvin, Nanda membereskan sisa.makanan dan mencuci pirinh-piring kotor. Diliriknya ke arah pintu kamarnya. Masih rapat dan hening. Sepertinya Oma Ana sedang menikmati tidur siangnya. Ataukah Oma sedang bersedih di dalam kamar? Entahlah. Nanda juga tidak berani untuk mengganggu.


Lelah bersih-bersih rumah, Nanda merebahkan diri di atas sofa panjang. Tubuhnya sangat lelah. Sepagian Nanda sudah memasak untuk sarapan bersama Oma lalu menemaninya berkebun dan langsung lanjut memasak lagi untuk makan siang. Ditambah lagi semalam tidurnya kurang berkualitas. Otot-otot tubuhnya terasa kaku dan pegal. Tak butuh waktu lama Nandapun terlelap dalam mimpi indahnya.


***


Nanda mengerjapkan mata ketika ada pancaran cahaya terang yang menembus kelopak matanya dan membuat sebelah tangannya harus menutupi kedua matanya yang terasa silau.


"Kenapa kau tidur di sofa Nanda?" tanya Oma Ana dengan raut wajah heran. Nanda beringsut bangun dan memaksa matanya untuk terbuka.


"Maaf Oma. Tadi saya hanya berencana rebahan sebentar. Ga taunya malah kebablasan tidur" Nanda menyengir malu. Diliriknya jam di dinding. Jarum jam menunjukkan pukul enam sore.


"Huft, kirain sudah pagi. Ternyata masih sore" gerutu Nanda dalam hati. Ia berharap matanya terbuka ketika matahari sudah terbangun dari peraduannya. Jadi ketika malam, dirinya tidak perlu bingung lagi untuk mencari tempat untuk tidur.


"Oma, saya mau mandi dulu ya" Oma Ana hanya mengangguk pelan. Nanda bergegas ke lantai atas, ke kamar Alvin untuk membersihkan dirinya.


Sekitar tiga puluh menit berlalu, Nanda kembali turun untuk menemui Oma Ana dan berniat untuk memasak makan malam mereka. Langkah kaki Nanda terhenti ketika hidungnya mencium aroma bakaran dari arah dapur. Nanda segera berlari turun untuk melihat keadaan.


Ketika sudah sampai di bawah, mulut Nanda ternganga. Matanya terperangah ketika di dapurnya sudah ada seorang koki laki-laki yang sedang sibuk memasak. Aroma masakannya tercium sangat harum dan menggoda lidah.


Nanda berjalan mendekati Oma Ana yang sedang asik menikmati acara televisi.


"Dia koki rumah yang sengaja aku minta untuk datang ke sini" jawab Oma Ana dengan santainya.


"Ooo... " Nanda tak mampu beragumen apa-apa lagi. Hanya anggukan kepala saja yang bisa ia lakukan. Mungkin masakan yang ia masak rasanya kurang sesuai dengan selera Oma Ana. Jadi Oma Ana sengaja memanggil koki profesional yang biasa memasak dan pastinya sesuai dengan seleranya.


"Jangan salah sangka dulu. Aku sengaja memanggil koki itu ke sini supaya kau tidak perlu capek-capek memasak setiap saat untukku. Lagipula kau juga butuh istirahat"


"Oma... Saya tidak pernah merasa lelah untuk memasak. Kalau untuk istirahat, saya juga bisa istirahat dengan baik dan cukup. Oma tidak perlu terlalu sungkan. Apapun yang Oma inginkan, bilang saja. Saya akan berusaha memberikannya untuk Oma"


"Benarkah? Kalau begitu, apakah kau bisa memberiku seorang cicit yang sehat?" pertanyaan Oma Ana benar benar menohok Nanda sampai tak mampu berkata.


"A-apaa?" dalam beberapa detik, Nanda mematung tertegun bercampur kaget mendengar pertanyaan Oma Ana. Sungguh tak pernah di sangka Oma bisa melontarkan pertanyaan itu dengan santainya.


"Hmmm... Aromanya wangi sekali. Oma, Nanda boleh ya nyicipi duluan masakan koki nya Oma. Sepertinya enak" Nanda sengaja mengalihkan pembicaraan ke makanan. Rasanya sungguh risih membicarakan masalah anak. Jangankan punya anak. Untuk bisa berbicara dengan tenang bersama Alvin saja sangat sulit, bagaimana sampai membuat anak?


Nanda benar-benar merealisasikan tujuannya untuk mencicipi masakan si koki. Bahkan tanpa disadarinya, Nanda memakan lumayan banyak makanan yang dimasak si koki itu. Masakan kokinya Oma Ana memang the best dan juara. Rasanya saaaangattt lezat. Tanpa terasa Nanda sudah menghabiskan dua porsi daging gril dan sabu sayuran. Dari kejauhan Oma Ana hanya tersenyum simpul sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Nanda yang sangat lahap menikmati makanannya.


"Bapak maaf, bapak sudah memasak banyak makanan. Apa masih belum selesai? Apa masih ada yang akan di masak lagi?" tanya Nanda disela-sela makannya. Si koki hanya tersenyum dengan pertanyaan polos nyonya mudanya. Tangannya yang cekatan masih sibuk bergerak gerak menyelesaikan kegiatan masak memasaknya. Nanda bahagia sekali bisa makan bersama koki profesional yang memasak langsung di hadapannya. Sungguh pengalaman yang belum pernah ia alami selama hidup.


"Masih nyonya. Masih ada satu menu lagi yang akan saya masak. Menu makanan kesukaan tuan Alvin"


"Makanan kesukaan Alvin? Apa itu?" raut wajah penasaran seketika melingkupi diri Nanda.



"Tom Yam Udang Pedas. Tuan Alvin dari kecil sangat suka menu makanan itu" Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya. Lidah Nanda seakan ikut bisa merasakan lezatnya Tom Yam Udang Pedas yang koki bilang. Rasanya sangat penasaran untuk bisa segera mencicipi hidangan terakhir yang sedang dimasak oleh si koki.


Saking semangatnya menikmati hasil masakan koki, Nanda sampai tak menyadari kehadiran Alvin yang sudah kembali dari kantor. Oma Ana memberi kode kepada Alvin agar tidak mengganggu Nanda yang sedang asik menikmati makanannya bersama si koki dan menyuruhnya langsung ke


kamar untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Kurang lebih tiga puluh menit berlalu, Alvin muncul menuruni anak tangga dengan pakaian casual santai dengan aroma fresh yang menyegarkan. Alvin berjalan santai ke arah Oma yang sedang duduk.


Nanda sudah kekenyangan. Rasa laparnya membuatnya lupa segalanya. Lupa dengan Oma dan juga Alvin yang sudah kembali dalam keadaan bersih. Kalau sudah menyangkut perut dan makanan enak, Nanda bisa melupakan apa saja. Baginya saat ini yang terpenting adalah bisa menikmati berkat Tuhan yang sangat besar. Makanan enak nan lezat. Nanda sangat bersyukur sekali dengan nikmat yang Tuhan berikan malam ini untuknya.


"Sudah kenyang?" Nanda terperanjat kaget ketika telinganya mendengar suara sinis laki-laki yang cukup familiar di telinganya. Nanda mendongakkan kepalanya ke arah suara. Alvin menatap Nanda dengan tatapan sinis dan dingin. Sedangkan Nanda tertawa nyengir menutupi rasa malu dan kagetnya.


"Mas Alvin? Kamu sudah pulang? Kok aku ga liat kamu masuk ya?" ucap Nanda berbasa basi.


"Enak makanannya?" bukannya menjawab pertanyaan, Alvin malah melontarkan kalimat mencela yang sarat meremehkan harga diri Nanda yang seakan Nanda baru ketemu makanan enak dan langsung menikmatinya sampai puas. Untuk menutupi rasa malunya, Nanda hanya mampu menganggukkan pelan kepalanya.


"Oia mas Alvin. Makanan kesukaan kamu sudah matang. Biar aku siapkan ya. Kamu pasti juga sudah lapar" Nanda segera bangkit dari duduk dan bergegas merapihkan peralatan makan serta ikut menyajikan makanan di atas meja.


"Ayo Oma makan dulu. Nanti keburu dingin ga enak" Oma Ana hanya menurut dan menempatkan diri di kursi meja makan.


"Pak koki, ayo kita makan bersama" celetuk Nanda ketika Alvin dan Oma akan memulai makan. Alvin menghentikan makannya dan menatap Nanda dengan geram. Sayangnya Nanda tidak memperhatikan raut wajah geram yang Alvin tunjukkan kepadanya.


"Terima kasih nyonya. Saya sudah makan tadi. Silahkan nyonya, tuan dan nyonya besar menikmati makan malam kalian. Saya permisi" Nanda menatap heran bercampur kasihan si pak koki yang langsung pergi begitu saja. Sudah capek masak tapi tidak ikut makan.


"Kenapa tidak sekalian kamu ajak semua orang untuk ikut makan di sini?" ucap Alvin geram sambil menatap tajam ke arah Nanda. Rasa kesal bercampur gemas mengalir deras keseluruh sel darah Alvin.


"Apakah aku salah kalau aku mengajak pak koki tadi untuk ikut makan bersama kita? Lagipula makanan disini juga banyak sekali. Dan yang lebih penting, si bapak koki itu pasti sangat lelah sudah memasak hidangan sebanyak ini. Dia pasti juga lapar."


"Heeeeiii.... Kalian kalau mau bertengkar, nanti kalian selesaikan di kamar. Sekarang makanlah. Aku ingin menikmati makanan ini dengan tenang" gertak Oma Ana penuh penekanan.


"Maaf Oma" ucap Nanda lirih.


Akhirnya Alvin, Oma Ana dan Nanda menikmati makan malam mereka dengan tenang. Seperti biasa, tanpa ada suara. Nanda meski perutnya sudah terasa kenyang, namun rasa kasian kepada makanan yang melimpah membuat hasrat makannya tetap masih ada.


Oma Ana menyudahi makan malamnya dan mengelap mulutnya dengan tissue. Alvin juga menyusul ikut menyudahi kegiatan makannya.


"Aku sudah selesai makan. Kalian pergilah ke kamar untuk istirahat lebih awal. Aku juga akan ke kamarku untuk beristirahat" Alvin mengangguk cepat tanpa membantah apa yang baru saja Oma Ana perintahkan. Tanpa berbasa basi, Alvin bergegas beranjak dari duduk dan hendak kembali ke kamar. Nanda sendiri masih terdiam dalam posisi duduknya.


"Kenapa kau masih di sini? Lekas susul suamimu" titah Oma Ana dengan penuh penekanan.


"Oh, sa-saya mau membereskan meja dulu Oma. Nanti saya menyusul. Oma silahkan kalau mau istirahat"


"Tidak perlu kau bereskan. Nanti ada orangku yang membereskan semua ini. Tugasmu yang utama adalah melayani suamimu dengan baik. Pergilah, susul suamimu !"


Titah Oma Ana membuat Nanda hanya mampu menelan ludah. Rasanya sangat canggung sekali harus menyusul Alvin ke kamar. Walaupun itu tidak akan mungkin terjadi.


Dengan langkah terpaksa, Nanda bangun dari duduk berjalan menaiki anak demi anak tangga menuju lantai atas. Langkahnya terasa lemas dan malas. Saat-saat seperti inilah yang sangat Nanda benci. Malam ini ia harus tidur dimana? Apakah dirinya harus tidur lagi di lantai? Sangat menyebalkan kenapa di lantai atas tidak ada sofa sama sekali? Padahal lantai atas masih banyak ruangan yang kosong. Apakah karna alasan jarang digunakan, maka Alvin sengaja tidak menyediakan kursi sofa di atas?


Klik...


Pintu kamar sudah terbuka. Tanpa peduli akan Nanda, Alvin langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar.


"Mas Alviinnn..." panggil Nanda agak kencang. Alvin pun menoleh. Tapi tidak ada senyuman atau wajah ramah di sana.


"Ada apa?" lagi-lagi suara Alvin terdengar ketus dan dingin.


"Emmm... Akuuu...." Nanda tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Maksud hati ingin meminta ijin untuk bisa menumpang tidur di kamarnya, tapi lidah Nanda terasa kelu. Rasa malunya mulai menyeruak keseluruh jiwanya.


"Ga jadi" lanjut Nanda mengakhiri kalimatnya.


"Dasar aneh" ucap Alvin sambil berlalu masuk tanpa memperdulikan Nanda yang masih terpaku karenanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2