Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Rencana Busuk Mertua


__ADS_3

"Baiklah, karna sudah malam kalian beristirahatlah. Mama juga sudah mengantuk. Kamar mama dan papa yang mana?" ujar Desiana dengan santainya. Nanda mengarahkan pandangannya ke Alvin yang terdiam pasif tanpa ekspresi.


"Kenapa kalian saling diam? Kalian tidak punya kamar kosong?" wajah Nanda seketika memucat ketika mama mertuanya sedikit meninggikan suaranya.


"Ah, bu-bukan ma. Ada kok" jawaban Nanda dengan gugup. Kedatangan kedua mertuanya otomatis membuat dirinya kelabakan untuk menyiapkan kamar untuk mereka. Rumah Alvin memang memiliki tiga kamar yang cukup besar dan satu kamar berukuran kecil di bawah. Namun kedua kamar itu kosong dan tidak ada ranjang di sana. Hal itulah yang membuat Nanda harus selalu mengalah memberikan kamarnya untuk digunakan secara mendadak seperti ini.


"Ya sudah tunggu apalagi? Yang mana kamar mama?" ucap Desiana dengan angkuhnya.


Nanda menelan lativanya dan menghembuskan nafas beratnya. Dengan berat hati Nanda beranjak dari duduk dan bergegas berpamitan sebentar kepada mama mertua untuk merapihkan kamar yang akan mereka gunakan sesaat lagi.


"Sebentar ya ma, biar Nanda rapihkan dulu kamarnya" tanpa menunggu jawaban persetujuan dari sang mama mertua, Nanda pun segera bergegas masuk menuju kamarnya. Di sana, Nanda segera merapikan seprai, posisi bantal dan buku-bukunya yang berserakan yang tadi ia gunakan untuk membuat tugas kuliahnya.


"Aduh aku kenapa ya? Kok badanku rasanya agak aneh" Nanda mengelap peluhnya yang mulai mengalir dipelipis kepalanya. Nanda merasakan keringat dingin yang mulai membasahi tubuhnya.


"Apa iya saking nervousnya aku ketemu mertua aku jadi keringetan begini? Tapi mamanya mas Alvin memang bikin merinding. Baru ngeliat matanya aja udah bikin aku gugup. Ya Tuhaaann... Malam ini aku tidur dimana? Huft..." ucap Nanda di dalam batinnya. Nanda meratapi kemalangan dirinya dimana malam ini sudah pasti dirinya akan tidur di lantai lagi seperti malam-malam lalu ketika Oma Ana menginap di rumahnya.

__ADS_1


"Mama, kamarnya sudah siap. Mama dan papa silahkan beristirahat" ucap Nanda dengan sopan tidak lupa dengan senyum manisnya yang terukir di sudut bibirnya.


Desiana tidak menjawab atau sekedar berbasa-basi mengucapkan terima kasih, dirinya langsung melangkahkan kakinya menuju kamar yang sudah Nanda siapkan disusul suaminya yang ikut mengekorinya dari belakang.


Nanda menatap ke arah Alvin berharap ada kebaikan Alvin untuk memberinya tempat untuknya tidur malam ini. Nanda sangat berharap Alvin mau mengalah untuknya malam ini saja dengan meminjamkan kamarnya agar dirinya bisa tidur dengan baik. Namun apa yang Nanda harapkan hanyalah angannya saja. Alvin tak menggubris sama sekali arti tatapan mata kesedihan dirinya. Bahkan dengan santainya Alvin berlalu begitu saja menaiki anak tangganya menuju kamarnya.


Nanda hanya bisa menghela nafas kesedihan. Di rebahkannya dirinya di atas sofa. Otaknya berpikir keras tentang bagaimana nasibnya malam ini. Nanda mencoba tenang menyenderkan punggungnya di sofa sambil memejamkan mata.


Mata Nanda terbuka kembali ketika dirasa detak jantungnya mulai berdetak tidak dalam irama yang wajar. Nanda memegangi dadanya sambil mencoba mengatur irama nafasnya. Rasa gatal yang datang secara tiba-tiba di daerah kewanitaannya sungguh terasa sangat menggelitik. Tidak biasanya ia merasakan hal seperti ini. Rasanya sungguh tidaklah nyaman. Aneh dan aneh.. Rasa apa ini ???


Nanda berlari ke toilet untuk membasuh muka dengan tujuan mengalihkan rasa aneh yang sedang ia rasakan kini. Nanda sengaja memasuh wajahnya dengan air yang cukup banyak sehingga membasahi baju bagian atasnya. Sesaat rasa aneh itu hilang. Nanda bisa bernafas lega. Diteguknya segelas air putih sebagai ganti cairan yang sudah keluar dari tubuhnya. Namun semakin Nanda minum justru membuat tubuhnya menghasilkan banyak keringat.


Nanda membantingkan tubuhnya ke sofa. Rasa aneh itu kembali datang. Nanda menggigit kuat bibir bawah ketika dirinya merasakan keanehan yang amat sangat di daerah kewanitaannya. Penyakit apakah ini? Otak Nanda berpikir keras akan hal ini.


"Loh, Nanda? Kok kamu masih di sini? Kenapa belum tidur?" suara Desiana seketika membuat Nanda terperanjat karna kaget. Terlihat wajah mama mertuanya yang terlihat kecewa karena melihat menantunya tidak menemani anaknya tidur di kamar dan malah asik menyendiri di sofa.

__ADS_1


"Sa-saya belum mengantuk Ma" jawab Nanda mencoba bohong.


"Suami kamu sudah masuk kamar. Harusnya kamu juga ikut masuk dong nemenin suami kamu. Bukan malah duduk sendirian di sini. Sudah sana masuk kamar. Sudah malam, jangan banyak begadang. Tidak baik buat kesehatan" ucap Desiana berlagak perhatian.


Desiana sendiri sebenarnya sangat muak harus berpura-pura perhatian seperti ini dengan menantu yang tidak diinginkannya itu. Jika karna bukan ada maksud membuat Nanda hamil, Desiana jaminan mutu tidak akan pernah sudi merendahkan dirinya untuk berpura-pura baik kepada menantu statusnya itu.


"I-iya Ma" jawab Nanda datar, malas berdebat.


Sial, ternyata mama masih belum tidur dan sepertinya sengaja memastikan gue sekamar dengan Alvin atau enggak. (Batin Nanda mengumpat)


Dengan berat hati Nanda melangkahkan kaki menuju lantai dua menuju kamar Alvin. Dari bawah Desiana masih memperhatikan langkah Nanda memastikan bahwa menantunya itu benar-benar masuk ke kamar anaknya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2