Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Kesepakatan


__ADS_3

Acara pernikahan telah selesai. Kini kedua mempelai pasangan ini telah berada di dalam sebuah kamar hotel mewah yang telah di pesankan khusus untuk keduanya. Nanda duduk termangu di depan cermin. Sedangkan Alvin sibuk melepaskan jas pengantinnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Jari jari Nanda perlahan mencopoti satu persatu pengait rambut yang menempel di rambutnya. Semua aksesoris juga ia lepaskan. Dipandanginya wajahnya yang menyedihkan di depan cermin. Ia harus sadar bahwa kini dirinya telah menikah dan telah menjadi nyonya Alviano Haditama. Seorang istri dari calon pewaris tunggal perusahaan terbesar di negara ini. Haruskah ia senang dengan pernikahan aneh ini? Ataukah ia harus meratapi kesedihannya seumur hidupnya?


Sebentar lagi ia harus dengan rela menyerahkan tubuhnya dan melayani suaminya dengan baik. Meskipun perlakuan itu karna sebuah bentuk keterpaksaan. Nanda menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya tak sanggup membayangkan kejadian mengerikan itu. Tak rela rasanya jika harus menyerahkan dirinya dalam kondisi seperti ini. Ini bukanlah sebuah mimpi indah yang pernah dipikirkannya selama ini.


"Cepat mandi" suara Alvin mengagetkan dirinya dan berhasil membuyarkan lamunan horornya. Alvin mengenakan handuk kimono berwarna hitam dengan handuk kecil dikepalanya yang ia gerak gerakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Diakui atau tidak, suaminya ini memang laki laki yang memiliki paras sangat tampan dan sempurna. Tubuhnya yang tinggi tegap, bentuk dada yang bidang dengan otot perutnya yang bergulir gulir, tulang pipi yang bagus dan kulit wajah yang bersih sungguh membuat dirinya sangat sempurna. Tapi sangat disayangkan, sikap dingin dan kakunya tak mendukung sama sekali dengan ketampanan wajah yang dimilikinya.


Nanda hanya mengangguk pelan tanpa suara, segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi ia kembali menatap sedih dirinya di cermin. Otaknya berpikir keras tentang kejadian mengerikan yang akan terjadi setelah dirinya selesai mandi. Nanda memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya berusaha tenang membuang pikiran sempit yang sudah mengganggunya. Dengan ragu di lepaskannya pakaian pengantinnya dan melarutkan dirinya di bawah pancuran air hangat yang menyenangkan untuk tubuhnya.


Nanda sengaja cukup lama bermain air di dalam kamar mandi. Tujuannya agar Alvin jenuh menungguinya dan memilih untuk tidur saja. Namun dugaannya salah. Sekeluarnya dari kamar mandi, matanya mendapati Alvin yang sudah mengenakan piyama tidurnya sedang duduk di atas ranjang dan tengah sibuk dengan laptop nya. Di malam pengantin seperti ini ternyata ia masih sibuk dengan pekerjaannya.


Nanda berjalan perlahan dan sedikit ragu. Ia mendudukkan dirinya di sofa kecil sambil mengeringkan rambut basahnya. Saat ini ia tak mengenakan lingeri sutra yang terlihat sexy yang sudah disiapkan oleh pihak hotel khusus untuknya, melainkan stelan piyama lengan pendek dan celana panjang miliknya sendiri. Selain karna memang dirinya tak pernah memakai jenis pakaian seperti itu, pakaian yang terbuka seperti itu bisa membuat dirinya terlihat rendah di mata Alvin.


Nanda menyibukkan dirinya dengan masih bermain dengan handuk dan rambutnya. Rasanya sangat canggung berada dalam kamar hanya berdua dengan laki laki yang belum ia kenal sepenuhnya. Meskipun laki laki yang kini ada di hadapannya adalah laki laki yang sudah menjadi suami sahnya.


Alvin menutup laptopnya dan meletaknya di meja kecil yang berada di sebelah ranjang. Matanya menatap tajam ke arah Nanda mengamati dan memperhatikan dengan seksama dirinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tatapan sinis dan dinginnya membuat Nanda hanya mampu terdiam dalam posisinya.


"Apa kamu senang dengan pernikahan ini?" pertanyaan Alvin terdengar sinis dan sangat jelas menyudutkan untuk Nanda. Seolah olah dirinya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan dirinya yang telah mampu mempengaruhi omanya untuk menikahi dirinya.


"Maksud kamu apa bertanya seperti itu?"


"Kenapa kamu malah balik bertanya? Bukankah memang ini yang kamu inginkan? Menikahi pria kaya supaya hidupmu ikut menjadi senang? Benar bukan?" Nanda sangat tersinggung dengan perkataan Alvin yang sudah secara terang terangan merendahkan dirinya.

__ADS_1


"Aku tak serendah yang kamu pikirkan. Tentang pernikahan ini, bukan aku yang menginginkannya. Tapi karna..."


"Kamu mau bilang karna Oma ku yang memintamu menikahiku?" Nanda tak mampu menjawab. Diam adalah pilihan yang tepat untuknya.


"Bukankah kamu memang sengaja memperalat aku agar hutang ayahmu lunas dan penyakit ibumu terjamin pengobatannya?" Nanda membulatkan matanya. Ucapan fitnah Alvin kali ini berhasil menyulut emosinya.


"Jangan sembarangan kalau berbicara. Kamu salah!! Justru akulah disini yang menjadi korbanmu."


"Korban kamu bilang? Korban macam apa yang kamu maksud? Apakah yang jika kamu bisa mendapatkan segalanya melebihi apa yang kamu bayangkan itu dinamakan sebagai korban?" ucapnya sambil tertawa sinis.


"Orangtuaku memang memiliki hutang yang besar di perusahaanmu. Dan ibuku memang memiliki penyakit yang memerlukan biaya cukup besar, tapi bukan berarti aku dengan sukarela merendahkan diriku untuk mau dinikahkan denganmu. Laki laki arogan yang menyebalkan"


"Apa kamu bilang? Aku laki laki arogan yang menyebalkan?"


"Kalau aku memang arogant dan menyebalkan, kenapa juga kamu mesti mau dinikahkan seperti ini denganku? Ucapanmu sungguh bertolak belakang dengan sikapmu"


"Aku rela melakukan ini semua sebagai ucapan terima kasihku untuk membalas budi dari orang baik seperti Oma Ana. Meskipun aku harus menghabiskan sisa waktuku selamanya bersama orang menyebalkan seperti dirimu" jawab Nanda tegas.


Alvin mengernyitkan dahinya dengan perkataan Nanda yang terdengar sangat percaya diri dan lupa diri. Nanda lupa bahwa Alvin sendiri juga belum bisa menerima dirinya sebagai istrinya. Namun dengan lantangnya ia melontarkan perkataan akan menghabiskan sisa hidup bersamanya.


(Alvin tertawa mengejek)


"Apa kamu bilang? Sisa hidupmu akan kamu habiskan denganku? Hei nona, apa kamu masih bermimpi dalam tidurmu? Banguuuunn..."

__ADS_1


"Pernikahan kita hanya sebatas pernikahan di atas kertas. Dan statusmu sebagai istriku juga hanya sebatas itu. Tidak lebih. Jangan pernah berharap kalau aku akan memberikan hatiku untukmu. Karna kamu bukanlah wanita yang aku inginkan. Kau mengerti!" Mata Nanda mulai terasa panas. Sekuat tenaga ia tahan agar airmata nya tidak lepas dari kantong matanya. Ucapan Alvin benar benar telah meremehkan dirinya. Apa yang diucapkan Alvin memang benar. Dan sudah seharusnya ia sadar diri akan siapa dirinya.


"Iya, aku mengerti. Sebelum pernikahan ini terjadi, aku sudah sadar diri. Aku hanyalah sebuah boneka yang harus mengikuti jalan cerita dari sang dalang." jawab Nanda cepat.


"Baguslah kalau kamu sudah mengerti posisimu. Dan kamu juga ga perlu kuatir. Aku ga akan pernah menyentuhmu. Lagipula aku juga tidak tertarik sama sekali dengan tubuhmu yang jauh dibawah standarku" kali ini ucapan Alvin sudah sangat merendahkannya. Dengan sikap percaya diri, Nanda sedikit mendongakkan kepalanya dan menatap mata Alvin dengan tatapan serius.


"Baguslah kalau begitu. Aku ga harus menderita menanggung beban sebagai istri yang tak di anggap olehmu. Aku juga bisa bebas kemanapun aku mau."


"Dan satu lagi... Pernikahan kita hanya akan berlangsung selama dua tahun. Setelah itu, aku akan segera menceraikanmu." Nanda tak mampu langsung menjawab. Otaknya masih berpikir keras untuk mencerna perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Alvin. Pernikahan mereka hanya akan berlangsung selama dua tahun? Setelah itu mereka akan bercerai. Dan dirinya akan menyandang status janda. Seorang janda yang masih dengan keperawanannya.


"Ok. Sepakat" jawabnya sambil mengangguk.


Nanda beranjak dari duduknya menuju ke sofa panjang yang berada ruang sebelah kamar. Sofa dari kamar hotel President Suite ini cukup besar dan cukup nyaman untuk ditiduri. Jadi Nanda tak perlu bingung untuk mencari tempat yang bisa ia tiduri malam ini.


"Kamu mau kemana?" langkah kaki Nanda terhenti dengan pertanyaan Alvin yang terdengar mencurigai dirinya.


"Aku lelah. Aku mau tidur. Ranjang ini untukmu saja. Aku akan tidur di sofa ruang sebelah. Selamat malam" Nanda melanjutkan langkah kakinya menuju sofa tanpa memperdulikan tatapan Alvin yang memandanginy dari belakang.


Nanda merebahkan tubuhnya di atas sofa besar ruang sebelah kamar. Dua buliran hangat mengalir begitu saja dari kedua pipinya. Malam ini ia cukup bersyukur dengan perbincangan yang baru saja terjadi. Dan mulai malam ini ia harus bisa menata hatinya untuk terus sadar diri akan siapa dirinya dan tidak pernah menggunakan perasaan nya sama sekali.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2