
Pertunjukan kembang api sudah dimulai. Nanda bersorak kegirangan menikmati keindahan kembang api yang bermekaran di langit kota Paris. Orang-orangpun mulai memadati pelataran taman Menara Eiffel untuk ikut menikmati keindahan pertunjukan kembang api malam itu.
Kebanyakan dari mereka yang datang adalah pasangan-pasangan muda yang terlihat bahagia bersama pasangannya masing-masing. Ada juga pasangan yang datang sepertinya suami istri yang mungkin sedang merayakan Anniversary mereka atau mereka memang sengaja datang untuk mengulang masa indah pacaran mereka menikmati indahnya kembang api. Yang jelas, sebagian besar orang-orang yang datang terlihat bahagia dan sangat romantis. Bahkan banyak juga dari mereka yang tidak malu-malu mencium pasangannya di dalam kerumunan orang banyak.
Nanda menggaruk-garuk leher belakangnya yang tidak terasa gatal ketika matanya terasa sangat canggung harus menyaksikan sepasang anak muda seumuran dirinya berciuman sangat mesra tepat di hadapannya. Nanda menggigit bibir bawahnya merasa malu sendiri dan sekilas memandang ke arah Alvin yang terdiam di sebelahnya. Alvin membalas pandangan Nanda dengan tatapan tanya yang seolah-olah berarti bahwa Nanda juga menginginkan hal yang sama seperti yang dilakukan pasangan muda di depannya itu.
Nanda langsung membuang muka sebagai reaksi keras penolakannya atas arti tatapan mata Alvin kepadanya. Alvin tersenyum mencela dan kembali terdiam.
Ponsel Alvin tiba-tiba berdering.
'Celine Calling..'
Dengan sigap, Alvin segera pergi menghilang dari sisi Nanda untuk menerima panggilan telpon dari sang kekasih. Nanda sendiri masih asik menikmati keindahan kembang api bersama kerumunan orang banyak di sana. Para bodyguard masih dengan sigap berjaga-jaga mengawasi majikannya dari jarak yang masih aman.
[Halo Celine...] sapa Alvin
[Halo sayaaangg... Kamu dimana? Kok sepertinya ramai sekali?]
[Emm... Iya. Di sini ramai. Aku sedang menghadiri pesta]
[Pesta apa?]
[Pesta pernikahan relasi perusahaan] Alvin dengan tenangnya mengucapkan kata-kata bohong agar Celine tidak curiga dan menjadi marah kepadanya.
[Oohh... Pernikahan. Aku jadi kepengen punya pesta pernikahan yang meriah dengan kamu sayang]
[Sudahlah Celine. Kamu tidak perlu membahas masalah pernikahan kalau kamu saja masih di Amerika]
[Iya sayang, maafin aku ya... Aku kangen banget sama kamu... Aku kangen sama...]
[Sama apa?]
[Sentuhan kamu sayang... Aku selalu merindukan sentuhan kamu yang luar biasa] suara Celine yang manja dan sengaja dibuat mendesah membuat tubuh Alvin mulai terasa panas akan hasrat yang tertahan.
[Cukup Celine. Kalau kamu memang rindu, segeralah kembali]
[Iya sayang... Ini sedang aku urus percepatan kepindahanku ke Jakarta. Sabar ya]
[Kamu telpon aku ada apa? Apakah ada hal yang penting?]
[Eemmm... Ga ada. Aku cuma kangen aja sama kamu. Makanya aku telpon kamu]
[Hmm... Baiklah kalau memang tidak ada hal yang penting. Telponnya sudah dulu ya. Aku harus kembali bergabung dengan para clientku]
[Okay sayang. Bye... I love You....]
[Me too]
Alvin mengantongi kembali ponsel miliknya dan berjalan kembali ke tempat dirinya dan Nanda tadi berada. Mata Alvin celingukan mencari sosok Nanda yang tidak terlihat. Banyaknya orang-orang yang memadati taman, membuat Alvin merasa kesulitan menemukan Nanda.
Malam semakin larut, dan acara kembang api juga sudah selesai. Orang-orang sudah mulai meninggalkan tempat untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Taman mulai sepi, tapi Alvin dan bodyguard tidak bisa menemukan Nanda.
"Cari sampai ketemu" perintah Alvin.
"Baik tuan" Para bodyguard memutuskan untuk berpencar mencari keberadaan Nanda.
__ADS_1
Alvin mengacak rambutnya dengan kasar. Amarahnya mulai terpancing. Nanda sudah membuat hidupnya menjadi susah.
"Nanda, kemana kamu??? Pake ngilang segala. Menyusahkan saja" gerutu Alvin dengan geram. Matanya masih melihat-lihat seluruh sisi taman. Namun belum ada tanda-tanda Nanda ditemukan.
Yang jadi masalahnya, Nanda tidak fasih bahasa Inggris. Ditambah lagi, ini negara Perancis yang sama sekali sangat asing baginya. Kalau Nanda sampai tersesat, maka komplitlah sudah. Nanda pasti akan sangat kesulitan untuk bisa kembali ke hotel tempatnya menginap.
Di sisi lain, Nanda terduduk di sebuah bangku panjang di pinggiran jalan. Suasana malam sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang masih berlalu lalang. Nanda mulai panik. Ia tidak tau dimana saat ini berada. Awalnya, Nanda hanya sekedar berjalan-jalan menikmati pemandangan di sekitaran Menara Eiffel. Namun tak disangka dirinya ternyata telah berjalan cukup jauh dari posisinya semula ketika bersama Alvin tadi. Suasana sepi dan angin malam yang mulai dingin menusuk tulang sungguh membuat jiwa Nanda sangat tidak nyaman. Rasa takutpun mulai menyeruak.
"Mas Alviiinn... Kamu dimana? Maafin aku... Tolongin aku mas.. Aku takuutttt..." Nanda menggigit bibir bawah sambil memeluk erat kedua lengannya menahan rasa dingin yang mulai terasa menyakitkan.
"Hi sweetiiie..." Nanda langsung refleks menoleh ke arah suara. Dua orang bule Perancis dengan penampilan berantakan mencoba mendekati Nanda yang kelihatan panik.
"Don't disturb me, please" (Tolong jangan ganggu saya) ucap Nanda masih dengan tenang.
Bukannya pergi menjauh, dua orang bule malah tertawa senang dan makin mendekati Nanda. Nanda berdiri dan berjalan cepat menghindari kedua bule itu. Semakin Nanda mempercepat langkahnya, semakin cepat pula si bule itu mengejarnya. Nanda menepis dengan kasar tangan salah satu bule yang sudah berhasil menarik lengannya.
"Lepasiiinnn...!!! I was said don't disturb me!! You understand?"
"Come on dear... Don't be fierce as a girl. We just enjoy tonight together" (Ayo sayang... Jangan galak jadi perempuan. Kita nikmati malam ini bersama)
"Heeeellpppp...." Nanda mencoba berteriak meminta bantuan. Dan berhasil. Kedua bule itu seketika langsung panik. Tapi kepanikan mereka justru membuat Nanda semakin takut. Kedua bule itu berbalik mengancam dengan menyodorkan pisau kecil ke arah Nanda.
Tanpa pikir panjang, Nanda langsung menyodorkan tas kecil miliknya dan langsung melemparkannya ke arah si bule dengan tujuan setelah si bule menerima tas nya, mereka akan langsung meninggalkan dirinya. Tapi si bule itu bukannya pergi malah semakin menggila yang membuat Nanda semakin ketakutan luar biasa.
"Heii..." Nanda dan kedua bule menoleh ke arah suara laki-laki bertubuh tegap dengan kaos hitam dan jaket hitam telah berdiri di hadapan mereka. Wajah laki-laki ini juga lumayan tampan, tidak kalah tampannya dengan Alvin.
"Vous n'avez vraiment aucune honte d'avoir osé déranger une femme" (Kalian benar-benar tidak malu sudah berani mengganggu seorang wanita)
"Qui es-tu?" (Siapa kamu?) gertak salah satu bule.
"Tu n'as pas besoin de savoir qui je suis. Je vais appeler la police" (Kalian tidak perlu tahu siapa saya. Saya akan menelepon polisi) ucapnya sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
"Are you okay?" (kamu baik-baik saja?)
Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Masih ada sedikit rasa takut bertemu dengan orang asing yang baru. Siapa tau, laki-laki justru jauh lebih berbahaya dari bule yang tadi.
"Thank you" ucap Nanda cepat.
"Don't be afraid. I will not harm you" (Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu)
"Whats your name?" (siapa namamu?)"
"Vernanda. You can call me Nanda"
"Looks like you are not a real person here. Where do you come from?" (sepertinya kamu bukan orang sini. Dari mana asalmu?)
" I'm from Indonesia" jawab Nanda ragu-ragu.
"Aku juga orang Indonesia"
"Terima kasih Tuhan... Akhirnyaaa..." Nanda menarik nafas lega ketika akhirnya dirinya bisa bertemu dengan orang yang memiliki tanah air yang sama dengannya.
"Terima kasih ya kak, tadi kakak sudah nolongin saya."
"Hmm... Sama-sama. Kamu kenapa bisa tersesat sampai di sini? Di tambah lagi, pakaianmu ini terlalu sexy. Dengan pakaianmu seperti ini, akan banyak laki-laki brengsek yang akan mengganggumu. Salah satunya seperti bule yang tadi. Pakai ini" Laki-laki asing ini membuka jaket hitamnya dan mengenakannya di tubuh Nanda. Nanda hanya terdiam. Wajah Nanda seketika memerah menahan malu. Malu sekali ketika ada laki-laki asing yang mengomentari pakaiannya dengan sangat detail. Tapi apa yang diucapkan laki-laki ini memang benar. Pakaian yang dipakainya saat ini memang gaun malam yang terlihat sexy.
__ADS_1
"Kalau dilihat dari penampilanmu, sepertinya kamu berasal dari keluarga yang lumayan berada. Karna, gaunmu ini termasuk gaun yang lumayan mahal di kota ini. Oia, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kamu bisa tersesat sampai di sini?"
"Aku ga tau kak. Awalnya aku sedang berada di taman dekat Menara Eiffel sambil menikmati pertunjukan kembang api. Lalu karna temanku sedang menerima panggilan telpon dan aku menunggunya cukup lama, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan sekitaran Menara Eiffel ini. Tapi ternyata aku terlalu jauh jalan-jalannya. Dan aku tersesat sampai di sini"
"Ya sudah, kalau begitu aku antar kamu kembali ke taman dekat Menara Eiffel. Siapa tau temanmu masih mencarimu di sana, ok?" Nanda mengangguk senang dan berjalan menurut perlahan di samping laki-laki ini.
"Maaf kak, boleh saya tau siapa nama kakak?"
"Evan" Nanda tersenyum simpul sambil menganggukkan kembali kepalanya.
"Kak Evan sudah lama tinggal di kota Paris?"
"Lumayan. Dua tahunlah"
"Ooooo...." lagi-lagi Nanda menganggukkan pelan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Kakak di sini kuliah atau kerja?"
"Dua-duanya" Nanda tersenyum simpul dan menyudahi perbincangannya, memilih diam dan berjalan mengikuti arah Evan yang berjalan di sampingnya.
Tak terasa mereka berdua sudah sampai di pelataran taman Menara Eiffel. Mata Nanda menyusuri semua sisi taman melihat orang-orang yang masih ada di sana. Namun matanya tidak menemukan sosok Alvin atau bodyguard Oma Ana. Apakah mungkin mereka sengaja meninggalkan Nanda seorang diri di sini? Sepertinya tidak mungkin. Oma Ana pasti akan marah besar kalau mereka sengaja melakukan hal itu.
"Nyonya Nanda.... Syukurlah kami akhirnya menemukan anda" dua orang bodyguardnya Oma Ana tampak berlari tergopoh-gopoh menghampiri Nanda. Salah satu bodyguard itu langsung menghubungi ponsel Alvin untuk memberi kabar perihal sudah diketemukannya Nyonya kecil mereka.
Tak lama berselang, Alvin bersama seorang bodyguard datang terburu-buru menemui Nanda yang sudah berdiri bersama Evan laki-laki baik yang sudah menolongnya.
"Nanda... Darimana saja kamu? Aku panik nyariin kamu !!!" ucap Alvin geram menahan rasa kesal. Namun dari nada bicara Alvin terbersit rasa khawatir dan senang akhirnya istri statusnya bisa ditemukan kembali. Yah, walaupun mungkin rasa senang itu hanya sebatas rasa senang akan tanggung jawabnya atas dirinya terhadap Oma Ana semata.
"Maafin aku ya Mas. Aku sudah bikin Mas dan yang lain jadi khawatir. Oia mas, kenalin ini kak Evan. Dia yang sudah nolongin aku dan anter aku ke sini"
"Evan?" ucap Alvin membeo.
Alvin menolehkan tatapannya ke arah Evan. Tatapan Alvin seketika berubah menjadi tatapan tajam dan garang penuh kebencian. Melihat Evan yang berdiri tegak dihadapannya membuatnya teringat kembali pertikaian pribadinya dengan Evan sepuluh tahun yang lalu dimana Evan sudah dengan lancangnya berani merebut dan memacari perempuan yang Alvin suka. Kisah cinta di awal kuliah yang masih terasa indah ketika Alvin bertemu dengan gadis pujaannya dan sudah dengan mati-matian berhasil mengejarnya, lalu dengan mudahnya gadis itu jatuh dipelukan Evan sahabatnya sendiri dan bahkan rela menyerahkan dirinya hanya untuk seorang Evan. Perasaan Alvin saat itu benar-benar hancur. Karna Jovita, gadis pujaannya saat itu adalah cinta pertamanya dan sudah berhasil menghancurkan hidupnya. Alvin juga tidak pernah menyangka kalau Evan bisa tega merebut wanita miliknya dan mengesampingkan persahabatannya hanya demi seorang wanita.
Berkat Celine, hidup Alvin kembali baik dan bisa menjalani kehidupan kuliahnya dengan lancar sampai Alvin berhasil menyelesaikan S2 nya sekaligus. Celine sangat perhatian dan telaten kepada Alvin, sehingga membuat Alvin bisa luluh kepadanya.
Meskipun kali ini Evan sudah berjasa mengembalikan istri statusnya kepadanya, tak lantas membuat Alvin menjadi ramah kepadanya.
"Jadi perempuan ini punya loe Vin?" ucap Evan setengah mengejek. Nanda terlihat sangat bingung ketika menyadari bahwa ternyata Alvin dan Evan sudah saling kenal sebelumnya.
"Ka-kalian sudah saling kenal?" baik Alvin atau Evan tidak ada yang menjawab. Nanda semakin bingung dibuatnya.
Alvin melepaskan dengan kasar jaket hitam yang masih dikenakan Nanda untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Dengan kasar pula, Alvin melemparkan jaket hitam itu ke arah Evan.
"Ambil kembali jaketmu" dengan cepat, Alvin membuka jas bajunya dan langsung mengenakannya ke tubuh Nanda. Nanda hanya terdiam melihat sikap arogant Alvin dan pasrah ketika Alvin mengenakan jasnya ke tubuhnya. Tidak ada senyuman sedikitpun di bibir Alvin. Yang ada raut wajah gelap yang menakutkan.
"Hei... Apakah seperti ini caramu berterima kasih kepadaku yang sudah mengembalikan wanitamu, hah?" ucap Evan dengan santai.
"Aku? Berterima kasih? Mimpi saja kau !!" jawab Alvin menahan kesal.
"Ayo pergi" ucap Alvin sambil menggandeng tangan Nanda pergi menjauh dari Evan. Para bodyguard masih berjaga sampai Alvin sudah berjalan menjauh dari sosok Evan.
Nanda menolehkan kepalanya ke arah Evan yang berdiri terdiam dan mematung. Ada beribu pertanyaan langsung memenuhi benaknya. Namun saat ini tidak mungkin bisa Nanda tanyakan kepada Alvin. Suatu hari nanti, pasti akan Nanda tanya tentang kejanggalan malam ini kepadanya.
.
__ADS_1
.
.