
"Dimana istrimu? Kenapa belum turun? Apa masih belum bangun?" tanya Desiana dengan santai sambil mengoles selai di atas roti.
Alvin menatap tajam wajah mamanya dengan tatapan dingin yang menantang. Alvin sangat kecewa dengan perbuataan sang mama yang sama sekali tidak mencerminkan orang yang berpendidikan baik.
"Apa yang sudah mama lakukan kepada Nanda?" tangan Desiana seketika terhenti. Sepertinya Alvin sudah menyadari akan perbuatan curangnya kepada Nanda. Namun meski demikian, Desiana tidak semudah itu mengaku.
"Melakukan kepada Nanda? Melakukan apa?"
"Jangan berpura-pura tidak tau. Katakan Ma... Racun apa yang sudah mama masukkan ke dalam minuman yang mama bawa untuk Nanda?"
"Racun? Maksud kamu apa? Mama ga ngerti?"
"Aku paham betul siapa mama. Sebenarnya apa tujuan mama melakukan semua ini, hah?" karna emosi, suara Alvin pun meninggi. Suara Alvin terdengar setengah membentak sang mama. Desiana dan Hadinata sungguh terkejut dengan sikap Alvin kepada mereka.
"Alvin!!! Jaga sikap kamu" hardik Hadinata tak terima Alvin membentak istrinya.
"Aku rasa, papa pasti sudah mengetahui rencana busuk mama bukan? Kalian ternyata sama saja"
Hadinata hanya menghela nafas berat. Wajahnya terlihat malu. Sangat berbeda dengan istrinya yang malah dengan terang-terangan menampilkan wajah jujur dan senang.
"Memangnya kenapa kalau mama melakukan hal ini? Bukankah kamu juga ikut menikmati hasil kerja keras mama?"
Tangan Alvin mengepal erat. Emosinya memuncak ketika kalimat ejekan terlontar jelas dari mulut sang mama.
"Lebih baik kalian segera pulang. Aku masih banyak urusan" Alvin beranjak dari kursi dan pergi berlalu begitu saja meninggalkan Mama papanya yang masih duduk termangu di meja makan. Alvin sama sekali tidak memperdulikan perasaan kedua orangtuanya. Raut wajah kedua orangtuanya diliputi kekecewaan yang sangat dalam karna mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari anak semata wayangnya. Anak yang sangat mereka sayang dan mereka manjakan dari kecil sampai sekarang, kini malah dengan lancangnya dengan terang-terangan mengusirnya dari rumahnya.
"Dasar anak tidak tau diri. Berani sekali dia mengusir kita" Desiana mengumpat kesal seraya menahan buliran air matanya yang sudah membendung di pelupuk matanya.
"Sudahlah sayang. Tahan amarahmu. Lebih baik kita pulang sekarang. Kamu bisa beristirahat dengan nyaman di rumah sendiri" bujuk Hadinata sambil menggenggam erat jemari istrinya.
***
Alvin mendapati Nanda sudah rapih mengenakan pakaian yang ia kenakan semalam. Nanda juga sudah melucuti seprai ranjang Alvin dan sudah menggantinya dengan seprai yang baru. Nanda tidak mengucapkan sepatah katapun ketika matanya bersirobok dengan mata Alvin. Nanda masih menampilkan raut wajah kesal, marah dan benci kepada sosok laki-laki yang sudah dengan sadar merenggut harta berharga satu-satunya yang ia miliknya.
"Kamu mau makan apa? Biar aku siapkan" ucap Alvin berbasa-basi.
"Tidak perlu. Aku tidak lapar" jawaban Nanda terdengar ketus membuat Alvin tidak nyaman dengannya. Namun Alvin berusaha untuk mengalah, menahan emosinya karna ia tau kalau saat ini suasana hati Nanda sedang tidak baik.
__ADS_1
"Masalah semalam..."
"Semalam tidak terjadi apa-apa" potong Nanda cepat.
"Nanda..."
"Semalam aku mabuk. Aku tidak ingat apa-apa"
"Nanda!" Nanda pun terdiam dengan suara gertakan Alvin.
"Tolong maafkan mamaku. Aku tau, kamu pasti tidak akan bisa memaafkan perbuatan orang tuaku. Tapi kalau semalam aku tidak membantumu dengan cara seperti itu, kondisi tubuhmu kamu akan jadi lebih parah"
"Aku ga percaya !! Itu hanya alasan kamu saja yang sengaja mengambil kesempatan dariku"
"Kamu bilang hanya sebuah alasan? Coba kamu ingat kembali apa yang kamu rasakan semalam? Ada rasa sangat tidak nyaman di bagian intim kamu bukan?" Nanda tidak mampu menjawab pembelaan dari Alvin. Karna apa yang Alvin ucapkan adalah benar adanya.
"Dan ketika aku membantumu, semua rasa aneh yang kamu rasakan hilang seketika. Benar kan?" lagi-lagi Nanda hanya bisa terdiam. Rasanya sungguh malu mengingat kejadian semalam.
"Kenapa kamu diam? Semua yang aku katakan tidak salah kan?" lamunan Nanda buyar seketika.
"Iya memang benar. Tapiii... Tidak seharusnya kamu membantuku dengan cara yang seperti itu. Kamu kan bisa memberiku obat yang bisa menghilangkan rasa aneh itu... Atau kamu bisa menolongku memanggilkan seorang dokter" mata Nanda mulai berkaca-kaca menahan rasa malu dan penyesalan yang mendalam.
"Apaaa? Obat perangsang??" Alvin mengangguk lemah. Dan seketika deburan ombak amarah menggulung memenuhi isi kepala Nanda. Nanda tidak terima dirinya diracuni seperti itu.
"Kalian memang keluarga yang jahat. Egois!!"
Walau suara Nanda meninggi dan terdengar membentak, namun tak sedikitpun membuat Alvin gentar. Alvin tetap santai dan tenang. Baginya kejadian semalam adalah sebuah hal biasa yang sering dilakukan oleh orang dewasa.
"Sebaiknya kamu mandi lalu makan. Aku harus ke kantor hari ini. Kamu lebih baik tidak usah ke kampus. Istirahat saja di rumah. Lagipula.. Milikmu pasti masih terasa perih bukan?" Alvin sengaja melambatkan ucapan terakhirnya seraya mengarahkan tatapan nakalnya ke arah bagian pribadi Nanda. Nanda tak menggubris ucapan Alvin. Ia lebih memilih untuk membuang wajahnya ke arah lain.
Dengan santainya Alvin memasuki kamar mandi pribadinya dan tak lama terdengar suara gemericik yang ditimbulkan dari pancuran air shower yang mengalir. Sepertinya Alvin mandi.
Tidak butuh waktu lama untuk Alvin membersihkan diri. Aroma maskulin dari sabun tercium kuat melekat di tubuhnya. Dengan masih memakai handuk yang dililitkan di pinggang, Alvin keluar dari kamar mandi. Tangan kanannya menggosok-gosok rambut basahnya dengan handuk kecil berwarna putih.
Mata Alvin menyusuri seluruh sisi isi kamarnya. Tidak ada Nanda di sana. Sprei yang ternoda juga tidak ada. Sepertinya Nanda sudah kembali ke kamarnya. Alvin mendengus kecil dan kembali melanjutkan aktivitasnya memakai baju.
Dengan langkah santai tanpa beban, Alvin menuruni anak tangga. Ruangan bawah nampak sepi. Sepertinya orangtuanya sudah benar-benar pulang. Alvin menyempatkan diri ke kamar Nanda untuk memastikan sekali lagi kondisi istri statusnya.
__ADS_1
Tuk... Tuk...
"Nandaa... " panggil Alvin.
Nanda terperangah ketika telinganya mendengar suara ketukan pintu. Nanda hanya mendengus pelan dan sengaja tak menggubris panggilan dari suami statusnya itu.
"Nanda... Kamu di dalam kan" dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam. Alvin mengayunkan gagang pintu. Dan terkunci. Itu menandakan bahwa ada orang di dalam kamar. Nanda masih marah. Dan sepertinya Nanda sengaja menjaga jarak dengan dirinya.
Alvin mendengus kasar. Hasrat emosinya ingin sekali mendobrak pintu yang terkunci. Namun emosi itu berhasil Alvin hempaskan dan memilih untuk tidak mengganggu Nanda saat ini.
"Ya sudah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Kamu istirahatlah. Aku pergi..."
Selepas kalimat pamitan yang Alvin ucapkan, Nanda kembali menenggelamkan wajahnya di balik selimut tebal. Pikirannya kalut. Tiba-tiba Nanda teringat akan sebotol vitamin C miliknya yang ia simpan di laci nakas. Dengan cepat, Nanda menarik paksa tubuhnya untuk mengambil vitamin. Di bukanya tutup botol dengan kasar, dan dikeluarkannya puluhan butir vitamin di atas tangannya. Dengan tekad yang sudah menguat namun sedikit ragu, Nanda pun mencoba memberanikan diri untuk melahap semua butiran obat yang kini sudah memenuhi telapak tangannya. Yah, mungkin dengan mati beban hidupnya pasti akan berkurang. Setidaknya, beban penyesalan yang saat ini ia rasakan ikut hilang.
Ddrrrtt... Ddrrrrttt....
Ibu Calling...
Gerakan tangan Nanda terhenti ketika suara ponsel miliknya mengalun merdu dan berhasil mengalihkan perhatiannya. Terbayang dengan jelas wajah sendu sang ibu yang sedang tersenyum.
Nanda menangis sesegukan kembali menyesali perbuatan bodohnya yang pasti akan dibenci oleh Tuhan. Betapa jahat dirinya kalau harus membuat orang yang paling ia sayangi harus bersedih sepanjang waktu karna perbuatannya. Nanda menggenggam erat butiran vitamin ditangannya. Airmatanya masih mengalir deras. Nanda tidak pernah membayangkan sama sekali tentang kejadian seperti semalam bisa menimpa dirinya. Harta berharga miliknya telah terampas.
Nanda membiarkan panggilan dari sang ibu terputus begitu saja. Saat ini dirinya sangat tidak mungkin menerima panggilan telpon. Ibunya pasti akan sangat khawatir.
Ponsel Nanda berdering lagi. Kali ini dari Evan.
Evan pasti menghubunginya untuk mengajak pergi ke kampus bersama. Dan lagi-lagi Nanda mengabaikan panggilan telpon yang masuk ke ponselnya. Dua kali Evan memanggil. Nanda tetap tidak menerima panggilannya.
Tubuh Nanda meringkuk di dalam selimut tebal. Hatinya masih hancur mengingat kejadian semalam. Nanda mengutuki kelakuan jahat mama mertua kepadanya. Tega-teganya mereka berbuat seperti itu kepadanya.
"Ya Tuhaaann... Kenapa hal ini harus terjadi kepadaku? Aku salah apa? Kenapa mereka selalu jahat kepadaku? Aku ga pernah mengusik ketenangan hidup mereka. Tapi kenapa mereka menghancurkan hidupku? Dengan menikah saja sudah membuat hidupku berantakan. Dan sekarang, mereka dengan sengaja menghancurkan hidupku. Kalau aku sampai hamil bagaimana? Bagaimana nasib anak ini? Ya Tuhaaann... Aku harus bagaimana?"
Dalam tangisannya, Nanda berbicara dalam hati. Ibarat nasi yang sudah menjadi bubur, semua hal yang sudah terjadi tidak akan mungkin bisa kembali seperti semula.
.
.
__ADS_1
.