
Hari ini pengunjung resto lumayan banyak dan ramai. Semua karyawan sibuk pada pekerjaan masing-masing. Saking ramainya customer yang datang jadwal istirahat dan makan siang sedikit mengaret. Nanda menguap sambil meregangkan kedua tangannya ke atas. Makan siangnya hari ini lumayan terlambat. Dengan cepat, Nanda menghabiskan makan siangnya dan segera merapihkan kembali tempat makannya.
Pada situasi ramai seperti ini semua karyawan tidak diperbolehkan beristirahat terlalu lama. Jika iya, pasti ibu Silvi manager yang bawel itu tidak akan segan-segan menegur atau bahkan mengomel.
Nanda sudah membersihkan tempat makan dan sudah mencuci bersih tangannya. Dirinya sudah bersiap untuk kembali bekerja menyapa para customer yang datang. Vira yang tengah sibuk mencuci tangannya di wastafel dengan antusiasnya memberikan sebuah informasi yang berhasil membuat Nanda menghentikan niatnya untuk kembali bekerja.
"Nda, gue ada job bagus nih buat loe. Gue yakin loe bisa ngejalaninnya." Nanda menolehkan pandangannya ke arah Vira. Menatap Vira dengan tatapan serius.
"Oia? Job apaan tuh?" jawab Nanda cepat.Nanda semakin memposisikan dirinya tepat dihadapan Vira dan bersiap mendengarkan penjelasan selanjutnya. Rasa penasaran yang tinggi akan sebuah job sampingan yang pastinya berkaitan dengan uang berhasil menarik perhatiannya untuk mengetahui lebih lanjut tentang job apakah yang dimaksud.
"Jadi, tadi ada sepasang orangtua muda datang kesini. Mereka ketemu langsung sama gue. Mereka berniat mengadakan pesta ulang tahun untuk anak mereka yang berusia empat tahun di rumah. Mereka sudah memesan banyak makanan dari resto kita. Dan mereka juga memesan seorang MC khusus yang bisa memimpin acara dari awal sampai akhir. Mereka bilang, untuk MC akan diberikan bayaran khusus yang lebih besar. Apalagi kalau acara ulang tahun anaknya bisa berjalan lancar dan meriah. Itu adalah acara ulang tahun anak mereka satu-satunya. Jadi mereka berharap akan mendapatkan MC acara yang benar-benar bagus. Dan kalau anaknya sampai suka sama acara ulang tahunnya, orangtua itu akan memberikan bonus tambahan buat si MC karna sudah berhasil memimpin acara pesta ulang tahun dengan baik"
"Trus..."
"Ya gue udah merekomendasikan elo yang buat jadi MC nya. Secara loe kan penyiar juga tuh di radio. Jadi gue yakin kalau elo pasti akan dengan mudah membuat acara pesta ulang tahun si anak itu dengan lancar dan sangat meriah. Acara pesta itu juga akan ada badutnya Nda. Jadi, gue yakin acara itu pasti akan terlihat super meriah."
"Kapan acaranya?"
"Minggu depan. Gimana? Loe bisa kan Nda?"
"Jam berapa?"
"Pagi jam 10. Nanti sebagian karyawan resto ini juga kesana buat antar pesanan makanan. Kalau loe mau jadi MC nya, loe bisa langsung dateng ke alamat si customer. Loe ga perlu dateng dulu ke resto. Inget Nda... Bayarannya lumayan gede looh..."
"Emangnya berapa bayaran yang mereka janjikan?"
"Satu juta untuk dua jam. Lumayan kan?" Nanda tersenyum tipis sambil mengangguk-anggukkan kepala. Mendengar nominal satu juta untuk bekerja selama dua jam langsung membuat jiwa Nanda tak mampu untuk menolak. Kapan lagi dia bisa mendapatkan pekerjaan mudah dengan bayaran besar bukan?
__ADS_1
"Ok deh. Gue mau" jawab Nanda cepat.
"Ok. Nanti gue kirim alamat rumah si customer ke nomor ponsel loe ya." Nanda mengangguk yakin tidak lupa menyunggingkan senyuman manisnya untuk teman baiknya itu. Vira membalas senyuman Nanda dan lalu mengajaknya kembali melanjutkan pekerjaannya melayani para customer yang datang.
***
Tak terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Waktu satu minggu yang dijanjikan Alvin untuk tinggal di rumah mewah nan megah milik Oma Ana sebentar lagi akan mereka tinggalkan.
Makan malam ini mungkin adalah makan malam terakhir untuk Nanda bersama Oma Ana dan kedua mertuanya. Dan seperti malam-malam sebelumnya, makan malam yang terjadi malam itu masih saja terasa dingin dan kaku. Masing-masing orang sibuk dengan kegiatan makannya dan pikirannya sendiri.
"Oma, Mama, Papa...." suara Alvin yang memecah keheningan sontak membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Aku dan Nanda besok akan pindah ke rumah yang baru. Aku sudah membeli sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami berdua" sambung Alvin dengan tenang. Mama Desiana membulatkan kedua matanya. Perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Alvin sungguh membuat dirinya syok. Selama ini Alvin tidak pernah menyinggung masalah kepindahan dirinya kepada.
"APAAAA.... Pindah rumah? Alvin... Apa maksud dengan ucapan kamu?" reaksi syok mama Desiana telah membuat intonasi suaranya menjadi lebih meninggi.
"Memangnya rumah ini masih kurang besar untuk kalian tinggali?" tambah sang papa.
"Rumah ini sangat besar dan sangat cukup untuk kami tinggali. Tapi, bukankah kalian menginginkan aku untuk menikah dan memiliki keluarga? Jadi, aku akan membangun keluarga kecilku di rumahku sendiri"
"Alviiinn...!!! Mama tidak setuju kamu pindah dari rumah ini" pekikan sang mama setengah membentak terdengar jelas dari mulutnya. Tangannya meremas keras gagang sendok.
"Biarkan mereka pergi. Alvin harus bertanggung jawab dengan keluarganya" ucap Oma Ana dengan cepat memotong tegas ucapan menantunya.
"Mama..." pekik Desiana
"Kau tidak punya hak untuk mengatur kehidupan rumah tangga anakmu, Desi" tambah Oma Ana lagi. Wajah tuanya menunjukkan raut wajah geram dan menahan rasa tidak rela akan adanya sebuah perpisahan.
__ADS_1
"Mama, sekarang aku sudah memiliki istri. Sudah saatnya aku bersikap dewasa dan memiliki privasi sendiri untukku dan istriku"
"Alvin, Oma harap kamu bisa memegang janji yang pernah kau ucapkan kepadaku" Alvin tak menjawab. Hanya anggukan kecil yang bisa ia lakukan.
"Aku sudah selesai makan. Aku ijin ke kamar untuk beres-beres." tanpa berbasa basi lagi Alvin segera beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan meja makan. Alvin sama sekali tak memperdulikan perasaan kacau dari kedua orangtuanya.
Nanda terkesiap dengan sikap Alvin yang dengan cepat pergi begitu saja tanpa berinisiatif mengajak dirinya kembali ke kamar. Untuk menghindari situasi tegang dan tak mengenakan, Nanda memilih untuk mengikuti Alvin pergi dari meja makan dan kembali ke kamarnya.
"Se-semuanya, saya mohon ijin pamit" Nanda membungkukkan badan seraya bersikap hormat kepada Oma dan kedua mertuanya dan dengan setengah berlari Nanda melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
***
Nanda berjalan perlahan ketika memasuki kamar. Dilihatnya Alvin yang terdiam dalam duduk dengan raut wajah yang terlihat asam. Entah apa yang saat ini ada dalam pikirannya. Rasanya sangat canggung ketika harus memulai pembicaraan. Meskipun saat ini banyak pertanyaan yang sudah memenuhi benaknya.
Nanda menghela nafas panjang sambil menyenderkan tubuhnya di dinding. Alvin masih terdiam. Untuk beberapa detik mereka masih saling diam. Ketika Nanda memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Alvin bersuara yang membuat Nanda harus menghentikan langkahnya dan mengalihkan perhatiannya kepada suami statusnya itu.
"Bereskan semua barang-barangmu. Besok pagi setelah sarapan, kita akan langsung pindah dari sini" ucap Alvin dengan intonasi dingin khas nya.
Nanda enggan menjawab. Hanya anggukan kecil yang ia tunjukkan sebagai respon persetujuan darinya. Alvin meraih ponselnya dan terlihat sibuk memainkannya. Nanda hanya bisa menghela nafas pendek dengan sikap yang diperlihatkan Alvin. Dengan tanpa memperdulikan Alvin lagi, Nanda memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama untuk Nanda membersihkan diri sebelum pergi tidur. Dengan cekatan, Nanda merapihkan semua barang-barangnya ke dalam koper. Nanda tidak terlalu kesulitan dalam membereskan pakaian dan barang miliknya. Karna memang pakaian serta barang-barang yang ia miliki tidaklah banyak..
.
.
.
__ADS_1