Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Meski sudah menjalani hidup bersama beberapa hari di rumah baru, sikap Alvin masih tidak berubah. Sikap dingin dan tak pedulinya masih saja kental terasa. Seakan akan tidak ada rasa peduli sedikitpun dari diri Alvin terhadap Nanda. Selesai makan malam, Alvin langsung masuk kamar dan baru keluar ketika pagi menjelang. Demikian halnya ketika sarapan pagi. Selesai makan, Alvin langsung pergi ke kantor. Alvin juga jarang menawarkan tumpangan mobilnya untuk sekedar mengantar Nanda sampai di gerbang depan perumahan mereka. Nanda lebih sering berangkat dan pulang bekerja sendiri. Namun meski demikian, Nanda menjalaninya dengan senang hati dan tetap tersenyum setiap hari. Nanda selalu menguatkan hatinya untuk selalu tegar dan bersabar menjalani ujian ini. Dua tahun bukan waktu yang lama. Perkataan itu yang selalu di ucapkan dirinya setiap hari.


Pagi ini Nanda benar-benar sangat buru-buru. Job khusus yang sudah ia terima sebagai MC ulang tahun, membuat dirinya harus berangkat lebih pagi menuju lokasi. Jarak rumah ke tempat lokasi yang cukup jauh membuat Nanda harus berangkat lebih awal agar tidak terlambat.


Sebuah post it telah Nanda tempel di meja makan. Seperti biasa, sebuah sarapan sederhana telah Nanda siapkan di atas meja. Dengan langkah terburu-buru Nanda keluar rumah berjalan menuju ke jalan raya dan segera mencari kendaraan umum.


Sambil merapihkan kancing lengan bajunya, Alvin berjalan menuruni anak tangga. Matanya tertegun dengan sebuah kertas kecil yang tertempel di atas meja.


Mas Alvin, aku ada job tambahan, jadi harus berangkat lebih awal. Aku sudah siapkan sarapan kecil buat kamu. Semoga kamu suka.


Senyum sinis tersungging di sudut bibir Alvin. Dengan kasarnya, Alvin meremas kertas post it dan membuangnya ke sembarang arah. Dengan sikap frustrasi, Alvin mendudukkan dirinya dan mencoba menikmati sarapan yang telah disajikan oleh Nanda. Sejenak Alvin cukup menikmati makan paginya. Namun dengan cepatnya Alvin membanting sendok makannya di atas meja dan mengambil kasar jas nya lalu bergegas pergi menuju kantor.


***


Nanda dan team sudah datang. Suasana pesta terlihat meriah. Dekorasi mewah dipenuhi balon-balon cantik, pita warna warni dan sejumlah cup cake serta kue tart besar sudah tertata rapih. Hari masih pagi, belum ada tamu undangan yang datang. Ini adalah pesta ulang tahun anak dari pasangan muda yang cukup berhasil. Sebagai rasa syukur dan berbagi suka cita, pasangan muda ini mengadakan pesta kecil untuk putrinya sekaligus berbagi dengan puluhan anak dari yayasan yatim piatu.


Acara ulang tahun akan dimulai jam sembilan pagi. Masih ada satu jam lagi untuk mempersiapkan semuanya. Sebagai MC di acara anak-anak, riasan dan penampilan juga harus disesuaikan. Nanda berganti baju dengan kostum yang sudah disediakan oleh pihak tuan rumah supaya sesuai dengan tema acara.


Waktu baru menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh menit. Tamu undangan yang imut-imut mulai berdatangan. Wajah manis dan ceria mereka sungguh memanjakan mata. Sangat menyenangkan. Wajah ceria yang sangat bersemangat untuk menyambut pesta terlihat jelas di wajah mereka.


Dengan senyum yang ceria juga, Nanda menyambut kedatangan para tamu undangan. Saling berjabat tangan dan berbagi souvenir kecil berupa permen semakin menghangatkan pertemuan pembuka sebelum acara dimulai. Semakin siang semakin banyak yang berdatangan. Suasana pun semakin riuh dan ramai. Suara tawa manja anak-anak terdengar renyah dan menghangatkan hati.


Tepat pukul sembilan, tuan rumah meminta Nanda untuk memulai acara. Karna tamu undangan sebagian besar sudah berdatangan memadati tempat acara. Biar tidak bosan menunggu lama, akhirnya acarapun segera dimulai. Tanpa rasa canggung dan malu, Nanda dengan senyum cerianya membuka acara pesta dengan sapaan demi sapaan ceria mengajak anak-anak untuk ikut berpesta mengikuti alur acara yang telah disusun. Suara musik ulang tahun ikut menambah kecerian pesta pagi itu.


***


Sepasang kaki putih mulus yang jenjang, di atas sepatu hak tinggi yang mewah berjalan santai tapi pasti menyusuri lorong lobby kantor Alvin menuju pintu lift. Dengan balutan rok mini berwarna hitam dan atasan blezer broken white sedikit terbuka bagian dada membuat penampilan Celine terlihat sempurna. Hampir semu mata memperhatikan langkah Celine.


Profesi Celine sebagai foto model terkenal membuat dirinya cukup familiar di mata semua orang, tak terkecuali di kantor Alvin. Semua mata yang memandang selalu berakhir bisikan bisikan kagum dan terkejut karna ada seorang model yang berjalan sendri memasuki kantor.


Celine sendiri tidak menuju bagian reseptionis terlebih dahulu. Melainkan ia langsung menuju ke ruang kerja Alvin. Hal ini karna Celine sudah tahu persis dimana letak ruang kerja Alvin kekasihnya. Dulu sekitar tiga tahun terakhir, Alvin pernah membawa dirinya ke dalam ruang kerjanya. Dan Alvin juga memberikan akses khusus kepada Celine untuk bisa sampai ke ruang kerjanya. Dan akses khusus itu masih diingatnya sampai sekarang.


Celine tersenyum manis ketika matanya melihat Alvin yang sedang duduk bersandar di kursi kerjanya sambil sedikit memejamkan mata. Dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Celine masuk dan...


Cuuuppp....


(Celine melayangkan ciuman panas di pipi Alvin)


Alvin terperanjat kaget ketika ia merasakan pipinya dicium oleh seseorang.


"Celine...." senyuman manis nan menggoda Celine tunjukkan ke Alvin. Didekatkannya wajah cantiknya ke wajah Alvin yang masih terpaku.


"Dari dulu sampai sekarang kamu selalu terlihat tampan. Bahkan sangat tampan" ucap manja Celine sambil memainkan jemarinya di wajah Alvin.


"Ada perlu apa kamu datang kesini?"


"Memangnya aku ga boleh datang kesini?" jawaban Celine terasa sulit untuk terbantahkan. Alvin hanya menghela nafas panjang sebelum ia mengatakan perkataan pamungkasnya.


"Hari ini aku lumayan sibuk. Lebih baik kamu pulang saja"

__ADS_1


"Hmm... Padahal aku baru aja mau ajak kamu ke pesta ulang tahun keponakanku"


"Hari ini jadwalku lumayan padat. Aku ga bisa keluar kantor"


"Aku baru punya satu keponakan yang sangat lucu. Sebelum aku kembali ke Amerika, aku ingin datang berkunjung dan bermain sebentar dengannya. Kebetulan hari ini keponakanku sedang berulang tahun. Sayaaaangg, temani aku kesana ya... Sebentaaaarrr aja. Pleaseee... Aku janji hanya sebentar. Setelah itu kamu boleh kembali lagi ke kantor"


"Celine aku..."


Cup...


Satu ciuman manja kembali Celine layangkan ke pipi Alvin.


"Celine ini di kantor. Tolong jaga sikap kamu"


"Kenapa kamu mesti risih? Bukankah kamu boss disini?"


"Seluruh isi kantorku sudah tau kalau aku sudah menikah. Dan istriku bukan seorang model. Jadi kalau ada yang melihat kelakuan kamu yang barusan, pasti akan muncul gosip-gosip yang menyebalkan. Kau mengerti !!!"


"Apa kamu takut kalau ada salah satu dari karyawanmu yang melaporkan hal ini kepada istrimu, heemm?" jari Celine dengan lincah merapihkan dasi Alvin yang masih rapih.


"Aku, takut? Haha... Kamu pikir aku ini laki-laki macam apa harus takut dengan masalah seperti itu?"


"Kalau memang kamu tidak takut, tunggu apa lagi? Ayo pergi..."


"Celine, Sebentar lagi aku ada meeting..." Alvin memang tidak bohong. Sebentar lagi ia akan meeting dengan para karyawannya. Meeting ini adalah meeting rutin yang ia jadwalkan setiap minggunya.


"Kalau kamu tetep kekeh tidak mau pergi, aku akan tetap di sini. Aku akan mengikuti semua kegiatanmu hari ini dan kemanapun kamu pergi"


"Jangan konyol kamu. Dari dulu kamu memang ga pernah berubah, Celine. Selalu menggunakan segala cara demi mencapai kepuasanmu"


"Dan kamu selalu mengabulkan permintaanku" ucap Celine seraya menggoda laki-laki kesayangannya. Senyuman puas terurai lebar di bibir Celine. Sangat kontras dengan Alvin yang memasang muka masam dan dinginnya.


Dengan sikap frustasi, Alvin bangun dan bergegas pergi keluar ruangan. Celine mengikuti langkah Alvin dan segera mengimbanginya dengan berjalan sejajar dengannya.


Dengan tanpa rasa malu sedikitpun, Celine melingkarkan tangannya di lengan Alvin dengan erat. Celine memang sengaja melakukan hal itu agar memancing semua mata untuk melihat ke arahnya. Sejenak Alvin menghentikan langkahnya untuk melepaskan cengkraman tangan Celine dilengannya. Bukan Alvin tidak suka Celine bermanja kepadanya. Namun hal ini bisa membuat masalah baru yang akan mengganggu waktunya untuk membahas masalah yang tidak penting.


"Tolong jaga sikap kamu di sini. Aku tidak ingin ada gosip murahan yang membuat pusing kepalaku" Celine sedikit memanyunkan bibirnya ketika Alvin melepaskan dengan paksa tangannya dan berjalan lebih cepat meninggalkan dirinya.


***


Mobil Alvin sudah berlalu meninggalkan kantor. Walau sikap Alvin terasa kaku dan sedikit kasar, tak lantas membuat Celine putus asa. Ia sangat memahami karakter Alvin. Alvin memang bukan sosok laki-laki yang lembut. Bisa dibilang emosional dan sedikit kasar. Namun dibalik itu semua, Alvin adalah sosok laki-laki penyayang dan cukup perhatian. Hal itulah yang membuat Celine jatuh cinta kepadanya dan tetap bertahan meski saat ini Alvin sudah menjadi milik orang lain.


Ditengah perjalanan, Celine meminta Alvin untuk mampir ke toko boneka yang cukup ternama di Jakarta. Celine memang belum membeli kado. Jadi sekalian jalan, Celine membelikan kado special yang akan ia berikan khusus untuk keponakan tersayangnya nanti. Puas melihat-lihat, akhirnya pilihan jatuh pada sepasang boneka bear yang sangat lucu. Setelah selesai dikemas, Alvin dan Celine kembali melanjutkan perjalanan.


Sekitar satu jam lamanya, akhirnya mobil Alvin sampai juga di tempat lokasi. Alvin terlihat kerepotan membawa kado besar yang Celine beli tadi. Celine tertawa renyah melihat Alvin yang kepayahan membawa kado miliknya.


"Puas kamu ngerjain aku?"


"Sayaaang, kok kamu ngomongnya begitu. Ok... Ok.. Aku ga ketawa lagi."

__ADS_1


Acara pesta berada di taman belakang rumah dekat dengan kolam renang. Suara riuh tawa riang anak-anak terdengar sangat senang dan bahagia. Acara pesta sedang diisi dengan pertunjukkan badut dengan keahlian sulapnya. Keponakan dan para tamu undangan terlihat sangat serius dengan pertunjukan si badut. Celine meletakkan kado besarnya di samping meja makan dan melihat mereka dari dalam rumah.


Alvin sendiri memilih duduk di sofa dan langsung sibuk dengan ponsel nya. Baginya, acara pesta ulang tahun anak-anak adalah acara yang paling tidak ia sukai. Selain melelahkan, acara ulang tahun bukan suatu hal yang menarik untuk diikuti. Celine menolehkan pandangannya ke arah Alvin yang terlihat jenuh. Celine duduk di samping Alvin dan merebahkan kepalanya di lengan kekar Alvin.


"Kalau di sini, aku sudah boleh kan seperti ini sama kamu?"


"Hmm" hanya jawaban ambigu yang keluar dari mulut Alvin. Mata dan tangannya masih sibuk dengan layar ponsel tanpa menoleh sedikitpun ke arah Celine.


Tiba-tiba Celine menarik Alvin dan memintanya untuk berdiri. Lalu Celine membawanya ke sudut ruangan yang agak tertutup yang tidak terlihat dari luar. Dengan cekatan, Celine menarik kedua tangan Alvin dan dilingkarkan ke pinggangnya. Lalu Celine melingkarkan tangannya di leher Alvin dan mengarahkan kepala Alvin untuk lebih dekat kepadanya. Wajah keduanya sudah sangat dekat. Ujung bibir mereka juga sudah bersentuhan. Alvin terdiam pasrah mengikuti arahan Celine. Dan tak lama kemudian bibir keduanya sudah saling bertautan dan bergelut manja saling memberikan kesenangan. Ciuman panas Celine memang terasa ahli memanjakan Alvin. Karna terbawa suasana, tangan nakal Alvin pun sudah sampai di bagian kenyal milik Celine dan meremasnya penuh hasrat.


Ceklik...


(Suara pintu tertutup)


Nanda baru saja keluar dari toilet dan terpaksa berdiri terpaku ketika matanya melihat sepasang orang sedang berciuman panas di samping toilet ruang tengah. Mulut Nanda sedikit terbuka karna terperangah. Rasanya sungguh risih menyaksikan adegan itu. Namun posisi mereka yang menghalangi jalan membuat Nanda harus sedikit bersabar menantikan kegiatan mereka berakhir.


Suara dehem Nanda berhasil membuat Celine dan Alvin menghentikan kegiatan ciumannya. Betapa terkejutnya Nanda bahwa ternyata laki-laki yang ia lihat adalah Alvin, suami statusnya. Alvin yang melihat kehadiran Nanda dengan seketika juga terlihat canggung dan salah tingkah.


"Ma-maaf. A-aku tidak bermaksud menggangu kegiatan anda. Permisi..." Nanda memilih untuk segera meninggalkan Alvin dan Celine. Matanya terasa perih karna sudah menyaksikan tontonan menjijikkan seperti itu.


Alvin masih terpaku di posisinya. Ia masih tak habis pikir kenapa harus bertemu dengan Nanda di sini.


Acara pertunjukkan badut sudah selesai. Nanda kembali mengambil alih acara dan menyelesaikan acara pesta sampai akhir. Meski hatinya sempat kacau, tapi Nanda tetap harus bekerja secara profesional. Wajah ceria dan senyum lebarnya harus tetap ia perlihatkan ke semua orang yang hadir di pesta.


"Jadi ini job tambahan yang dia maksud" ucap Alvin dalam hati seraya memandang wajah ceria Nanda yang berperan sebagai mc acara pesta.


"Sayang, kamu mau makan sesuatu? Aku ambilkan ya?"


"Tidak usah. Aku mau kembali ke kantor"


"Dia itu istrimu kan?" langkah kaki Alvin terhenti ketika mendengar perkataan menohok dari Celine. Alvin membalikkan badan dan menatap tajam ke arah Celine.


"Jadi kamu sudah tau"


"Iya, aku sudah tau semuanya. Aku memang sengaja mencari semua informasi tentang pernikahan kamu yang sangat tertutup itu. Dan aku cukup surprise dengan wanita yang dipilihkan Oma kamu untuk dijadikan istrimu. Awalnya aku pikir, wanita yang dijodohkan menikah denganmu adalah wanita yang sempurna melebihi aku. Ternyata seperti itu.. Hee... "


"Jangan bilang, kamu sengaja ajak aku kesini karna kamu memang sengaja ingin mempertemukan aku dengan dia"


"Bukankan itu lebih baik? Setidaknya istri statusmu itu bisa tau lebih awal siapa wanita yang sebenarnya kamu cintai. Dan dia bisa tau diri akan hal ini. Aku pintar kan?"


"Celine kamu... Hah sudahlah..."


Alvin tak lagi memperdulikan reaksi Celine. Ia bergegas pergi meninggalkan Celine dan Nanda yang masih sibuk dengan acaranya. Entah mengapa rasanya sangat canggung dan tak mengenakkan harus bertemu Nanda dalam situasi yang tidak pas.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2