Cinta Dalam Tahta

Cinta Dalam Tahta
Berbeda


__ADS_3

Alarm ponsel Nanda berbunyi lantang membuat mata Nanda terperjap dan terbuka. Dengan mata yang masih terasa berat, Nanda memaksa matanya untuk melihat angka jam yang tertera di ponselnya.


"Jam 5" ucap Nanda lirih.


Layar ponsel yang menyilaukan membuat mata harus Nanda lebih menyipit untuk menyeimbangkan daya pemglihatannya. Dengan sedikit tertatih, Nanda memaksa tubuhnya untuk bangun dari tidur nikmatnya.


Nanda cukup terkejut ketika melihat sosok Alvin berdiri didepan cermin sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Sangat berbeda dengan dirinya yang masih terlihat kumal, muka bantal dan rambut acak-acakan. Untuk beberapa detik Nanda berdiri terdiam menatap Alvin yang tengah sibuk merapihkan dasinya.


"Pagi mas Alvin... " sapa Nanda pelan.


"Hmmm...." jawab Alvin tanpa kata.


Nanda hanya menghela nafas pelan dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Mandinya jangan lama-lama. Aku tunggu kamu di meja makan" ucapan Alvin yang barusan memaksa Nanda harus mengarahkan pandangannya ke arah Alvin yang berbicara tanpa memandang ke arahnya.


"Ok" hanya jawaban itu yang sanggup Nanda lontarkan.


Hanya sekitaran lima belas menit lamanya Nanda menghabiskan waktu mandinya. Setelah mandi Nanda segera merapihkan penampilannya dengan sedikit mengoleskan bedak dan lipgloss dibibirnya. Tidak ada riasan make up yang komplit menempel diwajah polos Nanda. Selain karna tak biasa, Nanda juga bukan termasuk cewek yang pintar untuk berdandan. Sehingga penampilan Nanda terlihat sangat sederhana dan natural.


Nanda melangkah menuruni anak tangga secara perlahan dan berjalan menuju ke meja makan. Di sana baru nampak Alvin yang sedang menikmati kopinya sambil memperhatikan gadget miliknya. Dua orang pelayan rumah tengah sibuk menyiapkan beberapa hidangan untuk sarapan pagi. Dengan langkah ragu Nanda berjalan mendekat ke sebelah kursi dimana Alvin duduk.


"Mas Alvin... Aku boleh duduk disini?" ucap Nanda hati-hati.


"Hmm..." lagi-lagi hanya jawaban tanpa kata yang terlontar di bibir Alvin. Nanda mendudukkan dirinya dengan gerakan yang sangat canggung dan terlihat kaku. Detak jantung Nanda mulai berdetak tak beraturan. Detak itu bukan karna ia gugup duduk bersebelahan dengan Alvin, melainkan perasaan malu dan canggung ketika harus duduk makan bersama dalam satu meja dengan orangtua Alvin yang terlihat dingin dan kurang suka kepadanya.


Dan benar saja, tak lama berselang orangtua Alvin muncul dan ikut bergabung duduk di meja makan yang sama dengannya. Nanda beranjak berdiri memberi hormat dan menyapa orangtua Alvin yang kini sudah menjadi mertuanya, meskipun mungkin hanya untuk sementara.


"Se-selamat pagi..." Nanda menyapa dengan menampilkan senyuman yang paling manis dibibirnya. Senyum manis Nanda harus ia tarik kembali ketika tidak ada respon balik dari sang mertuanya itu. Mereka hanya diam dan memasang wajah dingin seperti biasa. Nanda mendudukkan kembali dirinya dan kembali diam.

__ADS_1


Oma Ana dengan tongkat kebesarannya dan dibantu assistant pribadinya telah bergabung juga di tengah tengah meja makan. Para pelayan mulai menuangkan air putih ke gelas dan membantu mengambilkan makanan.


"Nyonya Nanda, anda mau saya ambilkan makanan yang mana?" Nanda terperangah ketika seorang ART menawarkan diri untuk membantunya mengambilkan makanan.


"A-apa saja boleh" suara gugup Nanda terdengar jelas dan berhasil membuat ibu mertuanya tersenyum sinis akan sikapnya yang terkesan kampungan.


"Apa nyonya mau mencoba nasi goreng sea food? Ini nasi goreng hasil masakan koki senior di rumah ini. Rasanya sangat lezat"


"Iya boleh. Terima kasih ya..."


"Sama-sama nyonya" ucap ART seraya meletakkan piring di meja Nanda dan lalu membungkuk sopan sebelum beranjak pergi.


Pagi ini, keluarga kecil Oma Ana menikmati makan pagi dengan tenang. Tidak ada kata kata yang keluar dari masing masing orang. Suasana makan yang kaku dan dingin seperti itu sungguh sangat berbeda dengan suasana di rumah Nanda. Makan pagi, siang atau malam yang bisa dilakukan bersama pasti sangat menyenangkan. Masing masing orang saling bercerita tentang kejadian yang telah dialami hari itu dan diselingi candaan yang membuat suasana rumah terasa lebih hangat dan dekat. Nanda mencoba menikmati makanan dipiringnya secara perlahan. Nanda tak ingin jika cara makannya menimbulkan kegaduhan jika ia mempercepat makannya.


Masakan koki senior Oma Ana benar benar layak diacungi empat jempol sekaligus. Bumbu yang pas dan aroma yang harum serta tingkat kematangan yang pas sungguh memanjakan lidahnya. Nanda sering makan nasi goreng biasa atau seafood, namun nasi goreng seafood nya kali ini benar benar sangatlah berbeda. Entah bumbu rahasia apa yang sudah ditambahkan oleh si koki sehingga mampu menciptakan sebuah rasa unik dan nikmat yang sangat memikat.


"I-ya Oma..."


"Apa rencanamu hari ini?" Nanda menarik nafas pelan menata detak jantungnya yang berdentum kesana kemari agar lebih lambat dan membuat dirinya tenang.


"Emm, saya...Saya akan pergi ke tempat kerja. Cuti saya sudah habis Oma. Jadi saya harus masuk kerja seperti biasa" suara Nanda terdengar terbata bata dan kikuk.


"Kamu kerja dimana Nanda?" pertanyaan simple dari ibu mertua yang sontak berhasil membuat Nanda lebih gugup.


"Sa-saya bekerja di restorant cepat saji"


"Sebagai apa?" intonasi pertanyaan mama Alvin terdengar meremehkan dan membuat Nanda terpojokkan. Alvin sendiri memilih tetap sibuk dengan makanannya.


"Sebagai kasir sekaligus waiters"

__ADS_1


Mendengar jawaban Nanda yang terdengar menusuk di telinga, Ibu Desiana dengan angkuhnya meletakkan alat makannya yang menimbulkan suara sedikit keras dan membuat semua orang ikut menghentikan kegiatan makannya karna sikap arogant nya itu.


Desiana mendongakkan kepalanya dengan tatapan angkuh penuh elegant dengan ekspresi kecewa bercampur kesal karna harus mengetahui kenyataan konyol yang menggelikan.


"Lelucon konyol apa ini? Istri dari General Manager perusahaan ternama hanya bekerja sebagai kasir dan waiters restorant cepat saji? Heh, benar-benar sangat menggelikan" Desiana memijit pelan pelipis kepalanya yang tiba tiba terasa pusing. Nanda hanya tertunduk diam dalam duduknya. Nafsu makannya hilang seketika. Suasana makan pagi ini telah berubah menjadi suasana tegang yang menyesakkan dada.


"Aku sudah selesai makan. Semuanya, aku ijin duluan" setelah mengelap mulutnya dengan tissue, Alvin bergegas bangkit dari duduknya untuk segera pergi meninggalkan meja makan yang terasa memuakan baginya.


"Tunggu !!!" Alvin menghentikan langkahnya ketika suara Oma Ana mengultimatum dirinya agar berhenti.


"Alvin, antarkan istrimu ke tempat kerjanya. Dan jangan lupa untuk menjemputnya ketika pulang" bukan Alvin kalau tidak membantah.


"Oma, hari ini jadwal meetingku cukup padat. Aku ga punya waktu untuk mengantar-jemput Nanda. Nanti biar aku kirim sopir kantor buat menjemput dia pulang"


"Alviinnn... Kamu sendiri yang bilang bukan? Kalau kamu akan bertanggung jawab terhadap istrimu !! Tepati ucapanmu !!" tangan Alvin mengepal geram tak mampu lagi untuk membantah perkataan Oma Ana. Karna apa.yang Omanya ucapkan memang benar. Dirinya pernah berucap akan bertanggung jawab terhadap istrinya, Nanda.


"Tidak usah Oma, saya bisa pergi dan pulang sendiri. Saya ga mau ngrepotin Mas Alvin." ucapan pembelaan Nanda tak lantas membuat Alvin senang atau bangga bisa memiliki istri yang pengertian. Justru sikap.pembelaan yang dilakukan Nanda membuat dirinya terlihat lemah dan hina di hadapan Oma dan orangtuanya. Alvin menatap tajam dengan tatapan mata geram ke arah Nanda. Senyum sinisnya tersungging tipis di sudut bibirnya.


"Kalau kau tidak mau diantar oleh suamimu, lebih baik kau di rumah saja" Nanda ternganga dengan ucapan mengandung ancaman dari seorang wanita tua penuh kuasa. Nanda menggelengkan kepala sebagai pendukung permintaan maafnya.


"Ma-maaf Oma. Saya tidak bermaksud seperti itu"


"Cepat ambil tasmu. Aku ga mau menunggu!!" gertak Alvin. Tanpa pikir panjang, Nanda langsung berdiri dari duduk dan membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada oma dan kedua mertuanya lalu dengan cepat berlari ke arah anak tangga menaikinya satu persatu menuju kamar untuk mengambil tas kerjanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2